tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra
Langkah demi langkah, Genevieve menembus neraka putih yang tersembunyi di perut Aethelgard. Setiap kali sepatu bot kulit usangnya tenggelam ke dalam tumpukan salju abadi, terdengar suara gemeretak pelan yang langsung ditelan oleh keheningan jurang yang sangat luas. Di punggungnya, mantel bulu Serigala Salju raksasa yang belum dikeringkan itu terasa luar biasa berat. Sisa-sisa lemak dan darah monster yang mulai membeku membuat kulit pelapis bagian dalamnya terasa kaku dan berbau anyir yang memualkan. Namun, Genevieve mencengkeram ujung mantel itu dengan kedua tangannya yang mati rasa, menariknya lebih rapat untuk membungkus tubuh kurusnya. Beban seberat apa pun jauh lebih baik daripada sensasi pisau es tak kasat mata yang siap merobek nyawanya dari hipotermia.
Perjalanannya menembus dasar Jurang Hitam adalah sebuah penyiksaan yang diukur dalam satuan inci. Hutan Pohon Pinus Besi di sekitarnya semakin merapat, menciptakan labirin pilar-pilar abu-abu pucat yang tampak seperti penjara tulang belulang raksasa. Akar-akar mereka yang hitam dan berbonggol mencuat dari balik salju, memaksa Genevieve untuk terus memperhatikan pijakannya.
Efek dari Lumut Darah Beku (*Frostblood Moss*) yang ia oleskan di pergelangan kakinya masih bekerja. Rasa panas yang membakar kulitnya berdenyut seiring dengan detak jantungnya, sebuah rasa sakit konstan yang secara paradoks justru membantunya untuk tidak kehilangan kesadaran. Pembengkakan di kakinya menahan diri untuk tidak memburuk, memungkinkan ia memaksakan sebuah ritme jalan yang pincang namun stabil.
Angin utara tidak bisa menyentuh dasar jurang ini dengan kekuatan penuhnya, namun kabut beku yang tebal mengambang setinggi dada, menyembunyikan apa pun yang mengintai di balik lapisan salju. Pandangannya sangat terbatas. Dunia Genevieve saat ini hanya terdiri dari warna putih salju, abu-abu batang pohon, dan hitamnya batu tebing di kejauhan.
Pikirannya berputar seperti roda gigi mekanis yang tak kenal lelah. Di kehidupan masa lalunya, ia mungkin akan menangis, berteriak meminta tolong, atau menyerah pada keputusasaan. Namun, jiwa yang kini mendiami tubuh Lady Genevieve telah dibakar oleh pengkhianatan yang terlalu dalam. Gideon, Tabib Silas, dan Nyonya Besar House Blackwood telah melemparnya ke tempat ini dengan harapan ia akan membusuk tanpa nama. Setiap tarikan napasnya yang menyakitkan, setiap langkah kakinya yang menggoreskan perih di tulang rusuknya yang retak, adalah bahan bakar untuk tungku dendamnya. Ia akan keluar dari jurang ini, dan ia akan memastikan orang-orang itu menyadari betapa fatalnya kesalahan mereka karena tidak memenggal kepalanya sendiri.
Setelah berjalan tertatih selama hampir dua jam, pendengarannya yang dipertajam mulai menangkap perubahan frekuensi di udara.
Suara lolongan angin di ketinggian tebing perlahan tergantikan oleh suara gemuruh rendah yang konstan. Suara itu berdebur, bergemericik kasar, dan memancarkan aura kelembapan yang berat. Air. Ada aliran air dalam jumlah besar di dekat sini.
Genevieve mempercepat langkahnya, mengabaikan protes dari pergelangan kakinya. Menemukan sumber air yang tidak membeku di tempat dengan suhu seekstrem ini adalah sebuah anomali, dan anomali selalu menyimpan jawaban.
Ia menerobos sekumpulan semak berduri yang tertutup es, menggunakan sisa papan peti matinya untuk menyingkirkan ranting-ranting tajam dari wajahnya. Begitu ia melewati rimbunan Pohon Pinus Besi terakhir di jalur itu, pemandangan yang terbentang di hadapannya membuat langkahnya terhenti secara otomatis.
Di hadapannya, membelah dasar lembah seperti urat nadi raksasa yang berdenyut, mengalir sebuah sungai bawah tanah yang sangat lebar. Namun, air di sungai itu tidak memantulkan cahaya kelabu dari langit fajar. Airnya berwarna hitam pekat, sekelam tinta obsidian, bergerak dengan arus yang sangat deras dan agresif. Di atas permukaan air yang bergolak itu, kabut putih tebal mengepul naik, menandakan bahwa suhu air tersebut jauh lebih hangat daripada udara beku di sekitarnya.
