NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 7

“Tidak… tidak… aku tidak boleh bergantung pada manusia…” suara Miranda gemetar, nyaris hilang tertelan angin subuh yang menusuk.

Baju yang melekat di tubuhnya hanya daster lusuh itu. Kainnya basah, berat, dan dingin menempel di kulit. Sandal jepitnya sudah hampir putus di bagian tali.

Subuh tiba perlahan bersama cahaya pucat dari timur. Jalan mulai terlihat lebih jelas meski masih sepi. Miranda mengusap wajahnya yang kaku oleh air hujan.

Miranda berlari kecil menuju musala di pinggir jalan. Ia mengintip sebentar ke dalam ruangan. Musala itu sepi tanpa seorang pun.

Di sudut ruangan ada lemari mukena dari kayu tua. Pintu kacanya retak tipis. Bau karpet bercampur aroma kapur barus memenuhi hidung.

Dengan tangan gemetar ia mengambil wudu. Airnya dingin seperti menusuk tulang. Miranda beberapa kali menarik napas agar kuat.

Ia berdiri, menegakkan badan, lalu salat Subuh. Gerakannya pelan, penuh kehati-hatian. Air matanya jatuh saat membaca doa pendek.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, dadanya terasa sedikit longgar. Perasaan sesak itu belum hilang sepenuhnya. Namun ada tenang yang tipis.

Begitu salam terakhir ia ucapkan, rasa haus kembali menyerang. Tenggorokannya seperti terbakar oleh dingin dan lelah.

Miranda menelan ludah. Matanya menyapu sekitar musala. Ia mencari sesuatu yang bisa menolong rasa hausnya.

Pandangan Miranda berhenti pada botol air mineral di tong sampah. Botol itu kusam dan penyok. Hatinya ragu antara jijik dan butuh.

Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk banyak berpikir. Miranda mengambil botol itu perlahan. Tangannya masih gemetar.

Ia mencucinya berkali-kali di tempat wudu. Air dialirkan sampai bau tak sedapnya hilang. Setelah itu botol diisi penuh.

“Maaf ya Allah…” lirihnya.

Matahari mulai muncul dari balik bangunan. Cahaya kuning tipis menyentuh jalan basah. Miranda melangkah menuju pasar mengikuti arah orang.

Begitu sampai, Miranda seakan masuk ke dunia lain. Suasana pasar berisik dan hidup. Semua bergerak tanpa memedulikan dirinya.

Riuh suara orang menawarkan dagangan bercampur teriakan tawar-menawar. Bau sayur, tanah basah, dan asap rokok jadi satu. Miranda merasa kecil di tengah keramaian.

Ada pemulung, anak kecil membawa karung plastik, dan kuli panggul hilir mudik. Keringat mengalir di wajah mereka. Semua tampak sibuk mengejar uang.

Motor, mobil, dan gerobak saling berhimpitan. Klakson bersahut-sahutan tanpa aturan. Miranda berdiri bingung di tepi jalan pasar.

Perut Miranda keroncongan keras. Ia sempat terpikir mengemis pada orang lewat. Namun rasa malu menahannya kuat.

Tidak. Ia tidak mau hidup seperti itu. Miranda menggeleng pelan pada pikirannya sendiri.

Di dekatnya seorang sopir pikap terlihat kesal. Ia menggerutu sambil membuka pintu bak. Beberapa kotak kayu masih tertumpuk berantakan.

“Ah, telat lagi gue… jadi bongkar sendiri, nih!” gerutunya.

Miranda menelan ludah lalu memberanikan diri mendekat. Jantungnya berdebar sangat cepat. Ini pertama kali ia meminta pekerjaan dengan sadar.

Baru saja ia berdiri di dekat pikap, sopir itu sudah melirik sinis. Wajahnya penuh curiga melihat penampilan Miranda.

“Pergi sana! Kalau mau makan, kerja! Jangan ngemis!”

Miranda tercekat mendengar bentakan itu. Pipinya panas oleh malu. Ia menunduk menatap kakinya sendiri.

Ia melihat dirinya dengan jujur: daster lusuh, sandal nyaris putus, tangan kusam penuh bekas kerja. Penampilannya memang seperti gelandangan.

Ingin rasanya mundur dan pergi. Namun rasa lapar lebih kejam daripada rasa malu. Miranda memaksa mulutnya bicara.

“Pak… boleh saya bantu bapak angkut barang? Maaf… saya lapar, tapi saya tidak mau ngemis.”

