Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 — Jalan Pulang
Tangisan Isya perlahan mereda.
Dadanya masih naik turun.
Matanya sembab.
Ia mengusap air mata yang tersisa di pipinya, lalu mencoba menenangkan diri.
Ketika pandangannya mulai jelas kembali, ia melihat dua pria mabuk itu sudah terkapar di jalan.
Isya kemudian menoleh ke arah Zai.
Darah masih mengalir dari kepalanya.
“Aduh… ini banyak banget darahnya…” kata Isya panik.
Ia segera mengeluarkan tisu dari tasnya.
Dengan hati-hati ia mengelap darah yang mengalir di pelipis Zai.
“Ayo ke rumah sakit!” katanya cemas.
Zai menggeleng santai.
“Ah, tidak apa-apa. Laki-laki sudah biasa begini.”
Isya menghela napas.
“Ya ampun… tetap saja ini luka.”
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Oh iya! Di tas Isya ada perban.”
Ia membuka tasnya dengan cepat.
“Sini… duduk dulu. Isya pernah ikut PMR waktu sekolah.”
Zai menurut.
Ia duduk di pinggir jalan.
Isya mulai membersihkan luka itu dengan tisu yang sedikit dibasahi air minum dari botolnya.
Ia menekan pelan untuk menghentikan darah.
Setelah darah mulai berkurang, ia mengambil kain kasa kecil dari tasnya lalu menempelkannya di luka.
Kemudian ia membalutnya dengan perban sederhana agar kasa tetap menempel.
“Jangan terlalu banyak bergerak dulu,” kata Isya serius.
“Kalau nanti pusing, harus ke rumah sakit.”
Zai hanya tersenyum melihat kesungguhan Isya.
Sementara Isya melirik dua pria mabuk tadi.
“Aduh… itu bapak-bapak bagaimana ya… kasihan mereka tidur di situ.”
Ia terlihat bingung.
“Mungkin… panggil polisi saja ya?”
Zai mengangguk.
“Iya… biar aku telepon.”
Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi polisi.
Beberapa saat kemudian suasana menjadi sedikit hening.
Angin malam berhembus pelan.
Zai tampak ragu-ragu.
Namun akhirnya ia memberanikan diri berbicara.
“Sya…”
Isya menoleh.
“Iya?”
“Kenapa pulang malam?”
Isya tersenyum kecil.
“Ah… tadi ada lembur sedikit. Jadi agak malam.”
Tiba-tiba Isya terdiam.
Matanya membesar.
“Eh!”
Ia menatap Zai.
“Kok kamu tahu ini Isya?”
Ia menunjuk maskernya.
“Padahal Isya pakai masker…”
Zai langsung gugup.
“Oh… anu… itu…”
Ia menggaruk kepala.
“Aku kebetulan lewat saja. Terus tidak sengaja lihat kamu.”
“Oh begitu…”
Isya mengangguk pelan.
Lalu ia tersenyum hangat.
“Ya sudah. Jazakallah khairan ya.”
Matanya masih sedikit basah, tapi senyumnya tetap tulus.
Ia berdiri sambil merapikan tasnya.
“Sudah selesai. Gimana? Isya jago kan?” katanya sambil tertawa kecil.
Zai ikut tersenyum.
“Lumayan.”
Isya kemudian teringat adiknya
“Ah iya, sudah malam. Isya harus pulang. Nanti Ba'daa menunggu.”
Zai langsung berdiri.
“Eh… Sya…”
“Apa?”
“Ini sudah malam. Jalanan juga sepi.”
Ia ragu sejenak.
“Aku temani kamu pulang ya.”
Isya langsung menggeleng cepat.
“Ih, tidak mau!”
Zai bingung.
“Kenapa?”
Isya menjawab serius.
“Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh berdua.”
Ia mengangkat jari telunjuknya.
“Ingat kata Nabi, tidaklah laki-laki dan perempuan berdua kecuali yang ketiga itu setan.”
Zai terdiam.
“Iya sih…”
Ia berpikir sebentar.
“Tapi ini sudah malam. Banyak orang jahat… bahkan mungkin ada hantu.”
Isya langsung merinding.
“Ih! Kenapa kamu bilang hantu!”
Ia menutup telinganya.
“Takut!”
Zai menahan tawa.
“Ya sudah kalau begitu aku temani saja.”
Isya berpikir.
“Hmmm…”
“Tapi kalau berdua tetap saja ada setannya.”
Zai cepat berkata.
“Gini saja. Kamu di depan, aku di belakang.”
Isya langsung menggeleng.
“Itu mirip kisah Nabi Musa.”
Ia tertawa kecil.
“Aneh.”
Ia berpikir lagi.
“Sudah… kamu jalan di samping saja. Tapi jaga jarak. Tidak boleh dekat-dekat.”
Zai mengangguk cepat.
“Siap.”
Tidak lama kemudian polisi datang dan membawa dua pria mabuk tadi.
Setelah itu Isya dan Zai melanjutkan perjalanan.
Mereka berjalan dengan jarak dua langkah.
Isya mulai bercerita ringan.
“Dulu Isya sebenarnya takut sama kamu.”
“Kenapa?”
