Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Badai yang Menyingsing
Keesokan paginya, rapat darurat digelar di markas besar Grup Kusuma, namun bukan lagi Nadia yang duduk di kursi utama. Di sana, duduk Darma Kusuma, sang pemimpin sejati yang tampak baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang. Wajahnya yang sempat menyusut kini kembali memancarkan rona kemerahan yang sehat, penuh dengan tekad dan murka yang terpendam.
Nadia duduk di sisi kanan ayahnya, matanya menyiratkan kebahagiaan yang membuncah namun juga kecemasan yang membayang. Ia tidak dapat menyangkal perasaannya. Mukjizat ini terjadi pada pagi yang sama ketika Arya menjanjikan sebuah "pembersihan" tempo hari. Terlebih lagi, teh herbal yang disajikan Arya membuat tubuhnya bugar tak terkira, sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai hal sepele. Apakah semua rentetan keberuntungan dan kekayaan ini berakar dari pria kurus, pendiam yang ia nikahi secara paksa tiga tahun lalu itu?
Di sudut lain, Burhan dan Rina duduk dengan bahu menurun, wajahnya memucat, mata mereka menghindari tatapan tajam Darma dan menyembunyikan getaran tangannya di balik meja. Keberhasilan Arya menyembuhkan Darma masih seperti mimpi buruk yang enggan lenyap bagi mereka. Botol racun dari Dokter Schmidt kini berada di tangan pengacara keluarga dan polisi rahasia, tinggal menunggu waktu sampai pengkhianatan ini dibongkar tanpa ampun.
"Darma..." Rina membuka suara dengan nada memelas. "Kau... kau salah paham, Sayang. Kami hanya—"
"Tutup mulutmu, Rina," desis Darma dengan suara rendah yang membekukan seisi ruangan. "Satu tahun aku terbaring di ranjang, membiarkan tubuhku dikoyak perlahan, tanpa daya. Kalian pikir aku buta? Kalian pikir aku tuli? Aku akan memastikan, tanpa sisa sepeser pun, kalian semua keluar dari keluarga ini. Hari ini juga."
Mata Burhan melebar. Semua sahamnya, propertinya, kekuasaan yang ia bangun dengan susah payah selama Darma koma, semuanya pupus dalam hitungan detik.
Namun sebelum ia sempat memohon, sekelompok pengawal dengan setelan hitam dan tatapan tajam mendobrak masuk ruang rapat. Di belakang mereka, berdiri seorang pemuda kurus dengan jaket katun sederhana, yang penampilannya sangat kontras di ruangan bergaya Eropa klasik itu.
Itu Arya.
"Arya..." Nadia tanpa sadar bergumam pelan.
Darma tersenyum ramah melihat kedatangannya. Menantu yang dulu dianggap cacat dan diabaikan, rupanya adalah sang penyeberang lautan, sang dewa pelindung Keluarga Kusuma. "Arya, duduklah. Rapat ini perlu dihadiri oleh keluarga penuh kita."
Arya mengangguk pelan lalu duduk di salah satu kursi di ujung meja, tak terlalu peduli dengan aura tegang yang menyelimuti seluruh anggota dewan lainnya.
"Tuan-tuan, perkenalkan... Arya, menantu saya." Suara Darma kini bergemuruh, sebuah deklarasi yang tidak menyisakan ruang bagi ketidakpercayaan. "Bagi siapa saja yang dulu berani memandangnya sebelah mata, camkan di ingatan kalian bahwa dialah yang menyelamatkanku, menghapus lintah-lintah dari keluarga ini, dan... ah..." Darma menoleh ke Arya. "Apakah itu benar, soal proyek dermaga dan bantuan lima ratus miliar dari Emerald Group?"
Arya hanya mengangkat sebelah alisnya. "Anggap saja mereka hanya kebetulan lewat, Ayah."
Nadia mendengus pelan namun tak dapat menahan senyum tipis di bibirnya. Kesederhanaan Arya yang tidak dibuat-buat, namun menyimpan tenaga dan pengetahuan kuno, membuatnya seolah melihat sisi lautan yang lain dari diri Arya.
