NovelToon NovelToon
Gus, I'Am In Love

Gus, I'Am In Love

Status: tamat
Genre:Obsesi / Beda Usia / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:379
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayi Laki- Laki

Tangisan kencang bayi laki-laki itu bergema di seluruh penjuru ruang persalinan, memecah ketegangan yang sempat mencekam. Zayn mengembuskan napas panjang, air matanya jatuh tanpa permisi saat melihat sosok mungil yang merah dan sehat itu diletakkan di dada Abigail.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di luar ruang persalinan, suasana justru berubah menjadi hiruk-pikuk yang luar biasa.

Suara langkah kaki yang terburu-buru dan deru mobil mewah terdengar di lobi rumah sakit. Mr. Hernandez, ayah Abigail, datang langsung dari New York dengan jet pribadinya, masih mengenakan setelan jas formal yang tampak kusut karena panik. Di belakangnya, kakak-kakak ipar Abigail, para pria New York yang berbadan tegap dan bergaya necis, berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan wajah yang sangat tegang.

"Di mana putriku?! Apa dia baik-baik saja?!" teriak Mr. Hernandez saat melihat Zayn keluar dari ruang persalinan dengan baju steril yang masih menempel.

Para ipar Abigail langsung mengerumuni Zayn. "Zayn, katakan sesuatu! Bagaimana adik kami? Kenapa lama sekali?!" cecar salah satu kakak Abigail dengan nada bicara yang cepat khas orang Amerika.

Zayn, yang baru saja melewati momen paling emosional dalam hidupnya, hanya bisa tersenyum tipis. Ia mengangkat tangannya untuk menenangkan keributan itu. "Tenang, semuanya. Abigail baik-baik saja. Dia sangat kuat."

Zayn kemudian menepi, memberikan jalan saat perawat mendorong boks bayi keluar. "Dan ini... cucu laki-laki Anda, Pah. Keponakan kalian."

Seketika, suasana yang tadinya panik berubah menjadi penuh haru. Mr. Hernandez, pria tangguh yang biasanya dingin dalam urusan bisnis, terpaku menatap bayi mungil yang memiliki garis wajah tegas seperti Zayn namun dengan hidung mancung khas keluarga Hernandez.

"Dia... dia sangat tampan," bisik Mr. Hernandez dengan suara serak. "Mirip sekali denganmu, Zayn, tapi dia punya mata Abigail."

Para ipar Abigail yang tadi terlihat sangar, kini justru berebut ingin melihat lebih dekat, wajah panik mereka berganti dengan senyum bangga. Mereka tidak menyangka adik kecil mereka yang dulu liar di Manhattan, kini telah menjadi seorang ibu di sebuah pesantren di Jawa.

Zayn kembali masuk ke kamar rawat dan duduk di samping ranjang Abigail yang masih tampak lemas namun sangat bahagia.

"Mas... apa Papah sudah datang?" tanya Abigail lemah.

"Sudah, Sayang. Papahmu dan kakak-kakakmu hampir merobohkan rumah sakit ini karena panik," goda Zayn sambil mencium kening Abigail. "Tapi sekarang mereka semua sedang jatuh cinta pada putra kita."

Zayn kemudian mengambil bayi itu dari boksnya, menggendongnya dengan sangat hati-hati, lalu mendekatkan wajah mungil itu ke telinganya. Di depan Abigail dan disaksikan oleh keluarga besar yang mengintip dari balik pintu, Zayn melantunkan adzan dengan suara baritonnya yang sangat merdu dan syahdu.

Seluruh ruangan mendadak hening. Para ipar Abigail yang tidak mengerti bahasa Arab sekalipun, bisa merasakan getaran spiritual dan ketenangan dari suara Zayn. Mereka menyadari bahwa Abigail tidak salah memilih suami, Zayn adalah pria yang mampu memberikan kedamaian sekaligus perlindungan maksimal.

"Selamat datang di dunia, jagoan ayah," bisik Zayn setelah mengakhiri adzannya, membuat Abigail kembali menangis haru.

