Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Arena Kehampaan
Surga Keempat - Batas Gelap, Arena Kehampaan.
Armada Malam Abadi menembus kabut putih pekat. Begitu haluan kapal utama merobek tabir dimensi, pemandangan yang terhampar di depan mereka membuat napas puluhan ribu prajurit fana tertahan.
Ini bukanlah daratan, bukan pula lautan awan. Mereka berada di tengah-tengah ruang hampa kosmik yang dihiasi oleh putaran galaksi berdebu ungu dan sungai bintang yang berkedip lambat. Di pusat tata surya mini ini, mengambang sebuah lempengan batu giok raksasa seukuran benua Arena Kehampaan. Batu itu dipenuhi oleh bekas tebasan pedang purba dan kawah-kawah seukuran bulan, saksi bisu dari jutaan duel penentuan nasib antar dewa di masa lalu.
Di sekeliling arena, di atas singgasana-singgasana batu meteor yang melayang, duduk ribuan Proyeksi Roh dari para pertapa kuno Surga Keempat. Mereka diam membisu, tidak memihak, hanya menunggu darah tumpah sebagai hakim sejarah.
Dari arah berlawanan, langit kosmik terbelah oleh cahaya emas yang begitu menyilaukan hingga menyamarkan bintang-bintang.
Tiga kereta perang raksasa yang ditarik oleh sembilan naga bersisik platina turun dari celah tersebut. Di atas kereta itu, berdiri barisan Dewa Sejati dari Pengadilan Langit, mengenakan zirah suci yang memancarkan hukum alam murni. Mereka menatap armada hitam Malam Abadi dengan rasa jijik yang tak ditutup-tutupi, seolah menatap sekumpulan belatung yang merayap di atas piring emas mereka.
"Lihatlah mereka," gumam Lin Xue, pedang teratainya di pinggang berdengung pelan, merespons niat membunuh dari kubu seberang. "Arogansi mereka begitu tebal hingga bisa dipotong dengan pisau."
Shen Yu, berdiri di haluan kapal komandonya, menyeringai malas. Ia menguap pelan, mengibaskan jubah hitamnya seolah pemandangan surgawi di depannya sangat membosankan.
Di tengah arena raksasa itu, Penjaga Gerbang Nirwana bermanifestasi kembali dari kabut bintang. Suaranya menggema ke seluruh galaksi buatan tersebut.
"Turnamen Penentuan Era dimulai! Tidak ada batasan senjata, tidak ada belas kasihan, tidak ada campur tangan dari luar! Pihak Pengadilan Langit, kirimkan petarung pertama kalian!"
Dari salah satu kereta emas, terdengar tawa yang menggetarkan tata surya. Sesosok raksasa setinggi tiga puluh tombak melompat turun. Pijakannya menghantam giok arena hingga menciptakan gempa kosmik berskala kecil.
Ia adalah Dewa Raksasa Pemecah Bintang. Otot-ototnya sekeras intan surgawi, dipenuhi tato aksara petir, dan ia memanggul sebuah gada meteorit yang memancarkan gravitasi penghancur planet. Kultivasinya memancarkan tekanan absolut di ambang Dewa Sejati Tahap Menengah!
"Aku, Kuang Tian, akan membersihkan kotoran fana ini!" raung raksasa itu, menunjuk lurus ke arah kapal Shen Yu dengan gadanya. "Turunlah, Kaisar Malam! Akan kujadikan tulang rusukmu sebagai tusuk gigi!"
Di atas kapal, Yao Ji menelan ludah, wajahnya yang baru sembuh kembali memucat. Monster macam apa itu? Satu ayunan gadanya akan meremukkan gunung! Shen Yu tidak bergeser dari posisinya. Ia bahkan tidak memegang Pemutus Samsara Primordial-nya. Sang Tiran menoleh ke belakang, melirik seorang pria kurus bermata satu yang berdiri dalam diam dengan zirah compang-campingnya.
"Mo Han," panggil Shen Yu santai.
Pria bermata satu itu segera berlutut. "Hamba, Tuan!"
"Pemanasannya sudah cukup lama, bukan?" Shen Yu menendang pantat Mo Han dengan pelan, namun cukup kuat untuk melempar pria itu melayang keluar dari kapal dan jatuh berguling-guling di atas arena giok raksasa.
"Jika kau mati dalam lima tarikan napas, aku akan membangkitkan jiwamu hanya untuk membakarnya lagi selama seribu tahun," ancam Shen Yu sambil bersandar di pagar kapal.
Para Dewa di kereta emas terdiam sejenak, lalu meledak dalam tawa yang merendahkan.
"Seorang Dewa Fana Tahap Puncak?!" Dewa Raksasa Kuang Tian tertawa hingga air mata emasnya keluar. "Kaisar Malam, kau sangat ketakutan hingga mengorbankan anjing budakmu untuk menunda kematianmu sendiri?!"
Di atas arena giok, Mo Han perlahan bangkit. Ia mengusap debu dari lututnya. Alih-alih gemetar atau menunjukkan ketakutan pada raksasa setinggi tiga puluh tombak di hadapannya, Mo Han justru... tertawa.
