NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi ke Jakarta

Saat Luke menatapku sambil melepas jasnya, sensasi aneh merayap di kulitku.

"Kamu mempermalukanku, Cherry Anabell," gumamnya sambil menggantung jasnya di sandaran kursi di dekat meja riasku.

Nada suaranya penuh kemarahan, dan itu membuatku melirik ke arah pintu. Tiba-tiba dia tertawa, terdengar seperti gak percaya.

"Kamu bahkan gak mau minta maaf?"

Harga diri membuatku mengangkat dagu. Aku memaksa diri menatap mata pria yang akan menikahiku. Kalau hari ini aku gak berdiri tegak, dia akan membuat hidupku jauh seperti neraka.

"Aku gak melakukan apa pun yang salah," kataku.

Saat Luke mulai melepas ikat pinggangnya, gelombang rasa dingin dan takut menjalar di kulitku.

Tuhan.

"Kamu gak bisa ngambil keperawananku sebelum kita menikah!"

Mulut Luke terangkat menjadi senyum sinis. "Kamu udah jadi milik aku."

"Gak." Aku menggeleng. "Tuan Rose belum memberi izin!"

"Aku gak berniat meniduri kamu sekarang. Pertama, aku bakal kasih kamu pukulan yang gak akan kamu lupakan supaya kamu gak berani mempermalukanku lagi," geramnya. "Keperawanan kamu akan jadi hidangan penutup setelah makan malam."

Sabuk kulit itu meluncur keluar dari celana Luke. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung berlari ke pintu.

Aku berhasil membuka pintu tepat saat sabuk itu menghantam bahu dan leherku. Rasa perihnya tajam sampai membuatku jatuh di lorong.

Aku langsung berdiri lagi, tapi aku belum sempat kabur ketika Luke menarik rambut aku. Seharusnya aku mencukur habis semuanya.

Kepalaku tertarik ke belakang. Saat napasnya menyentuh telingaku, dia berkata pelan, "Sebaiknya malam ini kamu layani aku setelah semua masalah yang kamu buat."

Beberapa helai rambutku tercabut saat dia menarikku ke belakang.

Lalu suara keras menggema di udara saat Cavell berteriak, "Cukup!"

Luke mendorongku kembali ke kamar, lalu aku mendengarnya berkata, "Maaf sudah mengganggu, Bro. Aku lagi nangani masalah ini."

"Masalah itu nanti aja," gumam Cavell. "Semua kembali ke ruang tamu. Sekarang."

Seluruh tubuhku gemetar. Tapi entah bagaimana aku masih bisa merapikan gaunku di sekitar paha dan memperbaiki rambut agar terlihat rapi. Kulit kepalaku terasa perih di tempat rambutku tercabut.

Setelah mencoba menenangkan diri sebisa mungkin, aku langsung melewati Luke dan mengikuti Cavell ke ruang tamu. Aku berusaha keras menahan diri agar gak menatap terlalu lama kain hitam kemeja Cavell yang menegang di punggungnya yang berotot.

Saat masuk ke ruangan, aku berdiri di belakang sebuah kursi. Kurang dari satu menit kemudian keluargaku dan Luke menatap Cavell dengan napas tertahan.

"Aku sudah membuat keputusan," gumam Capo dei Capi.

Napasku terasa tertahan di tenggorokan dan jantungku mencengkeram dada.

"Kamu memberi kami restu, Bro?" tanya Luke.

Mata Cavell menemukan mataku lagi. Sekali lagi matanya menyipit saat dia menatap aku.

Aku mengangkat dagu dan mengatupkan rahang, menatap pria yang sudah sering membunuh orang hanya untuk bersenang-senang. Pria yang akan menentukan apakah hidup aku akan menjadi neraka atau surga.

Bibirnya terbuka.

Satu detik kemudian satu kata memecah keheningan tegang.

"Gak!"

"Apa?" desah Mamaku.

