NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendopo yang terlalu diam

Api itu tidak terburu-buru.

Fariz jongkok di halaman belakang, mengaduk bara dengan ujung kayu, membiarkan lidah api menjilat pinggir kemeja itu pelan-pelan. Satu-satunya kemeja terbaik yang ia punya. Terlalu layak untuk berakhir seperti ini.

Tangannya menggenggam kemeja itu lebih erat — lalu melepaskannya.

Ini yang selalu kamu lakukan, sesuatu berbisik di dalam kepalanya. Memegang sebentar, lalu melepaskan sebelum diminta.

Di dadanya masih terasa kehangatan tangan Kyai Salman semalam, menetap seperti bekas yang tidak terlihat. Orang itu kini sudah di dalam tanah. Dan Fariz masih berdiri di sini, di depan api yang akan memakan satu-satunya kain terbaik yang ia miliki, tanpa tahu apa yang sebenarnya harus ia lenyapkan bersama kain itu.

"Jangan melamun, Iz." Ratna muncul di ambang pintu belakang, mengeringkan tangan di kain lap. "Nanti kesambet."

"Bu," Fariz menoleh, suaranya lebih pelan dari yang ia rencanakan, "kenapa baju ini harus dibakar?"

Ratna tidak menjawab langsung. Ia melangkah mendekat, mengambil kemeja dari tangan anaknya — tidak kasar, tapi tidak memberi ruang untuk ditahan — lalu melemparkannya ke dalam api bersama sarung dan kopiah.

"Sudah." Suaranya lembut tapi tertutup. "Ikuti saja perintah bapakmu."

Fariz menatap api yang kini menelan kain itu. Ada sesuatu yang ingin ia tangisi, tapi ia tidak tahu apakah itu kemejanya atau sesuatu yang lain — atau mungkin keduanya, atau mungkin sesuatu yang bahkan lebih tua dari kemeja itu, sesuatu yang sudah lama ia biarkan terbakar sedikit demi sedikit tanpa pernah benar-benar menyadarinya.

"Permisi!"

Suara dari depan rumah. Ratna melangkah ke dalam, dan kembali dengan wajah yang sudah memutuskan sebelum Fariz sempat bertanya.

"Iz. Ganti baju dulu. Kamu dipanggil ke pendopo."

Fariz menoleh. "Dipanggil siapa?"

"Pak Kades." Ratna sudah berjalan ke dalam, menyiapkan baju. "Aisyah juga ada di sana, katanya."

Fariz tidak bergerak sebentar.

Aisyah.

Ia menelan nama itu diam-diam — nama yang sudah berapa tahun ia simpan di tempat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Lalu ia mengikuti ibunya masuk, mengganti baju, dan tidak bertanya lebih lanjut.

Seperti biasa.

Pendopo Desa Sumberarum tampak lebih sunyi dari biasanya.

Beberapa pria bertubuh besar berjaga di sekelilingnya — kepala plontos, tatapan yang tidak menyambut. Mereka mengukur setiap langkah Fariz sejak ia turun dari motor, dengan cara orang-orang yang sudah terbiasa mengukur tanpa terlihat sedang melakukannya.

"Bapak sudah menunggu di dalam," kata salah satu penjaga, dagunya menunjuk ke pintu.

Di dalam, Darma Wijaya duduk di kursi utama. Aisyah di sisinya.

Keduanya menoleh bersamaan saat Fariz masuk.

Fariz mencium tangan Darma Wijaya — kebiasaan yang sudah tertanam sebelum ia berpikir — lalu mengangguk sopan ke arah Aisyah. Tatapan mereka bersinggungan, dan untuk pertama kalinya dalam semua tahun ia mengaguminya dari jauh, Fariz melihat sesuatu di mata perempuan itu yang bukan ketidakpedulian, bukan pula sambutan.

Lebih seperti peringatan.

Atau permintaan maaf.

Ia tidak sempat memutuskan yang mana — karena Aisyah sudah berpaling, memandang ke titik di atas bahunya yang tidak ada apa-apanya, dengan ekspresi seseorang yang sudah lama belajar melihat ke tempat yang tidak menuntut apa-apa darinya.

"Duduklah, Nak," ujar Darma Wijaya.

Fariz duduk di sofa di depannya.

"Hari ini kita kehilangan seorang tokoh agama."

Darma Wijaya memulai dengan suara yang datar — bukan duka, bukan juga ketidakpedulian. Sesuatu di antaranya yang lebih rumit dari keduanya.

"Kita semua tentu bingung..." ia berhenti sejenak, melirik Fariz, "harus bersedih, atau justru — melupakan."

Tangannya menepuk punggung Fariz pelan. Tekanannya membuat Fariz kaku.

"Kedatangan Kyai Salman sembilan tahun lalu cukup mengguncang desa ini, Iz." Darma Wijaya berdiri, berjalan ke jendela, kedua tangan disatukan di belakang punggung. "Padahal, sejak dulu desa ini sudah makmur."

Ia menoleh perlahan. "Adat dijaga. Kebiasaan diwariskan. Warga hidup tenang."

Langkahnya kembali menuju Fariz — pelan, tidak terburu-buru, seperti seseorang yang tahu waktu ada di pihaknya.

"Tapi Kyai Salman merasa perlu mengubah semuanya." Nada suaranya menurun, hampir berbisik — dan berbisik selalu lebih mengancam dari berteriak. "Sejak itu, hasil panen gagal. Ternak mati tanpa sebab. Beberapa warga jatuh miskin."

Ia berhenti tepat di depan Fariz.

"Bapakmu tahu betul apa yang harus dijaga." Singkat. Tapi beratnya tidak singkat. "Dan apa yang seharusnya tidak disentuh."

