NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Gerimis tipis yang mengguyur Jakarta sore itu perlahan berubah menjadi hujan lebat, menciptakan simfoni monoton di kaca jendela kantor yang menjulang tinggi.

Di lantai teratas gedung perkantoran Sudirman, Linggar masih terpaku di depan layar laptopnya.

Jemarinya menari lincah di atas keyboard, menyusun agenda terakhir untuk Pak Richard.

"Besok Senin, Pak Richard sudah di Yogyakarta. Lalu, siapa yang akan menggantikannya di sini?" gumam Linggar.

Ada rasa cemas yang ada di benaknya. Sebagai sekretaris senior, Linggar sudah terbiasa dengan ritme kerja Pak Richard yang tenang.

Pengganti yang baru adalah teka-teki yang belum terjawab.

Ia melirik jam tangan peraknya dimana sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

Dengan helaan napas panjang, ia memutuskan untuk menyudahi hari itu.

Saat ia membereskan tasnya, terdengar sebuah notifikasi muncul di layar ponsel dimana adiknya yang mengirim pesan.

[Mbak, aku pulang agak telat ya, jam sepuluhan. Mau malam mingguan dulu sama Edwin. Jangan lupa makan malam!]

Linggar tersenyum tipis, meski ada sedikit rasa sepi yang menyusup.

Di usianya yang matang, kesibukannya sebagai sekretaris seolah telah merampas ruang untuk kehidupan pribadinya.

Ia segera melangkah menuju parkiran, membelah kemacetan Jakarta yang basah.

Sebelum sampai di rumah, ia menepi di sebuah kedai pinggir jalan.

Aroma roti bakar cokelat dan gurihnya lumpia goreng seketika menggugah seleranya.

Sambil menunggu pesanannya disiapkan, Linggar duduk di sudut kedai yang agak tersembunyi.

Ia teringat rengekan Nadya tadi pagi tentang aplikasi kencan.

“Mbak itu cantik, pintar, tapi terlalu menutup diri. Coba buka hati, Mbak,” ucap adiknya saat itu.

"Baiklah, Nad. Satu kali ini saja," gumam Linggar ragu.

Ia mengunduh aplikasi tersebut di ponselnya. Namun, saat tiba di kolom unggah foto, jemarinya terhenti.

Ia menatap pantulan dirinya di layar ponsel yang gelap wajahnya manis, namun pipinya yang chubby dan tubuhnya yang berisi selalu membuatnya merasa tidak akan ada pria yang tertarik di dunia maya yang serba visual ini.

Dengan perasaan bersalah yang menghimpit, ia membuka galeri dan memilih sebuah foto.

Ia memilih memakai foto Nadya dimana adiknya yang cantik, bertubuh ramping dan berwajah model.

"Maafkan Mbak, Nad. Mbak hanya tidak percaya diri," bisiknya pedih saat menekan tombol 'Update Profile'.

Belum genap satu menit, ponselnya bergetar hebat.

Notifikasi 'Match' dan pesan masuk membanjir dalam hitungan detik.

Linggar tertegun, jantungnya berdegup kencang antara rasa senang dan takut yang amat sangat.

"Pesanan roti bakarnya, Mbak!" ucap si penjual.

Linggar terperanjat dan segera menutup aplikasi itu dengan tangan gemetar dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Ia belum siap menghadapi kenyataan bahwa ribuan lelaki di luar sana menyukai wajah yang bukan miliknya.

Segera Linggar melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.

Jalanan yang tidak begitu ramai, membuat Linggar lekas sampai.

Ceklek!

Sesampainya di rumah yang sepi, Linggar melemparkan tasnya ke sofa dengan perasaan campur aduk.

Aroma roti bakar yang tadinya menggoda selera, kini terasa hambar.

Pikirannya tertahan pada getaran ponsel di dalam tasnya yang tak kunjung berhenti.

Dengan tangan gemetar, ia memberanikan diri membuka kembali aplikasi itu.

Ia membelalakkan matanya saat melihat beberapa nama yang tertera disana

"Gabriel, Rangga, Thomas, Teguh, Armand," gumam Linggar.

Linggar terpaku pada satu nama yang entah mengapa membuat jemarinya berhenti bergulir ke nama Rangga.

Berbeda dengan pria lain yang mengirimkan gombalan murahan atau pujian selangit tentang kecantikannya.

Rangga hanya menuliskan satu kalimat singkat di kolom pesan.

"Buku yang kamu pegang di foto itu? Apakah kamu benar-benar membacanya atau hanya properti foto?"

Linggar tertegun sejenak karena di foto profil yang ia 'pinjam' dari Nadya yang memang sedang berpose di sebuah kafe estetik sambil memegang buku The Little Prince yang hanya menjadikannya properti agar terlihat keren, tapi bagi Linggar, buku itu adalah sahabat masa kecilnya.