Sopir itu menatapnya lama tanpa bicara. Matanya menilai kesungguhan di wajah Miranda. Suasana hening beberapa detik.

Lalu tanpa banyak bicara ia mengangguk kecil. Ekspresinya masih datar, tetapi tidak lagi mengusir.

“Sini. Lihat cara kerjanya.”

Ia memperlihatkan cara mengangkat kotak kayu berisi sayur. Gerakannya cepat dan terbiasa. Miranda memperhatikan dengan serius.

Miranda cepat menangkap cara itu. Awalnya ia mengangkat perlahan karena punggungnya sakit. Tangannya terasa panas oleh berat kotak.

Lama-kelamaan ia mulai terbiasa. Miranda mengatur napas mengikuti irama kerja. Keringat bercampur sisa air hujan di wajahnya.

Tangannya kotor, napasnya tersengal, namun ia terus bekerja. Dalam hatinya ada rasa aneh yang tumbuh. Rasa bahwa ia masih berguna.

Sampai akhirnya semua kotak selesai diturunkan. Bak pikap sudah kosong dan rapi. Miranda berdiri sambil mengusap keringat.

“Bang… sudah selesai,” ucap Miranda.

Sopir itu mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia menyodorkan selembar dua puluh ribuan. Miranda memandang uang itu seperti keajaiban.

Sopir itu berkata, “Besok datang lagi jam segini. Kasih nomor HP.”

Miranda menggeleng pelan. “Saya… tidak punya ponsel, Pak.”

Sopir itu mendecih. “Hari gini nggak punya ponsel. Ya udah. Pokoknya besok jam segini.”

Miranda mengangguk cepat dengan mata berbinar. Uang itu ia pegang erat seolah benda paling berharga di dunia.

Sopir masuk mobil dan pergi meninggalkan debu tipis. Miranda masih berdiri menatap uang di tangannya.

“Aku kerja tidak sampai satu jam… dapat dua puluh ribu.”

Ia tertawa kecil lalu matanya berkaca-kaca. Dada Miranda bergetar oleh perasaan campur aduk.

“Sedangkan di rumah suamiku… aku kerja dari pagi sampai malam, cuma dapat makan.”

Perutnya kembali melilit minta diisi. Miranda melihat penjual nasi kuning tak jauh dari sana.

Harga tertera di kertas kecil. Lima ribu tanpa lauk, sepuluh ribu dengan ayam. Miranda menggigit bibir berpikir.

“Aku harus hemat.”

“Nasi satu, Bu…” ucapnya pelan.

Si ibu membungkus nasi dengan wajah masam. Gerakannya cepat seolah ingin segera selesai. Ia seperti enggan menyentuh Miranda.

“Ini. Pergi sana… jangan di sini. Heran, tiap hari orang gila makin banyak aja.”

Miranda tercekat mendengar ucapan itu. Hatinya seperti disiram air panas. Ia menoleh pada kaca warung.

Pantulan dirinya terlihat mengenaskan. Noda lumpur menempel di pipi, rambut lepek, tangan hitam oleh debu pasar.

Miranda buru-buru merogoh uang. “Saya bukan orang gila, Bu… ini saya mau bayar.”

Ibu itu mengambil uangnya lalu mengembalikan kembalian. Wajahnya tetap tanpa senyum.

“Ini,” katanya ketus, “ingat ya. Masih muda jangan ngemis apalagi mencuri. Kita punya otak, punya kaki dan tangan. Pakai baik-baik.”

Miranda mengangguk pelan. Kata-kata itu menusuk, tetapi juga benar.

“Terima kasih, Bu…”

Walau terdengar seperti hinaan, bagi Miranda itu seperti cambuk. Ada sesuatu dalam dirinya yang terbangun perlahan.

Ia mencari tempat sepi untuk makan. Langkahnya membawa ke ruko kosong di sudut pasar. Di sana hanya ada kardus dan debu.

Miranda duduk lalu makan nasi kuning itu dengan lahap. Setiap suapan terasa seperti hadiah besar dari hidup.

Air putih di botol bekas ia teguk perlahan. Tenggorokannya mulai terasa lebih baik. Tenaga sedikit demi sedikit kembali.

Hari makin siang dan panas mulai terasa. Miranda menatap bajunya yang masih basah dan bau hujan.

“Ya Allah… bahkan aku tidak punya baju ganti…”

Seolah Tuhan mendengar keluhannya, ia melihat seorang ibu bermata sipit membawa plastik besar berisi pakaian. Ibu itu berdiri di depan rumah berbendera kuning.

