NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4. Terluka

Happy Reading

Alderza? Lagi?

Aily menelan salivanya ketika melewati Alderza yang tengah tertidur. Untung saja masih ada bangku kosong di sebelah kanannya, jadi ia tidak perlu repot-repot untuk berurusan dengan cowok tersebut.

Setelah duduk, Aily mengeluarkan buku matematika nya dan mulai memeriksa tugasnya yang sudah ia kerjakan semalam.

Citt....

Rem diinjak yang membuat mobil bus berhenti mendadak yang membuat semua murid yang ada di bus terpental. Termasuk Alderza yang terbangun karena kaget.

Mereka menatap ke arah luar jendela, dan mendapati ternyata sedang lampu merah. Tapi, saat itu juga mereka menatap awan gelap yang menyelimuti sinar mentari di pagi hari.

Mentari sama sekali tidak menyapa mereka. Sinarnya begitu redup, dan awannya tampak hitam. Cuaca kali ini benar-benar buruk, terutama bagi mereka yang tidak membawa payung ataupun jas hujan, karena bus berhenti cukup jauh dari gerbang sekolah.

"Eh, lo bawa payung gak?"

"Bawa lah."

"Untung gue bawa jas hujan, jadi selow aja."

Mereka berbincang-bincang dan Aily tersenyum kecil karena ia membawa payung di dalam tasnya. Tapi sebaliknya, Alderza bingung karena ia tidak membawa payung ataupun jas hujan sama sekali. Semua kebutuhannya itu ada di dalam mobil miliknya. Sial!

Tak lama kemudian, bus pun berhenti di depan halte. Aily dengan santai turun bersama para siswa dan siswi lainnya.

Saat para siswa dan siswi lainnya sudah beranjak dari sana, Aily mengeluhkan payung ungu nya, tapi matanya pun langsung tertuju ke arah Alderza.

"Kamu gak bawa payung ya?" Tanya Aily.

"Bukan urusan lo!" Balas Alderza tidak peduli. Tapi, ia tidak bisa berbohong. Mata Alderza ketahuan sedang menatap payung ungu milik Aily.

Aily hanya terdiam mematung melihat Alderza.

"Ngapain lo bengong?"

"Ya udah deh, aku duluan ya."

Aily langsung membuka payungnya, tapi tak lama setelah itu, Alderza langsung mengambil payungnya tersebut.

"Kamu mau pake payungnya bareng aku? Gak papa kok!" Ucap Aily pelan.

"Siapa juga yang mau bareng lo!" Ucap Alderza membuat Aily kebingungan. Jika Alderza tidak mau satu payung bersama dirinya, berarti....

"Lo bawa jaket kan, sementara gue enggak. Jadi, lo lari ke dalem sekolah pake jaket, sementara gue pake payung lo."

Aily mendongak menatap Alderza tidak percaya. Hujannya begitu deras. Jika saja hujannya hanya rintik-rintik, tanpa jaket pun masih bisa ia lewati.

Setega itukah?

"Tapi....."

"Bye!" Ucap Alderza berniat meninggalkan Aily.

"Alderza, tunggu dulu!" Alderza kesal karena Aily berani memanggil namanya dan memerintahnya seperti itu.

"Minggir lo!" Balas Alderza sembari mendorong Aily hingga terjatuh.

Cairan merah mulai keluar dari lututnya yang terluka akibat dorongan Alderza tadi. Aily hanya bisa menatap lututnya lemah, kemudian mencoba kembali berdiri.

Seperti tak punya hati, Alderza langsung meninggalkan Aily begitu saja dengan menggunakan payung milik Aily untuk menembus hujan deras tersebut.

Ingin sekali ia teriak, ingin sekali ia marah untuk meluapkan emosinya tersebut. Tapi, yang bisa ia lakukan hanyalah tersenyum. Senyuman penuh luka yang menyayat hati siapapun yang melihatnya.

Aily membuka jaketnya lalu ia mengangkatnya dengan kedua tangannya. Sangat jelas meski Aily menggunakan jaket untuk melindungi kepala, tapi baju, rok, dan sepatunya tidak akan bisa terlindungi.

Oke, ia sama sekali tidak peduli apakah ada yang melihatnya atau tidak. Ia langsung membuka sepatunya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah semuanya beres, ia pun berlari sekencang mungkin menuju ke dalam gedung sekolah.

Di blok XII IPS, Aily tersengal dengan napas yang terengah-engah. Ia membuka tasnya, dan kemudian memakai sepatunya kembali. Sepertinya rok, baju, dan rambutnya tidak terlindungi oleh jaketnya.

