Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07 Kesalahan Pertama
Pagi itu Elena duduk di ruang kerja kecil yang sengaja dipilih Marcus untuknya. Meja itu menghadap ke jendela, membiarkan cahaya pagi jatuh lurus ke lantai. Ia memegang tongkatnya, tapi matanya terbuka, tenang, fokus. Hari ini Marcus akan membuat kesalahan pertamanya. Ia sudah memastikan semua prasyaratnya terpenuhi. Jadwal diubah, rapat dipadatkan, tekanan ditingkatkan. Orang yang merasa aman selalu ceroboh saat tergesa.
Pintu terbuka. Marcus masuk dengan langkah cepat. Jasnya rapi, dasinya sedikit longgar. Elena menoleh perlahan.
“Kau sudah bangun?” tanya Marcus.
“Aku tidak tidur,” jawab Elena lembut.
Marcus tersenyum. Senyum orang yang yakin memegang kendali. “Aku perlu tanda tanganmu untuk revisi kontrak lama,” katanya.
Elena mengulurkan tangan. “Letakkan di meja.”
Marcus ragu sesaat, lalu menaruh map di depan Elena. Kesalahan kecil. Ia tidak memindahkan halaman sensitif ke belakang. Elena menyentuh kertas dengan ujung jari. Ia membaca cepat, memori visualnya bekerja, menangkap angka, nama, dan satu klausul yang seharusnya tidak ada.
“Ini versi lama,” kata Elena.
Marcus mengangguk. “Ya. Lebih aman.”
Elena menunduk. “Baik.” Ia menandatangani perlahan, sengaja sedikit melenceng. Marcus tidak memperhatikan. Ia terlalu sibuk dengan ponselnya. Notifikasi masuk. Marcus membaca, lalu menghela napas.
“Masalah?” tanya Elena.
“Tidak,” jawabnya cepat.
Kesalahan kedua.
Sore itu, Selene datang membawa kabar gembira. “Investor setuju,” katanya. “Malam ini kita rayakan.”
Elena tersenyum tipis. “Selamat.”
Selene mendekat, suaranya direndahkan. “Kau aman di rumah?”
Elena mengangguk. “Aku baik-baik saja.”
Selene puas.
Malam datang dengan tawa dan musik pelan. Elena duduk di sudut, diam, menghitung langkah. Ia mendengar Marcus menyebut angka yang berbeda dari kontrak. Kesalahan ketiga.
Elena berdiri. “Aku ingin udara,” katanya.
Marcus mengangguk, sibuk dengan gelasnya. Di balkon, Elena mengirim satu pesan singkat ke nomor lama yang belum pernah ia hapus. “Sekarang.”
Balasan datang cepat. “Siap.”
Elena kembali masuk. Wajahnya tenang. Permainan berputar satu tingkat. Saat Marcus tertawa, Elena melihat retakan pertama. Bukan di dinding, tapi di keyakinannya.
Ia menutup malam dengan sopan. Dalam diam, ia mengunci bukti di tempat aman. Besok, kesalahan itu akan berkembang. Dan ketika Marcus menyadarinya, sudah terlambat.
Elena memadamkan lampu, berbaring tenang. Tirai masih tertutup. Matanya terbuka. Ia tidak terburu. Balas dendam membutuhkan waktu. Kesabaran adalah senjatanya yang paling tajam. Di luar, kota bergerak tanpa tahu. Di dalam, rencana mengeras. Kesalahan pertama telah terjadi. Dan akan disusul yang lain, lebih besar, lebih menyakitkan, lebih tak terelakkan.
Elena tersenyum tanpa kehangatan. Malam ini bukan akhir. Ini awal dari runtuhnya dunia mereka yang merasa aman. Ia menutup mata sesaat, mendengarkan detak jam. Waktu berpihak padanya. Selalu. Nafasnya teratur. Pikirannya tajam. Setiap langkah telah dihitung. Tidak ada ruang untuk belas kasihan. Keadilan datang dengan dingin.
Saat fajar berikutnya menyingsing, permainan akan semakin cepat. Dan Elena siap berlari lebih jauh dari siapa pun yang mencoba menghentikannya. Ia berdiri di tepi bayangan, tak tersentuh, tak terlihat, memegang kebenaran seperti pisau. Ketika darah akhirnya jatuh, itu bukan miliknya. Itu milik mereka yang meremehkannya. Bab ini berakhir tanpa teriakan. Namun keheningan menyimpan janji kehancuran sempurna bagi semua yang bersalah. Elena tersenyum sekali lagi, lalu diam. Malam menutup rapat. Panggung siap. Tirai akan terbuka perlahan.
Besok, satu nama akan jatuh, dan tak ada yang mampu menyelamatkannya dari kebenaran yang kejam.