NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Suasana di dalam perpustakaan itu membeku seketika saat pintu depan terbanting keras.

Aisyah melangkah masuk dengan aura yang begitu dingin, blazer biru navy-nya tampak kontras dengan kekacauan yang terjadi di ruangan itu.

Langkah kakinya terhenti tepat di depan Rizal. Ia menatap kemeja suaminya yang sobek parah, memperlihatkan dada dan luka goresan kuku di bahunya.

"Aisyah, tolong percaya sama aku," ucap Rizal dengan suara serak, napasnya masih memburu karena emosi.

Ia mencengkeram tongkatnya erat-erat agar tidak jatuh karena gemetar.

"Aku tidak memperkosa Intan. Demi Allah, dia yang menjebakku, Aisyah!"

Sebelum Aisyah sempat menjawab, Intan yang masih terduduk di lantai sambil memegangi pakaiannya yang melorot langsung menjerit histeris.

Air mata buayanya mengalir deras membasahi pipi.

"Dia bohong, Ma! Dia lelaki bejat yang hanya ingin kekayaan Mama! Dia tahu Mama sedang tidak ada, lalu dia memaksaku masuk ke sini!" teriak Intan sambil menunjuk-nunjuk Rizal.

"Dia pikir karena dia sudah jadi suami Mama, dia bisa memiliki segalanya, termasuk aku!"

Aisyah terdiam sejenak dengan wajahnya datar tanpa ekspresi, sebuah ketenangan yang justru jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.

Ia perlahan menoleh ke arah Intan yang masih sesenggukan di lantai.

"Kamu yakin dengan ucapanmu, Intan?" tanya Aisyah pendek. Suaranya rendah, namun tajam seperti sembilu.

"Mama jangan mau dibodohi lelaki miskin ini! Dia hanya mau harta kita, Ma! Dia memanfaatkan kebaikan Mama untuk menghancurkan kita dari dalam!" sahut Intan meyakinkan, berharap dukungannya pada "kekayaan keluarga" bisa melunakkan hati mamanya.

Aisyah berjalan perlahan mendekati Intan, lalu berdiri tepat di hadapannya.

Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah tablet ramping. Namun, ia tidak segera menyalakannya. Ia memberikan satu kesempatan terakhir.

"Intan, Mama tanya satu kali lagi. Jawab dengan jujur karena ini akan menentukan nasibmu selamanya," ucap Aisyah sambil menatap tajam ke dalam manik mata putrinya.

"Kamu yakin kalau Rizal memang mencoba memerkosa kamu?"

Intan menelan salivanya sambil melirik ke arah pintu, membayangkan Hadi yang mungkin sedang menunggu kabar keberhasilan rencana ini.

Dengan penuh keyakinan dan wajah yang disedih-sedihkan, Intan menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"Iya, Ma. Dia binatang! Dia menyerangku saat aku baru saja mau mengantarkan minum untuknya."

Mendengar itu, Rizal memejamkan mata, merasa dunianya runtuh karena fitnah yang begitu keji.

Madame Claire yang berdiri di sudut ruangan pun tampak memandang Rizal dengan tatapan jijik.

Namun, detik berikutnya, terdengar suara denting kecil dari tablet di tangan Aisyah.

"Sayang sekali, Intan," ucap Aisyah dengan nada bicara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan tanpa ampun.

"Padahal Mama berharap ada sedikit saja kejujuran yang tersisa di hatimu."

Aisyah memutar layar tablet itu ke arah Intan dan Madame Claire.

Di layar tersebut, terlihat rekaman video dengan sudut pandang dari atas lemari buku.

Video itu memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana Intan masuk ke perpustakaan dengan pakaian seksi, bagaimana ia merayu Rizal yang sedang duduk tenang, hingga momen di mana Intan sendiri yang menarik kemeja Rizal sampai robek sebelum akhirnya Rizal mendorongnya untuk membela diri.

Wajah Intan mendadak pucat pasi, lebih pucat dari mayat.

Tangisnya berhenti seketika, digantikan oleh rasa horor yang luar biasa.

"Ini, apa, Ma?" tanya Intan dengan suara yang hilang kekuatannya.

"Itu adalah bukti bahwa putriku bukan hanya seorang pembohong, tapi juga seorang penjahat yang menjijikkan," desis Aisyah.

