NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Ditukar (Hacker Tampan)

Jodoh Yang Ditukar (Hacker Tampan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rens16

Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Suasana pagi ini

Amel kembali mengeleng pelan saat matanya tak bisa diajak untuk tidur.

Rasa kenyal dan manis bibir Revan masih tertinggal di bibir Amel.

"Bego banget sih gue! Kenapa tadi pasrah banget, kayak gue cewek kecentilan!" Amel ingin berteriak dan memaki dirinya sendiri, tapi Amel sadar saat teriakkannya nanti justru membuat Revan semakin negative thinking.

Sepanjang malam itu Amel tak bisa tertidur dengan nyenyak, mata sembabnya karena kurang tidur itu menggelayuti matanya.

Dengan terpaksa Amel keluar kamar dan mendapati Revan tertidur dengan posisi tengkurap dan tanpa memakai kaosnya.

Semalam memang udara terasa sangat panas, tak heran Revan menyalakan kipas angin pada kecepatan paling tinggi untuk mengusir rasa gerah itu.

Rasa bersalah menyelusup ke hati Amel, karena keberadaannya di rumah itu, pemiliknya malah terusir dari kamarnya sendiri yang telah dilengkapi dengan pendingin udara.

Punggung lebar itu kembali menarik pikiran liar di kepala Amel, kalau bibir yang telah menjamah bibirnya kemarin begitu seksi, apalagi dada bidang itu kan?

Tuk! Amel memukul kepalanya sendiri untuk mengusir pikiran liarnya dari sana.

Amel bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Amel ingin menyiapkan sarapannya terlebih dulu sebelum dia memulai aktivitasnya.

Bau omelet sayur dan sosis panggang menguar di seluruh ruangan, membuat laki-laki tampan yang masih terlelap itu tergoda untuk membuka matanya.

Revan membuka matanya dan melihat Amel di dapur sana yang terlihat jelas dari tempat duduk Revan.

Revan bangun dan menggeliatkan badannya. Dia menyambar kaos yang semalam dia lempar begitu saja karena kegerahan.

"Masak apa?" tanya Revan sambil membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin, hmm rasanya lebih menyegarkan daripada air dingin dari dispenser.

"Omelet sayur sama sosis panggang, lo mau kentang juga atau begini aja?" tanya Amel.

"Begitu aja!" jawab Revan lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tak lama Revan keluar dari kamar mandi itu hanya berbalut handuk yang melingkari pinggangnya.

Mata Amel tak kedip menatap pemandangan indah yang baru saja melintas di depannya itu.

Revan menarik lemari plastiknya dan mengambil baju bersih dari sana dan masuk ke dalam kamar untuk memakai bajunya.

Amel terus memperhatikan Revan sampai menghilang dari pandangannya. Amel kembali memaki diri.

"Jadi mata jangan jelalatan gitu, kelihatan banget nggak pernah lihat orang topless!" maki Amel kepada dirinya sendiri dengan suara berbisik, takut terdengar oleh Revan. Hahahaha.

Ceklek! Pintu kamar itu terbuka lebar dan Revan keluar dari sana dengan baju rapi. Amel langsung berpura sibuk karena Amel tak ingin kepergok kalau dia memperhatikan Revan sejak tadi.

Amel membawa dua piring berisi sarapan mereka dan meletakkan di meja lalu Amel masuk lagi ke dapur untuk mengambil teh untuk dirinya dan Revan.

"Lo pinter banget masak deh, Mel!" puji Revan sambil menyantap sarapannya.

"Sejak mama papaku meninggal, aku udah terbiasa hidup sendiri dan mempersiapkan keperluanku sendiri!" ucap Amel.

"Emang lo nggak ikut orang tuanya Abel?" tanya Revan.

"Nggak, gue nggak mau jadi beban buat mereka!" Amel menggeleng pelan.

"Terus lo tinggal sama siapa?" tanya Revan mendadak kagum terhadap kemandirian Amel.

"Ada Bibik yang nemenin gue, Bibik ini yang ngurus gue sejak gue kecil," jawab Amel.

"Terus biaya hidup lo dapet dari mana?" tanya Revan penasaran banget dengan jalan hidup Amel.

"Ada warisan dari mama sama papa sih, itu cukup buat biaya hidup gue sampai gue bisa selesai kuliah dan mandiri seperti sekarang," jawab Amel membuat Revan semakin kagum.

"Gue salut sama lo!" puji Revan lagi.