Suasana di ruang rawat VIP itu mendadak hangat sekaligus sedikit memanas, bukan karena amarah, tapi karena semangat dua budaya yang saling beradu. Abigail yang masih berbaring di ranjang hanya bisa tersenyum melihat suaminya dan ayahnya duduk berhadapan dengan daftar nama di tangan masing-masing.

Mr. Hernandez berdehem, ia menunjukkan catatan di ponselnya. "Zayn, dengar. Dia lahir di keluarga Hernandez juga. Aku ingin dia punya nama yang kuat di New York. Bagaimana kalau Alexander? Alexander Hernandez. Itu terdengar seperti nama seorang penakluk."

Zayn tersenyum hormat, namun ia menggeleng pelan dengan gaya tenang khasnya. "Nama yang bagus, Dad. Tapi sebagai anak pertama dari sebuah pesantren, dia akan memikul tanggung jawab besar di sini. Aku ingin namanya diawali dengan Muhammad. Muhammad adalah sebaik-baiknya nama."

"Zayn, Ayolah," timpal kakak tertua Abigail, Brandon, yang berdiri di sudut ruangan. "Di New York, dia akan dipanggil Mo? Itu tidak keren. Bagaimana kalau Xavier? Muhammad Xavier?"

Zayn tampak berpikir. Ia melirik Abigail, meminta dukungan. Abigail memberi kode agar Zayn menggunakan kecerdasannya untuk menggabungkan dua dunia ini.

Zayn kemudian mengambil secarik kertas. Ia menuliskan sebuah nama dengan tulisan kaligrafi yang indah, lalu menyerahkannya pada Mr. Hernandez.

"Bagaimana kalau Nama Muhammad Zavier Hernandez ??"

Zayn menjelaskan dengan tenang, "Dalam bahasa Arab, Zavier atau Zavyer itu berasal dari akar kata Zavy yang berarti bersinar atau bercahaya. Dan di Barat, Xavier adalah nama yang sangat dihormati dan gagah. Kita hanya mengubah satu huruf di depan, tapi maknanya tetap menyatu."

Mr. Hernandez mengeja nama itu perlahan. "Muhammad... Zavier... Hernandez. Zavier. Kedengarannya modern, tapi tetap punya akar yang kuat."

"Dan untuk nama tengahnya," lanjut Zayn sambil menatap Abigail dengan cinta, "aku ingin menyematkan Aydan. Dalam bahasa Arab artinya pemuda yang bersemangat, dan di New York, Aydan adalah nama yang sangat populer dan ramah di telinga mereka."

Abigail bersuara dari ranjangnya, "Mas, aku suka itu. Muhammad Zavier Aydan. Zavier untuk cahaya, Aydan untuk semangatnya. Dan dia tetap seorang Hernandez."

Mr. Hernandez akhirnya tertawa lebar dan menepuk bahu Zayn dengan keras. "Kau pintar bernegosiasi, Zayn. Kau memberikan apa yang aku mau tanpa kehilangan jati dirimu sebagai seorang Gus. Baiklah, cucuku adalah Zavier!"

Para ipar Abigail pun bersorak kecil sambil ber-tos ria. Mereka merasa bangga karena keponakan mereka punya nama yang bisa masuk di barisan santri saat mengaji, namun tetap terlihat mahal saat nanti diajak jalan-jalan di Fifth Avenue, New York.

Zayn kemudian menggendong Zavier kecil dan membisikkan nama itu di telinganya. "Selamat datang, Muhammad Zavier Aydan. Jadilah cahaya yang menerangi pesantren ini dan juga dunia luar sana dengan keberanianmu."

Abigail menarik tangan Zayn, menciumnya dengan rasa syukur. "Terima kasih, Mas. Itu nama yang sempurna."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading😍😍😍

1
ros 🍂
😍😍
kalea rizuky
suka deh endingnya
kalea rizuky
hot ya gus/Curse/
kalea rizuky
bagus deh q baru baca novel mu yg andrian ke anak cucunya skg nemu ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!