NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Dua Dunia yang Berbeda

​Dunia Senara tidak pernah dimulai dengan alarm digital yang lembut atau aroma kopi mahal. Dunianya dimulai dengan suara gesekan sapu lidi di halaman rumah saat jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Udara di Blok 4 masih terasa lembap dan menusuk tulang, namun Senara sudah harus berdiri di depan kompor minyak yang apinya mulai tidak stabil, membantu ibunya menggoreng beberapa potong gorengan untuk dititipkan di warung depan.

​Bagi Senara, keseharian adalah tentang manajemen energi. Ia harus menghitung setiap kalori yang ia bakar agar bisa bertahan belajar hingga larut malam.

​"Nara, ini uang saku untukmu. Maaf hanya sedikit, sisanya harus Ibu tabung untuk bayar iuran simulasi UN minggu depan," ujar ibunya sambil menyodorkan beberapa lembar uang lusuh.

​Senara tersenyum, meski hatinya terasa seperti diremas. Ia tahu betapa berat ibunya mengumpulkan uang itu. "Tidak apa-apa, Bu. Nara masih punya sisa uang hasil les anak-anak SD kemarin, Ibu pakai saja untuk beli obat Ibu yang sudah habis."

​Setelah membantu ibunya, Senara mulai mempersiapkan dirinya, ia berdiri di depan cermin retak di kamarnya yang sempit. Ia menatap pantulan dirinya, seorang gadis dengan seragam yang warnanya sudah mulai kuning karena terlalu sering dicuci. Di samping cermin itu, robot biru tua yang ia temukan di warnet tetap tergeletak diam. Senara menyentuhnya sejenak, merasakan permukaan plastiknya yang tidak rata, lalu memasukkannya ke dalam saku jaket tanpa pikir panjang.

​Perjalanan Senara ke sekolah adalah sebuah perjuangan kecil. Ia harus berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju pangkalan angkot, melewati pasar yang becek dan riuh. Di angkot yang sesak dan panas, ia tidak menggunakan ponsel untuk mendengarkan musik, ia mengeluarkan buku saku kecil berisi hafalan rumus kimia yang ia tulis tangan sendiri. Baginya, setiap menit di dalam angkot adalah waktu yang sangat berharga untuk memastikan ia tetap menjadi yang terbaik.

​Di SMP Negeri 12, Senara adalah pilar. Ia membantu teman-temannya yang kesulitan, merapikan catatan kelas, dan tetap menjadi siswi yang paling tenang meskipun kebisingan di sekolah negeri itu seringkali tak tertahankan. Namun, di balik ketenangannya, ada rasa lelah yang ia sembunyikan rapat-rapat, ia adalah seorang pejuang yang tidak boleh terlihat berdarah.

​Sementara itu, di sisi lain kota, hari Bima dimulai dalam keheningan yang steril. Kamarnya seluas rumah tipe 36 di Blok 4, dengan jendela besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian. Alarm di rumah pintarnya berbunyi dengan frekuensi yang disesuaikan untuk membangkitkan gelombang otak secara optimal.

​Bima tidak butuh membantu siapa pun di pagi hari. Seorang pelayan sudah menyiapkan seragamnya yang disetrika sempurna di atas gantungan. Di meja makannya, sarapan bergizi lengkap sudah tersedia tanpa ia perlu meminta. Namun, Bima tidak benar-benar menikmati semua itu. Baginya, semua kemewahan ini adalah rutinitas yang membosankan, sebuah sangkar emas yang membuatnya merasa tidak memiliki tantangan nyata.

​Kegiatan favorit Bima sebelum berangkat sekolah adalah duduk di depan komputer workstationnya. Ia menghabiskan satu jam setiap pagi untuk memantau keamanan cyber di jaringan bisnis ayahnya, seolah-olah ia adalah penjaga gerbang yang tidak pernah tidur. Namun, pagi ini, pikirannya terus teralihkan ke data frekuensi aneh dari laboratorium SMP 12 kemarin.

​"Tuan Muda, mobil sudah siap," suara sopir terdengar dari interkom.

​Bima mendengus. Ia mengambil tas punggungnya yang berisi perangkat-perangkat canggih yang harganya bisa membiayai sekolah Senara selama bertahun-tahun. Di dalam mobil SUV hitamnya, ia tidak membaca buku. Ia menatap layar tablet, membedah algoritma enkripsi terbaru yang sedang dikembangkan oleh perusahaan kompetitor ayahnya.

