Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Kota Awan Putih
Haneen bangun tepat empat jam kemudian. Di luar jendela kecil penyimpanan barang, langit malam sudah mulai pudar. Cahaya matahari pagi mengintip malu-malu melalui celah kayu kapal, menandakan hari segera dimulai. Sinar keemasan itu menyapu kegelapan, membawa harapan baru sekaligus bahaya yang mengintai. Dia duduk di atas peti penyimpanan barang, mendengarkan suara di atas dek.
Tidak ada lagi suara benturan. Tidak ada teriakan. Hanya suara mesin kapal yang melambat, bersiap untuk mendarat.
Yan Ling juga bangun. Dia langsung berdiri, meregangkan otot yang kaku karena tidur di lantai kayu. "Sudah sampai?" tanya nya pelan.
"Sepertinya iya," jawab Haneen. Dia berdiri, merapikan jubah hitam nya. "Aku cek dulu. Kau tunggu di sini."
Haneen naik tangga kayu menuju dek utama dengan hati-hati. Pistol sudah siap di lengan baju. Dia intip dari celah pintu.
Dek kapal berantakan. Ada bekas luka sayatan di lantai kayu. Ada noda darah kering di beberapa tempat. Tapi tidak ada mayat. Mungkin sudah dibuang ke bawah saat penerbangan tadi.
Awak kapal sedang menyapu dek. Wajah mereka pucat. Beberapa penumpang duduk di sudut, masih gemetar ketakutan. Tidak ada tanda-tanda pemburu sekte atau anggota Naga Merah.
Haneen panggil sistem. [Scan Area. Ancaman Terdekat?]
[Aman. Tidak ada aura tingkat tinggi di sekitar kapal.]
Haneen tarik napas dengan lega. Pertarungan sudah selesai. Entah siapa yang menang, mereka sudah pergi. Yang penting, jalan mereka aman.
"Aman," bisik Haneen pada Yan Ling yang sudah naik ke dek. "Ikuti arus penumpang. Jangan menonjol."
Mereka turun dari kapal bersama penumpang lain. Dermaga Kota Awan Putih lebih ramai dari kota kecil tadi. Banyak pedagang besar. Banyak kultivator lewat dengan pakaian bagus. Kota ini memang pintu gerbang menuju Sekte Pedang Langit.
Di ujung dermaga, ada pos pemeriksaan. Petugas berdiri dengan alat scan aura.
Jantung Yan Ling berdegup sedikit. "Mereka akan memeriksa semua orang."
"Tenang," kata Haneen. "Ingat item yang aku pakai tadi malam?"
"Yang buat petugas lupa?" tanya Yan Ling.
"Efek nya masih aktif sampai satu jam setelah mendarat," jelas Haneen. "Mereka tidak akan fokus pada kita."
Mereka antri. Saat giliran mereka, petugas itu memang melihat mereka. Tapi mata nya kosong. Seperti ada kabut di pikiran nya.
"Silakan lewat," kata petugas itu otomatis. Cap tiket di stempel. Tanpa scan aura.
Haneen tarik Yan Ling cepat. "Jalan. Jangan lari."
Mereka keluar dari area pelabuhan. Baru setelah masuk ke kerumunan pasar, Haneen berhenti.
"Berhasil," kata Yan Ling sambil hela napas. "Kita masuk kota tanpa ketahuan."
"Ini baru gerbang luar," kata Haneen. Dia lihat ke arah utara. Di kejauhan, terlihat puncak gunung yang sangat tinggi. Awan menyelimuti puncak itu. "Sekte Pedang Langit ada di sana."
Yan Ling ikut melihat. Wajah nya berubah serius. "Kita sudah dekat."
"Terlalu dekat untuk langsung masuk," kata Haneen. "Kita butuh rencana. Sekte pasti sudah siaga penuh setelah kejadian di Kota Kabut Perak."
Mereka mencari penginapan di area pasar. Bukan yang mewah. Bukan yang terlalu murah. Penginapan kelas menengah yang banyak pedagang pakai. Agar Tidak mencurigakan.
Haneen sewa kamar di lantai dua. Jendela menghadap ke jalan utama. Dari sini, mereka bisa lihat pergerakan orang-orang.
