Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Karina duduk di kursi dekat jendela yang menghadap halaman belakang, ia mengambil sebuah buku yang berjudul Demon silence.
“Apa ini buku sekte?” Gumam Karina berlama-lama mengamati sampul buku tersebut. Sampul berwarna hitam dan judulnya ditulis oleh tinta merah atau mungkin darah.
“Astaga tidak mungkin darah, hentikan pikiran mengerikan itu, Karina.” Karina menegur dirinya sendiri sambil menggeleng. Selain warna hitam dan judul yang terdiri dari dua kata, tidak ada apapun di sampul itu.
Karina menatap ke depan sejenak, ke arah taman belakang yang luas dan sepi. Ia menyipitkan mata, di tengah taman, seorang anak kecil berambut cokelat panjang berdiri. Anak itu menatap ke arahnya tanpa berkedip, dia mengenakan gaun putih sederhana.
Perlahan Karina berdiri, masih memegang buku. Ia menempelkan wajahnya ke kaca untuk melihat wajah anak itu lebih jelas.
Bibir anak itu bergerak-gerak seperti sedang mengatakan sesuatu, Karina berusaha menebaknya. Namun tentu Karina tidak bisa langsung menebaknya jika hanya dalam satu kali percobaan. Anak itu diam, tidak bicara lagi, hanya menatap Karina. Kemudian anak itu berbalik, dan menghilang diantara bunga-bunga cantik yang sedang mekar.
“Nona,”
Karina terlonjak kaget, menoleh ke samping dan mendapati Ranra berdiri sambil tersenyum formal.
“Ada apa? Apa Tuanmu sudah memperbolehkan semua orang pergi?” Tanya Karina dengan nada jutek.
“Anda dipanggil Tuan ke ruang kerjanya, mari saya antarkan.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Tidak apa-apa, saya bisa menyampaikannya pada Tuan.” Ranra mendekat, dan berbisik. “Tapi biasanya penolakan selalu berakhir kehilangan.”
Punggung Karina menjadi dingin, tidak punya pilihan lain, ia mengangguk lemah.
“Keputusan yang bijak,” Ranra berbalik dan memberi isyarat supaya Karina mengikutinya. Itu bukan keputusan yang bijak melainkan karena Karina tidak punya pilihan lain.
Ruang kerja Hugo berada tepat di samping Perpustakaan, Ranra membukakan pintu. “Silahkan, Nona.”
“Cih!” Karina berdecih singkat kemudian masuk ke dalam dengan wajah masam.
Hugo sedang duduk di kursi kerjanya, matanya begitu fokus menatap komputer, garis wajahnya yang tegas membuatnya tampak tampan dan mendominasi saat sedang fokus ke sesuatu.
“Tuan Fuller, ada apa anda memanggil saya?” Tanya Karina berdiri di depan mejanya, ia menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan diri dan jantung yang sejak melihat wajah Hugo berdebar tidak karuan. 'dasar jantung kurang ajar, bisa-bisanya dia berdebar karena orang mengerikan ini.’ gerutunya dalam hati.
“Kemarilah,” Hugo mendorong kursinya ke belakang, lalu menepuk pahanya. Maksudnya jelas, dia ingin Karina duduk di sana, di pahanya!
“Ha-ha,” Karina tertawa serak, “aku tidak mengerti maksudmu.”
“Kalau begitu saat aku mematahkan lehermu, kamu akan mengerti.”
Kata-kata mengerikan kembali keluar dari mulut Hugo.
“Oh! Aku tiba-tiba bisa mengerti.” Wajah Karina memucat, namun ia memaksa bibirnya untuk tersenyum. “Aku akan duduk.”
Dengan wajah merah padam, Karina pun duduk di paha Hugo dengan menghadap ke depan. Sebelah tangan Hugo memegang mouse, sementara tangan lainnya diletakkan di pinggang Karina.
Saat menatap ke layar komputer, perut Karina mual. Di layar itu, ia melihat beberapa gambar mengerikan dan berdarah. Karina menutup matanya, tidak berani menatap lebih lama atau isi perutnya akan keluar disini.
“Lihat, kamu harus terbiasa.” Bisik Hugo sambil menjilati daun telinga Karina.
'orang gila!’ Karina masih menutup matanya, tidak berani melihat.
“Kalau aku perintahkan untuk melihatnya, kamu harus melihatnya.” Kata Hugo dingin.
“K–kenapa kamu melakukan ini? Apa salahku?” Tanya Karina membuka matanya, dan berharap ia tidak melihat apapun lagi di layar itu.
“Kamu akan ingat nanti,”
Karina terdiam. Benarkah ia punya salah pada pria ini? Tapi ia yakin sekali tidak mengenalnya, ia juga tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini. Kalau ia benar-benar punya salah, kenapa ia tidak bisa ingat? Itu berarti ia tidak punya salah kan?
“kamu bisa mengatakannya sekarang, aku benar-benar minta maaf jika memang ada salah.” Kata Karina setengah memohon.
Hugo mengusap lembut pinggang Karina lalu perlahan mulai naik ke dadanya. “Kamu akan tahu nanti, seseorang harus tahu kesalahannya tanpa perlu diingatkan.”
Hugo mematikan komputernya, kemudian dalam sekali sentakan keras memutar tubuh Karina menghadapnya. Mata tajam pria itu menatap Karina dalam dan penuh arti. Bibirnya tersenyum miring. Dan jika dikombinasikan akan tampak berbahaya.
“Mari kita lakukan lagi, disini, barangkali kamu akan cepat mengingatnya.” Hugo tersenyum lebih lebar.
“Aku…” Karina hanya bisa pasrah menerima semua yang dilakukan Hugo padanya, jika ia melawan kematian akan mendatanginya lebih cepat.
Mereka akhirnya kembali menyatukan diri di ruang kerja Hugo.
Karina takut, namun tidak munafik apa yang mereka lakukan benar-benar enak. Ia tidak tahu kalau hubungan antara pria dan wanita bisa se-menyenangkan ini.
'tapi dia mengerikan, seorang kanibal yang suatu saat akan benar-benar memakanmu.’
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor