Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menentang Sang Arsitek
Suara Sang Arsitek tidak terdengar di telinga, melainkan berdenyut langsung di dalam sumsum tulang. Langit Zona Luar yang tadinya jingga kini berubah menjadi hitam pekat, namun bukan hitam malam, melainkan hitam hampa—sebuah kekosongan di mana cahaya pun enggan untuk lewat.
Jam pasir raksasa yang melayang di atmosfer mulai berputar. Setiap butiran pasir yang jatuh terdengar seperti dentuman meriam yang menghancurkan struktur bangunan di bawahnya. Darma dan para pemberontak lainnya jatuh berlutut, memegangi kepala mereka yang mulai dipenuhi oleh memori dari kehidupan yang bahkan belum mereka jalani.
"Dia menyerang otak kita dengan Paradoks Premonisi!" teriak Darma, suaranya parau. "Dia memperlihatkan semua kematian kita sekaligus!"
Kala berdiri kokoh, meski kakinya gemetar hebat. Ia merangkul Arumi yang sedang memeluk Naya yang pingsan. Kala merasakan penglihatannya pecah. Di satu sisi, ia melihat dirinya mati tertusuk pedang perak; di sisi lain, ia melihat dirinya menua sendirian di penjara Dewan; dan di sisi lainnya lagi, ia melihat Arumi dan Naya lenyap menjadi debu.
"Jangan lihat, Arumi! Tutup matamu!" raung Kala.
"Kala... aku tidak bisa..." bisik Arumi. "Semua suara ini... mereka bilang kita tidak seharusnya ada."
Sang Arsitek turun dari kegelapan. Ia tidak memiliki wujud manusia. Ia adalah kumpulan roda gigi emas yang berputar di dalam bola cahaya putih yang menyilaukan. Di tengahnya, terdapat sebuah mata yang merupakan pusat dari segala perhitungan probabilitas di semesta.
"KALA DANUARTA," suara itu bergema, menghentikan aliran darah di tubuh Kala selama satu detik. "KAMU ADALAH KESALAHAN PEMBULATAN DALAM PERSAMAANKU. KAMU ADALAH VARIABEL YANG SEHARUSNYA DIHAPUS SEPULUH TAHUN LALU. MENGAPA KAMU MASIH MELAWAN KETENTUAN YANG SUDAH TETAP?"
Kala mendongak, matanya merah padam, menantang cahaya Sang Arsitek. "Karena ketentuanmu tidak mengenal cinta! Kamu hanya melihat kami sebagai angka, sebagai detik yang bisa kamu tukar-tambah! Kami bukan angka, kami adalah kehidupan!"
"KEHIDUPAN ADALAH KEKACAUAN. WAKTU ADALAH KETERATURAN. TANPA AKU, SEMESTA HANYALAH LEDAKAN YANG TIDAK PERNAH BERHENTI."
Sang Arsitek menggerakkan satu roda giginya. Seketika, gravitasi di sekitar Kala terbalik. Arumi dan Naya terangkat ke udara, ditarik menuju pusat cahaya Sang Arsitek.
"TIDAK!" Kala melompat, mencoba menggapai tangan Arumi, namun waktu di sekelilingnya melambat hingga ia seolah membeku di udara.
Di saat genting itu, tablet di saku Darma menyala terang. Vera muncul, namun kali ini suaranya jernih dan kuat. Ia telah berhasil masuk ke sistem inti Sang Arsitek melalui jalur belakang yang dibuka oleh ledakan Naya sebelumnya.
"Kala! Sang Arsitek tidak bisa dihancurkan dengan kekuatan!" teriak Vera. "Dia adalah logika murni! Kamu harus melawannya dengan sesuatu yang tidak logis! Sesuatu yang melampaui perhitungan probabilitasnya!"
"Apa itu?!" teriak Kala sambil berjuang melawan tekanan waktu yang menghimpit dadanya.
