NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Trauma masa lalu / Kebangkitan pecundang / Antagonis Jahat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfee

Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7. Bakti sang pengawal

Ervana melepas kepergian keluarganya dengan tatapan luka. Untuk ke sekian kalinya ia merasa sendiri. Hah, bukankah ini sudah kerap kali diterimanya? Lalu untuk apa dia bersedih seolah ini terlalu asing baginya? Gadis itu mengelus pelan pipinya. Bekas tamparan Lucas masih menyisakan rasa sakit. Tidak, ini tidak seberapa dengan rasa sakit di hatinya. Sejak kapan Lucas berubah menjadi sosok sekejam itu? Pria itu bahkan rela menyakiti adiknya hanya untuk membela anak yang lahir dari rahim wanita selain ibunya. Dulu, Lucas yang menggandeng tangannya, mengucapkan segala macam kalimat penghiburan ketika Ervana merasa kesepian karena kerap ditinggal orang tuanya. Dulu sekali, saat Renita belum datang dan mengacaukan segalanya.

Ervana melangkahkan kakinya dengan pelan, meninggalkan ketenangan pinggiran kolam malam itu. Ia bahkan bingung dengan siapa ia akan pulang. Akan sangat memalukan jika ia meminta tolong pada atasannya.

"Nona". Seorang pengawal keluarga Moses mendekat. Ervana mengenalinya dari seragam yang dipakainya. Seingatnya, pria muda itu baru saja lolos perekrutan karyawan baru keluarga Moses beberapa bulan lalu.

Ervana bergeming, membiarkan sang pengawal menyelesaikan kalimatnya.

"Mari pulang bersama saya". Sang pengawal menunduk, berusaha menunjukkan sikap hormat. Namanya Bian dan pria itu terlihat sangat tampan dalam balutan pakaian serba hitamnya.

"Tidak perlu, Bian! Kau akan mendapatkan masalah jika ayahku mengetahui hal ini".

"Saya akan menanggung semua akibatnya, Nona! Bukankah tugas saya menjaga keselamatan keluarga Moses?" Ervana menatap intens wajah lelah sang pengawal, mencari sisa-sisa kebohongan di wajah itu. Sial, ia tak menemukan apapun.

"Jangan memperumit hidupmu, Bian".

"Semua orang telah meninggalkan tempat ini, Nona! Saya sendiri mendengar ucapan Tuan Muda yang melarang siapapun untuk membantu anda".

Benarkah? Batin sang nona muda bertanya-tanya. Lucas bahkan telah menyiapkan segala hal untuk membuat hidupnya semakin rumit.

"Lalu bagaimana denganmu?" Ervana menaikkan sebelah alisnya, menilik wajah tampan pria di hadapannya.

"Biar itu menjadi urusan saya, Nona". Ervana mendesah putus asa. Bagaimana ini? Di satu sisi ia tidak ingin merepotkan sang pengawal, namun di sisi lain ia tidak tau pada siapa ia meminta tolong kalau bukan pada Bian. Dilema!

Gadis itu bahkan menggigit kukunya dengan cemas.

"Baiklah". Ervana lalu mengikuti langkah tegap sang pelayan. Sepi, semua orang telah meninggalkan tempat itu termasuk Morgan Aston.

Mobil milik keluarga Moses yang dipakai sang pengawal terparkir sempurna di depan mereka.

"Silakan Nona". Bian membukakan pintu dengan gerakan profesional khas seorang pengawal.

"Terima kasih banyak, Bian".

"Sudah menjadi tugas saya, Nona". Sahut Bian sebelum mengitari mobil lalu duduk di balik kemudi. Sepanjang perjalanan pulang, Ervana hanya diam. Merangkai semua kejadian luar biasa yang baru saja membuatnya merasa kalah dari si anak angkat keluarga itu. Gadis itu lebih licik dan berani dari yang kukira, batin Ervana.

Sebelum mobil memasuki pelataran kediaman mewah keluarga Moses, Ervana memilih turun di pereempatan jalan.

"Terima kasih banyak, Bian. Pergilah! Aku tak ingin kau mendapat masalah". Bian mengangguk sebelum melajukan mobilnya, meninggalkan sang nona yang masih terpaku menatap kepergiannya.

Tidak ada masalah berarti ketika gadis itu memasuki rumahnya, mungkin saja semua orang terlalu lelah untuk mencecarnya. Keesokan harinya ia kembali bertemu dengan Bian sebelum pergi bekerja. Pria itu baru saja keluar dari ruang kerja milik Lucas. Bian menunduk hormat padanya. Ervana terkejut melihat wajah memar pria itu. Sudut bibirnya bahkan berdarah. Apa yang terjadi di dalam sama?

Samar-samar, ia mendengar perbincangan beberapa pelayan.

