Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.33 Akar yang menghujam tanah
Enam bulan telah berlalu sejak badai digital dan fisik menghantam pesisir Lombok. Jika kau datang ke desa itu sekarang, kau tidak akan menemukan sisa-sisa reruntuhan helikopter atau bekas peluru di dinding klinik.
Alam tropis memiliki cara yang sangat efisien untuk menelan luka. Karang mulai tumbuh di bangkai besi di dasar laut, dan tanaman merambat telah menutupi bekas ledakan di perbukitan kapur.
Bagi Sekar, enam bulan ini adalah waktu terlama dalam sepuluh tahun terakhir di mana ia tidak perlu mengemas koper dalam keadaan darurat.
Ia tidak lagi terbangun dengan keringat dingin, meraba bantal mencari senjata atau paspor palsu. Pagi harinya kini dimulai dengan aroma kopi lokal yang tajam dan suara tawa anak-anak desa yang mengantre di depan kliniknya—bukan karena mereka sakit parah, tapi karena mereka tahu "Dokter Maria" selalu punya permen vitamin di sakunya.
Klinik itu kini telah berkembang. Dengan bantuan investasi dari Alvin, Sekar memiliki ruang rawat inap kecil dengan dua tempat tidur dan sebuah laboratorium mini yang lebih dari cukup untuk standar pedesaan. Namun, perubahan paling besar bukan pada bangunan itu, melainkan pada wanita yang menjalankan kliniknya.
Sekar berdiri di depan cermin, mengamati pantulan dirinya. Rambutnya kini dibiarkan tumbuh sedikit lebih panjang, diikat simpul dengan kain tenun khas Sasak.
Wajahnya yang dulu kaku dan pucat kini nampak lebih segar dengan semburat kecokelatan akibat matahari. Ia tampak... hidup.
"Ibu, sepatuku di mana?" teriak Arini dari ruang tengah.
"Di bawah rak buku, Sayang! Dekat kotak sketsamu!" balas Sekar.
Arini muncul dengan seragam sekolah dasar negeri setempat. Rok merah dan kemeja putihnya nampak kontras dengan kulitnya yang sehat.
Hari ini adalah hari pertamanya mengikuti ujian sekolah, dan meski Sekar tahu Arini bisa menyelesaikan soal matematika tingkat menengah dengan mata tertutup, ia tetap ingin Arini merasakan sensasi menjadi anak normal yang gugup sebelum ujian.
Di samping klinik, sebuah bangunan kayu jati yang megah namun tetap selaras dengan arsitektur lokal telah berdiri tegak.
Itulah Yayasan Pendidikan Lukas-Rahman, sebuah nama yang dipilih Sekar sebagai bentuk penghormatan abadi. Di sana, anak-anak nelayan belajar tentang literasi, kelautan, dan bahasa asing.
Alvin Pratama—atau kini lebih dikenal warga sebagai Pak Alvin—duduk di beranda yayasan itu. Ia mengenakan kemeja batik lengan pendek yang longgar, celana kain, dan sandal jepit.
Penampilannya jauh dari citra pengusaha kelas atas Jakarta yang dulu selalu memakai setelan seharga ratusan juta rupiah. Namun, otoritas yang terpancar dari caranya berbicara tetap sama.
"Kau tahu, Sekar," Alvin menyapa saat Sekar melintas untuk mengantar Arini. "Mengelola sepuluh guru honorer ternyata jauh lebih memusingkan daripada mengelola seratus pialang saham di bursa efek."
Sekar tertawa, langkahnya terhenti di depan Alvin. "Itu karena guru-guru itu punya hati, Alvin. Pialang sahammu dulu hanya punya kalkulator di dada mereka."
Alvin tersenyum miring, menyesap kopi hitamnya. "Mungkin kau benar. Tapi setidaknya, di sini tidak ada yang mencoba menusuk punggungku demi kenaikan jabatan. Paling-paling mereka hanya memintaku membetulkan pompa air yang macet."
Alvin bangkit, berjalan mendekati Arini. Ia berlutut agar sejajar dengan mata anak itu. "Siap untuk ujian hari ini, Arini? Ingat, jika kau merasa soalnya terlalu mudah, jangan menyelesaikannya dalam lima menit. Guru-gurumu bisa pingsan karena terkejut. Berikan mereka waktu untuk bernapas."
Arini terkikik. "Siap, Om Pohon! Aku akan berpura-pura berpikir selama sepuluh menit tambahan."
Sekar menggelengkan kepala melihat interaksi mereka. Alvin telah benar-benar menjadi figur ayah yang tak terduga. Pria itu memberikan perlindungan tanpa mencekik, dan memberikan kasih sayang tanpa harus meminta pengakuan.
Setelah mengantar Arini ke sekolah, Sekar kembali ke kliniknya. Ia masuk ke ruang apotek pribadinya dan mengambil botol berisi cairan emas yang kini tinggal setengah. Setiap minggu, ia memberikan dosis kecil stabilisator itu kepada Arini, dicampur ke dalam jus jeruknya.
Hasilnya luar biasa. Arini tidak lagi mengalami lonjakan frekuensi sensorik yang menyakitkan. Kemampuannya untuk mendengar atau merasakan bahaya tetap ada, namun kini berada di bawah kendali sadarnya. Arini bisa memilih untuk fokus pada suara guru di depan kelas, atau mengabaikan deru mesin perahu di kejauhan.
Namun, yang paling membuat Sekar lega adalah perubahan pada DNA Arini yang mulai menunjukkan stabilitas permanen. Residu serum Von Hess itu tidak lagi mencoba merombak tubuhnya, melainkan menetap sebagai fitur tambahan yang meningkatkan sistem imun Arini.
"Kau sedang merenung lagi, Dokter?"
Alvin berdiri di ambang pintu, tangannya bersedekap. Ia nampak lebih serius dari biasanya.
"Hanya memastikan semua dosisnya tepat, Alvin," jawab Sekar sembari menyimpan kembali botol itu ke brankas rahasia.
"Aku baru saja mendapat kabar dari jaringan lamaku di Singapura," Alvin melangkah masuk, suaranya merendah. "Sisa-sisa aset Von Hess telah dilelang. Tidak ada lagi pihak yang mencoba mencari 'Twin Project'. Secara hukum dan operasional, mereka sudah tamat. Tapi..."
"Tapi?" Sekar menegang.
"Keluarga Wijaya," Alvin menjeda kalimatnya. "Ayahmu, Wijaya senior, dikabarkan sedang sakit parah di Jakarta. Dia kehilangan segalanya setelah skandal itu meledak. Rumahnya disita, reputasinya hancur. Dia sekarang tinggal di sebuah panti jompo kecil di pinggiran kota."
Sekar terdiam. Nama itu—Wijaya—pernah menjadi sumber kebanggaannya sekaligus kehancurannya. Ayahnya adalah orang yang merestui eksperimen pada Lukas demi nama baik keluarga. Ayahnya adalah orang yang membuang Sekar saat ia masuk penjara.
"Kenapa kau memberitahuku ini?" tanya Sekar, suaranya bergetar.
"Karena aku tahu kau masih seorang dokter, Sekar. Dan aku tahu di balik dendammu, ada hati yang selalu ingin menyembuhkan," Alvin mendekat, menyentuh bahu Sekar dengan lembut. "Aku tidak memintamu memaafkannya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa penjaranya sekarang jauh lebih menyiksa daripada penjara yang kau alami di Berlin. Dia hidup dalam penyesalan dan kesepian."
Sekar memejamkan mata. Ia membayangkan pria tua yang dulu begitu perkasa kini merana sendirian. Namun, bayangan Lukas yang kedinginan di Alpen dan Arini yang ketakutan di panti asuhan jauh lebih kuat di benaknya.
"Biarkan dia di sana, Alvin," ujar Sekar setelah keheningan yang lama. "Aku tidak punya ruang lagi untuk masa lalu yang beracun. Tugasku sekarang adalah untuk yang masih hidup dan yang membutuhkanku di sini."
