NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Suara sendok dan gelas saling beradu. Aroma minyak goreng menyesaki udara, tapi yang paling menyesakkan bukan itu, melainkan suara-suara kecil yang terdengar seperti bisikan setan di belakang punggung.

Senja baru saja mengganti apron ketika ia mulai merasakan sorot mata yang lebih dari sepasang itu. Mata yang tidak menyapa ramah. Mata yang tidak lagi seperti kemarin. Sekarang mata itu penuh cemoohan dan menghakimi.

"Eh, itu dia orangnya," bisik seseorang, lirih tapi sengaja dibuat cukup keras.

"Aku dengar sih… dia lagi bunting anak haram," sahut yang lain.

"Nggak heran. Gerak-geriknya aja udah beda. Paling bapaknya banyak, dia juga kan---" Suara itu menggantung, seperti ingin terdengar sopan, tapi penuh racun.

Senja memejamkan mata sejenak selaras helaan panjang sebelum melangkah. Langkahnya berat, seperti kakinya menapak di lumpur bekas banjir bandang.

Di meja kasir, Jelita berdiri dengan senyum manis, senyuman yang terlalu rapi. Namun, di balik senyuman itu menyimpan sesuatu. Sesuatu yang tidak sampai ke mata.

"Oh, Senja…" Jelita yang datangnya dari mana menyapa lembut. "Kamu udah mendingan? Mualnya masih?"

"Masih," jawab Senja pelan. Ia tampak enggan menatap sahabatnya itu. "Aku cuma butuh kerja hari ini. Aku harus tetap masuk."

Jelita menepuk bahunya, sentuhan ringan yang justru terasa seperti tamparan. "Aku ngerti, kok. Kamu kuat, Sen. Biarpun… ya… keadaan kayak gini."

Kalimat itu terkesan ambigu. Menggantung tidak jelas. Tidak selesai. Tapi cukup untuk menusuk.

Bisik-bisik itu meluas menjadi Rawa. Semakin siang, semakin banyak tatapan muncul. Tatapan yang bukan lagi ingin tahu, tapi menghakimi. Mulut-mulut yang tadinya sibuk mengunyah jadi sibuk menyebar.

"Kasihan ya keluarganya."

"Kalau orang tuaku pasti udah ngusir."

"Bapaknya siapa sih? Jangan-jangan nggak jelas karena lebih dari satu."

Jelita muncul di antara mereka, pura-pura menenangkan. "Husss… udah, jangan nambah-nambahin. Kita nggak boleh nuduh tanpa bukti."

Lalu ia menatap Senja dengan mata muram penuh simpati. "Aku yakin kamu nggak kayak gitu. Mana mungkin kamu hamil di luar nikah. Aku kenal kamu, kok."

Perkataan itu terdengar seperti membela, tapi justru semakin mempertegas tuduhan.

Satu orang lagi ikut menyambar, berpura-pura bersedih.

"Semangat ya, Sen. Kalau kamu butuh tempat curhat… aku ada. Walaupun ya… berat banget sih kalau anak itu… nggak jelas."

Senja seperti mendengar dunia runtuh. Tubuhnya terdorong mundur. Ia berdiri di tengah warung, tangan memegang apron erat-erat seperti pegangan terakhir sebelum jatuh.

"Siapa yang bilang aku… hamil?" Senja akhirnya bertanya. Suaranya pelan, tapi gemetar.

Semua diam. Dan dalam diam itu, semua jawaban sudah jelas kala beberapa lirikan mereka tertuju ke Jelita.

Jelita menatap senja lama, lebih lama daripada semua orang sebelum tersenyum. "Orang-orang duluan yang mikir aneh-aneh. Meski sebenernya aku juga kaget. Tapi ya… kamu mual-mual terus. Orang kan bisa salah paham."

"Kamu kenapa gini'in aku?" Senja bertanya, meski ia tahu jawabannya bahwa Jelita dalang gosip itu.

