Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Terminal Tanjungbalai yang Berdebu
Bab 16: Terminal Tanjung Balai yang Berdebu
Matahari baru saja merangkak naik di atas kaki langit Tanjungbalai, namun hawa panas sudah mulai terasa menggigit kulit. Kota ini tidak pernah memberikan kompromi soal suhu. Pukul 08.30 WIB, Rafi sudah berdiri di pinggir jalan depan terminal, mencoba mengatur napasnya yang sedikit memburu. Secara logis, ia datang terlalu awal. Nisa baru akan sampai tiga puluh menit lagi, namun variabel ketidakteraturan angkutan umum di kota ini memaksanya untuk mengambil keputusan paling aman: lebih baik menunggu daripada membuat Nisa menunggu.
Terminal Tanjungbalai pagi ini adalah sebuah orkestra kekacauan yang akrab. Bau solar yang menyengat bercampur dengan aroma amis ikan dari pasar yang terbawa angin, menciptakan atmosfer yang merangsang saraf penciuman secara kasar. Debu-debu halus berterbangan setiap kali bus antar kota masuk atau keluar, menyelimuti dedaunan pohon peneduh yang warnanya sudah berubah dari hijau menjadi abu-abu kusam.
Rafi berdiri di bawah naungan atap seng toko kelontong yang sudah berkarat. Ia meraba saku celananya, memastikan ponselnya masih ada. Layarnya menunjukkan pukul 08.35.
"Masih lama," gumamnya.
Ia memperhatikan sekeliling dengan pandangan analitis. Di hadapannya, beberapa unit bus ekonomi—sering disebut bus "bumel"—sedang ngetem mencari penumpang.
Kondektur-kondektur berteriak lantang dengan suara serak yang khas.
"Kisaran! Kisaran! Satu lagi, jalan!"
"Medan! Medan! Langsung berangkat!"
Rafi tahu betul, "satu lagi jalan" adalah sebuah hiperbola pemasaran. Dalam realitas transportasi daerah, "satu lagi" bisa berarti sepuluh penumpang lagi atau hingga kursi bus benar-benar sesak sampai ke pintu. Secara ekonomi, bus tidak akan bergerak jika kuota minimal keuntungan bahan bakar belum terpenuhi. Inilah alasan mengapa ia meminta Nisa bertemu jam 9 pagi; agar mereka punya peluang mendapatkan bus yang sudah hampir penuh dan siap berangkat, meminimalisir waktu menunggu di dalam kabin bus yang pengap.
Ia melirik ke bawah, ke arah sepatunya. Debu terminal mulai menempel di permukaan kulit sepatu yang sudah ia semir tipis semalam. Ia segera menggosokkan bagian samping sepatunya ke betis celananya yang lain, sebuah usaha sia-sia untuk menjaga citra kebersihan. Lem Alteco di bagian sol masih terlihat kokoh, meski ia merasa setiap langkah yang ia ambil di tanah terminal yang tidak rata ini adalah sebuah ujian stres mekanis bagi alas kakinya.
"Jangan lepas sekarang," bisiknya skeptis.
Seorang calo dengan kaos yang basah oleh keringat mendekatinya. "Kisaran, Dik? Naik itu, sudah mau berangkat."
Rafi menggeleng sopan. "Nunggu kawan, Bang."
Calo itu berlalu tanpa minat. Di terminal ini, waktu adalah komoditas. Jika kau bukan calon penumpang yang siap naik saat itu juga, kau tidak memiliki nilai ekonomi bagi mereka.
Rafi kembali memfokuskan pikirannya pada Nisa. Kecemasan yang sempat mereda semalam kini muncul kembali dalam bentuk yang berbeda. Bagaimana jika Nisa tidak datang? Bagaimana jika angkot yang dinaiki Nisa mengalami ban bocor? Secara statistik, probabilitas kejadian tersebut memang kecil, namun dalam kondisi mental Rafi saat ini, setiap kemungkinan buruk terasa sangat nyata.
Ia mengeluarkan dompetnya, sedikit bersembunyi di balik tiang toko agar tidak mengundang perhatian kriminal. Ia menghitung kembali uangnya secara mental.
* Ongkos bus berdua ke Kisaran: Rp20.000 (estimasi tarif normal Rp10.000 per orang).
* Sisa: Rp295.000.
Rafi meraba tekstur uang kertas di jarinya. Kasar dan nyata. Ini adalah hasil dari lapar yang ia tahan dan mata yang perih karena menatap layar laptop tua. Di tengah debu terminal yang menyesakkan ini, uang itu terasa seperti pelindung gaib. Selama uang itu ada, ia memiliki kekuatan untuk menjadi "pria yang mampu".
Pukul 08.45.
Suara klakson bus yang memekakkan telinga mengejutkannya. Sebuah bus besar dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini baru saja masuk ke area terminal. Penumpang-penumpang turun dengan wajah lelah, membawa tas jinjing dan karung-karung berisi dagangan. Rafi memperhatikan wajah-wajah itu. Wajah-wajah perjuangan khas pesisir. Ia melihat dirinya sendiri di sana sepuluh tahun ke depan jika ia tidak belajar dengan benar atau jika ia gagal memanfaatkan peluang sekecil apa pun.
"Aku harus tampil percaya diri," ia mengingatkan diri sendiri.
Ia membetulkan kerah kemeja flanel birunya yang sudah ia setrika licin semalam. Keringat mulai membasahi bagian punggungnya, menciptakan rasa risih yang coba ia abaikan. Secara fisiologis, tubuhnya mulai bereaksi terhadap suhu lingkungan yang mencapai 32 derajat Celcius. Ia berharap parfum jeruk nipisnya masih bekerja. Ia mendekatkan pergelangan tangannya ke hidung. Masih ada sedikit aroma samar, cukup untuk memberinya rasa aman palsu.
Ia berjalan beberapa langkah menuju pintu masuk terminal, tempat angkot-angkot biasanya menurunkan penumpang dari arah pusat kota. Setiap angkot berwarna kuning yang lewat dipandangnya dengan teliti. Ia mencari sosok gadis dengan tas kecil yang mungkin sedang menempelkan wajahnya ke jendela angkot.
Terminal Tanjungbalai pagi ini bukan sekadar tempat transit bagi Rafi. Ini adalah gerbang menuju dunia yang ia impikan selama sebulan terakhir. Debu yang menempel di paru-parunya, suara bising yang menusuk telinga, dan bau solar yang pekat adalah biaya awal yang harus ia bayar.
Ia kembali mengecek ponselnya. 08.55.
Jantungnya mulai berdegup lebih kencang, mengalahkan suara mesin diesel yang menderu di dekatnya. Lima menit lagi menuju waktu yang dijanjikan. Secara rigoritas waktu, Nisa seharusnya sudah hampir sampai jika dia berangkat tepat waktu.
Rafi berdiri tegak, mencoba meniru postur pria-pria sukses yang pernah ia lihat di televisi—dagu sedikit terangkat, bahu tegap, dan pandangan yang fokus. Meskipun di saku celananya hanya ada sisa uang tabungan yang pas-pasan dan di kakinya ada sepatu yang "hidup" kembali berkat lem murah, ia menolak untuk terlihat kalah oleh keadaan di terminal ini.
"Permainan akan segera dimulai," pikirnya, mengulangi kalimat penutup dari draf plotnya sendiri.
Ia memicingkan mata saat sebuah angkot kuning berhenti tepat di depan gerbang. Pintu gesernya terbuka dengan suara derit logam yang tajam. Rafi menahan napas, menanti apakah sosok yang muncul dari sana adalah alasan di balik semua pengorbanannya selama ini.