Aisyah menghela napas panjang, sebuah hembusan napas yang sarat akan kekecewaan mendalam.

Ia mematikan layar tablet itu dan menatap Intan dengan pandangan yang seolah-olah putrinya itu sudah mati di matanya.

"Cukup, Intan. Karena kamu sudah berani memfitnah suamiku secara keji di depan orang lain, mulai sekarang, tinggalkan rumah ini sekarang juga!" suara Aisyah menggelegar, dingin dan tak terbantahkan.

Intan membeku. Rencana busuknya bersama Hadi hancur berkeping-keping dalam sekejap. Ia merangkak mendekati kaki Aisyah, mencoba meraih ujung celana ibunya.

"Ma, Intan minta maaf! Intan khilaf, Ma! Intan cuma takut kehilangan perhatian Mama karena lelaki ini!" isak Intan, kali ini air matanya benar-benar nyata karena ketakutan akan menjadi gelandangan.

Namun Aisyah menarik kakinya menjauh. "Khilaf itu satu kali, Intan. Kalau direncanakan dengan memakai baju seperti ini dan akting seperti tadi, itu namanya jahat. Bi Inah!" panggil Aisyah tanpa menoleh.

Bi Inah segera mendekat. "Iya, Nyonya?"

"Bi, masukkan semua pakaian Intan ke dalam koper seadanya. Lalu panggil Pak Indra. Minta Pak Indra untuk mengantarkan Intan dan barang-barangnya ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota yang sudah aku siapkan. Jangan berikan dia uang sepeser pun selain biaya sewa bulan pertama," perintah Aisyah tegas.

Intan menjerit histeris saat Bi Inah menarik lengannya keluar dari perpustakaan.

Ia berteriak memanggil nama mamanya, namun Aisyah tetap bergeming.

Aisyah kemudian berbalik menghadap Madame Claire yang masih berdiri kaku di sudut ruangan. Wajah Aisyah melunak, penuh rasa malu.

"Madame, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya karena Anda harus melihat drama keluarga yang memalukan ini secara langsung," ucap Aisyah tulus.

Madame Claire mengangguk perlahan, ekspresi jijiknya pada Rizal tadi kini berubah menjadi rasa simpati yang mendalam. Ia merapikan kacamatanya.

"Saya mengerti, Nyonya. Kebenaran memang terkadang pahit. Besok saya akan kembali lagi ke sini untuk memulai pelajaran Tuan Rizal. Saya harap suasana sudah lebih tenang," ucapnya sebelum berpamitan keluar.

Setelah ruangan itu sepi, hanya menyisakan Rizal dan Aisyah, keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka. Rizal masih terduduk di kursi, bahunya merosot, menatap kemejanya yang sobek dengan pandangan kosong. Tubuhnya sedikit bergetar.

Aisyah mendekat, berlutut di hadapan suaminya. Ia mengambil kotak P3K yang tadi ditinggalkan Bi Inah.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai mengusap luka goresan di dada Rizal dengan kapas alkohol.

Rizal meringis pelan, bukan karena perihnya alkohol, tapi karena luka di harga dirinya.

"Aisyah..." bisik Rizal pelan.

"Kenapa kamu sampai memasang CCTV? Apa kamu tidak percaya padaku sejak awal?"

Aisyah mendongak. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia memegang tangan Rizal yang dingin.

"Maaf ya, Mas..." ucap Aisyah dengan suara terisak.

"Aku memasangnya bukan karena tidak percaya padamu. Aku memasangnya karena aku tahu betapa jahatnya Intan dan Hadi. Aku ingin melindungimu, tapi aku tidak menyangka dia akan senekat ini sampai merobek pakaianmu."

Aisyah menempelkan keningnya pada tangan Rizal, bahunya berguncang karena tangis.

"Maafkan aku karena menyeretmu ke dalam kerumitan keluargaku. Seharusnya aku lebih menjagamu, Mas. Maafkan aku..."

Rizal tertegun. Ia melihat ketulusan yang luar biasa dari istrinya. Ia mengangkat tangannya yang bebas, mengusap air mata di pipi Aisyah.

Ternyata, di balik ketegasan wanita hebat ini, ada hati yang sangat rapuh yang hanya ingin melindunginya.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!