NovelToon NovelToon
Its Always Been You, Fraya

Its Always Been You, Fraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Juno Bug

Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.

Sampai Fraya Alexandrea datang.

Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.

Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Rindu. Candu. Obsesi.

Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Hell of the Mirror

Pria itu berdiri dari ranjang pemeriksaan yang dingin, sebuah kontras yang menyengat bagi tubuh yang terbiasa dengan kemewahan tanpa kompromi. Gurat wajahnya adalah peta dari keputusan-keputusan sulit yang termakan usia, namun matanya masih setajam silet.

​Dikenakannya kembali kemeja birunya yang masih tampak licin—sebuah masterpiece kain yang seolah menolak untuk terlihat lusuh.

Seorang perawat, dengan jemari yang kaku karena sadar siapa pria di hadapannya, membantu membetulkan kerah kemeja mahal itu dengan hati-hati.

​"Hasilnya akan keluar dalam sebulan lagi, Sir," ujar sang dokter. Suaranya datar, sebuah profesionalisme yang dipaksakan untuk menutupi rasa segan pada pria yang usianya tak jauh darinya itu.

​Ia mengenakan kembali jas abu-abunya, menyampirkan nya ke bahu dengan gerakan efisien yang berwibawa.

Sambil menghela napas yang terdengar seperti gesekan logam, pria paruh baya dengan tubuh menjulang itu berkata dengan nada yang sanggup membekukan ruangan.

​"Make it quick. I don't have time to wait another month."

​Dokter yang sudah mengabdi padanya selama belasan tahun itu hanya mengangguk sopan. Tanpa interupsi, tanpa bantahan.

Tanpa menunggu sedetik pun, pria itu menerjang pintu ruang pemeriksaan.

Derap langkahnya di koridor rumah sakit yang steril terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur, dingin dan menyiksa, menembus bayangannya sendiri yang tampak semakin memanjang dan sepi.

...°°°°°...

Matahari London pagi ini sepertinya tengah bersemangat menyongsong hari baru. Cahaya matahari menyusup masuk melalui celah curtain abu-abu gelap dengan intensitas yang menyakitkan, memaksa kelopak mata Fraya terbuka saat ia sebenarnya masih ingin tenggelam dalam ketidaksadaran.

Fraya mengerjap. Dahinya mengernyit perih. Saat ia mencoba menggerakkan kepala, sebuah sensasi menusuk—seperti ada ribuan jarum mikro yang menari di pelipisnya—membuatnya mengerang tertahan. Hangover ini adalah jenis hukuman yang paling ia benci.

​Ia menengadah, menatap langit-langit kamar yang terlalu megah untuk disebut kamar tidur. Interiornya lebih mirip aula kastil di Eropa atau sayap museum di Prancis yang pernah ia baca di majalah arsitektur. Sejauh yang Fraya ingat, langit-langit kamarnya tidak punya ukiran serumit itu.

​Detik berikutnya, sebuah sengatan listrik tak kasat mata menghantam kesadarannya.

Fraya tersentak bangun, mengabaikan denyut di kepalanya yang semakin menggila.

​"Oh God, where am I—"

​Napasnya tertahan di kerongkongan. Ia menyadari tubuhnya terbungkus kaos kebesaran berwarna putih yang bukan miliknya.

Panik yang lebih besar menyerang saat ia menyentak selimut dan memeriksa kondisi tubuhnya.

Ia tidak mengenakan apa pun selain kaos itu.

Jantungnya berpacu seperti sedang lari maraton 100 kilometer. Ia memijat pelipisnya, mencoba memeras memori dari semalam yang terasa seperti potongan film yang rusak.

Fraya berdecak, meninju permukaan bantal, kesal sendiri karena potongan memori yang ia ingat semalam hanyalah pertemuan tidak menyenangkannya dengan Alana Highmore.

​Pintu besar itu terbuka dengan decitan elegan yang berat.

Sedetik kemudian, kepala Fraya menoleh ke suara pintu kamar yang dibuka perlahan.

​"You up, Ace?" Damian Nicholas Harding muncul dengan baki makanan, tampak terlalu segar untuk seseorang yang semalam berada di pesta yang sama dengannya.

