Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman pengkhianatan
Rian—mata-mata Bunga yang ditugaskan untuk memantau Adrian yang sedang berada di sebuah kafe. Ia duduk di salah satu meja yang tidak terlalu mencolok, dengan segelas es teh di depannya. Sesekali ia mengaduk minuman itu dengan sedotan, namun pandangannya sama sekali tidak lepas dari sosok Adrian.
Dari tempat duduknya, Rian bisa melihat Adrian yang sedang mengobrol bersama dengan temannya. Ia tidak menatap mereka secara langsung, melainkan melihat melalui pantulan kaca di depannya agar tidak terlalu mencolok.
Rian menyipitkan mata, memperhatikan gerak-gerik Adrian dengan teliti.
"Gue punya rencana," gumamnya pelan.
Setelah itu ia berdiri dari kursinya, lalu jalan perlahan menghampiri Adrian seolah-olah hanya lewat biasa.
Brukh!
Tubuh Rian sengaja menyenggol Adrian cukup keras hingga membuat Adrian sedikit terdorong.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Rian cepat dengan nada penuh penyesalan.
Adrian langsung menatapnya tajam, jelas tidak suka dengan kejadian barusan.
"Lain kali kalau jalan pakai mata. Untung gue gak kenapa-kenapa," ucap Adrian dengan nada kesal.
"Iya, sekali lagi maafkan saya," ucap Rian sambil sedikit menundukkan kepala, berpura-pura merasa sangat bersalah.
"Gue maafin lo kali ini. Sana pergi," usir Adrian dengan nada tidak sabar.
Rian mengangguk pelan. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia dengan cepat menempelkan sebuah cip kecil di bagian belakang jaket Adrian tanpa disadari oleh siapa pun.
Gerakannya begitu cepat dan halus hingga Adrian sama sekali tidak menyadarinya.
Setelah itu Rian berjalan menjauh dengan langkah santai.
"Nyusahin aja," gumam Adrian sambil menatap sinis kepergian Rian.
Sementara itu, di sisi lain, Rian yang sudah cukup jauh dari mereka tersenyum puas.
Rencananya berjalan dengan mulus.
~~
Saat ini Rania, Freya, Balqis, dan Bunga sedang berkumpul di sebuah kafe sesuai janji mereka waktu di kantin tadi. Suasana kafe cukup ramai dengan beberapa pengunjung yang datang dan pergi, sementara lampu-lampu hangat membuat tempat itu terasa nyaman untuk sekadar mengobrol.
Di meja mereka, beberapa makanan ringan dan minuman sudah tersaji. Rania terlihat sedang menikmati kentang goreng di depannya, sementara yang lain sesekali menyeruput minuman mereka.
Mereka bertiga—Freya, Balqis, dan Bunga—sudah sepakat untuk berpura-pura tidak peduli dengan hubungan Rania. Padahal, diam-diam mereka berencana membantu Rania menjauh dari Adrian.
"Kak Rhea gimana kabarnya, Ran?" tanya Bunga memulai percakapan.
"Dia lagi sibuk kerja," jawab Rania sambil mengunyah kentang gorengnya. Setelah itu ia menatap sahabat-sahabatnya satu per satu dengan ragu. "Kalian masih marah sama gue?"
"Marah tidak, kesal iya," jawab Balqis sambil memutar bola matanya dengan malas.
Rania menghela napas berat mendengar jawaban itu.
"Gue akan buktiin kalau Adrian benar-benar serius sama gue dan akan berubah," ucapnya dengan nada yakin.
Mendengar itu, sahabat-sahabatnya hanya saling melirik lalu memutar mata mereka.
"Kalau dia tidak serius sama lo dan cuma memanfaatkan lo doang gimana?" tanya Freya dengan nada serius.
Rania terdiam. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan itu.
"Pikirkan baik-baik, Ran," sahut Bunga dengan lembut.
Dengan helaan napas berat, Rania akhirnya berkata, "Gue akan tinggalin dia."
Mendengar jawaban itu, sahabat-sahabatnya langsung saling menatap dan tersenyum puas.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan kebaikan untuk lo?" ucap Bunga pada Rania.
"Kesempatan kebaikan maksud lo apa?" tanya Balqis bingung.
"Kesempatan demi kebaikan Rania, Qis," jawab Bunga.
Rania terlihat semakin bingung. "Kebaikan buat gue? Maksudnya?"
"Kesepakatan kalau sampai Adrian cuma manfaatin lo doang, lo harus ninggalin dia dan gak akan mengulang kesalahan yang sama, paham!" jelas Bunga dengan nada serius.
"Gue setuju sama Bunga," sahut Freya. "Dengar Ran, ini demi kebaikan buat lo," lanjutnya dengan nada yang lebih lembut.
"Gue juga setuju. Lagian buat apa baca dua kali kalau endingnya tetap sama," sambung Balqis.
