Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Panggilan
Hening yang menyelimuti kamar utama The Velvet Manor malam ini terasa jauh lebih berat daripada malam-malam sebelumnya.
Di luar, angin malam menderu pelan di antara pepohonan hutan kabut, namun di dalam ruangan ini, udara seolah membeku.
Aroma lilin lebah yang meleleh bercampur dengan wangi mawar hitam yang hampir busuk menciptakan atmosfer yang menyesakkan.
Aira berdiri membelakangi pintu, menatap pantulannya di jendela kaca yang gelap.
Cahaya bulan sabit yang pucat menyinari siluet tubuhnya yang terbalut gaun tidur sutra hitam transparan.
Ia tidak lagi melihat gadis polos yang gemetar ketakutan. Di pantulan k aca itu, matanya berkilat hijau zamrud yang dingin, sebuah tatapan yang ia pinjam dari neraka Isabella, namun dengan kedalaman yang jauh lebih misterius.
Cklek.
Suara kunci pintu yang diputar terdengar seperti dentuman keras di kesunyian itu. Aira tidak bergerak. Ia tahu siapa yang datang. Langkah kaki yang teratur, berat, dan penuh wibawa itu hanya milik satu orang.
Dante.
Sang kepala pelayan itu melangkah masuk tanpa jas maupun dasi. Kemeja putihnya yang kaku kini berkerut, dengan dua kancing teratas yang terbuka, memperlihatkan otot leher yang tegang dan urat-urat yang menonjol di lengan bawahnya.
Napasnya masih sedikit memburu, sisa dari ledakan amarah maskulin yang ia lepaskan di aula tadi.
"Anda memanggil saya, Nyonya?" suara Dante rendah, baritonnya bergetar di frekuensi yang sanggup merambat hingga ke tulang belakang Aira.
Aira tidak langsung berbalik. Ia membiarkan keheningan menyiksa Dante selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
"Berdiri di sana, Dante. Jangan melangkah satu inci pun lebih dekat sampai aku memerintahkannya."
Dante berhenti seketika. Perintah itu begitu tajam, begitu dingin, dan tanpa sedikit pun keraguan.
Dante mengepalkan tangannya di samping tubuh, matanya yang biru es menatap punggung Aira dengan rasa lapar yang tersiksa.
Ia terbiasa menjadi penguasa di balik layar mansion ini, namun malam ini, ia merasa seperti seorang terdakwa yang menunggu vonis.
Aira perlahan berbalik. Gerakannya sangat lambat, seperti aliran sutra yang jatuh ke lantai. Ia melangkah mendekati Dante dengan keanggunan seorang predator yang sedang mempermainkan mangsanya.
Setiap langkah kaki telanjangnya di atas karpet bulu tebal menambah beban ketegangan di ruangan itu.
Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, Aira berhenti. Ia mendongak, menatap langsung ke mata Dante.
Keheningan di antara mereka begitu pekat hingga suara detak jantung Dante yang memburu bisa terdengar jelas.
"Kau pikir kau siapa, Dante?" bisik Aira. Suaranya selembut desiran angin, namun mengandung ancaman yang mematikan.
Tiba-tiba, dengan gerakan secepat kilat, Aira mengangkat tangannya. Bukan untuk menampar, melainkan untuk mencengkeram leher Dante.
Jari-jarinya yang kecil namun kuat menekan jakun Dante, membuat pria itu terengah-engah secara tiba-tiba.
Ini adalah sisi Isabella yang mereka takuti. Kekejaman yang murni. Mata Aira tidak menunjukkan setitik pun belas kasihan.
"Kau berani berkelahi seperti binatang buas di depanku. Kau menghina setiap aturan yang kubuat. Kau pikir pengabdianmu selama belasan tahun memberimu hak untuk menjadi liar di takhtaku?"
Dante tidak melawan. Ia justru memejamkan matanya, menikmati cengkeraman tangan Aira di lehernya seolah itu adalah kalung suci.
"Saya... adalah milik Anda, Isabella. Nyawa saya, amarah saya, semuanya... adalah milik Anda."
"Salah!" desis Aira lebih tajam.
"Kau bukan milikku jika kau masih berani mengikuti insting rendahanmu daripada perintahku."
Aira melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat Dante sedikit terhuyung.
Namun, sebelum Dante sempat mengatur napasnya, Aira melakukan sesuatu yang menghancurkan seluruh logika pria itu.
Jemari Aira yang tadi mencekik, kini perlahan naik kembali. Sangat lembut. Ia menyentuh luka memar yang masih mengeluarkan sedikit darah di sudut bibir Dante.
Ibu jarinya mengusap darah itu dengan gerakan yang sangat pelan, hampir seperti sebuah belaian kekasih yang sedang merawat pasangannya dengan penuh cinta.
