Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Seragam yang Tercela
Di dalam tidurnya yang gelisah malam itu, kesadaran Colette terseret mundur. Suara deru kipas angin di kamarnya berubah menjadi suara gesekan daun kering di bawah sepatu sekolah yang terlalu besar untuk kakinya.
Colette kecil, berusia sembilan tahun, berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah kebun kosong di belakang komplek perumahannya.
Matahari sore itu berwarna oranye pekat, memberikan bayangan panjang yang menakutkan pada pohon-pohon mangga di sekelilingnya. Ia baru saja pulang dari kegiatan ekstrakurikuler, tas punggungnya terasa berat dengan buku-buku gambar.
Ia bersenandung kecil, memikirkan sup hangat yang mungkin sudah dimasak ibunya, Sinta. Namun, senandung itu terhenti saat ia melihat tiga sosok pria dewasa sedang duduk di atas balai-balai kayu yang lapuk di bawah pohon beringin.
Mereka bukan orang asing.
Colette sering melihat mereka nongkrong di depan gang, memegang botol kaca berisi cairan keruh sambil tertawa keras. Saat Colette lewat, tawa mereka berhenti. Keheningan yang tiba-tiba itu terasa lebih tajam dari sembilan pisau.
"Mau kemana, gadis cantik?" salah satu dari mereka, yang memakai kaos singlet kumal, berdiri menghalangi jalan.
Colette menunduk, jantungnya mulai berdegup kencang hingga terasa ke tenggorokan. "Mau pulang, Pak."
"Pulang? Kenapa buru-buru?" pria kedua mendekat, bau alkohol dan tembakau murahan menyengat indra penciuman Colette.
Colette mencoba menghindar, namun tangannya yang kecil tiba-tiba dicengkeram dengan kasar. Tas sekolahnya ditarik hingga ia terjatuh ke atas tanah yang keras. Lututnya berdarah, tapi rasa perih itu segera hilang digantikan oleh rasa takut yang melumpuhkan.
Ia ingin berteriak memanggil ayahnya, memanggil Sinta, atau siapa saja. Namun, saat tangan-tangan bejat itu mulai menyentuh seragam merah-putihnya, suaranya seolah dicuri dari tenggorokannya.
Ia melihat langit sore yang indah itu mulai berputar. Ia melihat burung-burung terbang bebas di atas sana, sementara di bawah sini, kehormatan dan masa depannya dirampas secara paksa oleh manusia-manusia yang lebih menyerupai iblis.
Tidak ada yang menolong. Tidak ada suara selain tawa menjijikkan mereka dan suara napas mereka yang memburu di telinganya.
Di saat itulah, jiwa Colette "pergi". Ia mematikan dirinya sendiri. Ia memandang ke arah dahan pohon di atasnya, menghitung helai daun yang gugur, mencoba melepaskan pikirannya dari rasa sakit dan kotor yang merayapi tubuhnya. Ia memutuskan bahwa sejak detik itu, tubuhnya bukan lagi miliknya. Perasaan tidak lagi berguna.
Ketika mereka akhirnya pergi meninggalkannya tergeletak seperti sampah di tanah yang berdebu, Colette tidak menangis. Ia berdiri dengan kaki gemetar, memunguti buku gambarnya yang sudah koyak, dan berjalan pulang dengan seragam yang kotor.
Ia tidak menceritakannya pada siapa pun saat itu. Ia hanya masuk ke kamar mandi, menggosok kulitnya dengan sabun hingga merah dan lecet, berusaha menghilangkan bau manusia-manusia itu—bau yang ternyata tetap melekat di jiwanya hingga dua puluh tahun kemudian
Mimpi itu tidak berhenti pada sore yang kelam di bawah pohon beringin.
Ingatan bawah sadarnya seperti proyektor rusak yang terus memutar cuplikan-cuplikan wajah para bajingan itu secara bergantian. Wajah-wajah yang menyeringai, mata yang lapar, dan tawa yang terdengar seperti dengusan binatang.