Rania kembali terdiam. Ia memejamkan matanya sejenak, seolah benar-benar mempertimbangkan semuanya. Beberapa detik kemudian ia membuka matanya perlahan dan langsung menatap sahabat-sahabatnya.
"Oke, gue setuju sama kalian. Tapi… kalau Adrian gak seperti yang kalian pikirkan, kalian harus dukung gue," ucapnya dengan nada tegas. Kali ini ia mencoba benar-benar mempertimbangkan perkataan sahabat-sahabatnya.
"Oke, kami setuju!" ucap mereka kompak, lalu tersenyum miring satu sama lain.
Dring!
Suara ponsel Bunga tiba-tiba berbunyi, membuat obrolan mereka terhenti.
"Gue angkat telepon dulu," ucap Bunga sambil berdiri lalu sedikit menjauh dari meja mereka.
Ia mengangkat panggilan itu.
"Halo, ada apa?" ucap Bunga pada Rian yang meneleponnya.
"Gue sudah kerjain yang lo suruh, bos. Pasti lo puas sama apa yang gue dapat," jawab Rian dari seberang telepon.
"Apa yang lo dapat?" tanya Bunga penasaran.
"Gue tidak bisa jelasin di sini. Lo di mana sekarang? Gue akan samperin lo."
"Gue ada di kafe depan komplek gue. Lo bisa ke sini."
"Oke, gue ke sana sekarang," ucap Rian lalu langsung mematikan telepon sepihak.
Bunga kemudian kembali ke meja tempat sahabat-sahabatnya menunggu.
"Siapa, Bel?" tanya Freya.
"Rian," jawab Bunga.
"Ngapain dia nelpon lo? Ada yang penting?" sahut Balqis.
Bunga mengangguk pelan. "Dia ada kabar baik untuk kita," ucapnya sambil tersenyum miring.
Melihat senyum itu, Freya dan Balqis langsung saling melirik. Mereka langsung paham maksud Bunga.
Sementara itu, Rania hanya menatap mereka dengan wajah bingung.
"Kalian bahas apaan sih?" tanyanya penasaran.
"Nanti juga lo bakal tahu, Ran," jawab Bunga santai.
Rania hanya bisa mendesah pelan, merasa sahabat-sahabatnya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
~~
Motor Rian berhenti di depan sebuah kafe tempat Bunga dan yang lainnya sedang berkumpul. Suasana di sekitar kafe terlihat cukup ramai dengan beberapa kendaraan yang terparkir di pinggir jalan.
Rian mematikan mesin motornya, lalu turun. Ia merapikan sedikit jaketnya sebelum melangkah masuk ke dalam kafe.
Begitu berada di dalam, matanya langsung menyapu seluruh ruangan, menelusuri setiap meja untuk mencari keberadaan Bunga. Hingga akhirnya pandangannya tertuju pada sebuah meja di pojok ruangan, tempat Bunga duduk bersama para sahabatnya.
Tanpa ragu, Rian langsung berjalan menghampiri mereka.
"Hai," sapa Rian begitu sampai di meja mereka.
Sapaan itu membuat Bunga dan yang lainnya menoleh ke arahnya.
"Hai," balas mereka hampir bersamaan, kecuali Rania yang hanya menatap Rian tanpa berkata apa-apa.
"Duduk," ucap Bunga singkat. "Lo mau pesan apa?"
"Es kopi," jawab Rian.
Bunga mengangguk kecil, lalu memanggil pelayan dan memesankan minuman untuk Rian.
"Bagaimana?" tanya Freya pada Rian dengan nada penasaran.
"Beres. Gue yakin kalian bakal puas sama hasil kerja gue," jawab Rian dengan nada bangga.
Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku dan meletakkannya di atas meja di hadapan mereka.
"Ini maksudnya apa?" tanya Rania yang terlihat bingung, matanya berpindah dari ponsel itu ke wajah mereka satu per satu.
"Ran, sebelumnya kami minta maaf," ucap Bunga dengan nada sedikit lebih serius.
"Minta maaf? Why?" tanya Rania sambil mengerutkan kening.
"Kita mendengar obrolan lo sama Adrian waktu lo bilang bakal kasih dia uang dua puluh juta," jelas Bunga.
Ucapan itu membuat Rania terkejut. Matanya langsung membesar.
Ia sama sekali tidak menyangka mereka mengetahui hal itu. Dalam pikirannya langsung terlintas kemungkinan buruk—bagaimana jika mereka melaporkannya pada Mommy-nya?
Melihat Rania yang terdiam, sahabat-sahabatnya justru saling melirik dengan senyum tipis, lalu Bunga kembali melanjutkan.
"Sebenarnya kami tidak keberatan kalau lo kasih uang ke pacar lo. Itu hak lo. Tapi Ran, uang sebanyak itu lo kasih ke dia secara langsung dengan alasan yang tidak jelas dan lo percaya begitu saja..."