"Kita akan tinggal di sini tiga hari," kata Haneen saat masuk kamar. Dia tutup jendela, tapi tidak rapat. Masih bisa intip keluar.
"Kenapa tiga hari?" tanya Yan Ling. Dia duduk di tepi kasur.
"Observasi," jawab Haneen singkat. "Aku perlu tahu jadwal patroli sekte. Kapan mereka ganti shift. Kapan ada celah di pertahanan."
Yan Ling angguk. Dia mengerti. Masuk sekte tanpa rencana sama saja bunuh diri. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Cari informasi," kata Haneen. "Pergi ke pasar. Dengar gosip. Cari tahu apakah ada pengumuman buronan baru. Apakah wajah kita sudah tersebar."
"Topeng ini masih aktif," kata Yan Ling sambil sentuh wajah nya.
"Topeng bisa tembus kalau ada alat scan tingkat tinggi," ingat Haneen. "Jadi jangan percaya seratus persen. Kalau ada situasi darurat, lari. Jangan bertarung."
"Baik," jawab Yan Ling. Dia berdiri, mau keluar.
"Tunggu," panggil Haneen. Dia lempar sebuah koin kecil pada Yan Ling. "Ini alat komunikasi jarak dekat. Kalau ada masalah, tekan saja. Aku akan tahu lokasimu."
Yan tangkap koin itu. Benda itu dingin dan berat. "Terima kasih."
"Hati-hati," kata Haneen.
Yan Ling keluar kamar. Haneen tinggal sendiri. Dia duduk di meja, kemudian membuka peta sistem.
Peta kota Awan Putih muncul di depan mata nya. Titik-titik cahaya menunjukkan posisi orang. Ada beberapa titik besar bergerak teratur. Itu patroli sekte.
Haneen menghitung jumlah patroli. Ada lima regu yang keliling kota. Setiap regu punya satu cultivator tingkat Tinggi.
"Lima orang tingkat Tinggi," gumam Haneen. "Kalau mau masuk sekte, harus hindari mereka."
Haneen panggil sistem. [Misi Baru: Infiltrasi Sekte. Deskripsi: Masuk ke area dalam Sekte Pedang Langit tanpa ketahuan. Hadiah: 10000 IP + Teknologi Penyamaran Tingkat Tinggi.]
Hadiah nya besar. Tapi risiko nya juga besar. Kalau ketahuan, tidak ada jalan keluar.
Haneen berpikir tentang opsi. Bisa pakai terowongan rahasia. Bisa pakai penyamaran jadi murid baru. Atau bisa cari celah di dinding pertahanan.
"Sistem, ada opsi terowongan?" tanya Haneen dalam hati.
[Ada. Terowongan limbah lama di bawah sekte. Akses dari hutan belakang.]
Haneen tandai lokasi itu di peta. Itu opsi terbaik. Masuk dari bawah, tidak lewat gerbang utama.
Tapi sebelum itu, mereka butuh perlengkapan. Tali panjat. Alat napas bawah air. Dan obat anti racun.
Haneen cek saldo poin. Masih cukup setelah beli item sebelumnya. Dia beli beberapa alat penting. Simpan di dimensi penyimpanan.
Tiba-tiba, ada ketukan pintu.
Haneen langsung siap. Pistol di tangan. "Siapa?"
"Petugas kebersihan." suara orang luar. Pelayan penginapan.
Haneen simpan pistol. Buka pintu sedikit. Seorang pria tua bawa sapu dan ember.
"Tidak perlu," kata Haneen. "Kami keluar sebentar lagi."
"Baik, Nona," kata pria itu lalu jalan pergi.
Haneen tutup pintu. Dia cek lagi koridor. Kosong. Aman.
Dia duduk lagi. Pikiran nya melayang pada Yan Ling. Mudah-mudahan wanita itu aman di luar sana. Pasar ramai, banyak mata-mata mungkin ada di sana.
Sistem tiba-tiba bunyi. [Peringatan: Sinyal Komunikasi Terdeteksi. Lokasi: Pasar Utara. Jarak: 500 meter.]
