Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
(Rumah pribadi Killian di Amber City)
“Bagaimana kau bisa sampai terluka?” Cemas Araya pada Killian.
Lian saat itu tengah diobati oleh dokter pribadi keluarga. Ia tak menjawab pertanyaan Araya. Matanya tertuju pada sebuah topeng yang tergeletak di atas meja.
“Topeng wanita?” Araya meraih topeng tersebut, “Siapa dia?”
“Entahlah. Kembalikan topeng itu.” Pinta Lian.
Bersamaan setelah melemparkan topeng itu, Araya juga melemparkan sebuah disk.
“Aku kira kau enggan mengikuti acara semacam itu. Ternyata kau lebih awal menyiapkan semuanya.” Ucap Araya mendekati Killian, ia membantu Lian mengancingkan pakaiannya.
Dokter pribadi itu sudah pergi. Tersisa hanya mereka berdua di ruangan kerja Killian.
“Aku tahu ledakan itu terjadi atas perbuatanmu.” Araya menepuk lembut dada bidang pria itu, “Apa kau masih ragu untuk meminta ku bergabung pada…”
“Pulanglah…” Lian melepaskan kedua lengan Araya yang hendak memeluknya.
“Jika kau penasaran, aku dapat membantumu menemukannya.” Lanjut Araya, jelas maksudnya adalah wanita pemilik topeng itu.
Lian tidak menjawab, sorot matanya tajam menatap Araya. Wanita itu sangat mengenal Lian.
“Baiklah aku tidak akan mencari tahu.” Araya berlalu dari ruang kerja itu, “Bye Lian. Jangan terlalu bekerja keras.”
Killian kembali menatap topeng itu. Ia tak sempat melihat wajah wanita yang bersamanya dalam kebakaran tadi. Namun satu yang pasti ia mengingat aroma tubuh wanita itu serta sorot mata cemas saat dirinya terluka.
...****************...
Tiga hari berlalu.
El mematuhi setiap perkataan kakaknya. Sedari kecil ia tak pernah membantah. Untuk dapat berkuliah di Malice fakultas impian para pelajar, El harus membuktikan pada kakaknya jika ia mampu mendapat beasiswa secara utuh.
“Bagaimana kuliahmu?” Tanya Damian saat mereka tengah sarapan bersama.
“Lancar. Sebentar lagi aku akan disibukkan dengan kuliah residensi ku.” Ucap El menenggak habis air minumnya, “Apa Glen yang akan mengantarku kerumah sakit hari ini?” Tanya El melihat kehadiran Glenn saat itu.
“Sarapan dulu Glenn.” Pinta Damian kemudian, “El maafkan aku. Ada beberapa…”
“Sudahlah. Aku tidak apa. Kau pulang jam berapa? Bisa aku menjemputmu? Aku ingin makan malam diluar.” Pinta El kembali.
Damian lama tak menjawab.
“El…”
“Baiklah. Jemput aku sekitar jam 7 malam.” Sela Damian pada Glenn, ia tak ingin mengecewakan adiknya lagi.
“Tunggu aku.” Semangat El dan langsung mencium kakaknya, “Ayo Glenn kita berangkat.” Ucapnya kemudian dengan merangkul lengan Glenn membawanya keluar ruangan.
“Dia belum sarapan El.” Tegur Damian.
El hanya melambaikan tangannya membawa dua potong roti. Menandakan Glenn akan sarapan dengan roti itu.
“Apa kakimu sudah tidak sakit?” Tanya Glenn.
El hanya menggeleng. Damian dari jauh melihat mereka dari belakang ia mengetahui bahwa Glenn memiliki perasaan sayang yang sama pada adiknya. Hanya saja perasaan sayang Glenn berbeda. Ia menganggap El bukan hanya sekedar adik, lebih dari itu. Untuk saat ini Damian belum terpikirkan untuk bagaimana menghadapi Glenn, karena pria itu juga bahkan belum jujur akan perasaannya pada Elaine.
...****************...
(Lobby rumah sakit)
“Aku akan mengambil mobil di basement, bisa kau tunggu sebentar disini.” Pinta Glenn.
El hanya mengangguk dan duduk di sofa lobby rumah sakit. Namun belum ada beberapa menit ia duduk. Beberapa orang seperti pengawal masuk kedalam lobby tersebut. Ia semakin terperanjat saat melihat sosok tinggi tegap berjalan di tengahnya.
Ia jelas mengingat wajah itu. Pria yang bersamanya saat kebakaran itu terjadi. Ia tak menyangka bertemu lagi. Hanya saja El saat itu mengenakan masker, ia yakin pria itu juga tidak tahu bahwa dia lah yang bersamanya saat kebakaran itu terjadi. Dan benar saja Lian tak menghiraunya, ia berlalu begitu saja dihadapan El.
BIP BIP BIP
“Ya… aku akan keluar. Tunggu sebentar.” Ucap El saat Glenk menghubunginya.
El berjalan mendahului Lian. Tanpa menyadari sedari tadi pria itu berhenti saat mendengar suara El yang tidak asing baginya. Mungkin ia tidak mengenal wajah wanita itu, tapi untuk suara dan aroma tubuhnya jelas Killian sangat menghafalnya.
SRKKK
Lian menahan lengan El membuat langkah wanita itu terhenti. Tak ada suara dari keduanya. Hanya sorot mata yang saling beradu. Ya, Lian mengingat dua bola mata itu. Ia tak mungkin salah.
“Lian…” Sebut Araya yang berlari masuk ke dalam lobby.
Wanita itu menatap El tajam. Tanpa sadar Lian melepas genggamannya dari lengan Elaine. Tak ingin membuang kesempatan, El segera berlalu. Ia sempat menoleh kebelakang dimana Lian masih juga menatap kepergian El.
“Siapa dia? Kau mengenalnya?” Tanya Araya.
Lian tak menjawab. Ia pun berlalu menuju ruang VIP dokter pribadinya. Sama seperti El tadi, dirinya juga sedang melakukan jadwal kontrol ulang.
“Kenapa menemui dokter mu di rumah sakit? Apa dia tidak bisa datang ketempat mu?” Tanya Araya kembali.
“Dia bertemu dengan pasien sekaligus koleganya. Lagipula aku akan kembali ke kantor. Bukankah rumah sakit ini searah dengan tempat ku bekerja.” Dingin Lian, “Lagipula kenapa kau datang?”
“Aku? Apa tidak boleh.”
Lian tak menjawab. Ia selalu mengabaikan wanita itu. Baginya Araya hanya sebatas adik. Adik tirinya. Ayah nya, tuan Rick Vane menikah lagi dengan seorang wanita yang membawa satu anak. Dialah Araya.