Tawanya pelan, kering, dan dipenuhi kegilaan absolut.
Ia mendongak, menatap Dewa Raksasa itu dengan satu matanya yang tersisa. "Tujuh puluh tahun... Tujuh puluh tahun dibakar, dikuliti, dan tulangku dihancurkan setiap detiknya oleh Tuan Shen. Tahukah kau rasanya memohon kematian tapi Ketiadaan menolak menerimamu?"
Mo Han mencabut sebilah golok bergerigi yang terbuat dari sisa-sisa tulang monster dari punggungnya. Auranya, yang awalnya hanya sebatas fana, mendadak berubah menjadi pusaran niat membunuh yang begitu gelap dan liar hingga menyerupai badai darah.
"Dibandingkan dengan neraka di dalam lengan baju Tuanku," Mo Han menyeringai, memperlihatkan giginya yang tajam. "Kau hanyalah badut besar yang lembut, Dewa."
"MATI KAU, SERANGGA!" Kuang Tian murka. Ia mengayunkan gada meteoritnya dengan kekuatan penuh. Udara di sekitarnya hancur, gravitasi ditarik, mengunci tubuh Mo Han sepenuhnya agar tidak bisa menghindar.
BAMMMMMMM!
Gada raksasa itu menghantam tubuh Mo Han telak, menghancurkan arena giok seluas ratusan meter di bawahnya. Debu kosmik meledak menutupi pandangan.
"Pertarungan yang membosankan," cibir salah satu dewa di kereta emas.
Namun, di atas kapalnya, Shen Yu mulai menuangkan arak ke dalam cawannya dengan gerakan pelan, senyum tipis terukir di bibirnya.
Dari balik kepulan debu, raungan kesakitan justru keluar dari mulut Kuang Tian. Raksasa itu menarik gadanya dengan panik.
Mo Han tidak mati. Tubuhnya memang hancur separuh; bahu kirinya remuk dan darah mengalir deras, namun tangan kanannya yang memegang golok telah tertancap dalam-dalam di punggung tangan raksasa tersebut. Mo Han telah menembus pertahanan intan sang Dewa dengan memusatkan seluruh Qi fananya ke satu titik paling rentan, mengabaikan total pertahanannya sendiri.
"Hanya... gatal," bisik Mo Han, memuntahkan darah segar ke udara.
Sebelum Kuang Tian bisa bereaksi, Mo Han melompat menggunakan punggung tangan raksasa itu sebagai pijakan. Ia berlari secepat kilat menaiki lengan sang dewa. Setiap kali dewa itu mencoba menepuknya seperti nyamuk, Mo Han menggunakan Dao bertahannya yang gila untuk menerima pukulan itu, mengorbankan beberapa tulang rusuk agar momentumnya tidak terhenti.
"Singkirkan benda kotor ini dari lenganku!" jerit Kuang Tian, kehilangan akal melihat seorang fana menolak mati meski organ dalamnya telah hancur.
"Ini adalah Dao Kelangsungan Hidup yang diajarkan Kematian padaku!" Mo Han melompat ke arah wajah raksasa tersebut.
Kuang Tian membuka mulut raksasanya, memadatkan pilar petir bintang untuk menghancurkan Mo Han di udara.
Namun Mo Han tidak menghindar. Ia justru memasukkan separuh badannya langsung ke dalam mulut sang dewa sebelum petir itu meledak, menahan sengatan maut itu dengan daging fana-nya, sementara golok bergiginya diayunkan secara membabi buta dari dalam tenggorokan sang raksasa.
CRASH! ZRAAAAASH!
Darah emas menyembur dari leher Kuang Tian seperti air mancur. Raksasa setinggi tiga puluh tombak itu tersedak darahnya sendiri, petir di dalam mulutnya meledak tak terkendali karena meridiannya dipotong secara paksa dari dalam.
BUMMM!
Kuang Tian berlutut, kedua tangannya mencengkeram lehernya yang robek. Matanya mendelik ngeri sebelum akhirnya cahaya kehidupannya padam. Tubuh raksasanya ambruk menghantam arena dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Dari dalam luka robek di leher sang raksasa, sesosok tubuh berlumuran darah emas merangkak keluar. Mo Han berdiri dengan susah payah di atas mayat dewa yang sepuluh kali lipat lebih besar darinya. Napasnya putus-putus, setengah wajahnya hangus oleh petir, namun goloknya menunjuk lurus ke arah armada Pengadilan Langit.
Arena Kehampaan jatuh dalam keheningan yang sangat pekat. Ribuan pertapa kuno Surga Keempat membelalak tak percaya. Barisan Dewa Sejati Taiyi mematung seolah ditampar oleh tangan tak kasat mata.
Seorang fana... mengalahkan Dewa Sejati Tahap Menengah dengan cara bertarung layaknya anjing liar yang kelaparan?
Di atas kapalnya, Shen Yu mengangkat cawan araknya ke arah arena.
"Kerja bagus," gumam Shen Yu puas, meminum araknya dalam satu tegukan. Sang Tiran telah membuktikan bahwa fana yang ditempa di dalam neraka, jauh lebih mematikan daripada dewa yang dibuai di atas awan.