Haneen langsung berdiri. Itu sinyal dari koin yang dia kasih Yan Ling.
"Ada masalah," gumam Haneen.
Dia tidak membuang-buang waktu. Keluar kamar lewat jendela. Turun ke jalan pakai tali. Lari menuju arah sinyal.
Jalanan sangat ramai. Haneen harus zig-zag menghindari orang. Dia tidak bisa pakai kekuatan spiritual terlalu banyak. Nanti ketahuan.
Dia sampai di Pasar Utara. Area jual beli senjata dan alat kultivasi. Banyak orang berkumpul di satu toko.
Haneen lihat ke arah toko itu. Ada kerumunan. Di tengah kerumunan, ada Yan Ling. Dia diapit oleh tiga orang berbaju hitam.
Wajah Yan Ling tenang. Tapi tangan nya sudah dekat pedang.
Haneen tidak langsung maju. Dia naik ke atap toko sebelah. Intip dari atas.
"Kau punya barang curian," kata salah satu baju hitam. Suaranya kasar. "Serahkan."
"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud," jawab Yan Ling dingin.
"Jangan bohong. Kami lihat kau keluar dari kapal yang sama dengan buronan," ancam baju hitam itu.
Haneen mengerutkan kening. Mereka tahu tentang kapal itu. Berarti ada mata-mata di pelabuhan tadi.
Yan Ling tidak menjawab. Dia lihat sekeliling. Cari jalan keluar.
Haneen tahu dia harus bertindak. Tapi kalau langsung tembak, semua orang di pasar akan tahu. Itu akan bikin mereka buronan seluruh kota.
Haneen panggil sistem. [Item: Granat Asap Pekat. Harga: 100 IP.]
Dia beli tiga butir. Lempar ke tiga titik berbeda di sekitar kerumunan.
‘Bum! Bum! Bum!’
Asap putih tebal langsung keluar. Pandangan hilang seketika. Orang-orang teriak kaget. "Ada apa?" "Serangan!"
Kekacauan terjadi. Orang lari kocar-kacir.
Haneen turun dari atap. Dia masuk ke dalam asap. "Yan Ling. Ikut aku."
Yan Ling tidak bertanya. Dia langsung mengikuti suara Haneen. Mereka lari keluar dari kerumunan, masuk ke gang sempit di samping toko.
Di dalam gang, asap tidak terlalu tebal. Haneen berhenti. "Kau aman?"
"Aman," jawab Yan Ling. Napas nya sedikit cepat. "Mereka tahu tentang kapal."
"Aku tahu," kata Haneen. "Berarti ada mata-mata. Kita harus pindah penginapan. Sekarang."
"Mereka mengejar?" tanya Yan Ling. Dia melihat ke belakang.
"Belum. Asap membuat mereka bingung," jawab Haneen. "Tapi tidak lama lagi. Ayo."
Mereka lari kembali ke penginapan. Haneen langsung ambil tas mereka. Tidak ada waktu untuk packing rapi.
"Kita keluar kota," kata Haneen. "Rencana infiltrasi berubah. Kita tidak bisa masuk dari kota kalau sudah diawasi."
"Masuk dari hutan?" tanya Yan Ling.
"Ya. Terowongan limbah," jawab Haneen. "Kita butuh persediaan makanan untuk dua hari."
Haneen membayar pemilik penginapan dengan batu spiritual. "Kami akan pergi."
Pemilik itu lihat uang banyak. Dia angguk cepat. "Selamat jalan."
Mereka keluar dari kota lewat gerbang belakang. Tidak ada penjaga di sana. Hanya tembok rendah.
Haneen memanjat lebih dulu.Lalu mengulurkan tangan pada Yan Ling. Tarik naik.
Mereka mendarat di luar kota. Hutan lebat langsung menyambut.
"Kita jalan malam ini," kata Haneen. "Jangan pakai lampu. Jangan pakai api."
"Siap," jawab Yan Ling.
Mereka masuk ke dalam hutan. Gelap dan dingin. Suara binatang malam terdengar di mana-mana.
Haneen membuka peta sistem. Arah terowongan ada di utara. Sekitar sepuluh kilometer dari sini.
