Anastasya atau biasa dipanggil Ana, seorang wanita berusia 24 tahun yang tengah mengejar gelar S1.
Pertemuan pertamanya dengan seorang laki laki membuat hidup Ana berubah. Nathaniel Francisco, seorang dosen berusia 30 tahun yang terobsesi dengan dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Alarm Ana berdering pukul 7 pagi, Ana pun langsung terbangun dari tidurnya.
Malam tadi karena sudah lelah Ana lupa untuk membuang sampah didapurnya, segera Ana pergi keluar untuk membuang sampah.
Begitu Ana membuka pintu rumah, Ana terkejut melihat mobil Nathan yang terparkir didepan rumahnya
Dan benar saja, Nathan turun dari mobilnya menghampiri Ana yang masih berantakan.
" Pak Nathan, bapa ngapain kesini pagi pagi " ucap Ana sambil merapihkan penampilannya
" Mau ajak kamu jalan hari ini "
" Kenapa bapa ga bilang? Atau ga chat saya, atau apa gitu "
" Saya mau kasih kamu kejutan Ana "
" Ya tapi saya masih berantakan gini Pak "
" Engga apa apa, kamu tetap cantik Ana "
" Yaudah, Pak Nathan tunggu aja dulu saya mau mandi sama siap siap " kata Ana yang dengan cepat membuang sampah dan kembali masuk kedalam
Nathan tersenyum melihat Ana yang nampak Panik, Nathan memang sengaja tak memberikan Ana kabar karena ia ingin memberikan kejutan
Sedangkan Ana saat ini ia tengah merasa panik, ia pun segera mandi untuk nantinya bersiap siap.
" Kenapa sih ada aja gebrakannya pagi pagi gini, kan gue malu " kata Ana sendiri
Setelah selesai mandi, Ana langsung mencari pakaian untuk ia gunakan
Hari ini Ana memutuskan untuk memakai dres selutut, dengan motif bunga. Tak lupa Ana juga merias wajahnya tipis, Ana ingin penampilannya tak mengecewakan Nathan.
Nathan menunggu Ana didalam mobil, ia tak keberatan menunggu lama. Bahkan Nathan sendiri sudah menunggu Ana sejak pukul 6 pagi.
Begitu Ana keluar dari rumah, Nathan langsung turun dari mobil dan menghampiri Ana.
" Cantik" puji Nathan
" Tumben Pak Nathan pakai kacamata ? " ucap Ana yang menyadari penampilan Nathan
" Ahh iya gimana menurut kamu ? "
" Kalau boleh saya jujur sih cocok, ya tambah ganteng lah. Yaudah ayo mau jalan sekarang kan ? "
" Iyah " ucap Nathan sambil tersenyum karena pujian Ana
Nathan membuka pintu mobilnya untuk Ana, setelah Ana masuk Nathan segera menyusul masuk kedalam.
" Kita mau kemana hari ini pak ? "
" Kemana saja, saya ingin seharian ini sama kamu "
Mobil pun mulai meninggalkan halaman rumah Ana, bagi Ana penampilan Nathan hari ini sangat berbeda dengan sebelumnya.
Hari ini Nathan terlihat lebih tampan, ditambah kacamata yang membuat Pria itu semakin tampan
" Kita sarapan dulu gimana ? " ajak Nathan dan Ana hanya mengangguk.
" Kamu mau sarapan apa Na ? Saya ikut saja "
" Dari kemarin terserah saya terus pak "
" Ya ga apa apa dong "
" Hmm yaudah sarapan bubur aja kali ya pak, disana ada bubur enak langganan saya "
" Oke, boleh kita kesana "
Sungguh Nathan adalah Pria idaman setiap Wanita menurut Ana, mungkin wanita lain akan langsung jatuh cinta dengan Nathan.
Lalu apa Ana jatuh cinta ? Ana sendiri belum merasakannya, tapi dengan Nathan rasanya Ana merasa nyaman..
Nathan sangat berbeda dengan Jeremy dulu bersama dengan Jeremy, Ana selalu lebih banyak mengalah dan merasa Ana lah yang hanya berjuang sendiri.