​Di SMP Super Internasional, Bima adalah matahari. Semua orang berputar di sekelilingnya, berusaha mendapatkan perhatiannya, namun Bima tetap menjadi pusat yang dingin dan tak tersentuh. Ia tidak punya teman dekat, ia hanya punya bawahan atau orang-orang yang ia toleransi keberadaannya. Ia merasa dikelilingi oleh orang-orang bodoh yang hanya peduli pada status sosial, dan itulah yang membuatnya merasa Senara jauh lebih menarik daripada siapa pun di sekolahnya, meskipun ia miskin dan menyebalkan.

​Sore harinya, perbedaan hidup mereka semakin terlihat jelas.

​Senara berada di sebuah warung internet kumuh, namun bukan untuk bermain game. Ia duduk di sana karena itu satu-satunya tempat ia bisa mengakses jurnal internasional dengan kecepatan internet yang lumayan, meskipun masih sering laging. Ia mengetik dengan cepat, membuat draf untuk proyek kolaborasinya dengan Bima. Sesekali ia harus mengipas wajahnya dengan buku, karena udara di dalam warnet sangat pengap.

​Setelah dari warnet, ia melanjutkan kegiatannya menjadi guru les privat untuk dua anak SD di pinggiran Blok 4. Ia mengajar di teras rumah orang yang beralaskan tikar pandan. Senara bersabar menjelaskan pembagian matematika kepada anak-anak itu, meski perutnya mulai berbunyi karena ia melewatkan makan siang demi membeli kertas fotokopi.

​"Kak Nara, kenapa Kakak pintar sekali?" tanya salah satu muridnya polos.

​Senara tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis. "Karena Kakak tidak punya pilihan lain selain menjadi pintar. Kalau kita tidak punya apa-apa, setidaknya kita harus punya isi kepala."

​Di saat yang sama, Bima berada di pusat kebugaran pribadinya di rumah, ia berlatih tinju dengan pelatih profesional. Setiap pukulan yang ia lepaskan ke arah punching bag adalah bentuk pelampiasan dari rasa frustrasinya terhadap sosok yang melindungi Senara.

​"Kamu terlalu tegang, Bima. Kamu seperti sedang memukul seseorang yang sangat kamu benci," ujar pelatihnya.

​"Aku tidak membencinya," jawab Bima sambil menyeka keringat dengan handuk bersih. "Aku hanya benci pada sesuatu yang tidak bisa kupahami."

​Malam harinya, kedua rival ini berada di meja belajar masing-masing.

​Senara belajar di bawah cahaya lampu bohlam yang sesekali berkedip, ditemani suara nyamuk dan bising tetangga yang menonton televisi. Ia belajar sampai matanya perih, namun ia merasa puas karena hari ini ia telah menguasai satu bab baru tentang fisika kuantum secara otodidak.

​Bima belajar di ruangannya yang kedap suara, dikelilingi oleh tiga monitor besar dan referensi digital terbaik di dunia. Namun, ia merasa hampa. Ia meraih robot biru kecil dari hasil cetakan 3D yang ia buat berdasarkan ingatan visualnya tentang gantungan kunci Senara. Ia menatap replika itu, mencoba mencari tahu apa yang spesial dari benda sampah itu.

​"Siapa kamu sebenarnya, Senara?" gumam Bima.

​Di bawah langit malam yang sama, dua remaja ini sedang mempersiapkan diri untuk pertempuran berikutnya. Senara mempersiapkan otaknya untuk bertahan, sementara Bima mempersiapkan teknologinya untuk menyerang. Mereka hidup di dunia yang berbeda, dengan masalah yang berbeda, namun keduanya memiliki satu kesamaan, mereka sama-sama tidak akan membiarkan lawan mereka menang dengan mudah.

​Keseharian yang kontras ini adalah tenang sebelum badai. Karena minggu depan, di sekolah Senara, Bima telah menyiapkan skenario yang akan mengisolasi gadis itu dari segala bentuk bantuan luar. Sebuah ujian untuk melihat apakah Senara tetap menjadi jenius tanpa keajaiban digitalnya, ataukah ia hanya seorang gadis biasa yang selama ini bersembunyi di balik keberuntungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!