Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Garis Tipis Antara Pura-pura dan Nyata
“Berita apa?” tanya Are tanpa menoleh.
“Saham perusahaan Fero turun drastis,” jawab Zelia ringan. “Investor mulai menarik diri setelah pembatalan pernikahan dan video kemarin.”
Nada suaranya terdengar… terlalu tenang untuk sebuah kehancuran.
Are melirik sekilas. “Kau terlihat sangat senang melihat dia di ambang kehancuran.”
“Tentu saja,” jawab Zelia tanpa ragu sedikit pun. “Itu balasan yang pantas.” Ia menggeser layar ponselnya santai.
“Setelah kontrak kerja sama perusahaan kami selesai, aku tidak akan pernah bekerja sama lagi dengannya.”
Alis Are langsung berkerut tipis. “Perusahaan kalian punya kerja sama?”
Zelia mengangguk ringan. “Iya. Kenapa?”
"Tak apa," jawabnya singkat.
Are kembali menatap jalan, tapi rahangnya mengeras samar. Entah kenapa… firasat buruk tiba-tiba merayap pelan di dadanya.
"Aku merasa sesuatu yang jauh lebih besar baru saja mulai bergerak," batinnya.
Beberapa menit kemudian Are dan Zelia akhirnya tiba di rumah sakit. Begitu turun dari mobil, Zelia langsung memeluk lengan Are. Lagi dan lagi. Dan lagi.
Are hanya melirik sekilas tanpa menolak, apalagi menepis tangan gadis itu. Mereka melangkah masuk menuju ruang rawat Wina.
Saat tinggal beberapa meter dari pintu kamar, Zelia tiba-tiba berhenti.
“Tunggu,” katanya sambil berpindah posisi berdiri di depan Are.
Are mengernyit. “Ada apa?”
Zelia merapikan pakaiannya, lalu merapikan rambutnya dengan gugup.
“Udah cantik belum? Rapi gak?” tanyanya sambil memiringkan tubuh ke kiri dan ke kanan, seolah sedang diperiksa.
Are menghela napas panjang. “Kita mau membesuk ibuku, bukan mau ke kondangan,” ujarnya datar sambil kembali melangkah.
Namun di dalam hati, ia tak bisa menahan rasa gemas melihat tingkah Zelia yang menurutnya seperti anak kecil.
“Eh, tunggu!” seru Zelia cepat, mengejar dan kembali memeluk lengannya.
Mereka akhirnya masuk ke kamar rawat.
Wina yang wajahnya masih pucat sedikit mengernyit saat melihat dua orang yang berdiri di ambang pintu.
Ia tak mengenali mereka.
Zelia memang asing baginya. Dan Are… Terasa begitu familiar… sekaligus asing.
“Bu,” panggil Are lembut.
Kerutan di dahi Wina semakin dalam. Suara itu… Suara itu sangat ia kenal.
“Are…?” gumamnya lirih, masih tak percaya.
Mata Wina mulai berkaca-kaca, seolah takut jika pria di depannya hanya bayangan.
Are yang dulu selalu gondrong dan berjanggut lebat kini hanya menyisakan brewok tipis dengan rambut rapi. Penampilannya sangat berbeda dari pria yang ia kenal selama ini.
Wina hampir tak yakin.
Sejak lama pria itu selalu berambut panjang dan berjanggut tebal, tampak lebih liar… lebih sulit didekati.
Kini pria di hadapannya terlihat jauh lebih tenang. Lebih dewasa. Seolah waktu benar-benar telah mengubahnya.
Are duduk di kursi di samping ranjang, sementara Zelia berdiri di sebelahnya.
Are menggenggam tangan ibunya dengan lembut. Hangat. Hati-hati. Tatapan yang biasanya datar atau tajam kini berubah begitu lembut.
“Bagaimana kondisi Ibu?” tanyanya pelan, nadanya hangat. Sesuatu yang belum pernah Zelia dengar sebelumnya. “Apa masih ada yang sakit?”
“Sudah lebih baik,” sahut Wina sambil menggenggam balik jemari Are. Tatapannya tak berpaling sedikit pun dari wajah putranya.
“Syukurlah… aku hampir saja kehilangan Ibu,” ucap Are pelan.
Zelia masih memerhatikannya diam-diam.
"Aku kira suara dan ekspresinya bakal tetap dingin kayak es balok… ternyata dia punya sisi ini juga," batinnya.
Senyum tipis terbit di bibirnya.
"Kalau dia jatuh cinta sama aku… pasti bakal lembut juga, 'kan?" Ia langsung menepis pikirannya sendiri. "Hais… kayaknya sulit."
Namun tekad muncul di matanya. "Tapi bukan berarti nggak mungkin. Harus dicoba. Semangat Zelia. Pria yang sayang ibu pasti sayang istri," batinnya penuh semangat.
Tatapan Wina perlahan beralih ke Zelia. Keningnya kembali berkerut. “Nona cantik ini… siapa?”
“Aku menantu Ibu,” jawab Zelia cepat penuh percaya diri sebelum Are sempat membuka mulut.