"Sakit, Dante?" suara Aira berubah total. Kini suaranya rendah, manis, dan dipenuhi oleh kehangatan yang asing. Sebuah kelembutan yang terasa seperti air sejuk di tengah padang pasir.
Dante terpaku. Tubuhnya gemetar hebat di bawah sentuhan itu. Perubahan drastis ini—dari cengkeraman maut ke belaian kasih sayang—membuat kewarasannya berada di ujung tanduk. Ini bukan Isabella yang ia kenal.
Isabella yang dulu hanya tahu cara menyakiti. Tapi wanita di depannya ini... dia tahu cara menghancurkan jiwa melalui kasih sayang.
"Luka ini..." bisik Aira, matanya kini menatap luka Dante dengan tatapan yang seolah-olah ikut merasakan sakitnya.
"Kau mendapatkannya karena mencoba menjagaku dari Kael, bukan? Kau tidak ingin anjing liar itu menyentuhku."
Dante menelan ludah, suaranya parau karena hasrat yang tertahan.
"Saya tidak akan membiarkan siapa pun... siapa pun di dunia ini menyentuh apa yang seharusnya hanya saya puja, Nyonya."
Aira mendekatkan wajahnya, bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter dari telinga Dante.
Ia bisa merasakan Dante menahan napasnya, seolah-olah satu tarikan napas saja bisa meruntuhkan seluruh pertahanannya.
"Kau sangat setia, Dante. Begitu setia hingga itu membuatku ingin memilikimu sepenuhnya," bisik Aira, memberikan kecupan ringan di pipi Dante—sebuah sentuhan yang jauh lebih merusak daripada cambukan mana pun.
"Tapi kesetiaanmu butuh pembuktian yang lebih dari sekadar perkelahian jalanan."
Aira melangkah mundur, lalu duduk di tepi tempat tidurnya yang tinggi dan megah.
Ia membiarkan gaun sutranya tersingkap sedikit, memperlihatkan paha porselennya yang berkilau di bawah temaram cahaya. Posisi duduknya sangat dominan, sangat "Nyonya".
"Berlutut, Dante," perintah Aira, kembali ke nada dinginnya namun tetap dengan sisa-sisa kelembutan di matanya.
"Berlutut di depanku, dan jangan berani menyentuhku sedikit pun sebelum aku memohon padamu untuk melakukannya."
Dante merasa dunianya hancur sekaligus terlahir kembali.
Harga dirinya sebagai pria yang paling disegani di mansion ini menguap begitu saja. Di bawah pengaruh Aira yang memiliki dualitas mengerikan ini, Dante merasa seperti seorang penyembah di depan dewinya.
Tanpa sepatah kata pun, Dante turun ke lantai. Ia berlutut di antara kedua kaki Aira, menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
Tangannya mencengkeram sprei tempat tidur begitu kuat hingga kain sutra itu hampir robek di bawah jemarinya.
Ia gemetar, bukan karena takut, tapi karena obsesi yang memuncak.
Aira meletakkan tangannya di rambut Dante, mengelusnya dengan gerakan yang penuh kasih sayang—sebuah tindakan yang seolah-olah berkata bahwa dia adalah miliknya.
Di pojok ruangan, di balik tirai merah yang gelap, Aira melihat Isabella asli menatap dengan mata melebar. Isabella tidak lagi tersenyum smirk; ia tampak terancam.
Aira sedang melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa ia lakukan: Ia menaklukkan pria itu bukan dengan rasa sakit, tapi dengan harapan akan sebuah kasih sayang yang mustahil.
"Bagus," bisik Aira, menatap Dante yang kini tampak seperti penguasa yang telah dijinakkan sepenuhnya.
"Tetaplah di posisi itu sampai fajar menyingsing. Kau adalah perisaiku malam ini. Dan jika kau cukup patuh... mungkin aku akan membiarkanmu merasakan lebih dari sekadar lukaku besok pagi."
Dante mencium lutut Aira melalui kain tipis itu dengan penuh pemujaan. "Apapun... apapun perintah Anda, Nyonya Aira."
Dante menyebut nama "Aira" dalam gumaman napasnya, sebuah bisikan yang ia sendiri tidak mengerti, namun ia tahu jiwa di depannya ini adalah satu-satunya hal yang ia inginkan untuk sisa hidupnya.
Aira tersenyum smirk ke arah jendela. Ia tahu, babak pertama penjinakan para serigala telah berhasil. Ia harus tetap kejam untuk bertahan hidup, dan tetap lembut untuk membuat mereka terobsesi.
btw udah lama Kael tidak menampakkan diri Thor...
Lanjuutt