tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup
Di dalam keheningan kamar batu yang membeku, waktu seolah berhenti berdetak. Genevieve menatap lurus ke arah cangkir keramik yang mengepulkan uap tipis di atas meja nakas. Pendar biru dari panel Sistem masih melayang teguh di sudut pandangannya, menampilkan hitung mundur waktu yang perlahan menyusut. Tiga belas jam, lima puluh delapan menit tersisa sebelum tubuh ini menyerah pada akumulasi racun dan kelaparan.
Kepanikan adalah reaksi alami manusia saat dihadapkan pada kematian, namun bagi jiwa yang kini mendiami tubuh Lady Genevieve, kepanikan adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Di kehidupan sebelumnya, ia telah terlatih untuk selalu mencari jalan keluar dari situasi yang paling mencekik sekalipun. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara sedingin es mengisi paru-parunya yang ringkih, lalu menghembuskannya perlahan. Pikirannya, yang tajam dan taktis, mulai membedah situasi dengan presisi seorang pembedah.
*Jika aku tidak meminumnya, Martha akan tahu bahwa aku mencurigainya,* batin Genevieve. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan gerakan bola mata yang terukur, tidak ingin membuang sedikit pun sisa kalori dengan menggerakkan lehernya tanpa perlu. *Jika aku membuangnya ke perapian, sisa cairan itu akan mendesis dan menimbulkan bau herbal yang hangus. Membuangnya ke luar jendela juga bukan pilihan; noda cokelat kehitaman dari teh ini akan sangat kontras di atas tumpukan salju abadi di bawah sana, dan para penjaga yang berpatroli pasti akan melihatnya.*
Genevieve menolak untuk mengambil tindakan gegabah. Ia membutuhkan solusi yang tidak hanya menyelamatkan nyawanya pagi ini, tetapi juga memberikannya keunggulan taktis untuk langkah selanjutnya. Matanya akhirnya tertuju pada meja rias kayu ek yang berdebu di sudut ruangan. Di atasnya, berserakan beberapa botol kaca kecil—bekas tempat parfum murahan dan botol-botol obat lama milik Genevieve yang asli.
Dengan susah payah, ia menyibakkan selimut tebal yang kasar itu. Udara dingin Kastil Ravenscroft langsung menerkam kulitnya yang hanya dibalut gaun tidur linen tipis, membuatnya menggigil hebat hingga giginya bergemeretak. Mengabaikan protes dari otot-ototnya yang melemah, ia memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Telapak kakinya yang pucat menyentuh lantai batu, mengirimkan sensasi beku yang menjalar langsung ke sumsum tulang belakangnya.
Genevieve melangkah tertatih-tatih, bertumpu pada tiang ranjang, lalu pada punggung kursi kayu, hingga akhirnya ia mencapai meja rias. Tangannya yang gemetar meraih sebuah botol kaca gelap berukuran kecil yang sudah kosong. Ia membuka sumbat gabusnya dengan jemari yang kaku, lalu mengendusnya. Bau apek obat batuk tua menyengat hidungnya. Sempurna. Kaca gelap ini akan menyembunyikan warna cairan apa pun yang ada di dalamnya.
Ia berjalan kembali ke meja nakas dengan botol kosong itu di tangan kirinya. Kini datang bagian tersulitnya. Ia harus memindahkan teh beracun itu tanpa meneteskannya sedikit pun ke atas meja atau lantai.
Genevieve menutup matanya sejenak, mengumpulkan seluruh fokus dan konsentrasinya. Saat matanya terbuka, kilatan kelemahan dari tubuh itu menghilang, digantikan oleh ketajaman yang membara. Dengan kedua tangan yang saling menopang untuk mengurangi gemetar, ia mengangkat cangkir keramik itu. Secara perlahan, sangat perlahan, ia menuangkan teh herbal tersebut ke dalam mulut botol kaca kecil. Suara gemericik pelan terdengar, nyaris tenggelam oleh deru angin musim dingin di luar jendela.
