Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Jalan Pulang
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Bagi Damar dan Naya, tujuh tahun menjadi kebersamaan dalam sederhana yang selalu dipenuhi rasa sayang. Mereka sepasang kekasih yang saling menggenggam mimpi.
Sore itu , mereka pulang bersaamaan dari kantor seperti biasanya. Lampu gedung mulai menyala satu per satu, dan jalanan dipenuhi suara klakson yang saling bersahutan.
“Aku capek hari ini,” kata Naya sambil menyandarkan kepala di bahu Damar, duduk di jok motor yang berhenti di pinggir jalan.
Damar melirik dengan senyum.
“Aku juga capek, gimana dong?” tanyanya iseng.
Naya cemberut tipis, "ihh... jangan ikut-ikutan dong."
"Loh, cape itu kan adil. Kamu capek, aku juga. Jadi seimbang." jawabnya pura-pura serius.
Naya mendengus pelan, "nggak lucu."
Damar tertawa kecil, "terus mau gimana?"
Naya menegakkan badan
“Damar……” panggil Naya dengan wajah yang berubah serius.
“Iya?”
“Kamu serius kan sama rencana kita?”Nada Naya pelan tapi penuh harap.
Damar mematikan mesin motor, menoleh padanya dengan sorot mata yang hangat meski terselip lelah disana.
“Kalau aku gak serius, ngapain aku bertahan bertahun-tahun sama kamu?”
Naya tersenyum kecil.
Jemari Damar menyentuh rambut Naya, mengelusnya pelan. Gerakan sederhana yang sudah akrab di antara mereka.
"Emangnya ada apa, Nay? Kamu nggak biasa nanya begini."
“Aku cuman,,,,pengen dengar aja.” jawab Naya membalas tatapan Damar.
Damar menghela napas, lalu berkata mantap,
“Setelah bonus akhir tahun keluar, aku mau bicara sama orangtuamu. Aku pengen kita naik satu langkah lagi.”
Mata Naya berkaca-kaca.”Kamu jangan bercanda”
“Aku nggak pernah bercanda soal kamu. Atau kamu ragu sama aku? ”
Naya menggeleng cepat, "bukannya ragu, tapi aku terharu," bibirnya mengerucut sedikit.
Damar menarik sedikit Naya lebih dekat padanya hingga sang kekasihnya bersandar di bahunya.
"Kita harus sama-sama yakin, Nay. Kita pasti akan bersama selalu."
Mereka terdiam sejenak. Angin sore berhembus, membawa suara riuh dari kejauhan.
Damar tiba-tiba berdiri.
“Tunggu sebentar ya”
“Kemana? Kamu kemana”
“Sebentar saja” Damar menunjuk ke seberang jalan. “Aku mau beli sesuatu. ”
Naya mengikuti arah pandangnya, matanya ikut beralih ke seberang. Sebuah toko bunga kecil yang hampir tutup.
“Kamu nggak perlu….” Naya tidak jadi melanjutkan perkataannya karna Damar sudah melangkah lebih jauh.
Lampu lalu lintas menyala hijau untuk pejalan kaki. Damar menoleh sekali lagi ke arah Naya.
“ Tunggu di situ, jangan kemana-mana.” senyum Damar masih terlihat jelas.
Naya mengangguk. ”Aku tunggu.” jawab Naya dengan suara yang lebih keras.
Damar mulai menyeberang.
Di saat yang sama, dari sisi jalan lain, terdengar suara sorak sorai. Sekelompok mahasiswa dari dua kampus berbeda bergerak cepat, membawa spanduk, senjata, dan pengeras suara. Situasi mendadak ramai dan kacau. Orang-orang saling berdesakan.
“Damar!”teriak Naya panik.
Damar menoleh, berusaha kembali , tapi arus manusia terlalu padat. Suara klakson bersahutan, teriakan saling bertumpuk.
“Naya, jangan maju!” teriak Damar
Namun jarak diantara mereka semakin jauh.
Dalam kekacauan itu , Damar sempat menoleh sekali lagi. Matanya mencari Naya, dan ketika bertemu, ia tersenyum, senyum yang sama seperti setiap pagi di kantor.
“Nay-!”
Suara tenggelam oleh keramaian.
Beberapa detik kemudian, semuanya terasa cepat…orang-orang berpencar mencari jalannya masing-masing.
Naya berdiri terpaku. Tangannya gemetar, napasnya tercekat.
“Damar…..?”
Suaranya nyaris tak terdengar.
Malam itu, toko bunga tetap berdiri di tempatnya. Bunga-bunga segar masih tersusun rapi, menunggu tangan yang tak pernah sampai.
Suara ambulans memecah malam, panjang dan berulang, menyusup di antara kebisingan jalan yang tadi riuh lalu mendadak sunyi. Disusul sirene mobil polisi yang berputar-putar seperti tak menemukan tempat untuk berhenti.
Di tengah kerumunan yang perlahan menepi, Naya hanya terpaku, mencari satu sosok, Damar.
Di antara cahaya, suara dan langkah-langkah yang tergesa, seakan sirene itu bukan sekadar penanda bantuan, melainkan penegas bahwa sesuatu yang ia kenal barusan saja berubah selamanya.