"Maksudmu apa sih, Sen? Aku itu khawatir lo sama kamu." Jelita mendekat, suaranya serendah racun. "Aku nggak mau kamu seenaknya dinilai murahan. Aku cuma bilang ke beberapa orang sebenarnya kamu itu bukan murahan biar mereka nggak salah paham. Cuma beberapa. Mereka yang nyebarin."

Beberapa?

Beberapa yang ternyata cukup untuk membakar seluruh ruangan.

Senja Retak untuk Kedua Kalinya. Saat istirahat, Senja duduk sendiri di sudut. Air putih sulit ditelan. Suara di sekelilingnya tidak lagi terdengar seperti percakapan, lebih seperti riuh pasar yang mengumumkan dosanya.

Jelita datang, lalu duduk di sebelahnya seperti pahlawan palsu. "Sen?" sapanya lembut. "Jangan dengerin mereka. Aku yakin kamu bukan tipe yang tidur sama banyak cowok."

Kalimat itu jatuh dengan kepalsuan sempurna. Lembut… tapi penuh sindirian yang menghancurkan.

"Sumpah demi Tuhan. Aku nggak pernah bilang gitu. Ya... mereka sendiri yang memang dasarnya julid… Tapi bisa jadi mereka mikir kamu begitu… mungkin karena kamu terlihat… terlalu rapuh."

Rapuh. Seolah itu alasan untuk diinjak.

Senja menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sempit. Ada seribu kata yang ingin keluar, tapi semuanya macet, menumpuk di tenggorokan.

"Aku hanya mual,” katanya lirih.

"Aku juga nggak bilang apa-apa selain itu. Tidak ke siapa pun. Bahkan ke kamu."

Jelita tersenyum, memiringkan kepala. "Nah… itu dia masalahnya. Kamu terlalu diam. Diam itu bikin orang menebak. Dan tebakan itu… ya bisa liar."

Kata 'liar' terdengar seperti cambuk.

Senja yang mulai jengah langsung berdiri. Hatinya tidak kuat. Tidak ingin mendengarnya lebih lama dan lebih banyak.

Ia melangkah menuju toilet, tapi langkahnya mulai goyah. Dunia terasa bergoyang. Udara menekan rongga dada. Perutnya mual lagi, sangat kuat, seperti tubuhnya ikut menolak perlakuan orang-orang yang main hakim sendiri.

Ia sempat menahan dinding sebelum akhirnya muntah lagi. Jelita menyusul dengan nada panik. Sudah pasti itu panik palsu.

"Lihat, kan? Dia muntah lagi. Hamil beneran kayaknya," ucap salah satu senior.

Dan seperti itu, cerita yang seharusnya menjadi rahasia tubuhnya sendiri berubah menjadi pameran umum. Dia kehilangan nama begitu cepat.

Saat Senja kembali kerja, semua berhenti hanya untuk menatap. Tidak ada tempat untuk sembunyi. Tidak ada langkah yang tidak terdengar. Tidak ada sisi ruangan yang tidak mencibir jijik.

"Senja," kata si bos yang akhirnya memanggil. Suaranya datar. Dingin. "Mulai besok kamu istirahat dulu. Kamu bikin suasana nggak nyaman."

Istirahat dulu. Kata-kata sopan untuk pengusiran kecil.

Senja menunduk. Sorot matanya memohon pengertian. "Saya masih butuh kerja, Bu. Saya nggak… saya belum---"

"Terserah apa ceritamu. Tapi pelanggan risih. Karyawan lain juga."

Napas Senja tertahan oleh pukulan tak kasat mata. Disana terlihat Jelita berdiri di belakang pemilik, pura-pura sedih.

"Maaf ya, Sen… aku udah coba belain kamu. Tapi orang-orang keburu percaya." Jelita tampak matanya berkaca-kaca.

Senja tersenyum tipis, senyuman yang binarnya redup.

"Kalau kamu bener belain. Kenapa kamu yang pertama kali ngomong?" Suara Senja terkesan rapuh tapi jelas. Instingnya mengatakan bahwa memang Jelita yang memantik gosip, meski bukti belum menelanjangi fakta.

