NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: RIUH OSPEK DAN MATA YANG BERPAPASAN

Gerbang kampus pagi itu bukan lagi sekadar pintu masuk; ia adalah mulut raksasa yang menelan ribuan anak muda dengan ambisi yang meluap-luap. Jonatan berdiri di sana, mengenakan kemeja putih yang sedikit kekuningan di bagian kerah—sisa-sisa deterjen murah dan keringat perjalanan yang tak benar-benar hilang—serta celana bahan hitam yang ujungnya sedikit menggantung. Di lehernya, pita berwarna merah sebagai penanda kelompok ospek terikat agak miring.

Suasana sangat bising. Kakak tingkat dengan pengeras suara berteriak memberikan instruksi, peluit berbunyi di sana-sini, dan yel-yel kelompok mulai membahana. Jonatan merasa pening. Kebisingan ini berbeda dengan deru ombak atau mesin kereta; ini adalah kebisingan manusia yang sedang memamerkan eksistensi.

"Woi, kelompok 12! Baris yang rapi! Jangan seperti barisan bebek!" teriak seorang mahasiswa senior dengan baret biru yang tampak gagah.

Jonatan bergegas masuk ke barisan. Ia mencoba menyelaraskan langkah, namun sandal jepitnya—yang untungnya sudah ia ganti dengan sepatu pantofel pinjaman dari tetangga desa sebelum berangkat (meskipun ukurannya sedikit kebesaran)—menimbulkan bunyi plok-plok yang memalukan di atas ubin semen.

"Hei, namamu siapa?"

Seorang pemuda di sebelahnya berbisik. Pemuda itu terlihat rapi, rambutnya klimis dengan potongan kekinian, dan wajahnya bersih tanpa noda debu sedikit pun.

"Jonatan," jawabnya pendek, mencoba tidak menunjukkan logatnya yang kental.

"Aku Gani. Dari Jakarta. Gila ya, panasnya minta ampun. Kamu dari mana? Logatmu unik," Gani bertanya dengan nada penasaran yang jujur, bukan menghina, tapi tetap saja membuat Jonatan merasa seperti spesimen di laboratorium.

"Timor. NTT," jawab Jonatan lagi.

Gani membelalakkan mata. "Jauh banget! Naik pesawat berapa jam?"

Jonatan terdiam sejenak. Ia teringat dek kapal yang bau solar dan gerbong ekonomi yang bergetar. "Saya naik kapal, lalu kereta."

Gani tampak tertegun, seolah baru saja mendengar seseorang bercerita tentang perjalanan melintasi benua dengan berjalan kaki. Sebelum Gani sempat bertanya lebih lanjut, instruksi kembali berteriak, memaksa mereka untuk melakukan gerakan-gerakan konyol sebagai bagian dari "pembentukan karakter".

Sepanjang pagi, Jonatan mengikuti semua kegiatan dengan patuh. Ia merayap di lapangan rumput, meneriakkan yel-yel hingga tenggorokannya yang kering terasa seperti terbakar, dan mendengarkan ceramah tentang visi misi universitas yang terasa begitu abstrak baginya. Di matanya, visi misi yang paling nyata saat ini adalah bagaimana ia bisa mendapatkan makan siang tanpa harus menghabiskan uang sakunya yang tinggal sedikit.

Saat jam istirahat tiba, lapangan kampus berubah menjadi lautan manusia yang mencari tempat berteduh. Gani mengajak Jonatan ke kantin pusat yang terlihat sangat mewah dengan jajaran stan makanan yang beragam.

"Ayo, Jon! Aku lapar banget. Kita coba bakso di sana, katanya enak," ajak Gani penuh semangat.

Jonatan menatap keramaian kantin itu. Bau aroma makanan menggoda indra penciumannya, membuat perutnya berdenyut nyeri. Ia meraba kantong celananya, menyentuh lembaran uang yang ia simpan. Jika ia makan di sini, satu porsi bakso mungkin seharga makan dua harinya nanti.

"Aku... aku bawa bekal, Gani. Kamu duluan saja," bohong Jonatan. Ia tidak membawa apa-apa selain botol air yang ia isi ulang dari keran wastafel masjid tadi pagi.

Gani mengangkat bahu. "Oh, oke. Nanti kita kumpul lagi di bawah pohon beringin itu, ya?"

Jonatan berjalan menjauh dari kantin, mencari sudut yang sepi di balik gedung perpustakaan. Ia duduk di atas akar pohon yang besar, sendirian. Ia mengeluarkan botol airnya, meminumnya perlahan untuk mengelabui rasa lapar. Ia mengambil buku catatannya, mencoba menulis sesuatu, namun tangannya terasa lemas.

