NovelToon NovelToon
YOU (Obsessive Love Disorder)

YOU (Obsessive Love Disorder)

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.

Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Balik Deburan Ombak

Sore itu, pesisir Sussex diselimuti warna jingga yang hangat. Eleanor duduk di atas sebuah batu besar yang menjorok ke arah laut. Ia memeluk lututnya, membiarkan angin laut mempermainkan rambut hitamnya yang sengaja ia biarkan terurai. Di tempat sesunyi ini, topeng pelayan galak itu luntur, menyisakan raut wajah seorang putri yang rindu akan pelukan ibunya, namun muak dengan otoritas ayahnya.

"Ayah itu seperti hidup di zaman batu," gumam Eleanor lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh deru ombak. "Bagaimana bisa di dunia modern sekarang masih saja sibuk memikirkan perjodohan kolot. Memangnya aku ini barang dagangan yang bisa dipindahtangankan hanya dengan satu tanda tangan?"

Ia menghela napas panjang, tidak menyadari bahwa sekitar lima meter di belakangnya, berdiri seorang pria yang mengenakan mantel parit berwarna gelap. Edward Zollern sudah berdiri di sana selama sepuluh menit, memperhatikan bahu kecil itu yang tampak memikul beban berat.

Saat Eleanor berbalik untuk beranjak, jantungnya hampir melompat keluar. Ia terperanjat mendapati sosok jangkung Edward berdiri tegak dengan tangan di dalam saku mantel.

"Apa yang—!" Eleanor menahan napas, matanya membelalak. "Tuan Zollern? Anda... apa Anda memasang GPS di tubuh saya?"

"Nona Eleanor sendiri, apa yang Anda lakukan di sini?" Edward melangkah mendekat, mengabaikan pertanyaan Eleanor. "Bicara sendiri dengan laut seolah-olah laut akan memberikan solusi untuk masalah perjodohanmu?"

Wajah Eleanor memerah antara malu dan kesal. "Anda menguping! Benar-benar tidak punya sopan santun. Apa di mansion megah Anda itu tidak diajarkan bahwa mendengarkan gumaman orang lain adalah perilaku rendah?"

"Aku hanya lewat dan telingaku berfungsi dengan baik," sahut Edward dengan wajah datar yang menyebalkan. "Jadi, siapa pria malang yang coba dijodohkan denganmu sampai kau harus kabur ke tepi pantai dan mengeluh pada ikan-ikan?"

Eleanor melompat turun dari batu dengan anggun. "Bukan urusan Anda, Tuan Zollern. Dan jangan sebut dia malang, pria-pria itu memang membosankan, tapi mereka tidak seburuk pria yang hobi mengikuti pelayan kafe di hari libur."

"Aku tidak mengikutimu. Aku hanya memastikan asetku—yaitu waktumu yang kau hutangkan padaku—tidak hilang ditelan ombak," Edward menyeringai tipis.

"Aset? Saya bukan milik siapa-siapa!" Eleanor berjalan cepat melewatinya, namun Edward dengan mudah menyamai langkahnya.

"Hari sudah mulai gelap. Angin laut tidak baik untuk kesehatanmu yang berharga bagi kafe itu," ucap Edward, kali ini nada bicaranya tidak bisa dibantah. "Ayo pulang. Mobilku di atas."

"Tidak mau! Saya bisa jalan kaki!"

"Jalan kaki dalam kegelapan sambil memikirkan Ayahmu yang 'kolot' itu? Tidak. Masuk ke mobil, Eleanor. Atau aku akan menggendongmu di depan umum dan membuat keributan yang akan kau sesali."

Eleanor mendengus keras, namun ia tahu Edward adalah pria yang memegang kata-katanya. Akhirnya, ia kembali berakhir di dalam kabin mewah Rolls-Royce. Sepanjang jalan, Eleanor hanya diam cemberut, sementara Edward sesekali meliriknya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Saat sampai di depan apartemen, Edward berkata tanpa menoleh, "Ingat, Nona Eleanor. Antaran malam ini juga tidak gratis. Hutangmu padaku semakin menumpuk. Aku akan menagihnya di waktu yang tepat."

Eleanor hanya membanting pintu mobil pelan dan membalas, "Terserah Anda, Tuan Lintah Darat!"

Senin Pagi – Markas Besar Zollern Group. Suasana di ruang rapat utama sangat formal. Pagi ini, sebuah pertemuan tingkat tinggi terjadi antara dua raksasa ekonomi Inggris. Di satu sisi meja besar itu duduk Tuan Lewis Lichtenzell, pria paruh baya dengan wibawa yang luar biasa namun matanya menyiratkan kelelahan batin. Di sisi lain, Edward Zollern duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi.

Mereka baru saja menyelesaikan pembahasan draf kerja sama sektor logistik. Lewis Lichtenzell menatap Edward dengan saksama. Baginya, Edward adalah sosok menantu impian—cerdas, berkuasa, dan memiliki garis keturunan yang setara.

"Tuan Zollern," Lewis membuka suara setelah asisten mereka keluar. "Saya selalu mengagumi cara Anda memimpin. Tapi saya dengar, Anda adalah pria yang sangat pragmatis, bahkan mengesampingkan cinta dalam setiap keputusan hidup Anda."

Edward menyandarkan punggungnya, menatap Lewis dengan dingin. "Cinta adalah variabel yang tidak stabil, Tuan Lichtenzell. Itu hanya akan mengaburkan logika dalam berbisnis."

Lewis menghela napas, nyalinya untuk menjodohkan putrinya dengan Edward tiba-tiba menciut. Meskipun ia ingin yang terbaik untuk Eleanor, ia tidak ingin putrinya yang penuh api itu bersanding dengan pria yang sedingin es seperti Edward. Eleanor butuh seseorang yang bisa meluluhkan hatinya, bukan yang akan memadamkan apinya dengan logika bisnis.

"Sayang sekali," gumam Lewis. "Putriku, dia adalah gadis yang sangat sulit dikendalikan. Aku hanya ingin seseorang yang bisa menjaganya dengan sabar, bukan hanya melihatnya sebagai pelengkap kekuasaan."

Edward terdiam. Pikirannya mendadak melayang pada sosok pelayan kafe bernama Eleanor yang kemarin baru saja mengatainya psikopat. Ia tidak tahu bahwa pria tua di depannya adalah ayah dari gadis yang sedang memenuhi pikirannya.

"Mungkin putri Anda butuh tantangan, bukan sekadar penjaga," sahut Edward singkat.

Pertemuan itu berakhir dengan jabat tangan formal. Lewis Lichtenzell pergi dengan rasa gundah tentang keberadaan putrinya, sementara Edward kembali ke mejanya, membuka laci, dan melihat sebuah sapu tangan kecil milik Eleanor yang tertinggal di mobilnya semalam.

Dua matahari Inggris ini tidak tahu bahwa mereka sedang membicarakan orang yang sama. Dan Edward, dengan segala pragmatismenya, tidak sadar bahwa ia sedang melanggar prinsipnya sendiri demi seorang gadis "tanpa marga" di pinggiran Sussex.

1
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🙈🙈🙈🙈
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
nahhh
Hana Nisa Nisa
suka tata bahasanya bagus
Hana Nisa Nisa
😄😄😄😄
Hana Nisa Nisa
baper euyy
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🥰🥰🥰🥰🥰
Xiao Bae•: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Hana Nisa Nisa
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!