​"Damian, aku di mana?" Suara Fraya parau, terdengar asing di telinganya sendiri.

​Damian meletakkan baki itu di sisi ranjang, "You're in my room. In my house." ujar Damian santai seolah wajah tegang Fraya tidak menganggunya untuk menjelaskan lebih lanjut.

Namun ketika Damian menoleh kearah Fraya dan mendapati wajah Fraya sudah nyureng sekali menuntut penjelasan.

Sebelah alis Damian terangkat—sebuah gestur mengejek yang sangat khas cowok menyebalkan itu sekali.

"You don't remember anything you did last night, huh?"

​Fraya berdecak kesal. "Damian, I swear to God, I’m going to kill you with my own hand if something bad happened last night. Now tell me, how did i end up here?"

​Damian tidak menjawab. Alih-alih ia malah berdiri tegak, bersedekap, menatap Fraya dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa telanjang meski tertutup selimut.

"Ternyata pengaruh empat gelas Cîroc itu benar-benar menyapu bersih semua memorimu semalam, ya. Sayang sekali. Padahal aku lebih suka versimu yang semalam itu. Liar. Seksi. Tanpa filter."

​Fraya terpekik tertahan, menarik selimut hingga ke dagu. "Damian, tell me!"

Damian mengangkat kedua tangan di udara pertanda menyerah, "Semalam kamu mabuk sekali, Ace, sampai sulit sekali diajak bicara. Jadi aku bawa kamu saja kesini."

Fraya mendesah frustasi, masih melempar tanya dengan kesal, "Did we do something stupid last night?"

Pelipis Damian mengkerut seketika, bersikap seolah tingkahnya sepolos anak kecil,"Do... what exactly?"

Fraya ingin sekali meninju hidung Damian sampai patah saat cowok itu memasang raut wajah sok polos seperti itu, "Damian, we did not do it, didn't we?"

​Menikmati kepanikan di mata Fraya, Damian menahan tawanya kuat-kuat dengan tetap memasang wajah polos seolah tidak tahu apa yang dibicarakan Fraya. Ia ingin melihat sejauh mana pertahanan gadis ini runtuh oleh dugaan-dugaan liar dikepalanya yang sekarang bermunculan.

Fraya, yang sudah di puncak rasa sebal, akhirnya menyambar bantal dan melemparnya tinggi-tinggi tepat ke arah wajah tampan Damian.

​"Jesus, Ace! We did not do that!" Damian akhirnya meledak dalam tawa sambil menangkap bantal yang tidak sampai mendarat diwajahnya.

Napas Fraya naik turun dengan berat. Tangannya terkulai lagi ke atas kasur sambil berujar se sinis mungkin, "You could've said earlier before i throw that pillow on your face, you bastard! Lalu kenapa aku pakai baju seperti ini tanpa pakaian dalam apa pun di baliknya?"

​Damian duduk di pinggir kasur tepat disamping Fraya, menatapnya lekat.

"Untuk orang se jenius kamu, harusnya kamu ingat sedikit saja bagaimana kamu menumpahkan seluruh isi perutmu ke gaun putihmu semalam. Aku harus menyuruh pelayanku mengganti pakaianmu. Kamu ingat kan, semalam kamu minum ber gelas-gelas alkohol?"

​Fraya melenguh panjang, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ingatan semalam itu mulai merangkak naik dengan samar.

Gelas-gelas berisi cairan bening, rasa terbakar di kerongkongan, dan bagaimana ia menantang sang bartender untuk terus mengisi gelasnya.

Stupid, Fraya. So stupid.

​"It wasn't so bad after all," Damian terkekeh, memecah kecanggungan.

​Fraya mendengus sebal menatap Damian, "Not bad, you say? If my parents find out how i behaved last night, they will slit my throat right in front of your eyes."

​Damian terkekeh lagi. Matanya menelusuri wajah Fraya yang masih kusut namun entah mengapa malah tampak begitu cantik dan seksi pada pagi hari ini.