Setetes demi setetes, cairan mematikan itu berpindah tempat. Genevieve tidak menghabiskan semuanya. Ia menyisakan sekitar dua tegukan di dasar cangkir. Dengan hati-hati, ia menutup rapat botol kaca berisi racun itu dan menyembunyikannya ke dalam saku dalam gaun tidurnya. Racun ini bukan lagi ancaman; di tangannya yang cerdas, cairan ini kini berubah menjadi barang bukti, dan mungkin, sebuah senjata mematikan untuk masa depan.
Untuk menyempurnakan ilusinya, Genevieve menyelupkan ujung jari telunjuknya ke dalam sisa teh di cangkir, lalu mengoleskannya dengan rapi di sepanjang tepi bibir cangkir. Siapa pun yang melihat cangkir ini nanti akan menyimpulkan dengan pasti bahwa seseorang telah meminum isinya langsung dari pinggiran keramik tersebut.
Setelah memastikan tidak ada satu tetes pun yang tumpah, ia kembali menatap panel biru di depannya.
"Sistem," bisik Genevieve parau, suaranya nyaris seperti desiran angin. "Pindai bubur ini."
Panel biru itu berkedip sesaat, dan rentetan teks perak baru muncul menggantikan peringatan bahaya sebelumnya.
**[Pemindaian Objek: Bubur Gandum Encer.]**
**[Kandungan Toksin: Negatif. Objek aman untuk dikonsumsi.]**
**[Nilai Nutrisi: Sangat Rendah. Diperkirakan hanya memberikan perpanjangan waktu bertahan hidup selama 2 jam.]**
Genevieve tersenyum getir melihat tulisan itu. Pelayan bernama Martha itu cukup pintar. Sang dalang di balik semua ini tidak menaruh racun di dalam makanan, melainkan di dalam teh yang disamarkan sebagai 'obat' untuk batuknya. Menaruh racun di makanan terlalu berisiko karena makanan memiliki tekstur dan rasa yang lebih mudah dicurigai, sedangkan teh herbal yang pahit adalah medium yang sempurna untuk menutupi rasa aneh dari akar Silvershade.
Tanpa membuang waktu, Genevieve meraih mangkuk kayu berisi bubur yang sudah sedingin es itu. Bentuknya lebih menyerupai air cucian beras yang dicampur dengan segenggam gandum kasar. Tidak ada garam, tidak ada rasa. Namun, bagi Genevieve saat ini, ini adalah bahan bakar untuk otaknya.
Ia mengambil sendok kayu dan mulai menyuapkan bubur hambar itu ke dalam mulutnya. Tenggorokannya yang meradang memberontak, menolak tekstur kasar yang menggores dinding kerongkongannya. Rasa mual seketika menyergap perutnya yang sudah lama menyusut. Ia memejamkan mata, memaksakan rahangnya untuk mengunyah, dan menelan paksa makanan itu. Setiap suapan adalah pertempuran melawan kelemahan fisiknya sendiri. Ia mengulanginya lagi, dan lagi, mengabaikan air mata fisiologis yang menggenang di sudut matanya akibat rasa sakit saat menelan. Ia tidak makan untuk menikmati; ia makan murni untuk bertahan hidup.
Setelah mangkuk itu bersih tak bersisa, Genevieve segera meletakkannya kembali di atas nampan. Tubuhnya terasa sedikit lebih hangat, meski tenaganya masih sangat terbatas. Ia berjalan tertatih kembali ke ranjang, menarik selimut kasar itu hingga menutupi tubuhnya, dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
Ia melirik ke arah cermin kusam di seberang ruangan. Pantulan seorang wanita muda dengan wajah sepucat mayat balas menatapnya. Tulang pipinya menonjol tajam di bawah kulit yang kehilangan cahayanya, dan lingkaran hitam yang dalam menghiasi sepasang mata biru kristal yang indah namun merana. Genevieve yang asli telah menyerah pada dunia yang menolak kehadirannya.
Namun, mata biru di cermin itu kini memancarkan aura yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi keputusasaan di sana. Yang ada hanyalah perhitungan yang dingin, sebuah kalkulasi rasional dari seorang predator yang sedang menunggu mangsanya lengah. Suaminya yang kejam, Duke Alistair, mungkin telah membuangnya ke ujung dunia. Para pelayannya mungkin berpikir mereka bisa mencabut nyawanya seperti mencabut rumput liar. Mereka semua salah besar. Mereka telah membunuh seorang wanita yang hancur, namun tanpa sengaja mengundang masuk seorang penyintas yang tidak kenal ampun.