[Bukan properti. Aku suka bagian saat rubah mengatakan bahwa hal yang terpenting justru tidak terlihat oleh mata. Kamu sendiri, apakah tipe orang yang hanya menilai buku dari sampulnya?]

Linggar menahan napasnya saat menulis kalimat terakhir itu adalah sindiran halus untuk dirinya sendiri.

Tak butuh waktu lama, ponselnya kembali bergetar.

[Skakmat. Jawaban yang cerdas. Jarang sekali aku menemukan wanita cantik di aplikasi ini yang benar-benar membaca. Saya Rangga. Senang bertemu denganmu, Nadya? Kalau boleh tahu, kamu disini mencari apa? Kalau aku mencari calon istri dan semoga kamu yang akan menjadi istriku,]

Kalimat terakhir dari Rangga membuat jantung Linggar seakan berhenti berdetak.

"Calon istri?" gumamnya pelan.

Ada debaran aneh yang menyelinap, rasa manis yang selama ini absen dari hidupnya, namun seketika diikuti oleh hantaman rasa bersalah yang menyesakkan dada.

Ia menatap foto Nadya di layar ponselnya dengan rambut panjang yang tergerai indah dan senyum porselen yang sempurna.

Itulah yang dilihat Rangga. Bukan Linggar dengan kacamata minusnya, bukan Linggar yang baru saja menghabiskan dua porsi roti bakar karena stres bekerja.

[Mencari istri? Bukankah itu terlalu cepat untuk sapaan pertama? Kita bahkan belum saling mengenal, Rangga.]

Rangga yang sedang di kamarnya langsung tersenyum tipis dan langsung membalasnya.

[Mungkin terdengar agresif, tapi aku pria yang tahu apa yang aku inginkan. Aku tidak suka membuang waktu dengan basa-basi. Kepribadianmu di balik pesan ini terasa berbeda, Nadya. Ada kedewasaan yang tenang dan aku menyukainya.]

Malam itu, Jakarta yang masih basah menjadi saksi bisu dimulainya sebuah hubungan yang dibangun di atas fondasi yang rapuh.

Linggar terjaga hingga pukul dua pagi, tertawa kecil membaca lelucon cerdas Rangga, dan terpesona pada pola pikir pria itu yang sangat terstruktur namun hangat.

[Kamu bekerja dimana, Ngga?]

[Aku bekerja di perusahaan kecil, Linggar]

Linggar bersandar di kepala tempat tidur, jemarinya terasa dingin saat mengetik balasan.

Pernyataan Rangga tentang 'perusahaan kecil' membuatnya tertegun sejenak. Bukan karena ia kecewa, justru sebaliknya dimana ada rasa lega yang menyelinap.

Sebagai sekretaris di perusahaan besar, Linggar sudah kenyang melihat pria-pria sombong yang memamerkan jabatan dan saldo rekening.

[Perusahaan kecil yang penting halal, Ngga. Lagipula, besar atau kecilnya tempat kerja tidak menentukan besar atau kecilnya martabat seseorang, kan?] tulis Linggar dengan mantap.

Di seberang sana, di sebuah apartemen mewah yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu Jakarta.

Ia sedikit terkejut ketika membaca pesan dari Linggar.

Ia meletakkan gelas kristal berisi air mineralnya. Matanya yang tajam menatap layar ponsel dengan minat yang semakin besar.

Rangga sudah terbiasa dengan wanita yang langsung mundur atau berubah dingin saat ia mengaku bekerja di tempat kecil.

Baginya, aplikasi ini adalah eksperimen sosial sekaligus penyaring.

Ia mencari istri, bukan rekan bisnis yang hanya menghitung aset.

[Jawaban yang langka. Kebanyakan wanita yang saya temui akan langsung bertanya apa merk mobil saya setelah tahu saya bekerja di 'perusahaan kecil'. Kamu tidak peduli jika saya hanya pria biasa dengan penghasilan pas-pasan?] tanya Rangga yang ingin menguji lebih dalam.

Linggar terkekeh kecil, rasa kantuknya hilang total.

[Aku sendiri hanya seorang sekretaris yang hobi makan roti bakar pinggir jalan, Ngga. Kalau aku mencari kekayaan, aku lebih baik lembur setiap hari daripada main aplikasi kencan. Aku mencari seseorang yang bisa diajak diskusi tentang 'The Little Prince', bukan seseorang yang pamer slip gaji.]

Rangga tersenyum tipis, ia merasa telah menemukan permata di tengah tumpukan kerikil. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatinya: wajah di foto profil itu.

Gadis itu terlihat sangat modis, seperti model papan atas.

Sangat kontras dengan gaya bicaranya yang membumi dan dewasa.

[Kamu sangat menarik, Nadya. Boleh aku jujur? Wajahmu di foto itu terlihat seperti wanita yang seleranya sangat tinggi. Tapi cara bicaramu, membuatku merasa kita sudah kenal lama.]

Jantung Linggar berdetak kencang saat nama "Nadya" yang disebut Rangga bagaikan alarm peringatan.

[Mungkin foto bisa menipu, tapi kata-kata jarang berbohong, Ngga,] balas Linggar, hatinya perih.

Ia ingin sekali berteriak bahwa ia bukan wanita di foto itu.

Ia ingin bilang, "Aku Linggar, dan aku sedang memakai kacamata retak sambil memakan sisa lumpia goreng."

[Tepat sekali. Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertukar suara? Aku ingin tahu apakah suaramu sejuk seperti tulisanmu,] balas Rangga.

Linggar langsung panik saat membaca pesan dari Rangga.

Jika ia mengangkat telepon sekarang, mungkin rahasia belum terbongkar, tapi semuanya akan terasa semakin nyata. Namun, rasa penasaran mengalahkan logikanya.

[Boleh. Tapi hanya lima menit. Ini sudah hampir jam sepuluh malam.]

Satu detik kemudian, ponsel Linggar bergetar. Sebuah panggilan masuk dari 'Rangga'. Dengan napas tertahan, Linggar menekan tombol hijau.

"Halo?" suara Linggar bergetar pelan.

"Halo, Nadya..." Suara di ujung telepon itu terdengar berat, dalam, dan sangat berwibawa.

Bukan suara pria sembarangan, ada nada dominan namun lembut yang membuat bulu kuduk Linggar meremang.

"Ternyata benar. Suaramu terdengar sangat tulus."

"Suaramu juga terdengar seperti seseorang yang punya banyak rahasia," balas Linggar, mencoba menetralisir kegugupannya.

Rangga tertawa rendah, sebuah suara yang membuat Linggar merasa nyaman sekaligus takut di saat yang sama.

"Lekaslah istirahat, calon istriku. Besok pagi kita lanjut," ucap Rangga.

Linggar menutup ponselnya dengan pipinya yang kemerahan.

"Rangga...."

1
merry yuliana
hmmmmm pertarungan dimulai...kemana hatimu akan berlabuh linggar...sehat dan semangat terus kak..ditunggu crazy upnya
Fitra Sari
lanjut kk
my name is pho: ok kak
besok sahur ya🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut donk
my name is pho: ok kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
mending resain pergi jauh
falea sezi
kpn kebongkar jangan bertele tele
falea sezi
cwek munafik gini banyak di fb pasang fto orang buat gaet cowok g jujur ma fisik diri sendiri
falea sezi
jd inget film India yg Rani Mukerji hitrik trs papu siapa ya lupa nama e q
merry yuliana
hmmmm jia you linggar jangan takut pasti ada lelaki yang benar2 melohatmu sebagai dirimu sendiri
Alis Yudha
kenapa aku ikut mewek ya/Whimper/
Nabila
linggar ini kayak aku, kata ibuku duku aku sakit sampai di opnam, harus sering minum obat, padahal eaktu kecil badan ku kecil katanya, karena kebanyakan minum obat sampai sekarang berat badanku bertambah terus, dak tahu mungkin itu sistem metabolismenya berubah sekarang saya umur 38thn dengan bb 115kg, mau nurunin susah banget.memang benar punya badan gemuk itu incecure banget, mau deket ma cowok malu banget kalau dikata2in.
awesome moment
maapkeun. koq jd berharap linggar g bertahan y. biar rangga nyesel. 🤭🤭🤭
kucing kawai
Bagus /Good/
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 😍😍🙏
awesome moment
bagusnya....linggar stl sadar dri koma, menghilang. ke mana, seterah. dgn keprofesionalannya, dia kn bisa menclok jd tenaga profesional dimana2. buat linggar ketemu lingk yg tpt dan org yg tpt. biar j rangga nyesel bin nyesek. udh ngebully linggar c. biar tau rasane diabaikan. biar tau rasane bertahan dalam sakit tp g bisa ngeluh. stl rangga ngerasain yg dirasain linggar, seterah author wis. kn jodoh ditangan author. seblm.nya...tolong, buat rangga merasakan kesakitan linggar
my name is pho: siap 🥰
total 1 replies
Hesty Rahayu
kapok kamu rangga..syukurin...
Fitra Sari
lanjut lagi kk
awesome moment
blm titik, kan? msh koma ta?😉
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak.
total 1 replies
awesome moment
tebakan hayooo...koma ato titik?
awesome moment
y bgitulah...org kecewa
Fitra Sari
lanjut KK 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!