"Bro?" kata Luke, penuh kebingungan.

"Tuan Rose?" Aku mendengar Papa bertanya.

Dia bilang gak.

Rasa lega yang luar biasa membuatku harus meletakkan tangan di dada agar jantungku gak melompat keluar. Aku gak akan dipaksa menikah dengan Luke. Dia gak akan mengambil keperawananku.

Saat aku mendengar gerakan, mataku langsung terbuka dan aku melihat Cavell menuangkan minuman.

Hampir saja aku mengucapkan terima kasih karena dia gak memberi restu, tapi sesuatu dalam diriku mengatakan untuk diam saja.

Cavell menoleh pada pengawalnya.

"Suruh orang-orang mengemasi barang-barang Cherry Anabell. Kita pergi!"

"Iya," jawab pengawal itu sebelum pergi menjalankan perintah.

Apa?

Mama melongo. Mulut Papa menganga seperti ikan kehabisan air.

Luke yang pertama pulih. Dia menggeleng dan berani bertanya, "Apa yang kamu lakukan?"

Cavell menghabiskan bourbonnya lalu menjejalkan gelas itu ke tangan Luke. Tanpa penjelasan apa pun, dia keluar dari ruang tamu.

Semua orang membeku sesaat sebelum suasana kembali kacau.

Mama langsung berlari ke arahku dengan senyum lebar.

"Aku gak percaya Capo dei Capi tertarik sama kamu."

Apa?

Itu satu-satunya pertanyaan yang terus bergema di kepalaku yang sudah kelelahan.

"Sial," gumam Herman sambil menggeleng gak percaya.

Papa terlihat bingung. "Tuan Rose akan membawa Cherry Anabell?"

"Cavell!" teriak Luke sambil mengejar sepupunya. "Apa maksud semua ini?"

Mama mencengkeram pergelangan tanganku lagi dan menyeretku keluar ruang tamu. Saat kami berlari melewati aula dan naik tangga, suara Cavell terdengar seperti api neraka.

"Aku bawa wanita itu. gak ada yang perlu diperdebatkan. Cari wanita lain untuk kamu nikahi!"

Sial.

Cavell jutaan kali lebih berbahaya daripada Luke. Aku gak tahu apa yang akan dia lakukan padaku.

Sebelum aku bisa mendengar percakapan mereka lebih jauh, aku sudah ditarik masuk ke kamar. Beberapa detik kemudian lima pria masuk dan mulai memasukkan barang-barangku ke dalam tas.

Aku bahkan gak bisa berpikir dengan jelas saat Mama menyodorkan pakaian ke tanganku lalu mendorongku ke kamar mandi.

"Ganti baju. Cepat," perintahnya sebelum menutup pintu.

Aku mendengar kamar berantakan sementara aku cuma menatap gagang pintu.

Ini gak mungkin terjadi.

"Cepat, Cherry Anabell, atau aku sendiri yang masuk dan memakaikanmu," ancam Mama.

Dalam keadaan linglung, aku mulai melepas pakaian dan dengan cepat memakai setelan jas warna merah muda pucat. Celananya panjang tiga perempat dan cocok dengan sepatu hak hitam lima inci.

Mama lupa mengambilkan atasan, jadi aku hanya mengenakan blazer dan mengancingkan dua kancingnya. Sedikit renda hitam dari bra aku terlihat.

Aku mengambil waktu sebentar untuk diri sendiri, mencuci tangan dan menyisir rambut sebelum membuka lemari untuk mengambil tas perlengkapan pribadi. Aku cepat-cepat memasukkan parfum, perlengkapan mandi, dan produk perawatan kulit.

Aku gak percaya aku akan pergi bersama Cavell Rose. Aku gak tahu apa arti semua ini bagi masa depan aku, dan itu benar-benar menakutkan. Tapi aku bergerak cepat karena aku gak berani membuat pria itu menunggu.

