"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PENENTU
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Catharina sudah bangun dan bersiap. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam, pikirannya terus berputar tanpa henti tentang berbagai skenario yang mungkin terjadi hari ini. Di cermin, dia melihat pantulan dirinya dengan gaun biru tua yang sederhana tapi elegan. Ini bukan hari untuk gaun mewah dan perhiasan berlebihan. Ini hari untuk terlihat serius dan penuh tekad.
Martha membantu menata rambutnya dengan sangat sederhana, dikuncir setengah dengan jepit sederhana.
"Yang Mulia terlihat sangat lelah. Apakah Yang Mulia tidak tidur sama sekali?" tanya Martha dengan sangat khawatir.
"Aku tidur beberapa jamjam dan itu cukup, Martha." Catharina tersenyum lemah pada Martha di cermin. "Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang."
"Hamba sudah menyiapkan sarapan yang mengenyangkan. Yang Mulia harus makan dengan baik."
Di ruang makan, Duke Henry sudah duduk dengan koran pagi di tangannya. Wajahnya sangat serius saat membaca.
"Pamflet-pamflet kita sudah tersebar di seluruh ibukota sejak subuh," ujarnya tanpa mengangkat pandangan dari koran. "Dan Alexander juga tidak tinggal diam. Lihat halaman tiga."
Catharina mengambil koran itu dan membaca. Ada artikel besar dengan judul yang sangat provokatif: "Manipulasi Emosi Rakyat dengan Surat Mendiang Raja? Ahli Hukum Mempertanyakan Validitas."
Artikel itu penuh dengan argumen bahwa surat Raja tidak seharusnya dijadikan alat politik, bahwa ini adalah bentuk manipulasi emosi rakyat, dan berbagai argumen hukum yang meragukan keaslian atau relevansi surat tersebut.
"Mereka bekerja sangat cepat," gumam Catharina.
"Terlalu cepat. Ini pasti sudah disiapkan sejak kemarin malam." Duke Henry meletakkan cangkir kopinya. "Alexander tahu tentang surat itu sebelum sidang dewan kemarin. Dia sudah punya rencana cadangan."
"Tentu saja dia punya mata-mata di dewan," ujar Catharina sambil duduk dan mulai memakan rotinya meski nafsu makannya tidak ada sama sekali. "Pertanyaannya sekarang, apakah rakyat akan lebih percaya pada surat asli dari Raja atau pada artikel yang meragukan surat itu?"
Sebelum Duke Henry bisa menjawab, seorang pelayan masuk dengan sangat tergesa.
"Yang Mulia, Marquess Lucian sudah tiba dengan berita yang sangat mendesak."
Lucian masuk dengan wajah yang menunjukkan dia juga tidak tidur nyenyak. Tapi matanya sangat tajam dan waspada.
"Raphael baru mengirim pesan. Jenderal Marcus dan Komandan Helena setuju untuk berdiri bersama kita. Mereka akan membuat pernyataan publik pagi ini bahwa militer tidak akan terlibat dalam perselisihan politik dan akan tetap netral sampai dewan membuat keputusan final."
"Itu kabar yang sangat baik," ujar Duke Henry dengan lega.
"Tapi ada kabar buruk juga," lanjut Lucian dengan wajah semakin serius. "Mata-mata kita di istana melaporkan bahwa Alexander sudah mulai diam-diam mengganti beberapa posisi kunci di penjaga istana semalam. Tidak banyak, hanya beberapa, tapi cukup untuk membuat kegelisahan."
Catharina meletakkan rotinya. "Dia bergerak jauh lebih cepat dari perkiraanku. Aku pikir dia akan menunggu sampai malam."
"Kita harus memberi tahu Cassian sekarang juga," ujar Duke Henry sambil berdiri.
***
Satu jam kemudian, semua anggota inti berkumpul di kediaman Cassian dalam pertemuan darurat. Kali ini suasananya jauh lebih tegang dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.
"Alexander sudah mulai bergerak," ujar Cassian membuka pertemuan. "Kita perlu memutuskan sekarang. Apakah kita menunggu dan bereaksi, atau kita mengambil inisiatif?"
"Kalau kita menunggu, Alexander akan mengendalikan narasi dan situasi," ujar Victoria. "Tapi kalau kita bergerak duluan, kita bisa dituduh sebagai yang memulai konflik."