"Maka mulai hari ini," Darma kembali menatap tajam para direktur yang tampak menciut. "Burhan, Rina, kalian berdua dipecat. Semua aset atas nama kalian yang disokong dari kantong Keluarga Kusuma disita."
"Darma, kumohon! Kau tidak bisa—!" Burhan hendak menjerit, tetapi dua pengawal langsung mengapit lengannya dan menyeretnya keluar, sementara Rina hanya bisa menangis meraung-raung, seakan dunia yang selama ini ia kendalikan telah runtuh tak bersisa.
Setelah kebisingan mereda dan rapat resmi ditutup dengan perombakan total manajemen Grup Kusuma di bawah kendali Nadia, ruangan kembali hening. Arya, Darma, dan Nadia tertinggal.
Darma menarik napas panjang. "Nadia, tolong pergilah dulu. Aku perlu bicara berdua dengan Arya."
Nadia ragu sesaat, melirik Arya yang tampak sangat tenang. Ia mengangguk pelan lalu beranjak keluar, menutup pintu dengan pelan.
"Arya..." Darma memulai, pandangannya lebih tajam dari sebelumnya. "Aku tak akan menanyakan hal-hal yang tidak ingin kau jawab. Tapi, ramuan yang kau berikan kepadaku semalam... aku bukan orang bodoh. Ramuan itu tidak hanya memulihkan tubuhku, tetapi juga menghilangkan rasa lelah dan beberapa keluhan tuaku." Darma berhenti sejenak, memandang wajah pemuda yang dulu ia selamatkan dari jalanan itu. "Jika benda seperti itu jatuh ke tangan yang salah..."
"Itu hanya teh herbal yang disaring dengan baik, Ayah," potong Arya tenang, matanya tak berkedip. "Saya akan menuliskannya di secarik kertas jika Ayah ingin."
Darma terkekeh, meski dalam tawa itu tersirat kekhawatiran seorang ayah yang bijak. "Kau selalu pandai merendah, Arya. Tapi aku harus memperingatkanmu. Dunia ini tidak sesederhana yang kau lihat. Bisnis, mafia, dan kekuatan rahasia—semuanya saling bersilangan. Kekuatan medis sepertimu... kau tak akan bisa lama bersembunyi."
"Saya tak pernah berniat bersembunyi, Ayah," sahut Arya, suaranya tenang, tetapi membuat punggung Darma mendadak diliputi hawa dingin. "Mereka yang mencari penyakit, akan mendapatkan obatnya. Mereka yang mencari kematian, akan saya bantu menemukannya."
Di saat yang sama, di salah satu rumah mewah milik Keluarga Atmaja, Herman Atmaja menatap putranya, Dion, yang masih memendam kebencian.
"Aku sudah bilang, kau jangan macam-macam di depan Han Shixiong!" bentak Herman, menampar wajah Dion dengan keras. "Kau mempermalukan keluarga kita!"
"Tapi, Yah! Itu hanya si benalu Arya! Dia bersembunyi di balik jas Han Shixiong, kita tak mungkin diam saja!" sergah Dion, matanya penuh amarah. "Lagipula, aku baru saja mendapat informasi dari dokter bawah tanah. Darma Kusuma... baru saja sembuh dari koma malam ini."
Herman terbelalak. "Sembuh? Bukankah racun Schmidt tak bisa disembuhkan?!"
"Itulah masalahnya. Menurut dokter itu, racun itu dihilangkan dengan sebuah teknik yang bukan berasal dari dunia medis konvensional. Ada desas-desus, sebuah ramuan ajaib beredar," bisik Dion, tersenyum sinis. "Jika kita bisa mendapatkan formula ramuan itu, kita tak hanya bisa menghancurkan Keluarga Kusuma, tapi juga memonopoli dunia medis bawah tanah."
Herman terdiam, matanya menyipit, mempertimbangkan segala kemungkinan. Jika memang ada sebuah artefak atau ramuan sakti yang dimiliki oleh Arya atau Keluarga Kusuma, risikonya untuk berhadapan dengan Han Shixiong mungkin... setimpal.
"Hubungi 'Gagak Hitam'," ucap Herman akhirnya, suaranya dingin dan membunuh. "Kita tidak akan bergerak secara terbuka. Biarkan dunia bawah tanah yang menyelesaikan urusan si benalu itu."