NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi bagian

Mereka bertiga akhirnya duduk. Rendra di ujung sofa, Lala masih memilih duduk agak menyamping, sementara Fikri duduk santai di kursi seberang, satu kakinya disilangkan seolah rumah itu memang miliknya.

“Jadi...,” Fikri membuka suara sambil melirik Lala, “lo temennya Rendra dari lama ya?”

“Iya,” jawab Lala singkat. “Dari SMA.”

“Oh pantes,” katanya sambil mengangguk pelan. Tatapannya linger sedikit lebih lama dari yang seharusnya. “Aura lo beda sih.”

Lala mengernyit tipis. “Beda gimana?”

Fikri tersenyum, senyum yang nggak sepenuhnya sampai ke mata. “Cantik, tapi kelihatan bukan tipe yang gampang dideketin. Biasanya yang kayak gitu bikin penasaran.”

Lala tersenyum kecil, berusaha menetralkan suasana. “makasih. Tapi gue biasa aja kok.”

Fikri terkekeh. “Nah itu. Yang bilang ‘biasa aja’ biasanya justru nggak biasa.”

Rendra yang sejak tadi diam, menyela dengan nada ringan, nyaris bercanda.

“Ya karena dia emang beda.”

Fikri melirik Rendra, lalu kembali ke Lala. “Sering main ke sini juga?”

“Ngga udah lama ga kesini, Baru kali ini lagi,” jawab Lala jujur.

“Oh,” Fikri mengangguk pelan. “Gue kira udah sering. Soalnya akhir-akhir ini gue sama Rendra lumayan sering bareng.”

Rendra bersandar, menimpali santai. “Ya namanya tetangga.”

“Iya dong,” Fikri tertawa. “Hampir tiap pulang kerja gue ke sini. Kadang ngobrol, kadang makan bareng. Kadang ya… nemenin aja.”

Nada suaranya ringan, tapi ada sesuatu di cara ia menekankan kata nemenin.

Lala menangkap itu. Ia melirik Rendra sekilas, lalu kembali menatap ke depan.

“Rendra emang nggak suka sendirian,” kata Fikri lagi. “Apalagi belakangan ini.”

Rendra mengangguk pelan, lalu menoleh ke Lala.

“Tapi ya sekarang nggak sendirian juga.”

Kalimatnya sederhana. Nadanya datar. Tapi cukup jelas.

Fikri tersenyum, sedikit lebih lama dari sebelumnya. “Oh ya?”

“Iya,” lanjut Rendra, masih dengan nada santai. “Ada Lala.”

Hening kecil kembali jatuh di antara mereka.

Lala bisa merasakan udara di ruangan itu berubah penuh isyarat yang nggak diucapkan terang-terangan. Fikri mengangguk kecil, lalu tertawa ringan seolah tak ada apa-apa.

“Ya bagus dong,” katanya. “Temen lama emang paling ngerti.”

Rendra membalas dengan senyum kecil. Tapi cukup. Dan Lala, untuk pertama kalinya sejak pintu itu terbuka, sadar kalau obrolan ini bukan sekadar basa-basi.

Hening kecil kembali muncul. Lala menunduk sebentar, pura-pura sibuk dengan kaleng minumannya. Jarinya memutar-mutar bagian atas kaleng yang sudah dingin, padahal pikirannya mulai berisik sendiri. Ada sesuatu dari cara Fikri berbicara tadi yang terasa ganjil bukan menakutkan, tapi cukup bikin dada terasa nggak enak.

Tak lama kemudian, Fikri berdiri.

“Yaudah, gue cabut dulu ya. Kayaknya gue ganggu.”

“Hahaha nggak,” jawab Rendra cepat, nadanya terlalu ringan untuk situasi yang baru saja lewat. “Makasih makanannya.”

“Iya sama-sama,” Fikri tersenyum ke arah Lala, senyum yang sama seperti tadi tipis tapi lama. “Seneng kenal lo, La.”

Lala membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis, seperlunya saja. Ia tidak menambahkan apa pun.

Rendra mengantar Fikri sampai depan pintu. Begitu pintu tertutup dan suara langkah di luar benar-benar menghilang, Rendra langsung menyandarkan punggungnya ke daun pintu dan menghembuskan napas panjang, seperti baru saja menahan sesuatu terlalu lama.

“Huftt...”

Ia menoleh ke arah Lala. “Lo liat sendiri kan dia gimana?”

Lala yang sejak tadi duduk santai di sofa mendongak, lalu tiba-tiba tertawa keras.

“Hahahaha gilaaa. Katanya dia tuh yang nemenin lo tiap malem.”

Ia menepuk lututnya sendiri. “Cieeee, Rendra.”

“Gausah ketawa,” sahut Rendra cepat, wajahnya jelas nggak ikut lucu. “Nggak ada yang lucu sama sekali.”