Kalau aku terlalu lama, dia mungkin saja membunuhku karena membuang waktunya.

Tuhan.

Rasa takutku semakin besar saat aku menyadari aku akan berada sepenuhnya di bawah kendali Capo dei Capi dari Marunda. Aku akan meninggalkan hidupku di Langkawi untuk memulai hidup baru di Jakarta.

Pintu kamar mandi terbuka keras. Saat Mama melihatku sedang berkemas, dia langsung membantu.

Ketika aku masuk ke kamar, ruangan itu terlihat seperti habis diterjang badai. Laci dan lemari terbuka semua.

Pengawal yang selalu berada di samping Tuan Rose memegang sebuah tas terbuka.

"Masukkan perlengkapan pribadi kamu ke sini."

Aku melakukan apa yang dia perintahkan.

"Ada sesuatu yang kita lewatkan, yang ingin kamu bawa?"

Aku cepat-cepat memeriksa laci, lemari, dan kamar mandi. Aku masih terkejut melihat betapa cepat hidupku dikemas.

Saat aku menggeleng, Mama menyerahkan tas hitam padaku. "Ini berisi dokumen pribadi kamu. Jangan sampai hilang."

"Aku yang pegang," kata pengawal itu sambil mengambil tas dari tangan Mama.

Saat Mama kembali mencengkeram pergelangan tangan aku, pengawal itu berkata, "Nona di Bella ikut dengan saya."

Sial.

Dalam hitungan menit keluarga aku sudah gak punya kekuasaan lagi atas aku.

Aku melepaskan diri dari pelukan Mama dan tanpa menatapnya, aku mengikuti pengawal itu keluar dari kamar tempat aku menghabiskan sebagian besar hidupku.

Sial, ini benar-benar terjadi.

Situasi burukku semakin terasa nyata saat aku menuruni tangga menuju aula dan berjalan menuju pintu depan.

"Kabari kami saat kamu mendarat di Jakarta," teriak Mama.

Aku terlalu sibuk memikirkan keselamatanku sendiri untuk memperhatikannya.

Saat aku keluar rumah, aku melihat Herman dan Papa berdiri di dekat sebuah SUV dengan jendela gelap.

Papa buru-buru mendekatiku. "Cari tahu apa yang dia inginkan dari kamu lalu beri tahu Papa," perintahnya.

Pengawal itu memegang lenganku. Sentuhannya gak kasar seperti yang biasa aku terima, jadi mataku melebar saat dia mendorong Papa keluar dari jalan.

Dia membuka pintu belakang SUV dan memberi isyarat agar aku masuk.

"Tuan Rose," kata Papa, mencoba menarik perhatian Capo dei Capi saat aku masuk ke kursi belakang. "Kenapa Anda membawa Cherry Anabell?"

Cavell sibuk mengetik sesuatu di HPnya dan bahkan gak repot menjawab.

Pengawal itu menutup pintu. Aku baru bisa menarik napas dalam ketika menyadari aku sekarang sendirian di dalam mobil dengan Cavell. Untungnya perhatiannya tetap pada HP di tangannya.

Aku memberanikan diri memutar kepala perlahan untuk melihat pria yang duduk di sampingku. Kain mahal celananya menempel pada pahanya yang berotot. Sekilas aku melihat tonjolan besar di balik ritsletingnya sebelum cepat-cepat memalingkan wajah.

Tuhan.

Aku menarik napas lagi dengan putus asa saat mataku tertuju pada keluargaku di luar.

Aku gak merasakan penyesalan apa pun saat pengawal itu naik ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Saat SUV mulai bergerak, mataku menatap rumah itu.

Aku gak pernah mengenal cinta dan gak pernah merasa aman di balik dinding rumah itu.

Mata aku turun ke tangan, melihat bekas merah di lengan dan pergelangan tangan, aku mengusapnya perlahan dengan jari.

Apa yang akan terjadi padaku sekarang?

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!