Seketika Are melebarkan matanya. "Sudah terlambat." Akhirnya ia hanya menghela napas pelan.
“I-istri?” ulang Wina, lalu menatap Are penuh tanya. “Kamu nggak pernah dekat sama perempuan… tapi tiba-tiba menikah…”
“Bu,” sela Zelia cepat lagi sebelum Are sempat bicara. “Are sebenarnya sudah lama suka sama aku.”
Are menoleh menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Namun Zelia masih lanjut. “Tapi sayangnya aku tunangan. Dia nggak bisa move on, makanya dia nggak pernah dekat sama perempuan.”
Mata Are benar-benar melebar. "What?!"
“Begitu tahu aku mau batalin pernikahan, dia langsung setuju nikah sama aku,” lanjut Zelia begitu meyakinkan.
“Karena sebenarnya aku juga nggak suka sama tunanganku. Jadi pas tahu dia berkhianat, aku langsung tinggalin dia dan nikah sama Are,” katanya mantap.
“Kami sama-sama suka, cuma terhalang perjodohan keluarga.”
Are menghela napas pelan. "Gadis ini… benar-benar jenius. Harusnya dia nggak jadi CEO… tapi penulis cerita fiksi drama romantis," batinnya pasrah.
Namun anehnya, ia tidak menyangkal sedikit pun. Apalagi marah.
Wina menatap Zelia, mencoba mencerna cerita yang jelas-jelas karangan dadakan itu. Lalu menatap putranya.
“Benarkah?”
Zelia buru-buru mencubit pinggang Are. Are sedikit tersentak, lalu mengangguk tanpa kata.
Dalam hati ia mendesah. "Gadis ini… belum pernah ada yang berani melakukan kekerasan fisik padaku."
Wina tersenyum bahagia. “Syukurlah… syukurlah. Ibu ikut senang.” Ia lalu menatap Zelia dengan hangat. “Are nggak pernah benar-benar mencukur rambut dan brewoknya. Tak disangka dia benar-benar mencukurnya karena kamu.”
Zelia tersenyum bangga. Are lagi-lagi hanya bisa menghela napas pelan, pasrah. Tapi anehnya, sudut bibir Are malah terangkat, sangat tipis… hampir tak terlihat.
Pintu diketuk pelan sebelum terbuka.
Seorang dokter masuk bersama satu perawat, membawa tablet medis di tangannya.
“Selamat malam, Bu Wina. Saya mau memeriksa kondisi Ibu sebentar, ya,” ucap dokter dengan suara tenang.
Are berdiri memberi ruang, sementara Zelia mundur satu langkah.
Dokter memeriksa tekanan darah, refleks mata, lalu menanyakan beberapa pertanyaan sederhana.
“Apakah masih pusing?”
“Sedikit,” jawab Wina pelan.
“Mual?”
“Sudah berkurang.”
Dokter mengangguk puas.
Beberapa menit kemudian pemeriksaan selesai. Are langsung bertanya, nada suaranya kembali serius seperti biasa.
“Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?”
Dokter menatapnya sambil menjelaskan dengan profesional. “Operasi untuk menghentikan pendarahan berjalan sangat baik. Tapi karena ini cedera kepala, pemulihan memang butuh waktu. Kesadaran yang baru kembali setelah beberapa hari itu masih dalam batas wajar.”
Are mengangguk pelan. “Apakah ada risiko komplikasi?”
“Saat ini stabil,” jawab dokter. “Yang penting jangan sampai pasien stres atau kelelahan. Istirahat cukup, kontrol rutin, dan pengawasan keluarga sangat membantu proses pemulihan.”
Zelia langsung menyela dengan wajah serius. “Kira-kira kapan bisa benar-benar sembuh, Dok?”
Dokter tersenyum tipis. “Untuk pulih sepenuhnya bisa beberapa minggu sampai beberapa bulan, tergantung respons tubuh. Tapi kalau perkembangan seperti ini terus, prognosisnya sangat baik.”
Zelia menghela napas lega. “Terima kasih, Dok.”
Setelah memberi beberapa instruksi tambahan, dokter dan perawat pun pamit keluar.
Ruangan kembali tenang.
Zelia melangkah mendekat ke sisi ranjang, menatap Wina dengan senyum hangat. “Bu… Ibu harus segera sembuh ya.”
Wina tersenyum lemah.
“Nanti kalau sudah sembuh, Ibu bisa tinggal bersama kami,” lanjut Zelia mantap, seolah itu keputusan paling wajar di dunia.
Are spontan menoleh cepat. Tatapannya tajam, jelas tidak setuju.
...✨"Kadang hubungan paling rumit dimulai dari kebohongan yang terasa terlalu nyaman untuk dihentikan."...
..."Mereka hanya berpura-pura menjadi suami istri. Sampai kenyataannya mulai terasa terlalu nyata."...
..."Rumah bukan selalu tentang tempat, tapi tentang siapa yang kita izinkan tinggal di dalam hidup kita."...
..."Semakin lama dia berada di dekat wanita itu, semakin sulit baginya membedakan mana yang hanya peran… dan mana yang mulai menjadi keinginan."✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu