Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Pemuda Idaman
Plak...!
Lampu pun menyala, Asep mengakhiri permainan gitarnya. Dia tersenyum tipis melihat Ziya yang nampak sudah terlelap di atas kursi panjang itu.
Dia menaruh gitarnya, kemudian bangkit. Dia merasakan udara semakin dingin, ‘gak mungkin saya biarin Neng Ziya tidur disini sendirian, apa saya pindahkan saja dia ke kamar?’ batin Asep bergumam.
Dia berjalan mendekat, dengan ragu dia menelusupkan lengan kanannya ke bawah tengkuk Ziya bermaksud menggendongnya ala bridal, namun belum sempat itu terjadi mata Ziya tiba-tiba terbuka.
Untuk sepersekian detik pandangan mereka saling terkunci satu sama lain.
Asep menelan Salivanya, dia tidak menyangka Ziya akan terbangun karena sentuhannya.
“E-elu m-mau ngapain Sep?” tanya Ziya lambat juga terbata, namun dengan pupil mata melebar.
Seketika Asep membeku, dia pun lekas menarik tangannya dari tengkuk Ziya kemudian berdiri “Neng, sa-saya tadi, anu... Itu... Neng, ugh,” ucapnya tak jelas, dia ingin menjelaskan namun yang keluar dari mulutnya adalah hal lain.
Ziya bangkit masih dengan kesadaran separuhnya, dia lantas berjalan masuk kedalam kamarnya, dia sama sekali tak menuntut penjelasan lagi dari Asep.
Kriet... Dia menutup pintu kamarnya perlahan, kemudian menyandarkan punggungnya disana.
‘T-tadi si Asep mau ngapain ya? Apa jangan-jangan, dia mau nyium gue?' Ziya menutup mulut dengan telapak tangannya.
Diluar kamar, Asep nampak salah tingkah, ‘aduh, Neng Ziya pasti salah faham ini, saya gak bermaksud apa-apa cuma mau mindahin dia ke kamar, tapi kok ya susah banget ngomong gitu aja,’ batinnya berucap kesal.
Dia hendak mengetuk pintu kamar Ziya, namun ragu plus malu juga akhirnya dia mengurungkannya, ‘ah besok aja deh saya jelasinnya, sekarang biar Neng Ziya tidur dulu, kalau terus di ajak ngomong bisa-bisa gak tidur saya sampai pagi.’
Asep pun menyampirkan sarung yang di pakainya kemudian masuk kedalam kamar sambil menjinjing gitarnya.
Di kamar sebelah Ziya, dia berbaring sambil menatap kosong langit-langit kamarnya, sumpah setelah tidur sebentar tadi, kantuknya pun sepenuhnya menghilang, berganti dengan kata 'Why Asep? Why?’
‘Cih, setelah adegan kaya gitu dia bisa tidur nyenyak, dasar kampret emang si Asep!’
‘Arghh... Gue gak bisa tidur.’
***
Ziya terbangun saat matahari telah meninggi, dia pun keluar dari kamarnya, Asep tentunya sudah tidak ada di rumah di jam begini dia sudah pergi ke ladang, namun seperti biasa sarapan sudah tersaji di atas meja kayu di dapur.
Bukannya memakannya Ziya malah menatap nasi goreng itu, kata 'Why' itu muncul lagi di kepalanya.
“Heh Asep, lu jelasin gak semalam lu mau ngapain pake deketin wajah lu ke wajah gue segala? Jangan bilang lu mau nyium gue? Lu lupa kita tuh gak ada hubungan apa-apa, kampret!” hardik Ziya pada nasi goreng di atas piring.
Ziya mendorong piring nasi goreng itu menjauh, perasaannya tak karuan tindakan Asep semalam sukses mengusik sesuatu di hatinya.
‘Astoge, lu itu kenapa sih Ziya, please ya jangan kaya gini, lu punya cowok anjir. Inget Ziya, niat lu nikahin Asep itu cuma agar lu bisa bersama Regan, cowok yang elu cinta kan?’ batinnya mengingatkan.
“Ah, gue bisa gila lama-lama!” dia berdecak kesal.
“Jam berapa sekarang?” dia melihat jam yang tergantung di dinding, waktu menunjukkan pukul 08:45.
“Kayanya gue harus berkeringat biar nih pikiran jernih lagi.”
Ziya pun memutuskan untuk Joging walau sebenarnya waktu untuk olahraga pagi sudah terlewat, tapi bukan olahraganya yang dia butuhkan tapi keringatnya. Keringat dan mendengarkan suara detak jantung sendiri membuat dia fokus dan biasanya bisa menghilangkan perasaan galau di hatinya, kalau di Jakarta biasanya dia akan pergi ke Gym jika perasaannya sedang tak karuan.
Dia melakukan peregangan sejenak, setelah itu ia pun mulai berlari-lari kecil hingga tanpa sadar langkahnya sudah mendekati ladang tempat Asep bekerja.
“Lah ko malah kesini, ck aturan gue lari kesana aja tadi, sial,” gerutunya.
“Asep,” sontak Ziya pun bersembunyi di balik dinding rumah warga saat melihat Asep tiba-tiba muncul di jalan tersebut.
“Eh kenapa gue malah sembunyi? Gue kan gak salah apa-apa?” Ziya melongokkan kepalanya untuk memastikan apa Asep sudah pergi atau belum.
Tampak Pria itu berjalan menjauh sambil menjinjing kantong kresek, “Santai banget dia, katanya kerja atau kerjanya cuma males-malesan,” cibir Ziya.
“Ck ck, ngapain kamu sembunyi disini?” tiba-tiba Siti datang dari arah belakang sambil memakan buah Jambu.
“Bukan urusan kamu,” balas Ziya acuh.
Siti ikut melongokkan kepalanya melihat kearah pandangan Ziya tertuju, “ngapain kamu ngintipin Kang Asep?” tanyanya saat menyadari apa yang tengah Ziya lihat.
“Apa sih kepo,” tukas Ziya.
“Kamu lagi berantem sama Kang Asep?” tanyanya lagi, membuat Ziya geram kemudian membalikkan badan menghadapnya.
“Berantem? Saya sama Asep, haha gak mungkin atuh, saya dan dia tuh selalu romantis, setiap pagi nih ya pas saya bangun dia tuh selalu bisikin kata-kata manis di kuping saya,” balas Ziya dengan nada bicara seperti Siti, dia sengaja mengatakan itu untuk memanas-manasi Siti.
Dan itu terbukti berhasil, Siti melempar Jambu dalam genggamannya ke tanah dengan ekspresi wajah hampir menangis.
“Oke saya mengaku kalah, saya akan biarkan kamu memiliki Kang Asep, tapi awas saja kalau kamu berani menyakiti dia,” ancamnya.
Ziya mendengus kasar sambil melipat tangan di dada, “emang kamu sesuka itu sama Asep?”
“Ya iya atuh, Kang Asep itu pemuda terbaik di kampung ini, udah ganteng, baik, sopan dan dia kaya atuh, bahkan cewek-cewek dari kampung sebelah pun banyak yang ngarep dapetin Kang Asep,” jelas Siti, dia tampak antusias saat bicara tentang Asep.
“Tunggu kata kamu Asep kaya? Serius?”
Dia melempar tatapan heran ke arah Ziya, “kamu teh gak tahu Kang Asep itu orang terkaya di kampung ini?” Ziya menggeleng pelan.
“Nih ya, kamu lihat ladang sayur yang ada disini sampai kesana, itu punyanya Kang Asep, masa kamu sebagai Istrinya gak tahu,” sinis nya seakan dia tak terima karena Ziya tidak tahu menahu tentang Idolanya.
“Woah, jadi si Asep ini orang kaya ternyata, kalau begitu aku cukup beruntung dong nikah sama dia,” ucap Ziya.
“Ya iya atuh, banyak yang patah hati tahu pas denger Kang Asep udah nikah, termasuk saya,” lirihnya wajahnya yang semula sumringah kembali layu.
“Tapi selama Kang Asep bahagia saya juga ikut bahagia, jadi awas aja kalau kamu berani nyakitin Kang Asep, saya gak akan segan-segan merebut dia dari kamu,” lagi-lagi Siti mengatakan ancaman yang sama.
Ziya hanya membuang muka sebagai tanggapan, dia tidak bisa berjanji hal seperti itu pada Siti, karena jika sudah tiba waktunya dia pun harus pergi.
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