"Kita punya waktu sampai subuh," kata Haneen. "Harus sampai sebelum matahari terbit."
"Kenapa subuh?" tanya Yan Ling sambil lompati akar pohon.
"Patroli sekte ganti shift saat subuh. Ada jeda lima belas menit," jelas Haneen. "Itu satu-satunya waktu kita bisa masuk tanpa ketahuan sensor."
Yan Ling kagum. "Kau tahu semua itu dari sistem?"
"Bukan cuma sistem," kata Haneen. "Aku observasi pola mereka dari peta. Semua ada polanya. Tinggal cari tahu."
Mereka jalan cepat. Hutan semakin lebat. Tanah semakin curam. Mereka sudah mulai naik gunung.
Di kejauhan, cahaya kota Awan Putih semakin kecil. Sebaliknya, puncak gunung Sekte Pedang Langit semakin besar.
Haneen lihat puncak itu. Ada cahaya samar di sana. Mungkin lampu dari bangunan sekte.
"Kita hampir sampai," kata Haneen setelah dua jam jalan.
Mereka berhenti di tepi tebing. Di bawah, ada lubang besar tertutup semak. Itu masuk ke terowongan limbah.
"Turun dengan hati-hati," perintah Haneen. Dia ulurkan tali dari tas. Ikat di pohon kuat.
Yan Ling turun lebih dulu. Haneen ikut setelah nya. Memutuskan tali. Masuk ke dalam lubang.
Gelap total di dalam. Haneen nyalakan senter sistem. Cahaya hijau redup. Tidak terlalu terang, cukup untuk lihat jalan.
Bau tidak enak tercium. Tapi mereka sudah terbiasa dari pengalaman saluran pembuangan sebelumnya.
"Ini dia," kata Haneen. "Jalan ini langsung ke area dalam sekte."
"Berapa panjang?" tanya Yan Ling.
"Dua kilometer," jawab Haneen. "Kita jalan cepat."
Mereka mulai jalan di dalam terowongan. Dinding batu basah. Air menetes dari atas.
Haneen pikir tentang langkah selanjutnya. Masuk sekte hanya awal. Masih ada tetua korup yang harus dihadapi. Masih ada kebenaran yang harus diungkap.
Tapi kali ini, mereka tidak akan lari. Mereka akan habiskan semua musuh di dalam sana.
"Yan Ling," panggil Haneen tiba-tiba.
"Apa?"
"Kalau kita terpisah di dalam, cari titik kumpul di ruang arsip utama," kata Haneen. "Aku sudah tandai di petamu."
"Kenapa terpisah?" tanya Yan Ling khawatir.
"Kemungkinan besar kita akan terpisah," jawab Haneen jujur. "Sekte sangatlah besar. Banyak jalur. Kita tidak bisa selalu bersama."
Yan Ling diam sebentar. Lalu angguk. "Baiklah. Ruang arsip utama. Aku ingat."
"Bagus," kata Haneen. "Ayo jalan. Waktu kita tidak banyak."
Mereka terus jalan masuk ke dalam perut gunung. Menuju tempat di mana semua rahasia disembunyikan. Menuju tempat di mana Haneen akan mulai perang nya yang sebenarnya.
Di atas kepala mereka, tanah bergetar sedikit. Mungkin ada patroli lewat di permukaan. Tapi mereka tidak tahu ada dua orang yang sudah masuk ke dalam benteng mereka.
Haneen tersenyum tipis di dalam gelap. "Selamat datang di rumah, Sekte Pedang Langit."
Yan Ling dengar gumaman itu. Dia tidak tanya. Dia hanya ikuti langkah Haneen. Bersama, mereka akan bawa badai ke dalam sekte ini.
Terowongan semakin sempit. Tapi di ujung, ada cahaya samar. Cahaya dari obor.
"Mereka ada di depan," bisik Haneen. "Siap-siap."
Mereka pelankan langkah. Masuk ke mode siluman. Senjata siap. Napas ditahan.
Permainan kucing-kucingan dimulai. Dan kali ini, Haneen yang jadi kucing-nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share 😁
(Jangan lupa kasi bintangnya juga 😁)