Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Sederhana
Setelah melewati hari Minggu kemarin bersama Cila, entah kenapa bayangan tentang dia terus saja terulang di kepalaku. Hal-hal kecil yang seharusnya biasa… terasa berbeda.
Pagi ini, semua persiapanku sudah selesai. Seragam rapi, tas sudah siap, dan aku berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambut yang sebenarnya sudah cukup rapi dari tadi.
Aku menatap pantulanku sendiri beberapa detik.
Tiba-tiba pikiranku melayang ke Cila.
Dia masih sakit perut karena PMS. Kemarin saja dia sudah terlihat menahan sakit… apalagi hari ini harus berdiri lama di lapangan.
Aku menghela napas pelan.
“Kalau naik motor… dia nyaman nggak ya?”
Aku terdiam sebentar, mempertimbangkan sesuatu.
“Kayaknya lebih enak kalau dia diantar mobil saja…”
Aku mengangguk kecil pada diriku sendiri, merasa itu keputusan yang paling masuk akal.
***
Setelah sarapan dan pamit, aku langsung bergegas keluar rumah. Bukannya langsung ke sekolah, aku malah belok ke rumah Cila seperti biasa.
Aku duduk di bangku depan rumahnya, menunggu.
Suasana pagi itu cukup ramai. Beberapa anak sudah berangkat lebih dulu, dan suara kendaraan sesekali lewat di depan rumah.
Tak lama kemudian, pintu rumahnya terbuka.
Cila keluar.
Langkahnya pelan. Wajahnya tidak secerah biasanya. Dia tidak banyak bicara, hanya berjalan ke arahku dan duduk di sampingku tanpa mengatakan apa-apa.
Aku meliriknya sekilas.
“Ih… kelihatan banget nggak enaknya,” batinku.
Aku menarik napas kecil, lalu mencoba menyampaikan niatku.
“Cil…” panggilku pelan.
Dia menoleh sedikit. “Hm?”
Aku menggaruk belakang kepala, sedikit ragu. “Pagi ini… kamu diantar mama kamu aja ya. Pakai mobil.”
Dia langsung menatapku. Alisnya sedikit mengernyit.
“Emang kenapa?” tanyanya.
Nadanya datar, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu di situ. Sensitif… mungkin.
“Wah… jangan-jangan salah ngomong…” pikirku langsung.
“Ya… takutnya kamu nggak nyaman kalau di motor,” jawabku cepat, berusaha santai sambil tersenyum kaku.
Cila masih menatapku beberapa detik.
“Emang kapan aku bilang nggak nyaman?” balasnya.
Aku langsung terdiam.
“Iya juga sih…” batinku.
Aku menghela napas kecil, lalu tersenyum. “Oh… ya udah. Yuk, berangkat.”
Dia tidak menjawab, tapi langsung berdiri.
Aku ikut bangkit, lalu menyalakan motor.
***
Perjalanan dimulai.
Beberapa menit pertama… sunyi.
Aku mencoba fokus ke jalan, tapi rasanya ada yang mengganjal. Tanpa sadar, aku melirik ke spion.
Cila.
Dia menatapku.
Tajam.
“Waduh…” jantungku langsung berdegup sedikit lebih cepat.
Aku menelan ludah. “Kamu kenapa sih… jangan gitu dong. Aku takut,” ucapku setengah bercanda, setengah serius.
Beberapa detik hening.
Lalu—
Cila tertawa.
Tawa kecil, tapi cukup membuat suasana berubah.
“Lagian kamu tuh suudzon mulu,” katanya sambil mencubit pinggangku.
“Aduh! Sakit, Cil!” refleks aku sedikit oleng sebelum kembali menstabilkan motor.
Dia malah makin tertawa di belakangku.
Aku menghela napas pelan.
Entah kenapa… aku jadi lega.
“Ya aku kan khawatir…” gumamku pelan.
“Khawatir boleh… tapi jangan aneh-aneh juga,” jawabnya santai.
Aku hanya tersenyum kecil.
Perjalanan kembali tenang.
Tapi kali ini, bukan karena canggung.
Lebih ke arah… nyaman.
Meski begitu, dia jadi lebih banyak diam. Sesekali aku melihat dari spion, tangannya bergerak pelan menekan perutnya.
Aku sedikit mengurangi kecepatan motor.
“Masih sakit?” tanyaku hati-hati.
Dia tidak langsung menjawab.
“…Lumayan,” balasnya pelan.
Aku mengangguk kecil.
Angin pagi menyapu pelan. Jalanan mulai ramai.
Tidak banyak kata di antara kami, tapi entah kenapa… rasanya dekat.
***
Kami sampai di sekolah.
Suasana sudah ramai. Siswa baru mulai berbaris di lapangan, kakak kelas sibuk mengatur posisi.
Aku memarkir motor, lalu menoleh ke belakang.
Cila turun pelan, lebih hati-hati dari biasanya. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat, tapi dia tetap berdiri tegak.
