"Lembayung Senja" mengisahkan perjalanan Arka, seorang siswa puitis dan ceroboh, yang nekat menembos pagar batas antara guru dan murid demi memenangkan hati Ibu Senja. Di setiap upayanya menyatakan cinta lewat puisi-puisi tingkat dewa, Arka justru terperosok ke dalam lubang komedi yang memalukan. Namun, di balik tawa dan salah paham, terdapat sebuah proses pendewasaan yang menyakitkan bagi Arka: memahami bahwa tidak semua puisi memiliki ending bahagia, dan bahwa kadang-kadang, cinta terlarang hanyalah sebuah prosa pendek yang harus selesai di tengah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PapaBian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siluet di Antara Dua Alamat Surel: Tentang Takut yang Menjelma Jeda
Barangkali, memori adalah sebuah hard drive yang memiliki ribuan bad sector; bagian-bagian yang rusak namun tetap memaksa untuk dibaca oleh sistem. Aku selalu berpikir bahwa melupakan adalah sebuah proses mekanis yang sederhana, seperti menekan tombol delete pada draf yang tak kunjung selesai. Namun, satu tahun perjalananku di kota ini membuktikan bahwa kenangan bukanlah sekadar data digital yang bisa dihapus dengan sekali klik. Ia adalah residu, sisa-sisa pembakaran emosi yang mengendap di dasar cangkir kopi, atau mungkin seperti kaset pita yang pitanya sudah terlalu tipis karena diputar berulang-ulang pada bagian yang paling menyayat hati. Aku terjebak dalam sebuah paradoks ruang dan waktu, di mana raga ini melangkah di trotoar kampus ternama, namun jiwaku masih tertinggal di sebuah koridor sekolah berdebu, menatap punggung yang dipaksakan tegak di bawah langit yang tak lagi berwarna lembayung.
Di sini, di kota yang lebih dingin dan bising ini, aku mencoba mendefinisikan ulang siapa itu Arka. Aku bukan lagi siswa kelas 12 IPA yang tersesat di antara rumus-rumus kaku. Aku kini adalah mahasiswa jurusan Sastra, seorang pengelana di dunia kata-kata yang seharusnya sudah mampu menundukkan rima paling liar sekalipun. Namun, nyatanya aku tetaplah seorang pengecut yang gemetar setiap kali melihat pendar cahaya monitor CRT di bilik warnet yang pengap.
"Woi, Ka! Billing lo sisa lima menit lagi nih. Mau nambah apa mau balik ke kosan?" suara Gilang membuyarkan lamunanku.Gilang adalah teman baru yang kutemui di kampus ini, persahabatan yang di awali dari sesi OSPEK sampai kami duduk di ruang kelas fakultas yang sama. Ia duduk di bilik sebelah, tangannya masih sibuk menggerakkan mouse tua yang bolanya sering tersendat karena debu. Aroma mi instan dan asap rokok dari bilik-bilik lain di "Matrix Warnet" ini seolah menjadi latar musik bagi kesunyianku.
Aku membetulkan letak kacamata tebal yang melorot ke ujung hidungku, sebuah kebiasaan yang tak kunjung hilang meski aku sudah mengganti bingkainya. "Santai, Lang. Gue kelarin dikit lagi. Lo duluan aja kalau mau nyari makan," balasku dengan dialek prokem yang mulai terbiasa di lidahku sejak merantau ke kota ini.
"Gaya lo, Ka. Pasti lagi nungguin e-mail dari gebetan lama ya? Bokis banget kalau lo bilang lo ke warnet cuma buat ngerjain tugas kritik sastra," Gilang menyeringai, lalu berdiri sambil menepuk bahuku keras. "Gue cabut ya. Jangan kelamaan nunggu yang nggak pasti. Inget, Nadia udah nungguin lo di kantin fakultas tadi."
Aku hanya tersenyum tipis—senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata. Begitu Gilang menghilang di balik pintu kaca warnet yang buram, aku kembali menatap layar monitor 14 inci di hadapanku. Di barisan alamat peramban, aku mengetikkan alamat situs Yahoo! Mail. Jantungku berdegup dengan ritme yang lebih riuh dari suara kipas CPU di bawah meja.
Ada dua identitas yang kusimpan di dalam kotak masuk digital ini. Alamat e-mail kedua adalah duniaku yang sekarang—berisi korespondensi tugas kuliah, pengumuman organisasi, dan pesan-pesan dari teman-teman baru. Namun, ada satu alamat e-mail primer yang tidak pernah lagi kubuka setahub terakhir ini, Alamat yang kutuliskan di atas selembar kertas putih dan kusembelih di antara telapak tangan Bu Senja di atas pelaminan yang beraroma melati dan kepalsuan.