"Kita sudah pasti akan dituduh apa pun yang kita lakukan," ujar Raphael dengan sangat realistis. "Alexander akan memelintir apa pun untuk keuntungannya. Jadi pertanyaannya bukan tentang tuduhan, tapi tentang efektivitas."
"Aku setuju dengan Raphael," ujar Catharina. "Kita harus bergerak duluan. Tapi bukan dengan kekerasan. Kita bergerak duluan dengan dukungan publik."
Semua mata menatap Catharina.
"Alexander mengendalikan istana dan sebagian militer. Tapi kita mengendalikan sesuatu yang jauh lebih kuat: hati dan pikiran rakyat. Bagaimana kalau Cassian mengadakan pertemuan massa hari ini? Di alun-alun pusat. Pidato publik langsung kepada rakyat. Tidak hanya para bangsawan elit, tapi rakyat biasa. Ajak mereka untuk berdiri bersama kita."
"Itu sangat berbahaya," ujar Seraphina dengan khawatir. "Alexander bisa mengirim orang-orangnya untuk mengganggu atau bahkan menyerang."
"Justru itu kenapa kita lakukan di alun-alun pusat, di depan ribuan mata," balas Catharina. "Alexander tidak akan berani melakukan kekerasan terbuka di depan massa rakyat. Itu akan berbalik sangat buruk padanya."
Cassian berpikir dengan sangat keras, menimbang risiko dan keuntungan.
"Ini sangat berisiko, tapi hasilnya bisa sangat besar," ujarnya akhirnya.
"Semua yang kita lakukan sekarang sangat berisiko," ujar Duke Harrison. "Tapi aku setuju dengan Catharina. Dukungan publik adalah senjata terkuat kita. Kita harus memaksimalkan itu."
"Baiklah," Cassian mengangguk dengan penuh tekad. "Kita lakukan. Duchess Margaret, bisakah kamu menggerakkan lingkaran perempuan untuk menyebarkan kabar tentang pertemuan ini?"
"Tentu. Dalam dua jam, seluruh ibukota akan tahu."
"Duke Harrison, aku butuh kamu berkoordinasi dengan serikat pedagang. Pastikan toko-toko tutup siang ini agar para pekerja bisa hadir."
"Akan kulakukan."
"Victoria, Seraphina, kalian bantu aku menyiapkan pidato."
"Sudah siap," ujar Victoria sambil menunjukkan catatan yang ternyata sudah dia siapkan sejak semalam.
Cassian tersenyum pada Victoria dengan sangat bangga dan penuh cinta. "Tentu saja kamu sudah siap."
"Dan Catharina," Cassian menatap wanita yang menjadi otak strategis di balik semua ini. "Aku butuh kamu di sampingku di atas podium nanti. Kamu dan Lucian. Kalian adalah simbol dari reformasi yang kita perjuangkan."
Catharina terkejut. "Aku? Tapi aku bukan keluarga kerajaan atau penasihat resmi."
"Kamu justru lebih dari itu. Kamu adalah suara dari rakyat yang ingin perubahan. Rakyat melihatmu sebagai inspirasi. Kehadiranmu di sampingku akan sangat kuat."
Catharina melirik Lucian yang mengangguk dengan penuh dorongan. "Baiklah. Aku akan ada di sana."
***
Pukul sebelas siang, alun-alun pusat mulai dipenuhi ribuan orang. Serikat pedagang menutup toko-toko mereka dan para pekerja datang berbondong-bondong. Lingkaran perempuan dari berbagai distrik hadir dengan spanduk-spanduk yang mendukung reformasi. Bahkan para petani dari desa-desa sekitar ibukota datang setelah mendengar kabar.
Di antara kerumunan, Catharina bisa melihat campuran berbagai lapisan masyarakat. Ada bangsawan dalam gaun mewah berdiri berdampingan dengan pekerja dalam pakaian sederhana. Ada tua dan muda, pria dan wanita, semua berkumpul dengan satu tujuan: mendengar visi Cassian untuk masa depan.
Di podium sederhana yang didirikan di tengah alun-alun, Cassian berdiri dengan Victoria, Seraphina, Catharina, dan Lucian di belakangnya. Duke Henry, Duchess Margaret, Duke Harrison, dan Raphael berdiri di sisi sebagai tanda dukungan dari keluarga bangsawan besar.
Kerumunan mulai tenang saat Cassian mengangkat tangan.
