Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang akhirnya Datang
Kami duduk di tepi ranjang.
Sunyi.
Tetapi bukan sunyi yang canggung.
Lebih seperti dua orang yang sedang mengumpulkan keberanian bersama.
Ashar menatap tangannya sendiri.
“Aku masih sedikit takut.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku tidak ingin terus berhenti setiap kali kamu bersuara.”
Aku tersenyum kecil.
“Kadang orang memang bersuara.”
Ia mengangguk serius.
“Aku baru belajar itu.”
Aku tidak bisa menahan tawa.
“Ashar… kamu benar-benar membaca terlalu banyak artikel.”
Ia mengangkat bahu.
“Itu membantu sedikit.”
Aku memegang tangannya.
“Kita tidak harus sempurna malam ini.”
Ia menatapku.
“Aku hanya ingin kita tidak berhenti lagi.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa hangat.
Kami perlahan berbaring.
Lampu kecil di samping tempat tidur membuat ruangan terasa lembut.
Ashar masih terlihat gugup.
Ia bahkan sempat salah arah ketika mencoba memelukku, membuat kami berdua tertawa lagi.
“Aku benar-benar tidak pandai,” katanya.
“Kamu sedang belajar.”
“Aku merasa seperti anak sekolah.”
“Aku juga.”
Kami saling menatap.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah…
Tidak ada lagi rasa takut yang terlalu besar di antara kami.
Hanya dua orang yang mencoba memahami satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, Ashar tiba-tiba berhenti dan menatapku dengan wajah sangat serius.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Aku benar-benar lupa menyalakan lilin romantis lagi.”
Aku tertawa keras.
“Ashar!”
Ia menutup wajahnya dengan tangan.
“Aku benar-benar buruk dalam ini.”
Aku menarik tangannya.
“Kamu tidak buruk.”
“Tidak?”
“Tidak.”
Aku menatapnya dengan lembut.
“Kamu hanya terlalu jujur.”
Ia menatapku lama.
Dan kemudian…
Ashar tersenyum.
Senyum yang berbeda dari biasanya.
Lebih ringan.
Lebih percaya diri.
Ia memelukku lagi.
Pelukan yang masih sedikit kikuk.
Tetapi kali ini…
Ia tidak mundur.
Tidak berhenti.
Tidak takut pada setiap desah kecil atau gerakan canggung yang terjadi.
Namun beberapa saat kemudian…
Ashar tiba-tiba membeku.
Aku mengerutkan kening.
“Ashar?”
Ia terlihat sangat panik.
“Aku… aku pikir kita harus berhenti sekarang.”
“Kenapa?”
Ia menatap sesuatu di antara kami dengan ekspresi shock.
“Ada darah.”
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu menyadari apa yang ia maksud.
Wajahku langsung memanas.
“Oh.”
Ashar langsung mundur sedikit seperti seseorang yang baru saja melakukan kesalahan besar.
“Aku menyakitimu.”
“Tidak.”
“Tapi ada darah.”
“Itu normal.”
Ia terlihat sangat bingung.
“Normal?”
Aku hampir tertawa melihat ekspresinya.
“Ashar… kamu benar-benar membaca terlalu sedikit artikel.”
Ia menatapku tidak percaya.
“Serius ini normal?”
Aku mengangguk.
“Serius.”
Ia masih terlihat ragu.
“Kalau kamu kesakitan—”
“Aku baik-baik saja.”
Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu tidak perlu panik setiap kali sesuatu terjadi.”
Ia menatapku lama.
Lalu menghela napas.
“Aku hampir mengalami serangan jantung barusan.”
Aku tidak bisa menahan tawa.
“Ini bukan film drama.”
“Bagiku ini lebih menegangkan daripada drama.”
Beberapa menit kami hanya duduk di kasur sambil tertawa kecil karena kecanggungan yang baru saja terjadi.
Ashar menggaruk belakang lehernya.
“Aku benar-benar tidak siap untuk bagian itu.”
“Aku juga tidak.”
“Kenapa tidak ada yang mengajarkan hal-hal seperti ini di sekolah?”
Aku tertawa.
“Itu akan menjadi pelajaran paling canggung di dunia.”
Ia mengangguk setuju.
“Tapi mungkin akan sangat membantu.”
Aku menatapnya.
Wajahnya masih sedikit merah.
Namun kali ini bukan karena panik.
Lebih seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang memalukan tetapi juga lucu.
Aku menggenggam tangannya lagi.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kita sudah sejauh ini.”
Ia mengangguk pelan.
“Kamu mau berhenti?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam beberapa detik.
Lalu ia menggeleng.
“Tidak.”
Aku tersenyum.
“Bagus.”
Aku mendekat dan memeluknya.
Kali ini aku yang memulai.
Ashar terlihat sedikit terkejut, tetapi ia tidak mundur.
Pelukannya kembali hangat.
Dan perlahan…
Kecanggungan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut.
Tidak ada lagi panik.
Tidak ada lagi rasa ingin berhenti setiap beberapa detik.
Hanya dua orang yang akhirnya berani melewati garis yang selama ini mereka takuti.
Ketika semuanya akhirnya tenang, aku berbaring dengan kepala di dada Ashar.
Ia mengusap rambutku dengan gerakan pelan.
Sunyi memenuhi kamar.
Namun sunyi yang terasa sangat damai.
“Mala,” katanya pelan.
“Iya?”
“Kurasa aku berhasil.”
Aku tertawa kecil.
“Ya.”
Ia menghela napas lega.
“Aku sangat gugup tadi.”
“Aku tahu.”
“Tapi… aku senang.”
Aku menutup mata sambil tersenyum.
“Aku juga.”
Dan malam itu…
Di villa kecil di tengah hutan pinus…
Kami akhirnya melewati ketakutan yang selama ini selalu berdiri di antara kami.
Bukan dengan sempurna.
Bukan tanpa kecanggungan.
Tetapi dengan sesuatu yang jauh lebih penting.
Kesabaran.
Kejujuran.
Dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua orang yang sama-sama belajar.