Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Ketika Rencana Diuji Waktu
Dua minggu setelah malam di rumah sakit itu, semuanya terasa lebih… tenang.
Alya kembali ke Singapura.
Arka kembali fokus mengembangkan bisnisnya.
Mereka mulai menjalani hubungan dengan arah yang lebih jelas.
Bukan sekadar bertahan.
Tapi membangun.
Alya menempelkan kunci rumah kecil itu di meja kerjanya.
Sebagai pengingat.
Sebagai janji.
Sebagai tujuan.
Namun hidup jarang menunggu orang siap.
Suatu sore, Alya dipanggil ke ruang direktur regional.
Ruangan itu terlalu rapi. Terlalu sunyi.
Dan biasanya, kabar besar lahir dari tempat seperti itu.
“Alya,” kata atasannya sambil tersenyum. “Kami sangat terkesan dengan performamu.”
Alya mengangguk sopan.
“Kami ingin kamu memimpin ekspansi cabang baru.”
Deg.
“Di mana, Pak?”
“Melbourne.”
Dunia seperti berhenti sepersekian detik.
Bukan Singapura.
Bukan Jakarta.
Australia.
Dan bukan satu tahun.
“Kontrak minimal tiga tahun. Dengan kemungkinan permanen.”
Kalimat terakhir itu terasa seperti palu.
Permanen.
Artinya—
Bukan lagi dua tahun lalu pulang.
Bukan lagi timeline sederhana.
“Ini promosi besar,” lanjut atasannya. “Tapi kami butuh keputusan cepat.”
Cepat.
Tentu saja.
Semua keputusan besar selalu datang saat kita baru saja merasa stabil.
Malam itu, Alya menatap kunci rumah di mejanya.
Ia memutarnya pelan.
Dua tahun.
Itu rencana mereka.
Tapi sekarang—
Dunia menawarkan versi yang lebih besar dari mimpinya.
Dan jaraknya… bukan lagi satu jam pesawat.
Ia menelpon Arka.
Tidak menunggu.
Begitu Arka mengangkat, Alya langsung berkata,
“Aku dapat tawaran lagi.”
Hening.
“Kali ini?”
“Melbourne.”
Sunyi di ujung sana.
“Berapa lama?”
“Tiga tahun. Bisa permanen.”
Arka tidak langsung menjawab.
Alya bisa membayangkan ia sedang mengusap wajahnya, berpikir.
“Ini besar, ya?” tanya Arka pelan.
“Iya.”
“Kamu mau?”
Alya menutup mata.
“Aku takut jawabannya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu aku mampu.”
Sunyi lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka membuat timeline—
Rencana itu terasa rapuh.
“Kalau kamu ambil,” kata Arka akhirnya, suaranya tenang tapi berat, “itu bukan lagi jarak yang bisa kita kunjungi tiap bulan.”
“Aku tahu.”
“Itu beda benua, Lya.”
“Iya.”
Hening.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada drama.
Tapi ketegangan itu terasa.
“Kita baru aja sepakat dua tahun,” Arka berkata pelan.
“Aku juga ingat.”
“Sekarang timeline-nya berubah?”
Alya menggenggam ponselnya lebih erat.
“Aku nggak mau milih antara kamu dan ini.”
“Tapi kadang hidup nggak kasih opsi dua-duanya.”
Kalimat itu jujur.
Dan menyakitkan.
Alya menahan napas.
“Kalau aku nolak,” katanya pelan, “aku mungkin akan menyalahkan diri sendiri.”
“Dan kalau kamu ambil?” tanya Arka.
Alya tidak langsung menjawab.
Karena jawaban itu lebih menakutkan.
“Kalau aku ambil… aku takut kehilangan kamu pelan-pelan.”
Sunyi panjang.
Lalu Arka berkata sesuatu yang tidak Alya duga.
“Datanglah ke sini.”
“Apa?”
“Ambil flight akhir minggu ini. Kita nggak bahas ini lewat telepon.”
Nada suaranya bukan marah.
Bukan panik.
Tapi tegas.
“Kita nggak ulang kesalahan lima tahun lalu,” lanjutnya. “Keputusan besar harus diambil bareng, tatap muka.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
Itu bukan penolakan.
Itu bukan persetujuan.
Itu ajakan untuk benar-benar menghadapi.
Alya menutup telepon.
Ia berdiri di depan jendela apartemennya.
Lampu kota Singapura berkilau.
Ia sudah mulai merasa nyaman di sini.
Sudah mulai membangun reputasi.
Sekarang, dunia menawarkan panggung lebih besar.
Dan di kota lain, ada seseorang yang bukan sekadar cinta—
Tapi rencana hidup.
Ia menatap kunci rumah di meja.
Lalu mengambilnya.
Menggenggamnya kuat.
Untuk pertama kalinya—
Ia sadar sesuatu.
Cinta yang dewasa bukan cuma tentang saling mendukung mimpi.
Tapi tentang berani bertanya:
Apakah mimpi itu masih sejalan?
Dan akhir minggu ini—
Jawaban mereka mungkin akan mengubah segalanya...
ahh pria solo itu lagii🤣🤣