"Rakyat kerajaan yang kucintai," mulai Cassian dengan suara yang tegas namun hangat. "Terima kasih sudah datang hari ini. Aku tahu banyak dari kalian meninggalkan pekerjaan, meninggalkan urusan kalian, untuk ada di sini. Dan itu menunjukkan sesuatu yang sangat penting: kalian peduli pada masa depan kerajaan ini."
Kerumunan bertepuk tangan dengan sangat keras.
"Beberapa hari yang lalu, ayahku, Raja Edward yang kita semua cintai, meninggal dunia. Beliau adalah raja yang baik, yang selalu memikirkan rakyatnya sampai napas terakhir. Dan sebelum beliau pergi, beliau meninggalkan sebuah pesan."
Cassian mengangkat salinan surat Raja yang sudah dibuat dalam ukuran besar agar bisa dilihat kerumunan.
"Beliau menulis bahwa masa depan kerajaan ini seharusnya tidak ditentukan hanya oleh tradisi, tapi oleh kebijaksanaan dan kepentingan rakyat. Beliau percayakan keputusan ini pada dewan, dan pada kalian, rakyat kerajaan."
"Tapi ada yang tidak ingin kalian punya suara dalam keputusan ini!" teriak seseorang dari kerumunan. Catharina mengenalinya sebagai salah satu sukarelawan mereka yang sengaja ditempatkan untuk memancing interaksi.
"Benar," jawab Cassian dengan tidak mengelak. "Ada yang percaya bahwa rakyat tidak seharusnya punya suara dalam siapa yang memimpin mereka. Bahwa kalian seharusnya hanya diam dan terima apa pun yang diberikan. Tapi aku tidak percaya itu."
Tepuk tangan semakin keras.
"Aku percaya bahwa kerajaan yang kuat adalah kerajaan di mana rakyat merasa didengar, dihargai, dan diberdayakan. Di mana keputusan dibuat bukan hanya untuk kepentingan segelintir elit, tapi untuk kesejahteraan semua."
Cassian mulai berbicara tentang visinya dengan detail dan penuh semangat. Dia tidak hanya memberikan janji-janji kosong, tapi menjelaskan rencana konkret dengan contoh dari apa yang sudah dia lakukan di provinsi utara.
"Aku tidak bilang aku sempurna. Aku tidak bilang aku punya semua jawaban. Tapi aku berjanji untuk selalu mendengarkan, untuk selalu belajar, dan untuk selalu menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentinganku sendiri."
Di tengah pidato Cassian, tiba-tiba ada keributan di pinggir alun-alun. Sekelompok pria yang jelas adalah orang-orang Alexander mulai mencoba mengganggu dengan berteriak slogan-slogan yang mendukung Alexander.
Tapi yang mengejutkan, kerumunan rakyat sendiri yang menyuruh mereka diam.
"Kami mau dengar Pangeran Cassian!"
"Keluar kalau tidak mau dengar!"
Para pengacau tersebut akhirnya mundur, kalah oleh massa yang jauh lebih banyak.
Cassian melanjutkan pidatonya dengan jauh lebih kuat, dipenuhi energi oleh dukungan spontan dari rakyat.
Saat pidato berakhir hampir satu jam kemudian, kerumunan tidak bubar. Mereka tetap di sana, spontan mulai menyanyikan "Cassian! Cassian! Cassian!"
Di podium, Catharina merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini adalah kekuatan rakyat dalam bentuk paling murni. Dan ini adalah sesuatu yang tidak bisa Alexander beli atau paksa.
Tapi tepat saat itu, seorang penunggang kuda datang dengan sangat tergesa dan membisikkan sesuatu pada Raphael. Wajah Raphael langsung berubah drastis.
Dia menghampiri Cassian dan berbisik dengan sangat mendesak.
Ekspresi Cassian berubah sangat drastis.
Dia mengangkat tangan untuk menenangkan kerumunan.
"Ada sesuatu yang harus kusampaikan," ujarnya dengan suara yang tiba-tiba sangat berat. "Aku baru saja menerima kabar bahwa penjaga istana yang loyal kepada proses hukum telah dipecat dan diganti. Dan beberapa anggota dewan yang mendukung ujian berdasarkan kemampuan telah ditangkap dengan tuduhan pengkhianatan."
Kerumunan langsung riuh dengan shock dan kemarahan.
"Alexander telah secara resmi menyatakan darurat militer dan menyatakan dirinya sebagai Raja."
Tepat saat itu, lonceng istana berbunyi.
Alexander sudah bergerak.
Dan kudeta telah dimulai.
***
BERSAMBUNG