Adven Mahardhika Alkhatiri, seorang lelaki yang penuh rahasia dalam hidupnya. Bahkan keberadaan anaknya juga menjadi rahasia dan teka teki tersendiri untuk keluarga Alkhatiri yang begitu terpandang.
Rahasia besar apakah yang selama ini dia simpan? dan mampukah dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya terhadap seorang perempuan bernama Sukma Paramitha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 ( Budi )
"Apa! Tsania punya adik?" tanya Adam terkejut
"Iya kak, namanya Tara, dia katanya tinggal di pesantren dulunya tapi aku juga tidak tahu, harus di selidiki apakah dia juga bersekongkol dengan Tsania atau tidak" jawab Adven.
Adven dan Paramitha malam itu menginap di rumah Akhtar karena dia ingin membahas soal Tara, bahkan Adam tidak menyangka kalau Tsania menyembunyikan rahasia sebesar itu darinya, entah dengan alasan apa tapi Adam yakin Tsania pasti tidak ingin adiknya itu jadi korban Monica.
"Ini bukti rekaman lalu lintas yang lebih jelas, ini tidak akan di bilang editan lagi oleh Monica, bahkan nama polisi yang menangani kasus itu ada di dalam keterangan barang bukti ini" ucap Adven
"Ini lengkap, bahkan bukti penjualan mobil Monica juga ada, handphone ini harus di serahkan pada pak Ilham, biar dia yang memeriksanya" ucap Adam
"Iya, Adam benar biar polisi yang mengurusnya" ucap Akhtar
"Munir bersedia jadi saksi, dia ingin Monica juga di penjara katanya, tapi dia juga ingin meminta keringanan hukuman karena dia hanya membantu Tsania, dia katanya harus merawat seseorang, apa mungkin itu Tara?" tanya Akhtar
"Mungkin saja dad, Tara sendirian dan dia bilang hanya tinggal dengan Munir di rumah itu" jawab Adven
"Bagaimana kondisi Syahrul?" tanya Adam
"Syahrul sudah berangsur membaik, hanya perlu ikut terapi bejalan seminggu sekali dan perban di kepalanya sudah di lepas, jahitannya juga sudah di lepas, perkembangan kesehatan sangat baik kata dokter" jawab Adven
"Syukurlah, minta Syahrul kerja jadi supir Axel saja, dia juga punya anak kan? minta anak anaknya tinggal di sini di paviliun samping kan kosong, mereka bisa tinggal di sini" ungkap Akhtar
"Iya, untuk menemani Abimanyu, supaya dia tidak kesepian" bujuk Adam
"Tadinya Adven mau minta mereka tinggal di rumah Adven, tapi Abimanyu memang lebih butuh di temani di banding Axel, Axel bisa sesekali menginap di sini, nanti Adven sampaikan ke Tante Leni" jawab Adven
"Dad, pengacara Monica juga Mencurigakan loh, dia seperti seseorang yang mengenal kita lama, bahkan waktu Adven mengatakan akan memenjarakan Monica secepatnya dia hanya bilang silahkan kalau kalian mampu dan tidak malu" ungkap Adven
"Malu kenapa, Monica memang salah kan" ucap Akhtar
"Tidak tahu dad, tapi dia terlihat sekali tidak menyukai Adven" jawab Adven
"Banyak sekali rahasia yang perlahan mulai terungkap, semoga dengan di tahannya Monica semuanya bisa berakhir dan kembali tenang" ungkap Akhtar
"Aamiin" jawab Adven dan Adam
"Dad, di depan ada Luis" ucap Jocelyn
"Luis, mau apa dia ke sini malam malam begini" gumam Akhtar
"Mommy tidak tahu, tapi dia bilang ini penting" jawab Jocelyn
Akhtar dan yang lain turun ke lantai satu untuk menemui Luis, saat sampai ruang tamu mereka begitu terkejut karena Luis datang dengan wajah babak belur, dia seperti sedang di kejar seseorang dan datang dengan membawa dokumen entah dokumen apa.