"Bagaimana dengan Florence semalam? Kenapa kamu tidak cari dia saja supaya kamu bisa bawa aku pulang ke rumahku sendiri, alih-alih ke rumahmu yang besarnya seperti Stadion Wembley ini."

​Damian terkekeh. "Kalau ku beritahu kelakuan Florence semalam seperti apa, kamu pasti juga akan menggorok lehernya. Menurut kabar dari informanku, dia pulang dengan seorang cowok yang semalam mengajaknya menari. Untung saja kamu tidak ikut, kalau tidak, mungkin semalam aku sudah sibuk membuatnya babak belur dulu sebelum menggotong mu ke rumahku."

​Fraya mendengus kesal sambil meringis lagi menahan sakit dikepalanya. "Ingatkan aku Senin nanti untuk membunuhnya karena meninggalkanku di pesta orang sendirian."

Damian mengerutkan kenin lagi, lalu terkekeh sumbang, "Sendirian? Memangnya kamu tidak ingat bagaimana kamu menari semalam denganku ditengah pesta? Kamu benar-benar... menempel padaku semalaman, Ace. Bahkan sebelum alkohol itu mengambil alih tubuh kamu, kamu sudah bertindak cukup berani. Bagian mana dari itu yang kamu bilang kamu sendirian di pesta?"

​Fraya mematung. Ingatan tentang dansa itu menghantamnya seperti kereta cepat.

Sentuhan tangan Damian di pinggangnya, bagaimana pria itu mendekapnya begitu erat dan begitu posesif semalam, aroma parfumnya yang maskulin... dan bibir mereka yang nyaris bersentuhan.

​"Damian... kita tidak berciuman kan semalam?"

​Damian mengerjap tanpa menjawab langsung. Wajahnya berubah sedikit lebih serius. "Memangnya kenapa kalau kita berciuman, Ace? Percayalah, kamu bakal lebih menyesal jika tidak mendapat ciuman dari seorang Damian Harding."

​"Bukan begitu... maksudku... Ah, kamu pasti bakal meledekku kalau tahu..."

Fraya menggigit bibirnya lagi, berusaha mengacuhkan tatapan Damian yang sangat jauh dari kata mengejek seperti yang ditakutkannya.

"What's wrong, Ace?"

Tatapan Fraya sepolos raganya, menatap manik mata biru Damian seraya mencoba menelan rasa malunya bulat-bulat,

"Aku belum pernah berciuman."

​Ruangan itu mendadak sunyi. Damian membeku.

​"Apa kamu bilang?" suara Damian rendah, tajam seperti belati. Sama sekali tidak ada tatapan mengejek ataupun jahil dimatanya seperti yang Fraya takutkan.

​Fraya menggigit bibir lagi, pipinya merona merah padam. "You heard me, Damian."

​Kalimat itu merobek sisa kewarasan Damian.

Ciuman panas di dalam mobilnya semalam, adalah ciuman terbaik dalam hidup Damian, sekaligus ciuman pertama Fraya yang ternyata tidak diingat gadis itu sama sekali.

Dan memikirkan bahwa ia adalah yang pertama bagi Fraya membuat sesuatu di dadanya bergemuruh.

Damian ingin sekali mematri kejadian dimobilnya semalam di kepalanya, karena momen itu menurutnya begitu sakral.

Tapi Damian juga ingin ciuman itu disadari kedua belah pihak. Ia ingin Fraya tahu bahwa ciuman memabukkan semalam itu terjadi dalam kesadaran penuh Fraya dan Damian.

Untuk itu, dengan sisa kewarasan yang masih Damian miliki, cowok itu memaksakan senyum sumbang sambil berkata,

​"Nothing happened last night, Ace," dusta Damian, suaranya terdengar stabil meskipun hatinya berteriak sebaliknya.

​Fraya menghela napas lega, sebuah suara yang membuat Damian diam-diam merasa kecewa. "Baguslah. Aku ingin ciuman pertamaku terjadi saat aku sadar total. Bukan saat aku mabuk dan hanya memakai kaos raksasa mu ini."

​Damian berdiri, menyembunyikan tangannya di saku celana training-nya yang menjulang. Satu hal sejak tadi telah mengganggu pikirannya, merangkak naik seperti wabah yang tidak mampu Damian tahan lebih lama lagi.

