Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cokelat Penutup dan Bom Lamaran
Pagi itu, paviliun Shaneen terasa sangat hangat. Shaneen sedang tertawa kecil, jarinya masih memegang sepotong cokelat artisan. Karena gemas melihat Matthias yang makan terlalu pelan—sangat kaku seperti sedang makan ransum militer—Shaneen tanpa sadar menyuapkan potongan kedua ke mulut sang Jenderal.
"Kunyah yang benar, Tuan Falken. Jangan ditelan bulat-bulat, kau bisa tersedak," ujar Shaneen sambil tersenyum manis, senyum yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar.
Matthias baru saja akan membuka mulut untuk menerima suapan itu saat bayangan dua pria jangkung menutupi ambang pintu paviliun.
"Ninin? Kami membawakanmu... hidangan laut..." Suara Stellan melemah, keranjang di tangannya hampir merosot.
Mata Stellan dan Samuel membelalak sempurna. Mereka melihat pemandangan yang paling mustahil: Adik bungsu mereka yang jenius, yang tidak pernah membiarkan pria mana pun menyentuh barang-barangnya, sekarang sedang menyuapi seorang pria. Dan pria itu bukan sembarang orang.
"Apa yang Jenderal Matthias von Falkenhayn lakukan di paviliun pribadi milik adikku?" Tanya Samuel dengan suara rendah yang menggetarkan kaca ruangan.
Shaneen tersentak, tangannya yang memegang cokelat langsung ditarik kembali. "Kak Stellan! Kak Samuel! Kalian, datang?"
Matthias berdiri dengan tenang. Meski dia seorang Jenderal Tertinggi berusia tiga puluh tahun yang ketampanannya sanggup membungkam seisi ruangan, dia tahu betul siapa dua pria di depannya. Stellan dan Samuel adalah "tembok" pertama keluarga Asturia, yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya.
Matthias mengangguk hormat, gestur yang sangat jarang ia lakukan. "Tuan Asturia. Tuan Asturia Muda," sapanya dengan suara berat yang sopan. "Maaf jika kunjunganku mengejutkan kalian."
Stellan melangkah maju, auranya sebagai kakak tertua sekaligus pewaris bisnis keluarga yang "keras" sangat terasa. "Mengejutkan? Ini lebih dari sekadar mengejutkan, Jenderal. Kau tidak pernah punya urusan dengan keluarga kami. Kenapa kau ada di sini, di ruangan pribadi Shaneen?"
Matthias melirik Shaneen sebentar. Gadis dua puluh empat tahun itu tampak sibuk membersihkan sisa cokelat di jarinya, wajahnya terlihat bingung namun tetap manis. Matthias kemudian kembali menatap si kembar dengan tatapan yang sangat teguh.
"Aku datang untuk menyatakan niatku secara resmi," ujar Matthias tanpa basa-basi. "Aku ingin melamar Lady Shaneen von Asturia. Aku ingin dia menjadi istriku."
Hening total.
Shaneen yang baru saja ingin meminum kopinya langsung tersedak hebat. "UHUK! APA?! KAU BILANG APA?!"
Stellan dan Samuel membeku. Jika ini adalah film kartun, mungkin sudah ada suara ledakan di atas kepala mereka.
"Melamar?" Samuel tertawa kering, tawanya terdengar berbahaya. "Kau pikir kau siapa, Tuan Falkenhayn? Adikku baru saja pulang dari Oxford! Dia baru berusia dua puluh empat tahun! Dia masih punya masa depan panjang, bukan untuk dikurung di kastil kaku milikmu!"
"Tuan Falken ini bohong! Dia pasti gila!" Teriak Shaneen, wajahnya merah padam. Dia merasa frustasi luar biasa. Baru juga ingin menikmati masa tenang setelah S2, tiba-tiba ada Jenderal kaku yang mengajaknya menikah. "Jangan dengarkan dia, Kak! Dia cuma salah makan cokelat!"
Matthias tetap tak tergoyahkan. Ketampanannya yang tajam tidak berkurang sedikit pun meski dia sedang diintimidasi. "Aku sangat serius, Tuan Asturia. Aku akan menunggu jawaban resmi dari kepala keluarga kalian."
"JAWABANNYA ADALAH BIG NO! TIDAK! ANIYO! GAK MAU!" Potong Shaneen cepat, tangannya membentuk tanda silang di depan dada. "Keluar sekarang, Tuan Falken! Sebelum aku menyirammu dengan kopi stroberi ini!"