"Bian disiksa Tuan Muda karena berani melanggar perintahnya". Seorang pelayan tua bertubuh gempal memulai obrolan sambil memotong sayuran.

"Apa? Bagaimana bisa?"

"Bian memberi tumpangan pada Nona Ervana padahal dirinya sudah dilarang". Ervana mendesah pelan, merasa sangat bersalah pada pengawal muda itu. Kakaknya benar-benar kejam!

"Kupikir hanya Morgan Aston yang menjadi korbanmu ternyata kau juga pandai menggoda pengawal keluarga ini". Lucas mendekat ke arah sang adik dengan gerakan yang terlalu angkuh khas seorang pemegang kendali.

"Kak, sampai detik ini aku bahkan tidak tau kenapa kau selalu mengatakan hal yang sama. Bian tidak bersalah! Aku yang menyulitkannya".

"Kau membela pria itu? Kurasa ini terlalu romantis dan berlebihan. Sedikit menjijikkan tapi tidak buruk".

"Kumohon jangan menyakitinya lagi". Dengan gerakan tak terukur gadis itu berlutut di hadapan sang kakak yang tersenyum miring melihat wajah adiknya.

"Seorang nona rumah merendahkan dirinya hanya karena obsesinya pada sang pengawal. Kau benar-benar menjijikkan". Di lantai atas rumah itu, Renita tersenyum penuh kemenangan menyaksikan adegan di bawah sana. Sebentar lagi, semua ini akan menjadi miliknya.

"Apa yang kau tawarkan agar aku tak menyakitinya lagi?" Suara Lucas terdengar bergetar karena amarah dan kecemburuan. Sungguh ia tak pernah menduga jika adik yang dulu begitu disayanginya kini merendahkan diri karena seorang asing yang kebetulan bekerja di rumah besar mereka.

"Apa maksudmu, Kak?"

"Baiklah, aku ingin tau kenapa kau begitu terobsesi pada Bian dan juga Tuan Morgan? Apakah gadis sepertimu tidak pernah cukup dengan satu pria?" Lucas menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman licik yang begitu buruk.

"CUKUP". Suara lemah itu tiba-tiba berteriak dengan berani di hadapan kakaknya. Bian sedikit tersentak namun segera menguasai dirinya. Dengan gerakan terukur ia maju selangkah dan PLAKK..

Suara tamparan itu begitu bergema di rumah berpilar besar itu. Ya Tuhan ini masih sangat pagi. Tirai panjang yang melambai indah di jendela besar itu bahkan belum dibuka, namun Lucas sudah punya tenaga untuk menyakiti adiknya.

"Berani sekali kau berteriak di hadapanku. Kau pikir kau siapa?" Tubuh kurus itu kemudian didorong dengan keras oleh Lucas. Ervana jatuh, punggungnya membentur keras lantai marmer. Rasa sakit menjalar dengan cepat. Ervana sedikit meringis, namun tak ingin memperlihatkan rasa sakitnya di hadapan pria angkuh di hadapannya ini.

"Aku tak akan segan-segan menghabisimu jika kau masih bersikap kurang ajar seperti itu". Lucas berjongkok di hadapan Ervana yang saat ini lebih memilih menunduk daripada menatap wajah penuh amarah milik sang kakak.

"Aku tidak akan meragukan itu. Kau memang kakakku, tapi rasa cinta dan kasih sayangmu bukan milikku. Aku cukup tau diri dengan itu semua. Kau pria terhormat yang sangat tidak mungkin memahami orang lemah sepertiku". Ervana bangkit lalu meninggalkan kakaknya yang masih sibuk berbicara banyak hal, mungkin menghina adalah salah satunya.

Di posisinya, Lucas diam dan berusaha mencerna semua perkataan sang adik. Jauh di dasar hatinya, rasa bersalah kini muncul namun sekali lagi keegoisannya selalu menang.

"Kak". Renita yang selalu melakoni peran gadis lemah kini mendekat lalu menyentuh lembut lengan Lucas.

"Apakah aku begitu kejam, Renita?" Tanya pria itu dengan suara yang sedikit bergetar.

"Tidak kak! Bukankah itu bagian dari mendidik Kak Ervana?" Renita berucap lembut, namun sedetik kemudian.. "Kak, aku tidak bermaksud untuk ikut campur! Aku hanyalah anak angkat keluarga ini. Aku tidak bermaksud untuk menasehatimu, ta-"..

"Tidak apa-apa, Renita". Lucas mendesah putus asa sebelum meninggalkan Renita yang sibuk merayakan kemenangan kecilnya hari ini.

1
EMA
Semangat kk lanjut nya 💪 💪
EMA
Semangat kk 💪💪💪
Afee: Makasih kaaa🥰
total 1 replies
EMA
Lanjut kk
Alvi
lanjut thorrrr🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!