" Na.. Kenapa ? Ko ngelamun gitu " kata Nathan yang membuat Ana menoleh
" Engga apa apa Pak "
" Ada yang kamu pikirin ? "
" Engga ada pak, itu nanti disana berhenti ya Pak " kata Ana mengalihkan.
Mobil Nathan pun berhenti, karena hari Sabtu tempat bubur itu nampak ramai. Ana dan Nathan memutuskan untuk makan didalam mobil..
" Kenapa sih Pak ? Saya aneh ya ? " ucap Ana, karena sejak tadi Nathan terus menatap kearah Ana
" Iyah Aneh, ko bisa ya saya jatuh cinta sama kamu Na "
" Ya mana saya tau Pak "
Si penjual bubur mengantar pesanan milik Ana dan Nathan, mereka pun sarapan bersama di dalam mobil.
" Saya udah lama ga sarapan seperti ini Na " ucap Nathan sambil mengaduk buburnya
" Yaudah bapa harus rajin sarapan kalau gitu "
" Maksud saya tuh sarapan berdua gini Na "
" Oohh ya makanya bapa cari pacar, jadi biar kalau sarapan tuh ada yang nemenin"
" Kamu lupa Na ? Saya kan maunya kamu yang jadi pacar saya, tapi kamu yang nolak saya terus "
Ana tak menjawab lagi, ia justru fokus dengan bubur miliknya
Selesai sarapan Nathan kembali mengajak Ana pergi, Ana benar benar tak tau akan kemana Nathan membawa dirinya.
" Kita mau kemana sih Pak ? " tanya Ana penasaran
" Sebentar lagi sampai ko "
Mobil Nathan pun akhirnya terparkir, Nathan mengajak Ana kesebuah taman.
Keduanya turun bersamaan, begitu turun dari mobil tangan Nathan langsung menggandeng tangan Ana.
Jantung Ana berdebar-debar, tangan Nathan menggenggam erat tangan Ana.
" Kita mau ngapain kesini Pak ? "
" Ngobrol aja "
" Ngobrol apa ? Kan setiap ketemu juga kita ngobrol "
Nathan tidak lagi menjawab, hingga akhirnya keduanya duduk disebuah rumput yang menghadap kearah danau kecil.
" Gimana skripsi kamu Na ? Sudah punya judul ? "
" Belum Pak "
" Sudah pilih dosen pembimbing? "
" Sudah Pak "
" Siapa ? Saya ? "
" Rahasia, nanti juga bapa tau "
" Kalau kamu butuh bantuan saya, saya akan siap bantu kamu Na "
Ana menghembuskan nafasnya kasar, ia menoleh kearah Nathan yang sejak tadi tengah menatapnya.
" Saya cuma pengen segera lulus Pak, saya pengen cepat dapat kerja yang tetap. Jujur saya cape banget, tapi kalau saya nyerah sekarang gimana dengan dua adik dan ibu saya "
" Dulu saya pikir saya bisa lulus kuliah seperti teman teman saya, tapi ternyata diumur saya sekarang saya masih belum lulus. Bahkan teman teman saya sudah ada yang nikah, sudah kerja ditempat yang enak. Kadang saya mikir kenapa ya dunia itu ga adil, kenapa saya selalu dikasih cobaan yang saya gatau kapan selesainya"
" Sampai akhirnya terakhir saya dikhianati sama pasangan saya sendiri, tapi kadang saya juga mikir kalau mungkin Tuhan punya rencana lain. "
Nathan menggenggam tangan Ana, mengusap lembut punggung tangan Ana dengan lembut.
" Anastasya.. Sekarang kamu punya saya, kamu boleh berbagi cerita apapun ke saya. Saya tau kalau saya ini orang baru buat kamu, tapi saya pastikan kalau saya siap Na buat kamu "
" Izinin saya Na buat jadi bagian hidup kamu, saya ga akan janji apapun. Tapi saya akan usahain apapun untuk kamu, boleh kan Na ? "
Tanpa Ana sadar air matanya sudah menetes sejak tadi, Nathan mengusapnya dengan lembut.
" Jangan nangis Na, saya ga mau kamu nangis. Saya mau kamu bahagia, dan saya akan usahakan "
Ana menganggukkan kepalanya, ia pun memeluk tubuh Nathan yang ada disampingnya.