**[Misi Tutorial Selesai: Menetralisir ancaman teh beracun tanpa menimbulkan kecurigaan.]**
**[Hadiah Misi: +10 Poin Energi Vital, +1 Pemetaan Ruang Dasar (Radius 5 meter).]**
**[Waktu Bertahan Hidup Diperbarui: 14 Jam.]**
Sebuah gelombang hangat tiba-tiba mengalir dari dadanya, menyebar ke seluruh pembuluh darahnya seperti aliran listrik statis yang lembut. Rasa pusing yang sedari tadi meremukkan kepalanya sedikit mereda, dan napasnya terasa jauh lebih panjang. Genevieve mengepalkan tangannya di balik selimut. Sepuluh poin energi ini mungkin tidak banyak, tetapi cukup baginya untuk tidak pingsan saat berdiri.
Suara langkah kaki yang diseret kembali terdengar bergema dari lorong di luar pintu.
Genevieve segera bereaksi. Ia merosotkan tubuhnya ke bawah selimut, memiringkan kepalanya ke samping menghadap meja nakas, dan mengatur napasnya menjadi pendek dan serak, seolah ia sedang berada di ambang ketidaksadaran. Ia membiarkan matanya setengah terpejam, menciptakan ilusi sempurna seorang wanita pesakitan yang nyaris kehilangan pijakannya pada kehidupan.
Pintu ek itu berderit terbuka, kali ini tanpa ketukan sama sekali.
Martha melangkah masuk. Hawa dingin dari lorong ikut menerobos masuk bersama kehadirannya. Pelayan itu berjalan langsung menuju meja di samping ranjang. Melalui celah bulu matanya, Genevieve mengawasi setiap pergerakan sekecil apa pun dari wanita itu.
Mata Martha langsung tertuju pada cangkir keramik. Saat melihat cangkir itu hampir kosong, dengan sisa tetesan yang sengaja ditinggalkan Genevieve di dasar dan tepiannya, sudut bibir Martha berkedut membentuk sebuah senyum tipis yang sarat akan kekejaman yang murni. Itu adalah senyuman seseorang yang merasa misinya telah berhasil. Senyuman seorang algojo yang melihat korbannya masuk ke dalam jerat tali.
"Nyonya?" panggil Martha. Suaranya tidak lagi datar, melainkan sengaja dipelankan, mencoba mencari tahu apakah majikannya masih memiliki kesadaran.
Genevieve mengerang pelan, suara seraknya terdengar sangat rapuh dan menyedihkan. Ia sengaja menggeser kepalanya sedikit, menampakkan wajahnya yang pucat pasi seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.
Kepuasan di wajah Martha semakin terlihat jelas. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, pelayan itu meraih nampan kayu tersebut, mengambil cangkir dan mangkuk kosong itu dengan cepat, dan berbalik pergi. Langkah kakinya terdengar jauh lebih ringan dan bersemangat dibandingkan saat ia masuk tadi pagi.
Pintu ditutup dengan suara debuman keras, meninggalkan Genevieve kembali dalam kesunyian yang dingin.
Begitu suara langkah Martha menghilang, Genevieve membuka matanya sepenuhnya. Ilusi kelemahan itu menguap seketika dari tatapannya. Ia telah berhasil melewati rintangan pertama. Martha yakin bahwa racun itu telah masuk ke dalam tubuhnya, yang berarti mereka tidak akan mengirim pembunuh atau metode lain setidaknya sampai besok pagi, menunggu racun itu bereaksi.
Ia telah mengamankan waktu empat belas jam. Malam ini, saat kastil ini tertidur, ia tidak akan berdiam diri menanti maut di ranjang ini. Ia akan memburu rahasia yang disembunyikan oleh dinding-dinding batu Ravenscroft, dan mencari tahu siapa sebenarnya yang menginginkan nyawanya—sekaligus mencari makanan sungguhan yang bisa memperpanjang waktunya di dunia ini.
Permainan bertahan hidup baru saja dimulai.