"Aily!" Teriak Wulan dari kejauhan membuat Aily menengok ke arahnya.

"Wulan?"

"Ya ampun Aily, aku nungguin kamu loh dari tadi. Kenapa kamu gak bilang kalo kamu gak ada payung? Kan bisa aku jemput kamu di depan."

"Aku gak punya kontak kamu."

Wulan mengangguk dan kemudian mulai mencari ponsel Aily di dalam tasnya. Wulan bisa bernapas lega karena tas Aily tahan air. Sehingga ponsel, buku, dan peralatan lainnya yang berada di dalam tas tidak ikut basah.

"Ini no aku, kalo ada apa-apa kamu bisa langsung hubungin aku. Jangan sungkan-sungkan ya." Ucap Wulan membuat Aily tersenyum manis.

"Rambut kamu acak-acakan banget! Kalo basah, rambut tuh jangan diiket. Kalo gak nanti bau!"

Wulan pun memegang rambut Aily. Cewek itu hanya pasrah atas segala ucapan Wulan yang terus memintanya untuk ini itu.

Seperti saat ini, Wulan sedang membuka ikatan rambut Aily dan membuat rambutnya terurai indah.

"Ya ampun Aily, kamu cantik banget kalo rambut kamu diurai gini!"

Mata Wulan berbinar ketika melihat perubahan drastis Aily dengan rambutnya yang terurai. Sekarang, Wulan mengeluarkan bedak bayi dari tasnya.

"Mau apa?"

"Biar muka kamu gak berminyak. Kan tadi kamu udah kebasahan gitu loh. Lagian, cuman beda bayi kok."

Aily hanya mengangguk pasrah. Wulan pun dengan semangat langsung menggosokkan tangannya dengan bedak bayi, lalu mengusapkannya dengan lembut ke waja Aily.

"Tutup matanya!" Ucap Wulan.

Wulan pun memoleskan sedikit lipbalm agar bibir Aily tidak kering. Tidak perlu berwarna, karena Aily sangat cantik bila natural seperti saat ini.

"Beres. Yaudah, yuk ke kelas."

"Padahal kamu tadi gak perlu dandanin aku." Ucap Aily sedikit cemberut.

"Kamu itu cantik Aily, cuman kamunya aja yang gak sadar."

Aily seketika terdiam. Cantik? Ia sama sekali tidak pantas untuk menyandang kata tersebut. Itu membuatnya tidak percaya diri sama sekali.Tapi setelah itu, semua orang menganga melihat penampilan Aily yang sangat mengejutkan.

Meski rambut dan bajunya basah, tapi kali ini ia terlihat begitu berbeda. Tidak seperti biasanya yang selalu berjalan merunduk, kini ia berjalan sembari tertawa bersama Wulan.

"Wulan, kamu udah ngerjain tugas belum?"

"Tugas apaan?"

"Matematika." Jawab Aily sembari memberikan bukunya kepada Wulan.

"Waduh, aku sama sekali gak tau kalo ada tugas. Gimana dong?"

Aily tersenyum. Tentu saja ada pengecualian bagi murid baru seperti Wulan.

"Nggak papa deh kayaknya. Soalnya kan sekarang yang maju itu si cowok songong itu." Jawab Wulan sembari memperlihatkan wajah cengirnya itu.

Aily hanya tersenyum manis. Ia terus menanti kedatangan guru. Sementara itu, teman-teman Alderza masuk ke dalam kelas.

Brakk

"Kehujanan ya, kaciannya." Ucap Sinta sembari menggebrak meja.

"Baju lusuh gitu, cocok lah kalo dijadiin kain pel."

Sinta dan Riska tertawa, sementara 3 cowok itu melalui mereka begitu saja. Terutama Alderza dengan tampang tanpa dosanya, berlalu begitu saja melewati Aily.

"Al, lihat deh bajunya!" Ucap Riska sembari menatap jijik ke arah Aily yang sedang basah kuyup.

"Males liatnya juga, lagian gak ada bagus-bagusnya."

"Tapi Aily cantik kok walau basah kuyup gitu." Ucap Bintang yang langsung mendapatkan tatapan sadis dari Riska dan Sinta.

"BINTANG!"

"Iya dah, gue diem."

Bintang menepuk pundak Alderza sembari mendekatkan bibirnya ke telinga Alderza. Rasanya, ingin membisikkan sesuatu.

"Munafik lo kalo bilang Aily gak ada bagus-bagusnya!" Bisik Bintang pelan.