Untuk pertama kalinya wajah Jelita kehilangan topengnya. Namun, hanya sedetik topeng itu terpasang kembali, tapi sempat tertangkap mata Senja.

"Aku tahu kamu sedang bingung, Sen. Tapi bukan berarti kamu boleh asal tuduh. Pikirkan dulu perasaan kamu, Sen. Jangan salahin aku atas hidup yang kamu sendiri pilih," nada Jelita mendadak dingin.

Pasrah di atas keadaan yang tak memberi pilihan. Senja berjalan pulang dengan langkah kosong. Udara panas menampar pipinya. Tas di punggungnya terasa berat, seolah berisi batu, bukan apron dan botol air.

Ia tidak menangis.

Belum.

Sampai ia tiba di halte bus, duduk di bangku paling ujung, dan baru menyadari, bahkan rahasia paling pribadinya pun bukan miliknya lagi.

Ia memeluk perutnya perlahan. "Om…," bisiknya dengan suara bergetar. "Kamu di mana?"

Tiada jawaban yang melegakan sanubari. Yang ada hanya angin kelabu, membawa gosip yang akan terus menyebar sampai akhir menenggelamkannya.

Siang hari masih berpayung terik matahari, ketika Senja baru pulang dari kerja dengan langkah sempoyongan. Suara motor berhenti keras di depan rumah. Helm ditaruh kasar ke jok, langkah tergesa, aroma parfum Deka yang dulu terasa menenangkan kini justru membuat Senja ingin mundur.

Deka tidak datang sendirian, ada Jelita yang baru turun dari jok belakang.

"Senja!" Deka memanggil keras. "Kamu sini sebentar!" Raut wajahnya tak selembut kemarin. Ada kecewa di sorot matanya.

Senja mematung di teras. Napasnya tercekat. Ia sudah teramat lelah jiwa raga, tapi dunia belum selesai menamparnya.

Deka mendekat dengan rahang mengeras. "Ini bener apa nggak?" Suaranya meledak tanpa pemanasan. "Kamu hamil?!"

Senja menunduk, bukan karena takut, tapi karena ingin menjaga dirinya agar tidak pecah di tempat.

"Jelita yang bilang ya?" tanyanya lirih, meski dia sudah tahu jawabannya.

Mulut Jelita terbuka, siap meluncurkan penjelasan manipulatif, tapi Deka menyela lebih cepat.

Deka mendecak sinis. "Nggak usah ganti topik! Aku nanya, itu anak siapa?!"

Ada jeda di antara emosi. Hembusan angin lewat, seperti ikut mendengar.

Deka menatap lama wajah polos Senja yang saat ini tampak rapuh, mengundang rasa iba, rasa ingin melindungi. Amarah yang sempat meledak diturunkan perlahan.

"Aku nggak nyangka kamu selingkuh sampai… kayak gini, Sen. Selama ini kurang sayang bagaimana lagi aku?" Suara Deka merendah, tapi bukan karena lembut, karena terluka. "Jangan bilang ini anakku, kita ciuman aja nggak pernah."

Senja mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembab, tapi tatapannya stabil.

"Aku nggak pernah selingkuh," katanya pelan, sedikit terjeda. "Tapi kamu pernah."

Deka terdiam sepersekian detik, cukup untuk menunjukkan bahwa ucapan Senja memukul tepat sasaran. "A-apa maksud kamu?"

Senja mengangkat wajahnya. Sorot matanya sedih, terluka, kecewa, tapi semua rasa itu terangkum dalam lingkar keberanian, meski samar, tapi cukup mendobraknya. "Aku lihat," Senja menelan kecewanya dengan getir. "Waktu pendakian itu. Kamu sama Jelita. Di semak-semak. Aku juga dengar kalian bilang aku… membosankan. Terlalu nurut. Nggak agresif."

Rahasia yang paling Deka tutupi ternyata bukan lagi rahasia. Rahasia itu jatuh ke tanah tanpa suara dramatis. Namun, justru kesenyapan itu lebih memekakkan telinga.

