Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vello depresi
Selama pemrosesan laporan, kondisi Vello justru semakin memburuk. Depresi yang ia alami semakin berat dan sulit dikendalikan.
Tak sekali dua kali, Vello mengalami halusinasi. Setiap kali melihat sosok laki-laki, tubuhnya langsung menegang dan jeritannya menggema memenuhi rumah.
“Jangan sentuh aku!”
“Pergi! Pergi dari sini!”
Teriakan itu sering muncul tanpa aba-aba, membuat Maya dan Fernand hanya bisa saling pandang dengan wajah diliputi rasa takut.
Tak jarang, ketika Fernand hendak menemuinya di dalam kamar, Vello justru menjerit histeris. Tangannya gemetar, matanya liar, lalu apa pun yang ada di sekitarnya akan ia lemparkan.
“Ayah, jangan masuk dulu,” lirih Maya sering kali menahan langkah Fernand.
“Tapi dia butuh ayah, Maya,” jawab Fernand dengan suara berat.
“Dia belum siap, tolong mengerti keadaannya. Aku juga tidak tega melihat dia seperti ini,” balas Maya dengan mata berkaca-kaca.
-
Hingga pada hari berikutnya, kejadian serupa kembali terjadi.
Hari ini Fernand kembali mencoba untuk masuk kedalam kamar Velli. Ia masuk dengan membawa semangkuk buah yang sudah dikupas rapi. Ia berdiri sejenak di depan pintu kamar, menarik napas dalam sebelum memutar kenop.
Baru saja pintu terbuka, sebuah botol air mineral melayang ke arahnya.
Brak!
Botol itu menghantam dinding, nyaris mengenai wajah Fernand.
“Pergi dari sini! Pergi!” teriak Vello sambil mundur ke sudut ranjang.
“Kak Mayaaa! Tolong aku, Kak! Jangan biarkan dia mendekat!”
Fernand mengangkat kedua tangannya. Suaranya bergetar, namun tetap lembut.
“Vello, ini Ayah. Nak, lihat Ayah baik-baik.”
“Tidak! Kau Bryan! Kau Joe!” jerit Vello semakin keras. “Jangan dekati aku!”
“Vel, dengarkan Ayah,” Fernand melangkah perlahan. “Ayah tidak akan menyakitimu.”
“Pergi!” Vello kembali melempar bantal. “Pergi dari kamarku!”
Maya berlari masuk, langsung memeluk Vello dari belakang.
“Vel, ini Ayah kita sayang. Itu ayah kita. Ayah tidak akan menyentuhmu seperti mereka. Ayah akan melindungimu,” ucap Maya cepat. “Lihat kakak, Vell. Lihat! Kakak di sini.”
Napas Vello tersengal. Tangisnya pecah, tubuhnya gemetar hebat.
Fernand menelan perih di dadanya. Ia meletakkan mangkuk buah di atas meja, lalu mundur perlahan.
“Ayah di luar saja,” katanya lirih. “Kalau kamu mau Ayah, panggil Ayah.”
Tidak cukup hanya sampai disana, Vello bahkan selalu berusaha melakukan hal-hal yang sama sekali salah.
Diambang rasa putus asanya, beberapa kali Vello mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dengan berbagai cara. Dan semua itu, selalu berusaha digagalkan oleh Maya, sebab ia masih selalu berada tidak jauh dari kamar Vello.
Suatu malam, Maya mendapati pergelangan tangan adiknya berlumuran darah.
“VELLO!” Maya menjerit panik sambil meraih tangannya. “Apa yang kau lakukan?”
Vello menatap kosong. “Aku capek, Kak. Aku tidak sanggup lagi. Hidupku sudah hancur, dan aku bukan lagi wanita yang bersih. Aku kotor, Kak. Aku kotor.”
Maya menangis sambil membalut luka itu dengan tangan gemetar.
“Jangan putus asa seperti ini, Vellona,” suaranya pecah. “Kalau kau hancur sekarang, mereka akan bahagia tanpa mendapatkan balasan apa pun.”
Vello menunduk. Air matanya jatuh satu per satu.
“Aku sedang berusaha mencari keadilan untukmu,” lanjut Maya. “Aku melakukan apa pun agar mereka segera dihukum.”
“Kak…” suara Vello nyaris tak terdengar.
“Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan harapanku,” Maya memegang wajah adiknya. “Lihat aku, Vello. Lihat kakakmu ini.”
Vello mengangkat kepala perlahan.
“Selama aku hidup,” lanjut Maya terisak, “aku akan memperjuangkan segalanya untukmu.”
Tangis Maya akhirnya pecah. Kekuatan yang selama ini ia bangun runtuh seketika.
“Jangan pernah berputus asa seperti ini, sayang,” katanya dengan suara parau. “Kakak mohon, kau harus bertahan. Kau harus kuat demi kakak.”
Vello akhirnya menangis dalam pelukan Maya. Tangis yang tertahan lama itu pecah begitu saja, membawa semua kepahitan yang mereka pendam.