“Bisa?” tanyaku pelan.
Dia mengangguk. “Bisa, lah.”
Aku ragu sebentar.
Lalu tanpa sadar, tanganku menyentuh topi yang kupakai.
Aku menatapnya sekilas.
“Kalau capek, bilang ya. Jangan dipaksain,” kataku.
Cila menatapku.
Tatapannya kali ini berbeda. Tidak tajam seperti tadi. Lebih lembut… dan entah kenapa, terasa lebih dalam.
“Iya, Rendra,” jawabnya pelan.
Kami berjalan masuk ke area sekolah bersama.
Dan untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan…
Langkahku terasa lebih ringan dari biasanya.
***
Hari itu berjalan seperti biasa.
Atau setidaknya… terlihat biasa dari luar.
Kami berdiri di lapangan, mengikuti arahan kakak kelas, berpindah barisan, mendengarkan penjelasan yang sebagian besar bahkan tidak benar-benar masuk ke kepalaku.
Tapi di sela semua itu, perhatianku selalu kembali ke satu hal yang sama.
Cila.
Sesekali aku melirik ke arahnya. Sesekali dia juga begitu. Tidak ada kata-kata, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang tetap berjalan pelan di antara kami.
Dan entah sejak kapan, aku mulai menyadari…
Hari-hari seperti ini tidak hanya terjadi sekali.
***
Hari-hari MOS berikutnya berjalan lebih cepat dari yang kukira.
Aku nggak benar-benar ingat semua materi yang disampaikan. Yang kuingat justru hal-hal kecil—cara Cila sesekali menahan perutnya, wajahnya yang kadang terlihat lelah tapi tetap memaksakan senyum, dan… entah kenapa, caranya tetap berusaha berdiri di sampingku.
Kami nggak banyak bicara di lapangan. Panas terlalu menyita tenaga, dan mungkin… kami sama-sama terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tapi anehnya, diam itu justru terasa nyaman.
Sesekali aku melirik ke arahnya. Sesekali dia juga begitu. Tidak ada kata-kata, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang berjalan pelan di antara kami.
Tanpa sadar, beberapa hari itu berlalu.
Dan di hari Rabu—hari terakhir MOS—pengumuman pembagian kelas akhirnya ditempel di papan depan sekolah.
Suasana langsung ramai. Siswa-siswa berkerumun, saling dorong, mencari nama masing-masing dengan wajah penuh penasaran.
Aku ikut berdiri di tengah kerumunan itu, mataku menyusuri daftar nama satu per satu.
Sampai akhirnya—
Ketemu.
Aku menemukan namaku.
Kelas X7.
Refleks, hal pertama yang kulakukan bukan pergi dari situ.
Aku mencari satu nama lain.
Cila.
Mataku bergerak lebih cepat sekarang, jantungku ikut berdetak lebih kencang tanpa alasan yang jelas.
Dan di situ…
Aku menemukannya.
Kelas X2.
Bukan di daftar yang sama.
Tanganku yang tadi santai langsung berhenti bergerak. Aku menatap dua nama itu bergantian dalam diam.
Beda kelas.
Aku menghela napas pelan. Entah kenapa, rasanya seperti ada sesuatu yang kosong tiba-tiba.
Padahal… ini hal yang wajar.
Sangat wajar.
“Ren!”
Suara itu memanggil dari samping. Aku menoleh cepat.
Cila berdiri di sana.
Dia juga terlihat sudah menemukan namanya. Tatapannya langsung mengarah ke arahku, seolah mencari jawaban yang sama.
“Kamu…” ucapnya pelan. “Di mana?”
Aku tersenyum tipis, berusaha terlihat santai. “X7.”
Cila mengangguk pelan. “Aku X2…”
Hening sesaat di antara kami.
Bukan hening yang canggung seperti dulu. Tapi… lebih ke arah kami sama-sama tahu, ada sesuatu yang berubah, meskipun tidak ada yang mengatakannya.
Aku menggaruk belakang kepala, lalu berkata pelan, mencoba membuat semuanya tetap terasa biasa.
“Ya sudah… nggak apa-apa.”
Cila menatapku, menunggu lanjutan kata-kataku.
Aku menarik napas sebentar. “Kita tetap berangkat sama pulang bareng kan.”
Dia masih diam, mendengarkan.
“Kalau kamu duluan, tunggu aku,” lanjutku. “Kalau aku duluan… ya aku yang nunggu.”
Cila menatapku beberapa detik. Lalu… senyum kecil itu muncul lagi.
“Iya,” jawabnya pelan.
Sederhana.
Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa seperti janji kecil yang kami pegang diam-diam.
Aku ikut tersenyum tipis, meskipun di dalam hati aku sendiri tidak tahu… seberapa lama hal sederhana seperti itu bisa tetap sama.
Dan hari itu, di akhir MOS…
kami sudah tahu, mulai besok kami akan berada di tempat yang berbeda.
Bukan jauh.
Tapi… tidak lagi sepenuhnya sama.