Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI DAN RASA BERSALAH
Pagi datang terlalu cepat.
Cahaya matahari menembus tirai tipis apartemen Rico dan mendarat tepat di wajah Anela. Ia mengerang pelan.
“Kenapa sih matahari rajin banget…” gumamnya setengah sadar.
Beberapa detik ia masih memeluk bantal, menikmati sisa hangat di kulitnya. Lalu kesadaran datang pelan-pelan.
Ini bukan kamarnya. Langit-langitnya beda. Aromanya beda, kamarku gak bau kekayaan kaya gini.
Dan… ya Tuhan.
Semalam.... aku ngapain?.
Anela langsung membuka mata lebar.
“Ya ampun…”
Ia refleks menarik selimut lebih tinggi. Jantungnya berdebar—bukan karena deg-degan manis lagi, tapi karena rasa malu yang datang bertubi-tubi. Ia memandangi dirinya yang tak memakai sehelai kain pun.
Lima tahun.
Lima tahun ia jadi perempuan super disiplin. Kerja, pulang, urus anak, tidur.
Dan semalam? Ia berubah jadi versi dirinya yang bahkan ia lupa pernah ada.
Anela duduk pelan di tepi kasur. Otot-ototnya terasa pegal, terutama dibagian bawah, terasa lembab… sangat mengingatkan apa saja yang terjadi.
"Aaah...ooh....Anela, kamu hot banget sayang." Tiba-tiba teriakan terakhir Rico semalam terbersit di kepalanya.
Pipinya memanas.
“Aku ngapain sih semalam…”
Lalu satu nama muncul lebih keras dari semua pikiran lain.
Ziyo.
Ia langsung meraih ponsel. Ada pesan dari pengasuh. Ziyo tidur nyenyak. Sudah sarapan. Bahkan kirim foto lagi makan roti dengan muka belepotan selai.
Anela menghembuskan napas lega.
“Oke. Anak selamat. Ibunya… sangat kacau!.”
Ia turun dari tempat tidur, membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu mencium aroma kopi.
Di meja ruang tamu sudah ada sarapan sederhana. Roti panggang. Telur. Kopi hangat.
Dan secarik kertas kecil.
Tangannya sedikit gemetar saat membacanya.
Maaf harus buru-buru. Latihan pagi. Nggak tega bangunin kamu—kamu kelihatan damai banget soalnya waktu tidur.
Aku hubungi kamu nanti.
– Rico
Anela menatap tulisan itu cukup lama.
Damai?
Kalau dia tahu isi kepala aku sekarang, damai dari mana…
Ia duduk pelan di sofa, masih memegang kertas itu.
Ingatan semalam datang lagi. Wajahnya, postur tubuhnya. Cara Rico menatapnya. Cara ia menariknya lebih dekat. Cara ia menjelajahi semua lekuk tubuhnya. Dan caranya bergerak dalam penyatuan panas semalam membuatnya merasakan kenikmatan itu kembali....emh....
Anela menutup wajahnya dengan tangan.
“Stop. Stop ingat.”
Tapi tubuhnya justru bereaksi halus pada memori itu. Getaran kecil yang membuatnya makin kesal.
Ia bukan gadis belasan tahun yang baru kenal cinta.
Ia ibu satu anak.
Perempuan dewasa.
Tapi kenapa semalam ia merasa begitu… hidup?
Ia berdiri dan berjalan ke jendela besar. Kota terlihat terang, sibuk seperti biasa. Tidak ada yang tahu kalau di dalam dirinya ada badai kecil.
Apakah ini cuma one night stand yang terlalu bagus?
Atau awal drama yang bakal bikin dia pusing tujuh keliling? Tapi mengingat kelihaian Rico di Ranjang, seharusnya meskipun ini berlanjut menjadi drama, sepertinya akan jadi drama yang cukup panas.
Anela mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan. Tumit heels-nya tergeletak di dekat sofa.
“Kamu benar-benar kehilangan kontrol, Anela,” gumamnya, tapi ada senyum tipis di sudut bibirnya.
Ia meraih ponselnya.
Tidak ada pesan baru.
Hatinya sedikit turun.
Kenapa sih aku nungguin?
Ia meletakkan ponsel.
Lima detik kemudian diambil lagi.
Masih tidak ada.
“Ya ampun, aku kenapa jadi kayak ABG…”
Tapi jauh di dalam hatinya, ada perasaan hangat yang sulit ia abaikan.
Ia ingin pesan itu datang.
Ingin Rico benar-benar menghubunginya.
Dan itulah yang paling membuatnya takut.
Bukan karena semalam begitu panas dan tentu saja nikmat.
Tapi karena untuk pertama kalinya setelah lama sekali…
Ia ingin lebih.