NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Aksarasastra

Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Video Call yang tidak Direncanakan

Malam sudah cukup larut ketika Alya akhirnya sampai di rumah. Jam di ruang keluarga menunjukkan pukul sepuluh tepat ketika ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan napas panjang. Hari itu terasa jauh lebih melelahkan dari yang ia duga, bukan karena aktivitasnya terlalu banyak, tetapi karena satu hal yang sangat mengganggu pikirannya.

Adrian.

Atau lebih tepatnya… Direktur Es Batu.

Alya mengerang kecil sambil menutup wajahnya dengan bantal sofa. “Kenapa sih orang itu selalu tenang begitu?” gumamnya pelan. Ia sudah mencoba berbagai strategi untuk membuat Adrian kesal atau setidaknya merasa lelah menghadapi tingkahnya. Mulai dari kukis gosong, cosplay Spiderman, sampai konsep pernikahan yang nyaris berubah menjadi festival budaya.

Namun pria itu selalu bereaksi sama.

Tenang.

Sabar.

Dan itu sangat menyebalkan.

“Aku harus mikir strategi baru,” gumam Alya lagi sambil bangkit dari sofa. Ia berjalan malas menuju tangga dan naik ke kamarnya di lantai atas. Setelah menutup pintu kamar, ia langsung menuju meja rias dan menatap wajahnya sendiri di cermin.

Kulitnya masih terlihat segar, tetapi sedikit lelah setelah seharian beraktivitas.

“Perawatan dulu,” katanya pada dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian Alya sudah duduk di kursi meja rias dengan masker wajah lumpur hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Hanya matanya saja yang terlihat jelas. Rambutnya diikat tinggi agar tidak terkena masker, sementara ia mengenakan piyama longgar berwarna pastel.

Ia membuka ponselnya —Aurelia Nova X-- yang tadi ia pakai sepanjang hari, lalu mulai men-scroll media sosial dengan santai.

Namun tiba-tiba layar ponsel itu menyala dengan notifikasi panggilan video.

Nama yang muncul membuat Alya langsung membeku.

Adrian Mahendra — Video Call

“Apa?”

Alya mengerjap dua kali.

“Kenapa dia video call?”

Ia bahkan belum sempat berpikir panjang ketika jarinya secara refleks menekan tombol accept.

Baru setelah layar terbuka, Alya menyadari kesalahannya.

“Ya ampun!”

Ia langsung membekap mulutnya sendiri.

Di layar ponsel, wajahnya muncul dengan masker lumpur hitam yang membuatnya terlihat seperti karakter film horor. Hanya matanya yang membesar karena panik.

Namun di sisi lain layar, Adrian juga terlihat… sedikit terkejut.

Beberapa detik pertama mereka hanya saling menatap tanpa bicara.

Lalu Adrian berkata pelan, “Maaf.”

Alya mengerjap.

“Hah?”

“Aku tidak sengaja menekan video call.”

Alya masih memegang ponselnya dengan posisi agak jauh dari wajah, mencoba memastikan masker lumpurnya tidak terlihat terlalu mengerikan. Namun usahanya gagal total karena kamera depan ponsel sangat jelas menampilkan semuanya.

Ia mencoba terdengar santai.

“Kenapa langsung video call?”

“Aku sebenarnya mau telepon biasa.”

Alya menyipitkan mata.

“Tapi kamu malah video call?”

Adrian mengangguk kecil. “Tidak sengaja.”

Alya menghela napas panjang.

Namun saat ia hendak menjawab lagi, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di layar yang membuatnya diam.

Adrian baru saja selesai mandi.

Rambutnya masih sedikit basah, dan ia sedang mengeringkannya dengan handuk kecil yang digosokkan perlahan ke kepalanya. Ia tidak mengenakan kemeja seperti biasanya.

Hanya celana rumah sederhana.

Dadanya telanjang.

Alya membeku.

Matanya terbuka sedikit lebih lebar dari biasanya.

Tubuh Adrian terlihat… sangat terawat. Bahunya lebar, garis otot lengannya terlihat jelas, dan dadanya tampak seperti seseorang yang memang rutin berolahraga. Bukan tipe tubuh yang terlalu besar seperti binaragawan, tetapi proporsional dan kuat.

Alya bahkan tanpa sadar sedikit mencondongkan wajahnya ke layar.

Wah…

Pikiran itu muncul begitu saja.

Ini mirip aktor drama Korea.

Ia mencoba mengingat beberapa nama yang pernah ia lihat di poster drama atau video musik.

Kayak…

Cha Eun-woo?

Atau mungkin Ji Chang-wook?

Ahhh, Kim Sunwoo?

Tapiii,

Oh yaaa.

Mirip Sangyeon theboyz ternyata.

Alya langsung menggeleng kecil untuk mengusir pikiran itu.

Astaga Alya, fokus!

Namun matanya tetap kembali melirik layar.

Adrian masih mengeringkan rambutnya dengan santai, seolah tidak terlalu memikirkan fakta bahwa mereka sedang melakukan video call. Tohh, pada akhirnya nanti dia akan terbiasa karena mereka akan tinggal serumah, bahkan sekamar.

Di dalam hati Alya tiba-tiba muncul satu kalimat yang membuatnya sendiri terkejut.

Ternyata calon suami cakep juga ya…

Ia bahkan langsung menggerutu dalam hati setelahnya.

Heh? Kok aku malah mengaguminya?

Alya cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke meja rias agar tidak terlihat terlalu jelas sedang menatap.

Namun Adrian justru berkata, “Maskermu.”

Alya langsung menoleh lagi.

“Kenapa?”

“Hitam.”

Alya mengangkat alis.

“Iya, masker lumpur.”

Adrian mengangguk pelan.

“Bagus untuk kulit?”

“Iya.”

Beberapa detik hening.

Kemudian Alya berkata dengan nada curiga, “Kamu mandi malam-malam begini?”

“Baru pulang gym.”

Alya hampir tersedak udara. Dalam hatinya ia mengagumi.

“Gym?”

“Iya.”

Alya menatap layar lagi tanpa sadar.

Pantes saja…

Ia cepat-cepat menegakkan punggungnya agar terlihat lebih santai.

“Terus kenapa telepon Alya?”

Adrian berhenti menggosok rambutnya lalu duduk di kursi dekat meja di kamarnya.

“Besok.”

“Apa?”

“Aku mau ke kantor pusat.”

Alya mengerjap.

“Kantor pusat Aurelia?”

“Iya.”

Alya langsung tertarik. Perusahaan tempat Adrian bekerja memang salah satu perusahaan teknologi terbesar di negara itu. Produk utamanya adalah ponsel pintar merek Aurelia, yang bahkan sedang ia pegang sekarang.

“Direktur Es Batu sibuk ya,” gumam Alya.

Adrian mengangkat alis sedikit.

“Kamu masih pakai panggilan itu?”

“Ohhh, tentu.”

Alya menyilangkan tangan dengan ekspresi puas.

“Itu cocok banget.”

Adrian hanya mengangguk kecil seolah menerima saja.

Sunyi beberapa detik.

Lalu Alya tiba-tiba menyadari sesuatu.

Ia masih memakai masker lumpur.

Dan ia baru saja melakukan video call hampir sepuluh menit dalam keadaan seperti itu.

Alya langsung menutup wajahnya dengan tangan.

“Ya ampun.”

Adrian menatapnya. “Kenapa?”

“Alya kelihatan kayak monster.”

Adrian memperhatikan layar sebentar sebelum berkata dengan nada datar, “Tidak.”

Alya menurunkan tangannya sedikit.

“Serius?”

“Iya.”

Alya menatapnya curiga.

“Kamu bohong.”

Adrian menggeleng pelan.

“Kamu terlihat… lucu.”

Alya langsung terdiam.

Ia tidak tahu kenapa kata sederhana itu membuat wajahnya terasa sedikit lebih hangat.

Untung saja masker lumpur hitam menutupi sebagian besar kulitnya.

Jika tidak, Adrian mungkin akan melihat pipinya yang mulai memerah.

Alya cepat-cepat berdehem kecil.

“Sudah ya. Alya mau cuci muka.”

Adrian mengangguk.

“Baik.”

Namun sebelum menutup panggilan, Alya sempat melirik layar sekali lagi.

Dan tanpa sengaja matanya kembali jatuh pada bahu lebar dan garis otot lengan Adrian.

Ia langsung memalingkan wajahnya.

Astaga.

Begitu panggilan berakhir, Alya menjatuhkan ponselnya ke atas meja rias lalu menatap cermin di depannya.

Masker lumpur hitam masih menutupi wajahnya.

Namun matanya terlihat sedikit berbeda.

“Alya,” gumamnya pada bayangannya sendiri.

“Jangan aneh-aneh.”

Ia mengambil tisu lalu mulai membersihkan masker itu perlahan.

Namun jauh di dalam pikirannya, satu kalimat kecil masih terus berputar.

Ternyata Direktur Es Batu… lumayan juga.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!