Mereka pun langsung duduk ke tempatnya masing-masing karena kedatangan bu Asih.

"Kok kamu diem aja sih?" Tanya Wulan kepada Aily.

"Udah, ayo fokus belajar!" Balas Aily berusaha mengalihkan topik.

Wulan sengaja membiarkan mereka. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Aily. Ia benar-benar ingin melihat Aily melawan mereka, tapi ternyata hanya diam saja. Seketika membuatnya benar-benar kesal dan ingin menyobek mulut mereka yang kotor itu.

Karena sepertinya Aily ingin fokus belajar, Wulan pun langsung mengalihkan perhatiannya ke arah bu Asih.

"Ayo Alderza, maju ke depan!" Perintah bu Asih tiba-tiba.

"Gak bisa bu."

"BUKANNYA IBU UDAH KASIH TAU KAMU KEMARIN, KALO KAMU ITU LAGI IBU HUKUM."

Alderza terdiam, ia memang sama sekali tidak bisa mengerjakan soal matematika tersebut. Untuk apa dipaksa maju ke depan? Itu malah hanya akan mempermalukannya saja.

"ALDERZA, JAWAB IBU!"

Masih hening, sama sekali tidak ada jawaban dari Alderza. Bahkan seisi ruangan hanya terdiam tak berkutik karena takut.

"IBU TAMBAH HUKUMANNYA! KALAU SAMPAI PERTEMUAN SELANJUTNYA GAK BISA, SELAMA SATU SEMESTER NANTI, KAMU YANG MAJU BUAT NGERJAIN SEMUA TUGAS IBU!"

Alderza mengepalkan tangannya tidak terima. Bagaimana ini? Kenapa malah jadi begini? Semester ini akan terasa seperti neraka baginya.

Dan ini tidak adil karena hanya dirinya lah yang dihukum, sementara teman-temannya tidak.

"Kalau gitu, siapa yang bisa ngerjain?"

Dengan berani, Aily pun langsung mengangkat tangannya.

"Aku bisa bu!"

"Ayo maju ke depan."

Aily maju ke depan dan menuliskan jawaban dari soal matematika tersebut. Ia maju bahkan tanpa catatannya. Semua rumus sudah berada di luar kepalanya. Bahkan, jika Aily ingin masuk ke jurusan IPA pun, tidak akan menjadi masalah. Tapi, ada satu hal yang membuatnya memilih untuk masuk ke jurusan IPS. Ya, Aily menyukai sejarah.

Karena sejarah menceritakan tentang masa lalu, membuatnya selalu ingin berada di masa lalu.

Tak butuh waktu lama, Aily pun menyelesaikan tugas tersebut dengan sempurna.

"Aily itu kaki kamu kenapa?" Tanya bu Asih begitu melihat lutut Aily terluka hingga darahnya turun sampai ke kaus kakinya.

Aily terkejut, ia tidak menyangka darahnya akan keluar sebanyak itu. Aldersa langsung kaget melihat lutut Aily berdarah. Mungkinkah itu ulahnya?

"Em, tadi pas di jalan jatoh bu." Ucap Aily berbohong.

"Ke UKS ya, biar lukanya dibersihin sama anak-anak PMR." Balas bu Asih.

***

Bel sekolah pun berbunyi, Aily langsung merapikan bukunya ke dalam tas, lalu memakai jaket ungu nya.Tapi tak lama, Sinta dan Riska kembali menghampirinya.

"Caper banget sih, luka kayak gitu doang lebay nya selangit!" Ucap Sinta.

"Eh, lo mau cari perhatian ya sampe pake perban segala." Balas Riska sembari mendorong Aily hingga membentur bangkunya.

"Lo sama temen sopan dikit lah!" Balas Wulan tidak terima melihat Aily diperlakukan seperti itu.

"Gak usah sok pahlawan deh lo!"

Sinta yang kesal kemudian langsung menarik perban yang ada di lutut Aily hingga membuat lukanya terbuka kembali. Aily pun hanya bisa terpekik menahan sakit. Kenapa mereka bisa setega ini? Apa salahnya? Kenapa ia selalu dipojokan seperti ini?

Aily menangis, tetesan air mata mulai. membasahi pipinya. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.

Tiba-tiba, cowok tampan dengan baju acak-acakan tersebut sayang menghampiri mereka.

"Sinta, Riska, berhenti! Biar gue yang urus ni bocah. Kalian pulang aja sana!" Ucap Alderza.

Terima kasih yang udah baca. Kasih tau ya kalo ada yang typo, atau ada kata yang kurang tepat. Love you guys.

1
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!