Miranda memberanikan diri mendekat. Langkahnya ragu namun penuh harap.

“Bu… itu bajunya mau diapakan?”

“Mau dibakar,” jawab ibu itu singkat.

Miranda bingung mendengar jawaban itu. Plastik besar itu terlihat masih berisi pakaian bagus.

“Kenapa dibakar?”

Ibu itu menghela napas panjang. Matanya tampak lelah oleh duka.

“Anakku meninggal habis melahirkan. Barangnya harus dibuang. Katanya kalau masih disimpan… hantunya gentayangan.”

Miranda ragu sejenak. Ia tahu sebagian orang percaya hal begitu. Namun kebutuhannya lebih besar dari rasa takut.

Dengan suara kecil ia bertanya, “Kalau boleh… bajunya untuk saya saja, Bu.”

Mata ibu itu menyipit makin tajam. Ia memeriksa Miranda dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya penuh penilaian.

Lalu tanpa banyak kata ia melempar plastik itu ke arah Miranda. Plastik jatuh mengenai kaki Miranda.

“Ambil. Tapi jangan buang ke sungai.”

Miranda memeluk plastik itu erat seperti memeluk harapan baru. Bau sabun masih tercium dari dalamnya.

“Baik, Bu… terima kasih.”

“Alhamdulillah ya Allah…” lirih Miranda.

Orang lain mungkin takut pada barang milik orang meninggal. Namun Miranda tidak merasakan itu. Baginya benda itu justru pertolongan.

Karena yang lebih menakutkan bagi Miranda bukan hantu.

Yang lebih menakutkan adalah… kelaparan dan hidup tanpa arah.

1
nunik rahyuni
kok ikut tegang thor 🤣🤣 sdh ikut ngos ngosan lari tp di gantung /Sleep/
Sunaryati
Miranda kamu akan ada jalan menuju sukses karena menolong Dino dan ibunya
nunik rahyuni
duh jenenge kok podo...🤣🤣🤣 jenenge pasaran..😁
nunik rahyuni: /Joyful//Joyful//Joyful/ klo mau msh ada stok nama yg antik thor..nama bahari tu yg akiranya nik kya anik ...nanik..hanik..yanik .menik
total 2 replies
nunik rahyuni
Cerita yg bagus bikin nguras esmosi..mirip dg zaman q masih jahiliyah 😁😁😅
Sunaryati
Semoga langkahmu lancar, sepertinya pemilik ruko itu saudaramu Miranda
nunik rahyuni
lanjut kk ...makin seru
Asphia fia
itu mah Miranda dijadikan budak yg di byr Thor BKN istri
gemes bgt baca ceeitanya
nunik rahyuni
semangat terus berkarya 💪💪💪💪
nunik rahyuni
lanjut thorr double up klo boleh...suka j baca cerita rakyat jelata g selalu ceo coe atau oce / eco 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
tega nya..mknya belajar lah menyanyangi diri sendiri
nunik rahyuni
sumpal mulutnya pake lap kompor mertua kya itu ..sayur nya tak kasih racun tikus ben innalillah
nunik rahyuni
awak capek kerja cm di kadih tempe kok ra pinter jadi orang to mir masak karo ngemplok sing enak enak yg lain kasih sisanya saja wong pemalas
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
nunik rahyuni
kok kya anak tk...sesayang sayang nya sm laki q emoh yen kokon kya itu..dia punya kaki punya tangan kok kya orang cacat
santi damayanti: terimakasih
total 1 replies
nunik rahyuni
tahanya smpai 10 th..aq j yg bru sebulan di ikuti mertua ja sdh mo tak racun😁
Sunaryati
Jadi kismin sebentar lagi karena dikuras calon istri
Sunaryati
Kau akan dipecat karena pengadaan mesin dan pekerjaan kamu kacau tidak ada yang beres setelah bercerai dengan Miranda. Semoga Miranda diperkerjakan di ruko tempat ia bermalam
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung dan membaca
total 3 replies
Sunaryati
Arka mengingat Miranda karena sudah tidak punya babu gratis
Sunaryati
Doa orang terdzolimi semoga segera terkabul
Sunaryati
Semangat Miranda kamu orang baik, semoga segera terentas dari kemiskinan
Sunaryati
Semoga langkahmu dilancarkan dan menemukan orang baik yang bisa membawa kesuksesan hidupmu dunia akherat, Nak Miranda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!