"Luis"
"Pak Akhtar, saya tidak bisa lama lama, saya titipkan surat surat rumah dan aset saya pada anda, tolong berikan ini pada anak saya Levina, dia berhak atas rumah saya karena dia keluarga terakhir saya setelah Tsania di penjara, Tara sudah punya rumah peninggalan orang tuanya" ucap Luis
"Tapi kenapa di titipkan pada kami?" tanya Adam
"Istri saya di bunuh kelompok Monica dan sekarang saya sedang di incar, saya tidak bisa lama lama, dan kalau ada berita saya meninggal karena kecelakaan, itu adalah ulah Monica dan ketua kelompok itu" ungkap Luis
"Maksud anda apa, ayo kita ke kantor polisi untuk meminta perlindungan" ajak Akhtar
"Tidak bisa, dia berbahaya pak, dia punya dendam pada keluarga Anda, saya tidak bisa membahayakan kalian" jawab Luis lalu pergi dari sana dengan terburu buru.
"Om tunggu Om" panggil Adam mengejar Luis begitupun yang lain, tapi Luis sudah menaiki mobilnya dan pergi dengan kecepatan tinggi.
"Dad, sepertinya Om Luis dalam bahaya" ucap Adven
"Vian, Rasman kalian kejar Om Luis, ikuti dia" perintah Adven
"Baik tuan" jawab keduanya segera pergi dari sana.
"Anak Luis kan ada di luar kota dad, dia kuliah di sana kan baru semester dua" ucap Jocelyn
"Apa kita jemput dia saja dad?" tanya Adam khawatir
"Minta David jemput dia, Daddy khawatir dia juga di incar, dan apa tadi Luis bilang, kelompok itu punya dendam pada keluarga Alkhatiri" gumam Akhtar
"Apa Kita pernah melakukan kesalahan di masa lalu dad?" tanya Jocelyn
"Tidak mungkin Jocelyn, aku tinggal dengan kamu di luar negri sampai anak anak kita lahir baru kita kembali ke sini" jawab Akhtar
"Mungkin mereka salah faham dengan kita dad" ucap Jocelyn
Adven tidak ikut bicara, pikirannya terus berputar tentang kata kata Luis yang mengatakan kalau ada ketua lain selain Monica, dan kecurigaan Adven ada pada Budi, Budi terlalu tenang dan itu cukup menganggu Adven.
"Mas.."
"Kita harus hati hati Mitha, sepertinya kelompok itu sekarang sudah mulai menampakkan diri karena Monica sudah ketahuan" ucap Adven
"Aku khawatir dengan Axel mas, dia pasti juga di incar" ungkap Paramitha
"Kita akan menjaga dia dengan ketat, untuk sementara kita tinggal di rumah Daddy saja dulu, rumah kita akan aku kosongkan tapi dengan penjagaan ketat" ucap Adven dan Paramitha setuju
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di depan sebuah mobil yang rusak parah. Budi berdiri dengan rokok di tangannya dan juga tangan yang berlumuran darah, itu adalah mobil Luis yang tiba tiba tergelincir di jalan dan menabrak sebuah tiang listrik.
"Dasar sekutu sialan! kamu berani berkhianat padaku dan juga kelompokku! aku akan musnahkan seluruh keluargamu sebagai ganti rugi barang bukti Monica yang hilang dan sekarang ada di tangan Adven!" kesal Budi terus menendang pintu mobil yang menjepit Luis
"Mati saja kamu, anak kamu yang di luar kota juga akan aku habisi! sama seperti Alkhatiri menghabisi keluargaku dulu!" kesalnya lagi lalu melemparkan korek api ke mobil Luis yang sudah hampir terbakar.
Dhuar.
Ledakan dahsyat terjadi, Luis yang ada di dalam mobil juga tidak bisa di selamatkan, Vian dan Rasman yang melihat itu hanya bisa tetap bersembunyi di tempat aman karena Budi datang bersama banyak anggotanya.
"Segera rekam dan hubungi tuan besar" bisik Rasman
"Kita jangan keluar dari sini, biar mereka pergi dulu baru kita pergi" bisik Vian dan Rasman mengangguk.
"Dia kejam, bahkan tidak punya belas kasihan" gumam Rasman