Sungai Umbra—begitulah memori asing dari tubuh aslinya menyebut rumor tentang aliran air mematikan yang membelah dunia bawah Aethelgard. Konon, airnya menyerap racun dari mineral vulkanik purba.
Genevieve tidak berani bertindak gegabah. Ia berjalan mendekati tepian sungai yang berbatu licin. Ia berlutut dengan susah payah, menjaga jarak aman agar tidak tergelincir ke dalam arus mematikan tersebut.
"Sistem," perintahnya secara mental, matanya terpaku pada riak hitam air sungai. "Pindai komposisi air ini. Apakah ada racun atau ancaman biologis? Mengapa air ini tidak membeku?"
Panel biru langsung memecah udara di depan wajahnya, merespons perintahnya dengan deretan analisis komprehensif.
**[Memindai Komposisi Cairan...]**
**[Hasil Pemindaian: Kandungan mineral sulfur dan karbon vulkanik sangat tinggi, menyebabkan warna air menjadi gelap pekat. Suhu cairan: 15 Derajat Celcius (Dihangatkan oleh aktivitas geotermal pasif di kedalaman kerak bumi).]**
**[Status Toksisitas: Level Rendah. Aman untuk dikonsumsi dalam jumlah terbatas, meskipun akan memiliki rasa seperti abu kayu dan belerang. Tidak ada mikroorganisme mematikan yang terdeteksi.]**
**[Peringatan Lingkungan: Arus air di bawah permukaan bergerak dengan kecepatan 40 knot. Jika Tuan Rumah terjatuh ke dalam sungai, tingkat kelangsungan hidup akibat tenggelam adalah 0%.]**
Genevieve menghela napas lega. Ia membutuhkan cairan, dan mencairkan salju dengan panas mulutnya telah menguras energi vitalnya yang berharga. Ia menangkupkan kedua tangannya, mencelupkannya sedikit ke tepi air hitam yang beriak, lalu membawanya ke bibir. Air itu terasa hangat, kontras yang sangat mengejutkan di tengah neraka es ini. Rasanya memang menjijikkan—seperti menelan debu arang dan besi berkarat—tetapi cairan itu membasahi tenggorokannya yang mengering dan memberikan kehangatan buatan dari dalam perutnya. Ia meminumnya tiga kali lagi sampai dahaganya benar-benar terpuaskan.
Setelah membersihkan tangannya, ia bangkit berdiri, menelusuri pandangannya ke arah aliran sungai.
Jika sungai ini dihangatkan oleh aktivitas geotermal, itu berarti sungai ini mengalir dari celah bumi yang lebih dalam, atau mungkin mengarah ke sistem gua bawah tanah yang bisa berujung pada permukaan dunia di suatu tempat di luar wilayah Kastil Ravenscroft. Mengikuti aliran sungai ini adalah satu-satunya navigasi logis yang ia miliki, alih-alih berjalan tanpa arah di dalam hutan pinus mematikan.
Ia mulai berjalan menyusuri tepian sungai yang berbatu. Suara gemuruh air menenggelamkan suara langkah kakinya, memberikan semacam pelindung akustik dari monster-monster yang mungkin mengandalkan pendengaran untuk berburu.
Satu jam berlalu. Lanskap di sekeliling sungai mulai berubah.
Tebing batu hitam di sisi kanannya perlahan merapat ke arah sungai, memaksa Genevieve berjalan di celah sempit antara tebing dan air yang bergejolak. Namun, apa yang membuat matanya memicing tajam bukanlah penyempitan jalur itu, melainkan bentuk bebatuan di sekitarnya.
Batu-batu yang berserakan di sini tidak lagi terlihat alami. Mereka terpotong dengan sudut-sudut geometris yang terlalu presisi untuk disebut sebagai hasil erosi alam. Lebih jauh ke depan, bayangan raksasa mulai menembus kabut beku.
Genevieve memperlambat langkahnya. Otot-ototnya menegang secara instingtif. Tangan kanannya segera mencengkeram erat paku besi berkarat yang disembunyikan di balik mantel bulunya.
Begitu kabut sedikit tersingkir oleh hembusan angin dari arah sungai, Genevieve bisa melihatnya dengan jelas. Itu bukanlah formasi tebing. Itu adalah pilar-pilar batu raksasa yang telah runtuh, beberapa di antaranya masih berdiri miring, menjorok ke arah sungai hitam. Di atas pilar-pilar itu, terpahat ukiran-ukiran kuno yang nyaris terhapus oleh waktu dan es. Ukiran itu menggambarkan pertempuran antara manusia-manusia bersayap dan makhluk-makhluk bawah tanah bermata satu.