"Mungkin Kyai Salman terlalu jauh mencampuri hal-hal yang bukan urusannya." Darma Wijaya berbalik, berjalan menjauh. "Maka ia pergi... tanpa sakit, tanpa tanda."

Tanpa sakit, tanpa tanda.

Fariz menelan kalimat itu. Mencoba memahaminya. Dan berhasil — dengan cara yang ia tidak mau.

"Setiap kekacauan selalu menagih harga, Nak."

Hening sejenak.

"Bapak tahu malam itu kamu menemui Kyai Salman bersama Rahman."

Fariz tersentak.

Malam itu sunyi. Tidak ada yang lewat. Tidak ada bayangan di balik pagar. Ia sudah memeriksa sebelum mendorong jendela kamarnya.

Tapi Darma Wijaya tahu.

Bagaimana?

"Iz, kemarilah."

Fariz berdiri mengikuti — tubuhnya bergerak sebelum pikirannya memutuskan, refleks patuh yang sudah begitu dalam tertanam. Darma Wijaya berdiri di dekat jendela yang menghadap deretan makam leluhur. Kain putih menutup satu makam, dikelilingi bunga kamboja yang masih segar.

"Lihat itu." Jarinya menunjuk. "Leluhur kita sudah lebih dulu ada di sini. Merekalah yang menjaga desa ini tetap tenang."

Ia menoleh ke Fariz.

"Ingat baik-baik." Suaranya turun satu oktaf — bukan ancaman, tapi lebih buruk dari ancaman. Lebih seperti fakta yang sudah lama diketahui dan tinggal menunggu terjadi. "Apa pun yang dititipkan Kyai Salman kepadamu malam itu hanya akan membawa petaka."

Lengan Darma Wijaya merangkul bahu Fariz.

Sentuhannya tenang. Itu yang membuatnya tidak nyaman.

"Kau bisa dikucilkan," lanjutnya — pelan, hampir lembut. "Bahkan dibuang dari Sumberarum, tanpa belas kasih."

Ia melepaskan rangkulannya. Berjalan kembali ke kursinya, seolah semua yang baru diucapkan hanyalah percakapan biasa.

Di belakang mereka, Aisyah tidak bersuara.

Fariz menoleh sebentar ke arahnya — dan menemukan perempuan itu sedang menatap lantai dengan cara seseorang yang sudah hafal harus menatap lantai di momen seperti ini. Tangannya di pangkuannya, jari-jarinya menggenggam kain baju di perutnya — seperti seseorang yang memegang sesuatu agar tidak jatuh.

"Seharusnya kamu tidak keluar malam itu, Iz."

Suaranya nyaris tidak terdengar. Tapi Fariz mendengar. Dan yang lebih ia dengar adalah apa yang tidak diucapkan — bahwa Aisyah tahu ini akan terjadi. Bahwa ia tidak bisa mencegahnya.

Bahwa di antara mereka, ada tembok yang tidak dibangun oleh salah satunya.

"Bapak hanya mengingatkan," kata Darma Wijaya akhirnya. "Jaga adab dan kebudayaan kita. Itu yang akan membuat hidupmu tetap tenang."

Ia berdiri. Aisyah ikut berdiri — refleks, seperti bayangan yang tidak pernah belajar berdiri sendiri.

Seorang asisten diminta mengantar Fariz pulang.

Di ambang pintu, Fariz sempat menoleh ke belakang.

Aisyah masih berdiri di tempat yang sama. Tidak ikut berjalan. Tidak menatap ke arahnya. Tapi matanya — yang selama ini ia arahkan ke lantai — sekarang terangkat sedikit, menatap ke arah jendela, ke arah deretan makam di luar yang tidak bisa dilihat dari sini tapi ia tahu ada di sana.

Fariz berbalik. Melangkah keluar.

Selama ini ia mengagumi Aisyah dari jauh karena tidak punya keberanian untuk lebih dari itu. Sekarang ia mulai mengerti ada alasan lain jarak itu selalu ada — dan bukan salah satunya yang membangunnya.

Sepanjang perjalanan pulang, satu kalimat berputar di kepalanya.

Tanpa sakit, tanpa tanda.

Bukan ungkapan kehilangan. Cara seseorang menjelaskan sesuatu yang ia lakukan, bukan sesuatu yang terjadi.

Sucipto sudah berdiri di ambang pintu.

"Apa yang dia bicarakan denganmu, Iz?"

"Tidak ada apa-apa, Pak." Fariz melangkah masuk. "Cuma soal kebiasaan desa."

Sorot mata Sucipto mengeras.

"Dari dulu bapak sudah bilang, jangan bergaul di pondok itu." Suaranya meninggi. "Sekarang kamu malah diam-diam menemui Salman."

"Bapak tidak mau ada masalah." Napas pendek. "Jangan coba-coba melawan perintah bapak lagi."

Fariz mengangguk.

Masuk ke kamar. Menutup pintu.

Di balik pintu itu, ia berdiri diam — punggung menempel di kayu, tangan di sisi tubuh. Di kepalanya: Kyai Salman yang menggenggam tangannya dengan cara orang yang tidak punya pilihan lain. Darma Wijaya yang merangkul bahunya dengan cara orang yang sudah punya segalanya. Dan Aisyah — yang menggenggam kain bajunya sendiri di sudut ruangan, seperti seseorang yang tidak boleh memilih apa pun.

Seperti Fariz.

Selama ini.

Ada sesuatu yang keliru di desa ini. Bukan baru. Sudah lama. Sudah selalu. Yang baru hanya ini: untuk pertama kalinya, ia tidak bisa pura-pura tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah tidak tahu adalah pilihan yang masih tersedia untuknya.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!