Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak benar
Didalam sebuah ruangan kantor tempat Riven berkamuflase, sudah berdiri sosok Serra yang tanpa ekspresi dengan penyamaran bak sekertaris magang. Ia membawa map tipis berwarna cokelat sembari duduk. Lalu meletakkan map tersebut di atas meja kerja Riven.
"Target salah," Serra menatap dingin.
Riven memeriksa sekilas, kedua netra nya bergerak cepat menyusuri setiap kalimat dalam secarik kertas, lalu menutup kembali map itu dengan tenang. Pikirannya agak goyah, setelah melihat hasil tes yang jelas menunjukkan bahwa, tidak ada hubungan biologis antara Ethan Hale dengan Adrian Vale.
"Lalu?," Riven mengetuk dua jarinya di atas meja.
"Aku berhenti," tegas Serra sambil tetap menatap dingin pria di hadapannya. Pria yang telah menjerumuskannya ke dalam hal-hal berbahaya.
Riven menyandarkan tubuhnya di kursi sembari menautkan jari "kau yakin?."
"Ethan bukan Adrian Vale", lanjut Serra, "dia sudah tidak ada hubungannya dengan misi, mulai sekarang jangan ganggu hidupnya, "tatapan Serra tetap dingin namun agak mengancam.
Riven mengamati raut wajah Serra lebih lama, ia tak mengira jika Serra mulai memperdulikan orang lain, bahkan sampai membelanya seperti ini. Sejujurnya ia agak kecewa dengan keputusan Serra yang begitu mendadak.
"Kau berubah," ujar Riven sembari menyalakan sebatang rokok, lalu menyesapnya pelan.Namun Serra tidak menjawab. "Adrian Vale belum ditemukan, tekanan makin besar," lanjutnya, mencoba berdiskusi dengan Serra.
"Bukan urusanku," sahut Serra.
Riven menekan ujung rokoknya ke dalam asbak, lalu beranjak mendekati Serra, "kau menyukainya?," Riven menatap lekat wajah Serra, mencoba melihat celah ekspresi pada wajah cantik tersebut.
Serra yang mengetahui jika dirinya sedang diuji pun tak sedikitpun merasa gelisah. Ia tetap dingin tanpa ekspresi, "Itu bukan urusanmu," bisik Serra.
Tentu hal itu membuat Riven kesal, ia yakin jika Serra sudah benar-benar berubah. "Kau bisa pergi semau mu, tapi jangan harap untuk.." Riven berhenti berucap, karena Serra memotong perkataannya, "aku tidak berniat kembali."
Riven tersenyum kecut, "Okay.. pergilah, nikmati hidup barumu."
Serra beranjak dari duduknya. Gadis itu berbalik tanpa menoleh lagi, serta tidak mengetahui jika tatapan Riven berubah dingin begitu pintu tertutup.
Beberapa saat setelah Serra pergi, Riven memulai pergerakan. Wajah Ethan Hale yang terlalu mirip dengan Adrian Vale, adalah hal khusus yang tak bisa ia abaikan. Terlebih lagi, jika dirinya berhasil menyelesaikan misi penting ini, secara otomatis ia akan langsung naik pangkat menjadi tangan kanan tuan besar. Pria itu sudah tidak perduli jika Serra akan sangat membencinya.
...----------------...
Sore itu Ethan sedang berada di rumah, ia baru saja selesai mandi, setelah seharian ini bekerja keras. Suasana sore hari cukup tenang, hingga terdengar suara ketukan pintu dari seseorang.
Tok tok tok!
Ethan berpakaian dengan cepat, tak lupa ia mengacak rambutnya yang setengah basah sambil tersenyum. Entah mengapa ia mengira jika Serra lah yang kembali datang, setelah tiga hari ini menghilang tanpa kabar.
"Ethan Hale?."
Teguran dari seorang pria berjambang tipis, tentu membuat pemuda tampan berambut sebahu itu menjadi sedikit bingung. Bukan Serra, batinnya.
"Jadi kau benar Ethan Hale?," tanya si pria tersenyum ramah.
"Benar," angguk Ethan.
"Wah tepat sekali, aku Riven," katanya sambil mengulurkan tangan, "teman Serra."
Nama itu cukup membuat Ethan sedikit tersentak. Karena selama ia mengenal Serra, tak sedikitpun gadis itu menceritakan teman atau keluarganya.
"Ada..perlu apa?," tanya Ethan ragu, lalu membuka pintu lebih lebar. Namun, Riven masuk tanpa diminta membuat Ethan mulai agak berwaspada.
"Ternyata Serra belum memberitahumu ya?, dia mengirim ku kesini untuk memastikan keadaanmu."