"Pengorbanan yang tidak memiliki pamrih! Dia hanya mengerti tentang pertukaran, Kala! Dia tidak mengerti tentang pemberian cuma-cuma!"
Kala menatap Arumi dan Naya yang semakin dekat dengan pusaran cahaya Sang Arsitek. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Selama ini, ia selalu mencoba menyelamatkan mereka dengan cara "mencuri" atau "melawan". Ia selalu mencoba memegang kendali.
Kala memejamkan mata. Ia melepaskan semua amarahnya. Ia melepaskan semua keinginannya untuk menang. Ia membuka seluruh jiwanya, membiarkan sisa-sisa energi merah-birunya mengalir keluar bukan sebagai serangan, melainkan sebagai penyerahan total.
"Ambil aku," bisik Kala. "Bukan sebagai budak, bukan sebagai baterai. Ambil seluruh keberadaanku dari sejarah. Hapus namaku, hapus wajahku dari ingatan setiap orang. Biarkan aku menjadi 'Nol' di dalam persamaanmu... asal mereka tetap utuh sebagai manusia."
Seketika, roda gigi Sang Arsitek berhenti berputar.
Cahaya putih itu bergetar. Logika Sang Arsitek terhenti. Di dalam kalkulasi dewa waktu itu, setiap tindakan harus memiliki keuntungan. Tindakan Kala yang memberikan segalanya tanpa meminta apa pun—bahkan tanpa meminta untuk diingat—adalah sebuah Pembagi Nol (Division by Zero).
Sistem Sang Arsitek mengalami crash massal.
"Kala, jangan!" teriak Arumi. Ia merasakan tubuhnya jatuh kembali ke tanah saat tarikan cahaya itu menghilang. "Apa yang kamu lakukan?!"
Kala mulai memudar. Tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi butiran cahaya emas yang transparan. Ia menatap Arumi dengan senyum paling tulus yang pernah ada.
"Aku mencintaimu, Rum. Dan itulah satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa dihitung oleh mesin ini," bisik Kala.
Tiba-tiba, Naya terbangun. Matanya yang emas memancarkan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia melihat ayahnya yang mulai menghilang. Namun, Naya tidak menangis. Ia mengangkat tangannya kecilnya ke arah Sang Arsitek.
"Kakek Tua," suara Naya bergema, tenang namun berwibawa. "Ayahku bukan angka. Dan aku bukan jarum jammu. Kami adalah pemilik hari ini."
Naya tidak menghancurkan Sang Arsitek. Ia menyentuh pusat roda gigi itu dengan jari telunjuknya. Sebuah riak energi menyebar ke seluruh semesta. Naya memberikan "Kemanusiaan" ke dalam sistem waktu.
CRACK!
Sang Arsitek pecah menjadi jutaan serpihan kaca. Bukan karena serangan, tapi karena ia tidak lagi mampu menampung emosi yang dimasukkan Naya ke dalam logikanya. Cahaya putih itu padam, menyisakan kegelapan yang tenang.
Kala yang tadinya memudar, tiba-tiba kembali memadat. Ia jatuh terduduk di tanah, terengah-engah. Ia masih ada.
"Bagaimana mungkin?" tanya Kala, menatap tangannya.
Vera muncul di samping mereka, wujudnya kini stabil sebagai manusia cahaya. "Naya baru saja mengubah aturan mainnya, Kala. Dia tidak membiarkanmu hilang. Dia memasukkan variabel 'Cinta' ke dalam hukum dasar semesta. Mulai sekarang, waktu tidak lagi bisa diperdagangkan. Waktu hanya bisa dijalani."
Namun, di kejauhan, sisa-sisa Citadel milik Dewan Realitas mulai runtuh dan jatuh ke bumi. Meskipun Sang Arsitek sudah tidak ada, sistem yang ia bangun selama jutaan tahun mulai mengalami kehancuran berantai.
"Kita harus pergi sekarang!" teriak Darma. "Dunia ini akan runtuh sebelum ia terlahir kembali!"