NovelToon NovelToon
Sistem Warisan Kedua

Sistem Warisan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi Media

Pagi itu Arga berdiri di depan ruko sebelum matahari benar-benar tinggi. Ia memperhatikan papan nama sederhana yang terpasang di atas pintu. Catnya masih terlihat baru. Tulisan nama usaha keluarga itu tidak besar, tidak mencolok, tetapi cukup jelas terbaca dari jalan.

Beberapa hari terakhir papan itu seperti menjadi sasaran tatapan sinis orang yang lewat. Tidak ada yang benar-benar berkata kasar di depan mereka, tetapi bisik-bisik terdengar jelas. Arga bisa membedakan mana yang sekadar penasaran dan mana yang sudah termakan isu.

Ia tidak marah. Ia sudah melewati fase itu. Marah hanya akan membuat langkahnya ceroboh.

Ia masuk ke dalam, menyalakan lampu dapur, dan membuka ponsel. Panel sistem muncul dengan cahaya yang lebih tenang dibandingkan mode darurat kemarin.

[Momentum Berbalik]

[Peluang Pemulihan: 65%]

Angka itu bukan jaminan kemenangan, tetapi cukup untuk membuatnya tersenyum tipis.

“Kita tidak akan menyerang dengan teriakan,” gumamnya pelan. “Kita balas dengan bukti.”

Langkah pertama sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya. Ia menghubungi ketua RT dan beberapa tokoh masyarakat yang selama ini mengenal keluarganya.

“Pak, kalau berkenan, kami ingin mengundang warga melihat langsung dapur kami,” katanya melalui telepon.

Di ujung sana terdengar suara berat yang familiar. “Bagus itu, Ga. Biar tidak ada prasangka.”

Jam sepuluh pagi, beberapa warga mulai berdatangan. Ada ibu-ibu yang biasanya memesan untuk arisan. Ada bapak-bapak yang sering duduk di pos ronda depan gang. Bahkan ada dua pemuda yang sebelumnya terlihat aktif menyebarkan tautan isu di grup WhatsApp.

Arga menyambut mereka dengan senyum sopan.

“Silakan masuk. Kami tidak ada yang ditutup-tutupi.”

Ibunya sudah mengenakan celemek bersih. Rambutnya diikat rapi. Di wajahnya masih tersisa kecemasan, tetapi ada tekad yang lebih kuat dibandingkan hari-hari sebelumnya.

“Ini tempat cuci bahan,” jelasnya sambil memperagakan cara mencuci sayuran di bawah air mengalir. “Airnya kami ganti setiap kali produksi baru.”

Sari menunjukkan lemari pendingin. Termometer kecil ditempel di dalamnya.

“Kami catat suhu setiap pagi dan sore,” katanya sambil memperlihatkan buku catatan.

Seorang ibu mendekat, memeriksa dengan saksama. “Bersih juga ya.”

Arga tidak menyela. Ia membiarkan mereka menilai sendiri. Di sudut ruangan, ayahnya membuka wadah penyimpanan bumbu. Semua tertata rapi dan diberi label tanggal.

“Kami tidak pernah pakai bahan lebih dari dua hari untuk menu basah,” jelasnya.

Ketua RT mengangguk pelan. “Kalau begini, sulit percaya ada keracunan.”

Arga menangkap kalimat itu dengan hati-hati. Ia tidak langsung terlihat lega. Masih ada langkah berikutnya.

Setelah tur dapur selesai, ia membagikan kotak makanan gratis kepada warga yang hadir.

“Ini sama seperti yang kami kirim ke proyek,” katanya. “Silakan dicoba.”

Beberapa orang tampak ragu, tetapi akhirnya menerima. Aroma masakan hangat memenuhi ruangan kecil itu. Tidak ada bau aneh. Tidak ada tampilan mencurigakan.

Seorang bapak mencicipi lebih dulu. Ia mengunyah perlahan.

“Rasanya biasa saja. Dalam arti bagus,” katanya sambil tertawa kecil. “Tidak ada yang aneh.”

Suasana sedikit mencair.

Di saat yang sama, Arga meminta Budi merekam seluruh kegiatan. Video itu tidak dibuat dramatis. Tidak ada musik tegang. Hanya potongan proses nyata, komentar warga, dan suasana dapur yang terbuka.

Sore harinya, video itu diunggah ke media sosial lokal dan grup warga.

Tanggapan mulai berubah.

“Sudah lihat videonya. Kayaknya fitnah.”

“Dapurnya malah lebih bersih dari rumah saya.”

“Jangan mudah percaya gosip.”

Skill Analisis Sentimen Publik kembali aktif secara halus di benaknya. Pola komentar negatif menurun. Komentar netral dan positif meningkat.

Namun Arga tidak berhenti di situ.

Ia tahu isu keracunan tidak bisa dipatahkan hanya dengan opini warga. Harus ada suara yang lebih objektif.

Siang itu ia mendatangi klinik kecil di ujung jalan. Dokter Rini, yang sudah praktik bertahun-tahun di lingkungan itu, menyambutnya dengan heran.

“Keracunan massal?” ulang dokter itu setelah Arga menjelaskan situasinya. “Saya tidak menerima laporan seperti itu.”

“Tidak ada pasien dengan gejala yang sama setelah makan dari tempat kami?” tanya Arga hati-hati.

Dokter Rini menggeleng. “Kalau ada, pasti saya ingat. Apalagi kalau jumlahnya banyak.”

Arga menarik napas lega.

“Dok, bolehkah saya mengutip pernyataan dokter untuk klarifikasi? Tidak perlu detail pasien. Hanya bahwa tidak ada laporan keracunan massal.”

Dokter Rini tersenyum tipis. “Boleh saja. Saya juga tidak suka orang menyebar kabar tanpa dasar.”

Malamnya, Arga mengunggah klarifikasi singkat. Tidak panjang, tidak menyudutkan siapa pun.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak medis setempat. Hingga saat ini tidak ada laporan resmi mengenai keracunan massal terkait usaha kami.”

Kata-katanya dipilih dengan hati-hati. Ia tidak menuduh. Ia hanya menyajikan fakta.

Komentar mulai berubah arah.

“Kalau tidak ada laporan medis, berarti hoaks?”

“Kenapa yang bilang keracunan tidak muncul?”

Arga memantau dengan tenang. Lalu sesuatu yang tidak ia duga terjadi.

Budi berlari kecil menghampirinya dengan wajah tegang sekaligus bersemangat.

“Arga, lihat ini.”

Ia menunjukkan layar laptop. Salah satu akun anonim yang paling aktif menyebarkan isu baru saja menghapus beberapa postingan. Namun sebelum itu, Budi sempat menangkap tangkapan layar yang memperlihatkan detail kecil di pengaturan akun.

Arga memperbesar gambar itu. Alamat IP tidak sepenuhnya tersembunyi.

Ia tidak ahli teknologi, tetapi ia mengenali sesuatu yang familiar. Beberapa bulan lalu, saat membantu ayahnya memasang jaringan internet tambahan untuk ruko, ia pernah melihat pola IP yang digunakan toko grosir Darsono karena berada di penyedia layanan yang sama.

Ia tidak langsung menyimpulkan. Ia menelepon seorang kenalan lama yang paham jaringan.

“Pak, bisa minta tolong cek ini?” tanyanya.

Beberapa jam kemudian, jawaban datang.

“IP itu memang terdaftar di area yang sama dengan toko grosir milik Darsono. Sangat dekat, hampir pasti dari sana.”

Arga menutup telepon perlahan.

Dadanya tidak dipenuhi amarah. Justru ia merasa tenang. Permainan ini akhirnya menunjukkan wajahnya.

Panel sistem muncul kembali.

[Momentum Berbalik]

[Peluang Pemulihan: 65%]

[Sumber Serangan Teridentifikasi.]

Ia menatap angka itu lama.

Enam puluh lima persen bukan seratus. Artinya masih ada risiko. Darsono bukan orang yang akan berhenti hanya karena satu kesalahan teknis.

Arga mengumpulkan keluarga di ruang depan malam itu.

“Aku tahu siapa yang main di belakang,” katanya pelan.

Ibunya menegang. “Siapa?”

Arga tidak menyebut nama dengan keras. “Orang yang merasa kita mengganggu bisnisnya.”

Ayahnya menghela napas panjang. “Ayah sudah duga.”

“Kita laporkan saja?” tanya Sari dari sudut ruangan.

Arga menggeleng. “Belum.”

Semua menatapnya heran.

“Kalau kita langsung serang balik, dia akan bilang kita memfitnah. Dia punya jaringan lebih luas. Kita harus lebih rapi.”

Ia menjelaskan rencananya.

Alih-alih membuka identitas IP ke publik, ia akan menyimpan bukti itu sebagai kartu cadangan. Untuk saat ini, cukup membiarkan opini publik berubah secara alami dengan bukti-bukti yang sudah ada.

“Kita tidak perlu mempermalukan dia sekarang,” kata Arga. “Cukup pastikan usaha kita pulih.”

Ibunya menatapnya dengan campuran bangga dan khawatir. “Kamu yakin kuat menghadapi orang seperti itu?”

Arga tersenyum tipis, dan berkata dalam hati “Aku sudah pernah menghadapi yang lebih besar.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Pengalaman kehidupan sebelumnya tetap menjadi rahasia di dalam hati.

Hari-hari berikutnya menunjukkan perubahan nyata. Pesanan yang sempat turun mulai kembali. Salah satu proyek yang membatalkan kontrak menghubungi kembali.

“Kami lanjutkan seperti biasa,” kata perwakilan proyek melalui telepon. “Setelah melihat klarifikasi dan kunjungan warga, kami rasa isu itu tidak berdasar.”

Ibunya menutup mulutnya, menahan tangis lega.

Namun di sisi lain kota kecil itu, Darsono tidak tinggal diam.

Di toko grosirnya yang luas, ia memandang laporan penjualan dengan wajah kaku. Beberapa pelanggan yang biasanya membeli dalam jumlah besar kini mulai membagi pesanan.

“Kenapa belum selesai juga?” bentaknya kepada salah satu pegawainya.

“Pak, isu yang kemarin malah berbalik. Warga sudah lihat dapur mereka.”

Darsono mengepalkan tangan. “Berarti kita buat yang lebih besar.”

Kalimat itu meluncur pelan, tetapi penuh ancaman.

Arga belum mengetahui langkah berikutnya secara detail, tetapi ia bisa merasakannya. Intuisi bisnisnya mengatakan permainan belum selesai.

Panel sistem tidak menampilkan peringatan merah, tetapi ada satu baris kecil yang muncul sebelum menghilang.

[Ancaman Aktif: Level Meningkat.]

Arga berdiri di depan ruko malam itu, menatap jalan yang mulai sepi. Lampu-lampu rumah warga menyala hangat. Suasana terlihat normal, seolah tidak ada badai yang baru saja lewat.

Ayahnya berdiri di sampingnya.

“Kalau dia menyerang lagi?” tanya ayahnya pelan.

Arga tidak langsung menjawab. Ia memandang papan nama usaha mereka sekali lagi.

“Berarti kita naik level juga,” katanya tenang.

Ia tahu satu hal. Serangan balik yang elegan bukan hanya tentang mematahkan tuduhan. Itu tentang menunjukkan kelas.

Dan kelas tidak ditentukan oleh seberapa keras seseorang berteriak, tetapi seberapa tenang ia berdiri saat diterpa badai.

Namun ketenangan itu tidak boleh berubah menjadi lengah.

Darsono telah menaikkan permainan. Dan Arga bersiap untuk babak berikutnya.

1
Dirman Ha
in
Dirman Ha
ih mantap
fauzi ezi
gas tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!