“Would it be so terribly bad if I happened to be your first kiss?”

​Fraya menatap Damian lekat. Ada desiran aneh yang merambat di sarafnya saat melihat tatapan Damian yang seolah sedang memohon sesuatu tanpa kata.

Fraya melangkah turun dari ranjang, berdiri tepat di depan pria berambut pirang itu.

​"Ini bukan soal seberapa baik atau buruknya kamu, Damian. Tapi dengan siapapun nantinya aku memberikan ciuman pertamaku, aku ingin dilakukan dalam keadaan sadar total. Bukan dalam pengaruh alkohol. Aku ingin ciuman itu indah, membekas, dan dinikmati kedua belah pihak. Aku ingin menciptakan koneksi yang nyata melalui ciuman itu, Damian."

​Kalimat itu terdengar begitu murni dibibir Fraya, yang dia sendiri tidak tahu efek dahsyat yang ditimbulkan dari ucapannya menciptakan gemuruh dalam batin Damian.

Damian tidak tahan lagi. Kakinya bergerak melangkah lebih dekat lagi kearah Fraya. Jemarinya terangkat menyibak rambut Fraya dari sisi wajahnya, yang sentuhannya seakan mengirim sensasi sengatan listrik yang membuat napas Fraya tiba-tiba saja menderu.

​"Come here," Damian menarik dengan lembut tubuh Fraya ke depan cermin besar di sudut ruang kamar Damian.

​Begitu menempatkan Fraya persis menghadap cermin Damian berdiri di belakang Fraya, menempatkan kedua tangannya di pinggang Fraya dalam jarak begitu dekat hingga tak ada celah diantara mereka.

Damian mendekatkan bibirnya ke telinga Fraya, membisikkan sesuatu dengan nada rendah hingga bulu kuduk Fraya meremang sampai ke ibu jari kaki,

"Kamu perlu jadi se cantik apa lagi, Alexandrea, untuk bisa merasa pantas dapat ciuman? Di mataku, kamu seperti ini pun sudah membuatku nyaris gila. Kamu itu sangat sempurna di mataku."

​Damian menyibak rambut panjang Fraya ke belakang, lalu mendaratkan kecupan ringan di tengkuk Fraya, lembut namun posesif.

Fraya memejamkan mata, menyadari sensasi asing yang entah bagaimana membuat lututnya terasa lemas.

Aura panas yang menggairahkan mulai menjalar dari lehernya hingga ke pusat inti tubuhnya.

​"Aku bisa memberimu ciuman pertama yang akan tersimpan di memori inti ingatanmu selamanya, Ace. Ciuman yang akan ku jamin tidak akan bisa digantikan oleh siapa pun sekalipun kamu mencoba pergi dari hidupku."

​Tangan Damian merayap ke permukaan perut Fraya yang tertutup sehelai kaos putih yang sekarang terlihat menerawang tertimpa cahaya matahari.

Jemari Damian menyibak kaos putih itu hingga tersingkap perlahan. "Dare to try?"

​Fraya menoleh perlahan dengan napas nyaris tertahan di dadanya.

Damian meraih tangan Fraya, meletakkannya di pipinya sendiri. Hidung Damian menyapu lembut ujung hidung Fraya.

"Please, say yes, Ace."

Jangankan menjawab, Fraya pun saat ini kehilangan suaranya sendiri untuk merespon permohonan Damian.

Namun, sedetik yang terasa bergerak lambat itu, membuat Fraya menciptakan satu anggukan lemah, yang Fraya pikir tidak akan disadari Damian.

Namun terlambat, responsif samar itu masuk ke mata biru Damian. Dan respon samar itu pun juga sudah lebih dari cukup bagi Damian.

Tangannya yang besar menangkup sisi wajah Fraya, menyambar bibir gadis didalam rengkuhannya dengan lumatan hasrat yang sudah lama ia timbun.

Ciuman itu bukan lagi sekadar bibir yang bertemu. Ciuman itu adalah sebuah klaim mutlak. Sebuah klaim pada hukum semesta bahwa Fraya adalah milik Damian seutuhnya.