Aku masih ingat dengan sangat jelas bayangan itu. Senja—manifestasi puisi yang tak pernah mampu kutuntaskan—duduk bersanding dengan Pak Yono. Ia mengenakan kebaya yang indah, namun wajahnya adalah sebuah kanvas penderitaan yang dipulas dengan senyum paksa. Matanya yang bulat di balik kacamata itu tampak kosong, seolah-olah seluruh jiwanya telah menguap di bawah lampu kristal gedung pernikahan yang silau. Saat aku menyalaminya, aku menyelipkan kertas itu. Selembar kertas yang berisi alamat e-mail khusus dan sebuah panggilan hati: "Jika sangkar itu terlalu sesak, bicaralah padaku di sini. Aku akan selalu menjadi tanda koma bagi setiap kalimatmu yang terputus."
Namun, setahun telah berlalu, dan aku tidak pernah memiliki keberanian untuk menekan tombol login pada akun itu. Setiap kali jempolku melayang di atas tombol enter setelah mengetikkan kata sandi, ketakutan yang luar biasa selalu menarikku mundur. Aku takut jika saat aku masuk nanti, aku akan menemukan sebuah e-mail darinya. Bukan e-mail yang berisi rindu, melainkan sebuah pesan singkat yang memintaku untuk melupakan segalanya. Aku takut jika harapan terakhirku justru menjadi belati yang memotong urat nadiku secara digital.
Lebih baik membiarkan akun itu tetap menjadi misteri yang sunyi, daripada harus menghadapi kenyataan bahwa ia benar-benar telah menjadi milik Pak Yono sepenuhnya.
Aku mengarahkan kursor dengan ragu, lalu dengan gerakan cepat, aku menutup tab akun tersebut dan membuka e-mail keduaku. Kosong. Hanya ada satu pesan baru dari Nadia.
Nadia adalah anomali di kampus ini. Ia mahasiswi Sastra yang memiliki ketajaman analisis dan kelembutan yang anehnya mengingatkanku pada sosok Senja, meski ia jauh lebih blak-blakan. Ia berkali-kali mencoba menyentuh palung jiwaku yang terdalam, mencoba masuk ke dalam labirin melankoliku yang gelap. Namun, aku selalu membangun benteng yang lebih tinggi setiap kali ia mendekat.
"Arka, aku di perpustakaan pusat. Ada buku puisi baru karya Sapardi. Kamu mau lihat?" isi pesannya singkat.
Aku menghela napas panjang. Aku tahu apa yang Nadia inginkan, namun hatiku telah menjadi sebuah ruang yang terkunci rapat sejak kunci cadangannya kubawa pergi dari SMA Harapan Bangsa. Bagiku, membuka hati untuk wanita lain terasa seperti melakukan pengkhianatan terhadap sebuah janji yang bahkan tidak pernah diikrarkan secara resmi. Aku merasa seperti seorang penjaga mercusuar yang tetap menyalakan api di tengah badai, meski kapalnya sudah lama karam di dasar samudera.
Aku keluar dari warnet dengan langkah gontai. Udara sore di luar terasa menusuk kulit, membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan reda. Aku meraba saku jaket, menemukan kartu telepon koin yang sudah usang dan berkarat—sebuah jimat dari masa lalu yang tak pernah sanggup kubuang.
Dalam pikiranku, aku masih melihat Senja di ujung koridor itu. Punggungnya yang tegak namun rapuh, langkahnya yang menjauh saat aku mencoba memberikan kepastian di hari kelulusan. Ia memilih untuk menjadi patung di dalam narasi orang lain daripada menjadi lembayung bersamaku.
Aku berjalan menuju fakultas, melewati barisan mahasiswa yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Di antara kerumunan itu, aku merasa seperti sebuah kata yang salah cetak di dalam sebuah novel klasik. Aku adalah Arka, mahasiswa sastra yang mahir menulis metafora tentang kehilangan, namun gagal total dalam mempraktikkan cara melepaskan.
Setahun telah berlalu, dan aku masih tetap menjadi Arka yang ceroboh—kali ini bukan karena tersandung kaki meja atau menelan kertas, melainkan karena aku tersandung oleh bayanganku sendiri. Aku terus menanti sebuah sinyal dari sebuah alamat surel yang tak pernah berani kuakses, di tengah dunia yang terus bergerak maju sementara aku memilih untuk membeku di dalam sebuah draf yang tak akan pernah menjadi naskah final.
Nadia melambai ke arahku dari teras perpustakaan. Ia tersenyum, sebuah senyum yang jujur dan hangat. Aku membalasnya dengan anggukan sopan, namun di dalam benakku, aku justru bertanya-tanya: Senja, apakah kau pernah benar-benar membuka kertas itu? Ataukah alamat e-mail-ku kini hanya menjadi debu di dasar tempat sampah pernikahanmu yang sempurna?
Mungkin benar apa yang kurasakan dulu; cinta memang bentuk penderitaan tertinggi yang indah, dan aku sedang menikmati setiap perihnya di bawah langit kota yang tak pernah benar-benar menjanjikan sebuah fajar yang baru.