Amel.hanya tersenyum manis, Amel bukan ingin menyombongkan diri tapi jalan hidupnya memang penuh warna dan banyak orang yanh mengatakan kagum dengan dirinya yang bisa setegar dan semandiri itu.

"Gue hari ini mau ke kampus, dari kampus gue bakalan langsung ke warung dan menyelesaikan pekerjaan gue di sana, mungkin gue pulang agak malem!" pamit Revan.

"Iya, gue juga kayaknya bakalan pulang maleman, ada design dari langganan yang harus segera gue selesaiin." Amel pun mengangguk pelan.

"Gue pergi!" Revan menyampirkan tas ranselnya di pundak tapi sebelum dia pergi, Amel meminta tangannya dan dia mencium punggung tangan Revan dengan takjim.

"Hati-hati!" ucap Amel membuat Revan salah tingkah.

"Lo juga hati-hati!"

Setelah mengatakan hal itu Revan segera berlalu dari rumahnya sambil meredakan debaran jantungnya yang menggila.

Revan melajukan motornya menuju ke kampusnya, hari ini ada kuliah pagi dan dia harus konsul ke salah satu dosen pembimbing skripsinya.

Begitu sampai di parkiran, Abel dan Eza telah menunggunya sambil bersandar di jok motor mereka.

"Hai, Van!" sapa Abel sambil cengar-cengir.

"Kenapa lo?" tanya Revan setelah dia turun dari motornya.

"Seneng aja liat lo nggak telat!" jawab Abel sambil tertawa.

"Bacot!! Gue tahu ya pikiran ngeres lo!" maki Revan sambil menggeplak kepala Abel dengan gemas.

"Sejak tadi yang diomongin Abel cuman tentang lo yang unboxing sepupunya!" Eza menyahut.

"Ashu! Kenapa lo bocorin sih, Za!" maki Abel.sambil mengejar Eza yang berlari menghindar.

Revan hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu memilih mengikuti langkah kaki kedua sahabatnya menuju kantin.

"Lo sarapan apa, Van?" tanya Eza sebelum dia memesan ke ibuk kantin.

"Gue es teh aja, udah sarapan tadi di rumah!" jawab Revan membuat kedua sahabatnya melongo.

"Lo dimasakin Amel?" tanya Abel penasaran.

"Kenapa kalau gue dimasakin Amel, masalah buat lo?" tanya Revan sambil menautkan alisnya.

"Njirrr, jadi pengen kawinn," ucap Abel.

"Nikah, Bel, nikah!" tegur Eza emosi.

"Yang bener tuh kawinn, undang-undang perkawinan bukan undang-undang pernikahan kan!" celetuk Abel tak terima.

"Serah lo deh!" Eza memilih berlalu untuk memesan makanan dan minuman untuk mereka.

"Yang punya Pak Attar udah selesai, Van? Lo udah bisa nge-hack dan ngumpulin data yang dia minta?" tanya Abel dengan suara pelan.

"Udah, kemarin udah gue selesaiin, dan bener dugaan Pak Attar kalau anak buahnya itu ada main sama suppliernya dan mainin harga buat ambil komisi!"

"Gede?" tanya Abel.

"Gede, apalagi ini udah dilakukan dari beberapa tahun yang lalu!" jawab Revan.

"Wuih mantap nih, bentar lagi bayaran dari Pak Attar turun!" sorak Abel kesenangan.

"Revan, kenapa lo blokir kontak gue?!" Dari pintu masuk sana Lula berteriak hingga membuat atensi orang fokus kepada mereka.

"Kuntilanak dateng lagi!" ucap Abel dengan nada kesal.

1
irma hidayat
mudah2an suatu saat feri menyesal
Rens16: Semogq 😍
total 1 replies
beybi T.Halim
cerita yang mengharu biru.,semangat buat para perintis
Rens16: Terima kasih buat bintang limanya 😍
total 1 replies
irma hidayat
cerita bagus
Rens16: Terima kasih 😍
total 1 replies
irma hidayat
yg keterlaluan sebenarnya kamu fery ayah yg gapantas jadi ayah, anak sendiri diabaikn
Rens16: Kita sikat yuk kak 💪🤣
total 1 replies
Soviani
jangan lama2 up nua
Rens16: oke 🤣
total 1 replies
Rini
lnjutt
Rini
lnjutt😍😍
Rens16: Siap 💪
total 1 replies
Rini
lnjuttt
Rini
lamjuttty👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!