“Oke-oke, duh... susah berhenti,” kata Lala sambil masih menahan tawa yang tersisa. Ia menghela napas, lalu menambahkan dengan nada lebih datar, “Tapi ya, Ren... kalo dari tampang sih lumayan loh. Nggak keliatan... ya, aneh.”

Rendra sama sekali tidak menanggapi. Ia berjalan kembali ke ruang tamu, duduk di kursi seberang Lala, menatap kosong ke arah meja. Ekspresinya bikin Lala otomatis berhenti bercanda.

“Oke, sori,” ucap Lala akhirnya, suaranya melunak. Ia menyandarkan punggung ke sofa. “Gue nggak bermaksud ngeledek.”

Rendra mengusap wajahnya sebentar, lalu lala berkata pelan, “Tapi gue kalo jadi lo juga bakal merinding sih.”

Rendra menoleh ke arah Lala. “Dia tuh terang-terangan banget. Ke lo, ke gue juga. Kayak mau nunjukin kalo dia yang ‘selalu ada’ buat gue akhir-akhir ini.”

Lala mengangguk pelan, mencoba mencerna.

“Iya... gue ngerasa itu juga,” katanya hati-hati. “Cara ngomongnya tuh kaya lagi nandain wilayah. Bukan sekadar cerita.”

Rendra menghela napas lagi, kali ini lebih berat.

“Makanya gue minta tolong lo dateng. Gue ngerasa... sendirian kalo ngadepin dia.”

Lala menoleh, menatap Rendra lebih lama dari biasanya.

“Yaudah,” katanya akhirnya. “Selama gue di sini, lo nggak sendirian. Tapi abis ini lo juga harus tegas, Ren. Jangan dikasih celah.”

Rendra menatap Lala balik, lalu mengangguk pelan.

“Iya. Makasih ya, La.”

Untuk sesaat, ruang tamu itu kembali hening. Lala melirik jam dinding yang tergantung di atas meja ruang tamu. Angkanya sudah menunjuk pukul sembilan malam. Ia menghela napas pelan.

“Udah malem...” gumamnya, lebih ke diri sendiri.

“Yuk, gue anter balik,” ucap Rendra tanpa banyak tanya. Nadanya datar tapi tegas, seolah keputusan itu sudah final.

Lala hanya mengangguk.

Rendra lalu masuk ke kamarnya. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaian yang lebih rapi kaos diganti Hoodie, celana lebih proper dan sebuah tas ransel tersampir di bahunya.

“Loh,” Lala mengernyit heran. “Mau ke mana?”

“Mau ke rumah ibu gue aja,” jawab Rendra singkat, sambil meraih kunci. “Sekalian nginep.”

“Oh...” Lala tidak melanjutkan pertanyaannya. Entah kenapa, ia merasa keputusan itu ada hubungannya dengan kejadian barusan.

Mereka keluar rumah bersama. Rendra mengunci pintu, lalu mengeluarkan motor dari garasi. Tak lama kemudian, mesin motor menyala dan mereka pun melaju di jalanan malam yang mulai lengang.

Sepanjang perjalanan, tak banyak kata terucap. Angin malam menyusup di sela jaket, lampu-lampu jalan lewat satu per satu. Biasanya mereka masih bisa bercanda, atau sekadar melempar komentar receh. Tapi malam itu, keduanya sama-sama memilih diam. Seolah semua yang perlu dibicarakan sudah habis atau justru terlalu banyak sampai tak tahu harus mulai dari mana lagi.

Tak lama, motor berhenti di depan rumah Lala.

Lala turun, melepas helm, lalu menyerahkannya kembali pada Rendra.

“Thanks ya, Ren, udah dianterin.”

“Sama-sama,” jawab Rendra. Ia ragu sebentar, lalu menambahkan, “Gue juga makasih banget. Udah mau bantuin gue.”

Ia menunduk sebentar. “Kalo nggak ada lo, mungkin dia bakal lebih lama lagi di rumah gue.”

Lala mengangkat bahu kecil.

“Apaan sih, Kaya ke siapa aja,” katanya ringan.

“Lagi pula, Ren, selama gue bisa bantu ya kenapa enggak. Jangan sungkan kalo butuh apa-apa.”

Rendra menatap Lala, lalu tersenyum. Senyum yang nggak lebay, tapi hangat.

“Iya.”

“Yaudah, gue balik ya,” katanya kemudian. “Salam sama ortu lo.”

Lala mengangguk. “Iya, hati-hati.”

Rendra menyalakan mesin motor, melirik Lala sekali lagi sebelum akhirnya melaju pergi, meninggalkan suara knalpot yang makin menjauh.

Lala berdiri sebentar di depan rumah, menatap arah motor itu menghilang di ujung jalan. Ada perasaan aneh yang tertinggal...

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
Anonymous
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
Anonymous
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!