"Dia minjam buat bayar utang bokapnya," potong Rania cepat, seolah membela Adrian.
Mendengar itu, mereka langsung mendengus kasar.
"Rania, lo harus tahu. Bokap Adrian sudah lama pisah sama nyokapnya. Sekarang dia tinggal sama neneknya. Neneknya juga termasuk orang berada. Jadi lo ditipu lagi sama dia," jelas Freya dengan nada tegas.
Deg!
Jantung Rania terasa seperti berhenti sejenak. Namun ia langsung menggelengkan kepalanya pelan.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin Adrian membohonginya lagi.
"Lo tau dari mana? Jangan asal nuduh," ucap Rania dengan nada menyangkal.
"Bintang. Sepupu Bintang satu kelas sama Adrian. Dia tau sedikit tentang Adrian," ucap Bunga menjelaskan.
Rania tetap terlihat tidak percaya.
Melihat itu, Rian akhirnya ikut bicara.
"Kalau lo gak percaya sama sahabat lo… dengerin ini," sahut Rian.
Ia lalu mengambil ponselnya dan memutar sebuah rekaman.
Suara dari ponsel itu mulai terdengar—percakapan Adrian dengan temannya.
Suara dari rekaman di ponsel Rian mulai terdengar jelas di atas meja. Semua orang yang duduk di sana langsung terdiam, fokus mendengarkan percakapan itu.
Di dalam rekaman itu terdengar suara Adrian yang sedang berada bersama dua orang temannya di sebuah tempat.
"Hai bro," ucap Adrian menyapa temannya dengan nada santai.
"Hmm," balas Azran sambil menatap Adrian. "Sepertinya lo bahagia banget hari ini."
Adrian tersenyum miring, terdengar jelas dari nada suaranya yang penuh kepuasan.
"Kelihatan ya dari wajah gue?"
"Iya. Apa yang diucapkan Azran benar. Lo menang judi ya?" tanya seseorang yang bernama Roni.
Adrian menggeleng pelan, lalu terdengar suara gesekan sofa saat ia duduk.
"Gue berhasil dapat yang gue mau, bro. Tanpa susah payah," ucapnya dengan nada puas, disertai tawa kecil.
"Jangan bilang rencana kita berhasil," tebak Roni.
"Iya bro," jawab Adrian dengan nada santai, namun terdengar jelas senyum puas di balik suaranya.
"Cewek lo percaya kalau rumah lo akan disita?" tanya Roni lagi.
"Iya, dia percaya. Tak lupa gue juga sedikit akting," jawab Adrian santai.
"Wah bagus tuh. Lo tidak lupa kan komisi kita berdua? Berkat akting dobrak pintu itu, cewek lo langsung percaya," sahut Azran sambil tertawa kecil.
"Kalian tenang saja. Kalian bakal dapat lima juta dari gue," ucap Adrian.
"Lima juta? Banyak banget? Atau lima juta buat kami berdua?" tanya Roni memastikan.
"Nggak. Kalian dapat masing-masing," jawab Adrian.
"Hah! Lo serius?" ucap Azran dengan nada tidak percaya.
"Iya, gue serius. Kirim nomor rekening kalian, gue TF sekarang," ucap Adrian lalu terdengar suara ia mengambil ponselnya.
Azran dan Roni langsung menyebutkan nomor rekening mereka dengan nada antusias.
Beberapa detik kemudian—
"Sudah masuk. Gue tidak bohong kan?" ucap Adrian.
"Iya gue percaya… tapi gue bingung. Kan lo bilang cuma minta sepuluh juta doang, tapi kayaknya lo lebih dari itu," ujar Roni penasaran.
"Gue minta dua puluh juta," ucap Adrian santai.
"APA!" seru Azran dan Roni bersamaan dengan suara terkejut.
"Tidak usah teriak, goblok. Lo kira gue tuli, hah?" kesal Adrian.
"Sorry hehe… kami kaget aja. Lo ternyata berani juga," ucap Roni sambil tertawa kecil.
"Bagaimana kalau cewek lo nyari duitnya?" tanya Azran penasaran.
"Gak akan. Tinggal gue drama aja. Dia sayang banget sama gue," ucap Adrian dengan nada santai, bahkan terdengar sedikit meremehkan.
"Lo bisa jadi aktor. Kemampuan akting lo bagus," sahut Azran sambil tertawa.
Adrian hanya tersenyum miring.
"Nanti gue bakal minta bantuan lo lagi," ucapnya.
"Siap! Asal komisi kita juga banyak."
"Kalian tidak perlu khawatir soal itu," jawab Adrian penuh percaya diri.
Rekaman itu pun berakhir.
Suasana di meja kafe itu langsung berubah hening. Tidak ada satu pun yang berbicara.
Semua mata perlahan beralih ke arah Rania.