“Soalnya kamu terkenal nakal di sekolah dan galak.”
Zai tertawa kecil.
Mereka berjalan melewati sebuah jembatan kecil.
Di bawahnya sungai mengalir tenang.
Tiba-tiba Isya berhenti.
Matanya berbinar.
Ia berlari kecil ke tepi jembatan.
“MasyaAllah…”
Zai ikut mendekat.
Isya menunjuk ke arah sungai.
“Lihat!”
Di atas air yang mengalir, ratusan kunang-kunang beterbangan memancarkan cahaya kecil.
“Indah sekali…”
Isya tersenyum bahagia.
“MasyaAllah… indahnya ciptaan Tuhan.”
Ia menatap kunang-kunang itu seperti anak kecil yang kagum.
Zai diam memandang Isya.
Dalam hatinya ia semakin kagum pada gadis itu.
Beberapa saat kemudian mereka melanjutkan perjalanan.
Zai melirik dua kantong plastik hitam di tangan Isya.
“Itu kamu bawa apa?”
Isya tersenyum misterius.
“Oh ini?”
“Hehe… nanti lihat saja.”
Zai makin bingung.
Beberapa menit kemudian Isya berhenti di sebuah tempat.
Ia memanggil pelan.
“Mpusss… mpusss…”
Zai heran.
“Ini Isya. Kamu di sini tidak?”
Ia membuka kantong plastik.
“Isya bawa makanan.”
Setelah beberapa saat—
“Meong…”
Seekor anak kucing kecil muncul dari balik kardus.
“Ah! Ini dia!”
Isya jongkok dengan senang.
“Sini sini…”
Ia memberikan potongan daging.
“Makan yang banyak ya.”
Ia tertawa kecil.
“Ini rezeki kamu hari ini.”
Ia mengusap kepala kucing itu.
“Ingat kata Isya kan… Tuhan itu Maha Kaya.”
“Buktinya mpuss dapat makanan.”
Zai hanya bisa tersenyum melihatnya.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
Zai bertanya,
“Kamu suka kucing ya?”
Isya mengangguk.
“Iya. Semua makhluk itu bisa jadi teman.”
Zai mencoba menggoda.
“Sebenarnya aku juga suka kucing…”
Ia melirik Isya.
“Tapi yang aku suka itu ka—”
Tiba-tiba—
“KAKAAAKKKK!”
Suara keras memotong ucapannya.
Isya menoleh.
Ba'daa berdiri di depan rumah tetangga.
“Kakaaak!”
Isya berteriak balik.
“Hei! Sudah malam kok teriak-teriak!”
Ia tertawa canggung kepada Zai.
“Hehe… maaf ya. Itu adik Isya.”
Zai mengangguk.
Isya tiba-tiba penasaran.
“Oh iya, tadi kamu mau bilang apa?”
“Suka apa?”
“Kancil? Kangguru?”
Zai langsung panik.
“Eh… iya… itu…”
“Kambing!”
Isya mengernyit.
“Oh kambing.”
Ia tertawa.
“Isya suka juga sih… tapi baunya weee.”
Zai hanya bisa tersenyum kaku.
Isya melambaikan tangan.
“Terima kasih sudah menemani ya.”
Ia berlari ke arah Ba'daa.
“Kenapa di luar? Kenapa tidak tidur?”
Ba'daa menatap tajam ke arah Zai.
“HEI! Itu siapa?!”
“Katanya kerja… kok ada pasangan!”
Zai langsung melambaikan tangan canggung.
Isya menghela napas.
“Ih jangan ngaco.”
“Itu Kak Zai. Dia baik, tadi menemani Kakak.”
Tiba-tiba ibu tetangga keluar.
“Eh Isya sudah pulang?”
“Ini Ba'daa tidak mau masuk. Katanya mau menunggu kakaknya di luar.”
Isya langsung merasa bersalah.
“Aduh… maaf ya Bi. Jadi merepotkan.”
Ibu itu tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Isya mengangguk.
“Baik Bi, kami pulang dulu.”
Ia melambaikan tangan.
“Dadah.”
Kemudian Isya berjalan pulang bersama Ba'daa.
Ia juga melambaikan tangan pada Zai.
“Pulang ya!”
Ba'daa malah menjulurkan lidah ke arah Zai.
“Weee!”
Isya langsung mengetuk kepala adiknya pelan.
“Sudah!”
Di rumah, Ba'daa langsung bertanya.
“Kakak pacaran ya?”
Isya terkejut.
“Eh! Tidak boleh! Pacaran itu haram!”
Ba'daa cemberut.
“Terus kenapa pulang malam?”
Isya tertawa kecil.
“Ah anak kecil ga usah tahu. Nanti kalau sudah besar baru tahu,.” goda kakanya
Ia masuk ke dapur.
“Hei, lapar tidak?”
“Iya! Ba'daa tidak mau makan di rumah Bibi.”
Isya mengangkat kantong plastik.
“Kebetulan Kakak bawa bahan makanan.”
Tidak lama kemudian mereka makan bersama.
Rumah kecil itu kembali hangat.
Setelah itu, kakak dan adik itu pun tertidur dalam lelah yang panjang.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