Lidah mereka bertautan, saling menuntut lebih.

Tangan Damian turun perlahan, menangkup salah satu payudara Fraya dari balik kaosnya yang begitu tipis. Tangan Damian tidak bergerak. Ia berhenti disana sesaat, seolah keheningannya sarat permintaan persetujuan lebih pada si empunya.

Damian menunggu, berharap tindakannya ini tidak lantas membuat Fraya langsung diserang oleh kesadaran lain dan menampar wajah Damian detik ini juga.

Namun ternyata, reaksi Fraya selanjutnya membuat Damian terpaku dibelakang tubuh gadis itu.

Fraya justru mendorong tubuhnya lebih dekat ke telapak tangan Damian, seolah memberikan akses cuma-cuma untuk Damian berbuat apapun yang ia inginkan.

Damian seperti dihadiahi bintang jatuh. Tangannya kemudian meremasnya perlahan, menikmati fitur tubuh Fraya yang melebihi fantasi terliar yang selama ini selalu terpatri setiap menit di kepalanya.

​"You have no idea how fucking sexy you are right now, Ace," bisik Damian serak sebelum kembali menyerang bibir Fraya.

Tangannya kemudian bertindak lebih berani dengan turun lebih rendah, membelai kulit perut Fraya dari balik kaos tipisnya yang tersingkap, mengekspos kulit halus telanjang Fraya yang begitu tampak dengan jelas melalui cermin yang berdiri dihadapan mereka.

Jemari nya kemudian menyentuh intinya yang sudah memanas dan basah, menciptakan lenguhan panjang dan seksi dari bibir Fraya yang terbuka perlahan.

​Damian berhenti sejenak, menatap mata sayu Fraya yang sudah nyaris ambruk dalam pelukannya.

"Do you want me to stop, baby?"

​Fraya menggeleng perlahan, merasakan tubuhnya bergetar hebat. "No, please no."

​Ucapan Fraya seperti bom atom yang meledakkan seluruh pertahanan gairah Damian. Damian menghujam begitu dalam jemari Damian di inti Fraya, tidak memberi gadis itu bernapas barang sebentar, membuatnya nyaris berteriak mencapai kepuasannya sendiri yang menggulung hebat di antara kedua kakinya.

​TOK TOK!

​"Permisi Tuan, saya membawakan pakaian untuk Nona Alexandrea."

​Kesadaran penuh secara tiba-tiba menghantam Fraya seperti palu godam.

Ia menarik diri dengan begitu kasar sampai membuat tubuh Damian terhuyung.

Damian yang masih didera napasnya yang berat, menatap Fraya dengan kerutan di pelipisnya sembari mencoba melangkah mendekat.

Namun secepat itu juga Fraya berteriak.

"No! Don't come any closer to me!" seru Fraya panik, wajahnya memerah karena dihinggapi rasa malu yang luar biasa.

​"Tuan--"

​"KAMU BISA KEMBALI LAGI NANTI, HARLEY!" bentakan Damian menggelegar seketika. Dalam sekejap langsung dipatuhi pelayannya dengan suara derap langkahnya terdengar menjauh dari pintu kamar.

​Fraya, yang mulai sadar sepenuhnya, kini diserang rasa malu yang luar biasa mencekik sampai ia harus menutup wajah dengan kedua tangan.

Damian masih berusaha mengatur napas, lalu menyadari gadis di depannya hendak mengundurkan diri di antara telapak tangannya.

​"Ace--"

​"TIDAK, JANGAN. JANGAN PERNAH MENDEKATIKU!" seru Fraya sambil berjalan mundur dengan langkah lebar-lebar.

​Mata Damian membelalak, "Ace,--"

​"Tidak, Damian. Astaga, apa yang sudah kita lakukan!?" Fraya kini jadi histeris sendiri.

​Damian berkacak pinggang, "Ace, yang tadi itu namanya ciuman. Kalau kamu lupa untuk menemukan istilahnya."

​Dahi Fraya langsung keriting dramatis, "Ciuman? CIUMAN!? Damian, aku tidak bodoh! Yang kamu lakukan tadi itu lebih dari sekadar ciuman!"