Tanpa dipersilahkan, Riven duduk di kursi ruang tamu sembari menyilang kan kaki. Saat itulah Ethan melihat kilatan logam kecil di balik saku celana yang sebagian tertutup kain.
"Pistol," gumamnya lirih.
Seketika jantung Ethan berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang. Ia tidak bisa langsung mempercayai seseorang yang bahkan belum pernah sekalipun Serra ceritakan padanya.
"Ngomong-ngomong, rumah ini unik juga," Riven mencoba berbasa-basi.
"Sebentar, ku buatkan minum,"Ethan berlalu kearah ruang kerjanya.
"Tentu," jawab Riven santai.
...----------------...
Ethan bergerak dengan cepat, mengambil tas kecil berisi beberapa macam bibit tanaman langka dan pisau lipat.Tak lupa ia memakai jaket agar tetap hangat. Secara perlahan, Ethan mengintip dari lubang kunci. Pria asing bernama Riven itu, masih duduk santai di kursi ruang tamunya.
Secara mengendap-endap, Ethan mulai berjalan keluar, kemudian melangkah kearah pintu menuju halaman belakang. Dari ruang tamu, suara Riven terdengar samar.
"Ethan Hale?," namun tidak ada yang menjawab.
Ethan berlari kearah sebuah pohon besar dekat halaman belakang. Ia berusaha bersembunyi dibalik pohon tersebut dengan napas tertahan.
"Ethan Hale.. jangan main-main," suara Riven seperti mengajaknya bermain.
Ethan tetap diam, sambil berharap agar pria itu pergi dari rumahnya. Namun tanpa disangka, tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang sangat familiar. Sosok Serra yang memakai pakaian serba hitam, muncul dari arah berlawanan, gadis itu berhenti melangkah saat melihat Riven berdiri di ambang pintu.
"Dimana Ethan?," ujar Serra dingin, penuh penekanan.
Riven menoleh perlahan, senyum kecil muncul di sudut bibirnya, "Pergilah, kau menghalangiku!," usir nya.
Serra melangkah maju, salah satu tangannya bersiap mengambil pisau lipat. Begitupun dengan Riven yang sudah mengeluarkan pistol dari saku celananya.
"Ku pikir kau memahami perkataan ku, apa yang kau lakukan disini?! dimana Ethan?!," bentak Serra.
BRAKKK!
Benturan keras terdengar, tubuh mereka saling menghantam dinding rumah. Perebutan senjata pun tak lagi dapat dihindari.
"Pemuda itu milikku," desis Riven menahan pisau dari tangan Serra, yang sedikit lagi menembus jantungnya.
"Kau tidak berhak!."
Dor!
Serra sengaja menarik pelatuk pistol lalu menembakkannya ke udara, setelah berhasil mengambil alih senjata api itu dari tangan Riven, hal tersebut ia lakukan agar terbebas dari kuncian pria berjambang tipis tersebut.
Riven yang terkejut mulai menjaga jarak cukup jauh dari Serra. Ia meraih sesuatu dari balik jasnya. Sebuah benda berbentuk bulat dengan pin sebagai pengunci (granat), lalu melemparkannya ke arah Serra.
'Oh tidak!' batin Serra.
Dengan cepat ia mengambil pistol milik Riven, lalu berlari kearah pintu yang menembus halaman belakang rumah.
DUARRRRRR!!!
Suara ledakan terdengar riuh, dalam sekejap rumah kayu tersebut hancur berantakan. Nyala api semakin membesar karena rambatan dari perapian.
"Hhh! Hhhh..!"
Serra yang selamat dari ledakan itu, mulai bangkit dari posisinya dengan napas tersengal.Sementara itu, tepat dibalik pohon besar yang hanya beberapa meter darinya, tampak seseorang yang ia kenal tengah diam terpaku, memandangi rumah miliknya yang sudah luluh lantak.
"Ethan," bisik Serra.
Namun Ethan tak menoleh sedikitpun, matanya melebar, beriringan dengan rasa sesak dalam dada. Tanpa sadar ia melangkah keluar dari balik pohon
"JANGAN!" teriak Serra.
Tentunya teriakan itu terdengar oleh Riven yang saat ini sudah bersama beberapa anggota lainnya.
"LARI SEKARANG!!."
Serra menarik paksa lengan Ethan, sejenak tatapan mereka saling bertemu. Sejujurnya Serra memahami, bahwa Ethan menginginkan suatu penjelasan. Namun posisi mereka kali ini sangat genting. Terlebih lagi suara langkah kaki dari anggota Riven sudah terdengar semakin mendekat.