Wajah Jelita memucat. "Sen… aku bisa jelasin---"

"Tidak perlu." Senja memotongnya pelan, tidak meledak, tapi tegas. "Aku sudah dengar cukup jelas waktu itu."

Deka melangkah maju, menahan amarah yang kini bercampur takut, takut kehilangan.

"Kamu nggak boleh ngomong seenaknya! Kamu masih pacar aku! Aku---"

Senja menggeleng tegas. "Aku dulu pacar kamu. Tapi waktu kamu pilih dia, kita selesai."

Kalimat sederhana Senja menohok lebih keras dari teriakan.

Lidah Deka kelu, kehilangan kata-kata. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada pembelaan yang bisa keluar.

Jelita menunduk, menggenggam lengan kemejanya sendiri. Dia sendiri tak menemukan alasan untuk bicara. Namun, dalam sunyi bibirnya tersenyum samar. Dalam situasi seperti ini justru ia menemukan kepuasan.

Senja menarik napas, menahan gemetar suara. "Aku nggak butuh kalian percaya denganku. Aku cuma butuh kalian berhenti mengganggu hidupku."

Sejenak terdiam, seakan membentuk kesunyian yang panjang.

Deka akhirnya memalingkan wajah, rahangnya menegang. "Kalau anak itu bener-bener ada… jangan bawa-bawa nama aku. Aku masih bisa nerima kamu apa adanya, tapi anak itu nggak."

Senja menatapnya terakhir kali. Ia terluka, tapi bukan kalah. "Aku bahkan nggak pernah berniat."

Lalu Senja melangkah masuk rumah, meninggalkan dua orang yang dulu ia percaya dalam hening yang akhirnya memantulkan kesalahan ke arah yang tepat.

Untuk pertama kalinya… Deka dan Jelita tidak punya kata untuk membantah.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Wkkkk, mewakili gueeee. Makasih, Mak
Ayuwidia
Aku penasaran, kenapa Winarti dan Pandi bisa setega itu memperlakukan Senja. Beda banget sama perhatian mereka ke Rian 🤔
Ayuwidia
Baru diakui. Telat, terlambat!!!!
Ayuwidia
Ealah, adek nggak ada akhlak. Kok bisa, Senja punya adek semenyebalkan gini. Hidup lagi
Ayuwidia
Salah sendiri. Terlalu jumawa, sombong
Ayuwidia
Winarti serasa ditampar keras. Dan aku, tersenyum membayangkan wajahnya
Ayuwidia
Alhamdulillah, ikut senang. Semoga sakinah, mawadah, warahmah 🥰
Ayuwidia
Meski sederhana, tapi tulus dari dalam hati 🥰
NA_SaRi
kok bru diakui ya mak
NA_SaRi
lambene😩
NA_SaRi
klo Pengen dihormati, belajarnya caranya menghargai bapak🙃
NA_SaRi
Alhamdulillah 😍
NA_SaRi
netizen ya awooooohhh jempolnya kebangetan, bibirnya semoga kepedesan😩
NA_SaRi
betul, aku prnh mengalaminya
NA_SaRi
gengsi ga usah ditinggiin Napa mak😩
NA_SaRi
dari bab ini aku belajar bahwa ilmu tenang itu mahal, bahkan ga bisa dibeli dgn uang, membuat karakter seseorang jd elegan tanpa harus meninggi, aku harus banyak belajar dr om sagara
Ayuwidia
Kalimat penutup yg sangat mewakili orang2 sefrekuensi dgn Senja, keren 👍🏻
Ayuwidia
Ini selalu berlaku di kampung/ kompleks. Apalagi klw dihuni emak2 yang demen banget gibah. Ibarat kata, nggak gibah--nggak hidup
Nofi Kahza: iya, kalau nggak ada bahan gibah hidup mereka kurang seru..
total 1 replies
Ayuwidia
Part ini pasti ada yang menginspirasi
Nofi Kahza: hush! diem.
total 1 replies
Ayuwidia
Pfttttt jatuhnya pingin ngakak
Nofi Kahza: kampungnya ngampung banget🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!