Alvin mengangguk, nampak lega dengan jawaban itu. "Bagus. Aku hanya memastikan kau tidak akan melakukan perjalanan impulsif ke Jakarta yang bisa merusak ketenangan kita."
Malam harinya, desa itu merayakan hasil panen jagung yang melimpah. Api unggun besar dinyalakan di pinggir pantai. Musik tradisional dimainkan dengan riuh, dan warga menari dengan sukacita.
Arini berada di tengah kerumunan, menari bersama teman-teman sekolahnya. Cahaya api unggun memantul di wajahnya yang penuh tawa. Sekar duduk agak jauh di sebuah batang kayu besar, memperhatikan putrinya dengan senyum yang tak pernah lepas.
Alvin datang membawa dua piring ikan bakar yang masih mengepul. Ia duduk di samping Sekar, menyerahkan satu piring kepadanya.
"Kau tahu," Alvin memulai pembicaraan sambil menatap api unggun. "Terkadang aku masih merasa aneh. Setahun yang lalu, aku mungkin sedang berada di bar mewah di London, mengeluh tentang kualitas sampanye yang kurang dingin. Sekarang, aku merasa ikan bakar yang agak gosong ini adalah makanan terbaik di dunia."
Sekar menoleh, menatap profil wajah Alvin yang diterangi api. Luka parut di pelipisnya karena kejadian di hutan bakau masih terlihat, namun itu justru membuatnya nampak lebih manusiawi.
"Itu karena di London kau makan sendirian di tengah keramaian, Alvin. Di sini, kau makan bersama orang-orang yang menganggapmu sebagai bagian dari mereka," ujar Sekar.
Alvin menoleh, matanya bertemu dengan mata Sekar. Untuk sesaat, suasana sarkasme yang biasanya melindungi mereka menguap. Ada sebuah ketegangan romantis yang halus, sebuah tarikan emosional antara dua orang yang telah melewati neraka bersama dan akhirnya menemukan oase yang sama.
"Sekar," panggil Alvin pelan. "Aku tahu aku bukan Rahman. Aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya dalam sejarah hidupmu."
"Jangan bandingkan dirimu dengannya, Alvin," potong Sekar. "Rahman adalah bagian dari masa laluku yang pahit namun berharga. Tapi kau... kau adalah alasan aku punya masa depan. Kau bukan pengganti siapa pun. Kau adalah Alvin, pria yang menghancurkan pintunya sendiri agar aku bisa keluar."
Alvin tersenyum, kali ini sebuah senyum yang penuh dengan kelegaan. Ia meraih tangan Sekar, menggenggamnya di bawah cahaya bintang. Tidak ada janji-janji muluk, tidak ada deklarasi cinta yang dramatis. Hanya sebuah pegangan tangan yang erat, yang menyiratkan bahwa mereka tidak akan saling melepaskan.
Di tengah kemeriahan pesta desa, Sekar merasakan sebuah hembusan angin dingin yang lewat di belakang lehernya. Ia mencium aroma cendana yang samar untuk terakhir kalinya. Namun kali ini, ia tidak melihat bayangan atau mendengar bisikan.
Aroma itu seolah berpamitan. Seolah-olah penjagaan dari dunia sana telah selesai karena tugas itu kini sudah berpindah tangan sepenuhnya kepada pria hidup yang duduk di sampingnya.
Sekar menatap Arini yang kini berlari menghampiri mereka dengan napas terengah-engah. "Ibu! Om Alvin! Lihat, aku dapat hadiah kalung cangkang dari Pak Wayan karena nilaiku bagus!"
Alvin tertawa, menarik Arini ke dalam pangkuannya. "Hebat! Tapi ingat, jangan sombong. Di atas langit masih ada langit, dan di bawah laut... ada Om Alvin yang siap mengejarmu kalau kau nakal."
Sekar bersandar pada bahu Alvin, menatap langit malam yang bersih. Bintang-bintang di Lombok nampak lebih terang daripada di mana pun. Di sana, di antara ribuan titik cahaya itu, mungkin Lukas sedang bermain bola dengan tenang. Dan di sini, di atas tanah yang hangat ini, Sekar akhirnya bisa meletakkan semua senjatanya.