Lalu, latar mimpinya berubah. Kini ia berada di ruang kelas yang pengap.
Colette kecil duduk di bangkunya, mencoba fokus pada papan tulis. Namun, ia tidak pernah merasa aman. Ia merasakan gerakan halus di sampingnya.
Teman pria sebaya yang duduk di belakangnya mulai beraksi. Dengan gerakan yang sangat lambat dan diam-diam, jemari itu mencolek pinggangnya.
Colette hanya bisa mematung, jemarinya meremas kuat pensil hingga ujungnya patah.
Bukan hanya satu orang. Saat jam istirahat atau ketika guru membelakangi kelas, tangan-tangan mungil namun jahat itu dengan sengaja dan berani mulai mengelus pahanya dari balik rok seragam merahnya.
Colette ingin memberontak, ingin menendang kursi mereka, atau setidaknya mengadu. Namun, lidahnya terasa seperti terikat oleh kawat berduri.
Dalam mimpinya, ia melihat dirinya sendiri hanya bisa menunduk dalam-dalam. Setiap sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang kotor, meninggalkan bekas hitam di kulitnya yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.
Murid-murid pria itu berbisik, saling memberi kode, dan tertawa mengejek di balik punggungnya. Bagi mereka, Colette adalah mainan yang tak bisa bicara. Bagi Colette, setiap sentuhan itu adalah paku yang memaku jiwanya ke dasar kegelapan.
Dunia di sekelilingnya seolah berputar. Wajah pria dewasa di kebun kosong dan wajah anak-anak lelaki di kelas melebur menjadi satu monster besar dengan seribu tangan yang berusaha meraihnya dari segala arah.
"Berhenti..." bisik Colette dalam tidurnya. Suaranya serak, nyaris tak keluar.
Di tengah kepungan tangan-tangan itu, ia merasa tercekik. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa seperti tertanam di dalam semen. Ia hanya bisa melihat dirinya sendiri perlahan-lahan berubah menjadi batu—dingin, keras, dan tak lagi merasakan apa pun.
Jeritan itu pecah, merobek kesunyian pagi yang biasanya dingin dan kaku. Colette terjaga dengan tubuh yang bergetar hebat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, "robot" itu memperlihatkan retakan.
Suara yang biasanya ia telan di dalam tenggorokan kini keluar menjadi tangisan yang terisak-isak—suara parau yang penuh dengan rasa jijik dan sesak yang selama ini ia kunci di ruang bawah tanah jiwanya.
"Tidak... jangan... berhenti..." igau Colette di sela tangisnya, tangannya mencengkeram sprei hingga buku-buku jarinya memutih, seolah ia sedang berusaha menepis tangan-tangan imajiner yang menghantuinya di dalam mimpi.
Pintu kamar terbanting terbuka. Sinta berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Melihat putrinya yang biasanya diam kini hancur di depan matanya, jantung Sinta serasa berhenti berdetak.
"Colette! Nak, ini Ibu! Ini Ibu!" Sinta langsung merengkuh tubuh kaku itu ke dalam pelukannya.
Ia tidak peduli jika Colette memberontak, ia memeluknya dengan erat, seolah ingin memberikan seluruh nyawanya untuk menambal lubang di hati putrinya. "Sudah, Nak... mereka tidak ada di sini. Ibu di sini, Ibu menjagamu."
Di ambang pintu, Aris berdiri mematung. Pemuda itu mengepalkan tinjunya hingga gemetar. Melihat kakak perempuannya yang selalu terlihat "mati" kini menangis seperti anak kecil yang ketakutan, membuat amarah dan rasa kasihan bergejolak di dadanya.
Aris tahu persis apa yang dirasakan kakaknya tanpa perlu bertanya. Ia tahu setiap tangisan itu adalah jejak dari tangan-tangan bejat yang pernah menyentuh kakaknya dulu.