NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Dunia Masa Depan / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 The Red Eye

Malam di paviliun tamu itu seharusnya menjadi waktu istirahat yang tenang bagi Shine setelah kelas memasak yang melelahkan. Namun, bagi seorang Oracle, tidur bukanlah sebuah pelarian; tidur adalah pintu masuk menuju penderitaan orang lain yang belum terjadi.

Shine terbaring di atas ranjang besarnya, tubuhnya dibalut selimut sutra yang lembut. Namun, napasnya mulai tersengal. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Di dalam benaknya, kabut hitam mulai tersingkap, menampilkan sebuah ruang ganti olahraga yang lembap dan bau apek.

Zapp!

Penglihatan itu menghantamnya dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari biasanya. Kali ini, rasa sakitnya tidak hanya fisik, tapi menusuk hingga ke ulu hati.

Ia melihat Hana. Siswi itu tersudut di antara lemari-lemari besi yang berkarat. Tiga orang siswi dengan seragam yang berantakan tertawa sembari memegang ponsel, merekam Hana yang sedang dipaksa berlutut. Salah satu dari mereka menarik rambut Hana hingga kepala gadis itu terdongak paksa.

"Kau pikir karena kau pintar, kau bisa melaporkan kami pada Jimin-seonbae?" desis salah satu perundung itu. "Lihat dirimu. Kau tidak lebih dari sampah."

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Hana. Cairan merah mulai mengalir dari sudut bibirnya. Hana tidak melawan, ia hanya memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh tanpa suara.

Di tempat tidurnya, tubuh Shine mengejang. Namun, ada yang berbeda kali ini. Biasanya Shine akan merasa ketakutan dan ingin lari. Tapi hari ini, ada sesuatu yang panas mendidih di dalam darahnya—sebuah emosi asing yang ia serap dari Jungkook selama berhari-hari.

Shine membuka matanya lebar-lebar di tengah kegelapan kamar. Jika biasanya iris matanya berubah menjadi biru redup saat mendapatkan penglihatan, kali ini warna itu perlahan terkikis, digantikan oleh semburat merah yang menyala. Merah yang melambangkan kemarahan yang meluap, seolah jiwa Shine menolak untuk diam melihat ketidakadilan tersebut.

"Hentikan..." bisik Shine. Suaranya tidak lagi rapuh. Ada nada dingin yang mengerikan di sana. "Hentikan mereka!"

Shine bangkit dari tempat tidur. Langkahnya tidak lagi gontai. Ia berjalan menuju pintu balkon, namun tangannya mencengkeram kusen pintu begitu kuat hingga kukunya memutih. Penglihatan itu terus berlanjut; ia melihat para perundung itu mulai menyalakan korek api dekat rambut Hana.

"CUKUP!" teriak Shine.

Pintu kamar paviliun itu terbuka dengan bantingan keras. Jungkook, yang memang selalu terjaga dan berjaga di sofa ruang depan, masuk dengan kecepatan kilat. Ia langsung waspada, namun langkahnya terhenti saat melihat Shine berdiri di dekat balkon.

Jungkook tertegun. Ia melihat bahu Shine naik turun karena napas yang memburu. Dan saat Shine berbalik menatapnya, Jungkook tersentak. Mata biru yang biasanya teduh itu kini berubah menjadi merah darah yang menyala di kegelapan.

"Shine?" panggil Jungkook pelan. Ia menyadari ada yang salah. Aura di sekitar Shine terasa sangat berat dan menekan, seolah-olah energi yang ia berikan pada Shine justru membakar gadis itu dari dalam karena emosinya yang tidak stabil.

"Mereka akan membakarnya, Jungkook! Mereka tertawa!" Shine menunjuk ke arah hampa, air matanya jatuh, tapi matanya tetap merah membara. "Aku ingin mereka merasakan rasa sakit yang sama. Aku ingin mereka hancur!"

Ini adalah sisi gelap dari seorang Oracle yang belum pernah dilihat oleh Jin atau Suga. Saat Oracle merasakan kemarahan yang luar biasa, mereka tidak lagi hanya melihat masa depan, tapi berpotensi merusak aliran energi di sekitar mereka. Lampu di dalam kamar mulai berkedip-kedip, dan gelas di atas nakas retak secara perlahan.

"Shine, lihat aku! Berhenti melihat ke sana!" Jungkook berteriak, mencoba memutus trans tersebut.

Ia menerjang maju, namun saat ia hendak menyentuh bahu Shine, sebuah kejutan statis yang kuat melontarkannya sedikit ke belakang. Shine sedang berada di pusat badai energinya sendiri.