Tiba-tiba, sebuah suara menginstruksi kegelapannya.

"Bekalmu kelihatannya transparan sekali, Jonatan."

Jonatan tersentak. Di hadapannya berdiri seorang mahasiswi. Ia mengenakan pita merah yang sama dengan Jonatan. Rambutnya diikat kuda, wajahnya tanpa riasan namun matanya terlihat sangat tajam dan cerdas. Di tangannya, ia memegang dua kotak susu kotak dan sebungkus roti sobek.

"Aku melihatmu tadi. Kamu tidak ke kantin, tidak makan, hanya duduk memandangi botol air," ucap gadis itu sambil duduk di sebelah Jonatan tanpa izin.

"Aku tidak lapar," Jonatan mencoba membela harga dirinya.

Gadis itu terkekeh, suara tawanya jernih. "Bohong itu dosa, apalagi bohong pada perut sendiri. Namaku Sarah. Aku dari kelompok 12 juga. Ini, ambil satu. Ibuku selalu membekaliku terlalu banyak, katanya supaya aku punya teman."

Sarah menyodorkan susu kotak dan separuh roti sobeknya. Jonatan ragu. Ia teringat pesan ayahnya untuk tidak sembarangan menerima pemberian orang, tapi tatapan Sarah begitu tulus, tanpa ada nada kasihan yang merendahkan.

"Terima kasih, Sarah," ucap Jonatan akhirnya. Ia mengambil roti itu. Rasanya sangat lembut, jauh berbeda dengan jagung titi yang keras. Setiap kunyahan terasa seperti energi yang mengalir kembali ke nadinya.

"Kamu dari Timor, kan? Gani cerita padaku tadi," Sarah memulai percakapan sambil menatap lapangan yang riuh. "Jangan dengarkan orang-orang yang melihatmu aneh. Kampus ini memang penuh dengan orang yang merasa dunianya paling luas, padahal mereka cuma main di dalam tempurung."

Jonatan menoleh, terkejut mendengar pemikiran gadis itu. "Kenapa kamu bicara begitu?"

Sarah tersenyum tipis. "Karena aku juga 'orang asing' di sini. Aku dari pinggiran Kalimantan. Ayahku guru honorer. Aku tahu rasanya berjalan dengan sepatu yang tidak semahal sepatu mereka. Tapi kita di sini untuk belajar, bukan untuk pamer gaya, kan?"

Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di tanah Jawa, Jonatan merasa tidak sendirian. Ada rasa hangat yang tumbuh di dadanya—bukan karena roti, tapi karena pengakuan. Di tengah ribuan orang yang memandangnya sebelah mata, ia menemukan sepasang mata yang melihatnya sebagai sesama pejuang.

"Aku ingin jadi insinyur pertanian," Jonatan bercerita dengan suara yang lebih mantap. "Aku ingin bawa air ke desaku. Tanah di sana merah dan kering sekali."

Sarah mengangguk paham. "Dan aku ingin jadi ahli hukum. Aku mau bela petani di kampungku yang tanahnya sering diambil perusahaan. Sepertinya kita punya misi yang mirip, Jon."

Percakapan singkat itu terputus oleh suara peluit yang menandakan istirahat berakhir. Mereka bangkit dan berjalan bersama kembali ke lapangan. Jonatan merasa langkahnya sedikit lebih ringan. Ia tidak lagi merasa seperti debu yang bisa tertiup angin.

Saat mereka kembali ke barisan, Jonatan tidak sengaja berpapasan dengan Pak Johan, pria tua yang memberinya uang kemarin. Pak Johan sedang berjalan membawa setumpuk buku, tampak seperti dosen biasa yang sibuk. Pria itu sempat berhenti sejenak, menatap barisan kelompok 12, dan matanya bertemu dengan mata Jonatan.

Pak Johan tidak tersenyum, ia hanya memberikan anggukan kecil yang sangat samar, seolah memberikan kode: "Jangan mengecewakanku."

Jonatan membalas anggukan itu dengan tegak. Hari itu, di bawah terik matahari ospek yang membakar, Jonatan menyadari bahwa pertempuran ini tidak akan mudah, tapi ia tidak lagi bertempur sendirian. Ia punya Sarah yang berbagi roti, ia punya Pak Johan yang memantaunya dari jauh, dan ia punya sumpah yang tersimpan di saku celananya.

Oetimu mungkin jauh di sana, tapi semangat tanah merah itu kini sedang berdenyut di jantung kampus ini. Jonatan menarik napas panjang, siap menghadapi sisa hari itu dengan kepala yang tidak lagi menunduk.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!