​Damian berdecak marah. "Ciuman dalam versiku seperti itu, Ace. Sudah kubilang, aku bisa memberimu ciuman yang tidak mungkin kamu temukan di laki-laki manapun. Dan kamu harusnya berterima kasih, karena sependek ingatanku tadi, kamu sendiri begitu menikmati tanpa ada keluhan."

​Fraya sudah akan membuka mulut, bersiap menghunuskan rentetan makian untuk Damian yang masih berdiri di ujung mata Fraya sambil bersedekap, seolah yang mereka lakukan tadi tidak mengganggunya sedikitpun.

Tapi tidak ada kalimat yang pas untuk bisa ia lemparkan ke sosok Damian yang sekarang tengah berkacak pinggang. Semua kata di dunia ini seolah menguap entah kemana.

Akhirnya Fraya hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal.

Gadis itu lalu berbalik badan untuk pergi dari hadapan wajah congkak Damian, kali ini benar-benar akan dibenamkan sisa harga dirinya di balik pintu kamar mandi.

​Damian menatap setiap pergerakan Fraya dengan lekat sambil melempar tanya, "Kamu mau ke mana? Kamar mandi?"

​Tubuh Fraya berbalik kasar ke arah Damian sambil berseru lantang, "MEMANGNYA KAMU PIKIR AKU MAU KE MANA LAGI DENGAN PAKAIAN DAN KONDISI SEPERTI INI KALAU BUKAN KE KAMAR MANDI MU!?"

​Damian menghela napas lagi. Masih begitu santai, ia kembali bertanya mengejek,

"Kalau begitu aku boleh bergabung, kan? Hitung-hitung melanjutkan sesi yang tadi."

​Mata Fraya mendelik tajam ke arahnya dari ambang pintu, "​Langkahi dulu mayatku!"

​Bantingan pintu kamar mandi itu mengakhiri pertempuran mereka pagi ini, meninggalkan Damian yang berdiri dengan napas masih memburu dan kepuasan yang tertulis jelas di wajahnya.

1
Ris Andika Pujiono
mana siang2 lagi wkwkwkkwkw
Ris Andika Pujiono: harusnya udah curiga pas baca judul. Tp g mungkinlah seorang Fraya. Adat timur. Ehh looooos 😂
total 2 replies
Ris Andika Pujiono
Fraya ngga asyik
part yg bikin bad mood wkwkwk
tim Damian in action
Ris Andika Pujiono
ditungguin akhirnya muncul juga
terima kasihhhhh bagus ceritanya🥰
SQUIRELL
lanjut dong sampai tamat🙏🙏
Ris Andika Pujiono
Damian dapatin Fraya susah
kalo udah dapat jgn disia2in
Ris Andika Pujiono
Damiaan jahil bgt sih
semangat nunggu ceritamu kak🥰
Ris Andika Pujiono
Fraya naif bgt sih 😂
Ris Andika Pujiono
Fraya 😔
Ris Andika Pujiono
kerennn
tapi lama2 mirip film horor euy serem bacanya🥰
Ris Andika Pujiono
semoga Fraya baik2 saja 🥰
Ris Andika Pujiono
yeayyy jadian10x 😆🥰
bacanya sambil berharap terus nyambung g berhenti 😂 keren ceritanya
Ris Andika Pujiono
semoga mama Fraya panjang umur🙏
Ris Andika Pujiono
aku baca cerita ini seperti ninton film
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
Ris Andika Pujiono: asyik bisa ditungguin dong. sampai tamat 😎🥰🫰
total 4 replies
Ris Andika Pujiono
kaan Alana keluar 😔😎
Ris Andika Pujiono
kini aku punya hobby baru
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
omG sepertinya akan banyak masalah diantara mereka 😔😔😔😔😔
terima kaaih kak udah upp
Ris Andika Pujiono
kasian Damian 🥲
Ris Andika Pujiono
awas lu Damian sampe nyakitin Fraya 😎
Ris Andika Pujiono
yg baca senyum2 sendri thor
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
Ris Andika Pujiono
semoga semoga kalian baik2 saja Fraya & Damian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!