"Shine! Kau bukan mereka!" Jungkook tidak menyerah. Ia tidak peduli jika kulitnya terbakar atau tersengat. Ia kembali merangsek maju, kali ini dengan paksa ia menembus dinding energi yang melindungi Shine dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Jungkook mendekap Shine dari belakang, melingkarkan lengannya yang kokoh di dada Shine, mengunci pergerakan gadis itu. Ia menekan tubuhnya rapat-rapat ke punggung Shine, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia miliki.

"Dengarkan detak jantungku, Shine! Fokus padaku, bukan pada Hana!" bisik Jungkook di telinga Shine, suaranya parau dan penuh tekanan. "Kemarahanmu akan membunuhmu sebelum kau sempat menyelamatkannya. Tarik napas, Sayang. Lakukan untukku."

Shine berontak, kukunya mencakar lengan Jungkook yang penuh tato, namun Jungkook tidak melepaskannya barang satu inci pun. Jungkook membalikkan tubuh Shine agar menghadapnya. Ia menangkup wajah Shine, memaksa gadis itu menatap matanya.

"Jungkook... sakit... hatiku sakit melihatnya..." Shine merintih, matanya yang merah perlahan mulai meredup, namun sisa-sisanya masih ada.

"Aku tahu. Aku merasakannya juga karena kau merasakannya," Jungkook menempelkan dahinya ke dahi Shine. Ia menutup mata, mencoba menyedot emosi negatif itu ke dalam dirinya sendiri. "Berikan padaku. Berikan rasa marahmu padaku. Kau tidak boleh memikul ini sendirian."

Jungkook mulai membisikkan kata-kata penenang, sebuah mantra yang bukan berasal dari buku, melainkan dari lubuk hatinya yang terdalam. Ia memeluk Shine semakin erat, seolah ingin menyatukan kedua tubuh mereka agar badai itu mereda.

Perlahan, lampu kamar berhenti berkedip. Gelas yang retak tidak jadi pecah. Warna merah di mata Shine perlahan luntur, kembali menjadi biru kristal yang bening, lalu akhirnya menjadi warna hitam aslinya saat ia mulai sadar sepenuhnya.

Shine lemas di pelukan Jungkook. "Maaf... aku hampir lepas kendali."

Jungkook menggendong Shine kembali ke tempat tidur, namun ia tidak meninggalkannya. Ia ikut duduk di samping Shine, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya. Tangan Jungkook yang sedikit memar akibat sengatan energi tadi kini mengusap punggung Shine dengan teratur.

"Itu bukan salahmu," ucap Jungkook lembut. "Energi yang kuberikan padamu... sepertinya membuat emosimu jadi sepuluh kali lebih kuat. Kau tidak hanya melihat, tapi kau mulai merasakan dorongan untuk membalas dendam. Itu berbahaya, Shine."

"Lalu bagaimana dengan Hana?" tanya Shine dengan suara parau.

Jungkook menatap jendela, matanya menunjukkan sisi dingin yang jarang ia perlihatkan pada Shine. "Besok, aku sendiri yang akan menemani Jimin-Hyung ke sekolahnya. Aku akan memastikan perundung itu tidak akan pernah bisa memegang korek api lagi seumur hidup mereka. Tapi kau harus berjanji, tetaplah di sini dan tetaplah tenang."

Shine menatap Jungkook, ia melihat perlindungan yang begitu posesif di mata koki itu. Ia menyadari satu hal; Jungkook bukan hanya baterainya, tapi dia adalah jangkar yang menahannya agar tidak terseret ke dalam kegelapan kekuatannya sendiri.

"Kenapa mataku berubah merah?" bisik Shine takut.

Jungkook mencium puncak kepala Shine, menghirup aroma lavender dari rambut gadis itu. "Karena kau adalah milikku sekarang, Shine. Dan sepertinya, sifat protektif dan kemarahanku mulai menular padamu. Kita akan menghadapi ini bersama, oke?"

Shine mengangguk, meringkuk lebih dalam di pelukan Jungkook. Di bawah sinar bulan yang masuk dari celah gorden, ia merasa bahwa meskipun masa depan penuh dengan jeritan sunyi seperti milik Hana, ia tidak akan lagi menanggungnya sendirian.

Namun di luar kamar, Suga yang sejak tadi berdiri di kegelapan lorong sambil memegang tablet medisnya, menatap layar yang menunjukkan grafik lonjakan energi Shine yang tidak normal. Ia melihat mata merah itu melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

"Resonansi ini..." gumam Suga dengan nada cemas. "Ini bukan lagi sekadar pengisian energi. Mereka mulai berbagi jiwa."

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!