Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
apes tak ada di kalender
Keesokan paginya, Mandala bersiap kembali untuk berangkat kuliah. Memakai kemeja hitam lengan panjang yang sudah di setrika Heni.
Mandala berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Pantulan tubuhnya terlihat sederhana kemeja hitam lengan panjang yang rapi, celana kain gelap, sepatu putih yang sudah mulai menua tapi masih layak pakai. Ia menggulung setengah lengannya, kebiasaan lama yang entah sejak kapan menjadi caranya merasa sedikit lebih bebas.
Tangannya meraih sisir. Rambutnya ditata cepat, spiky hair yang tak pernah benar-benar berubah sejak SMA. Bukan karena ia tak ingin bergaya lain, tapi karena gaya itu tak menuntut banyak seperti hidupnya sekarang.
Di luar kamar, aroma nasi goreng tercium samar.
“Man, sarapan dulu,” suara Heni memanggil lembut dari dapur.
Mandala keluar. Di meja kecil ruang makan sudah tersedia sepiring nasi goreng sederhana dan segelas teh hangat. Ringgo duduk di ujung meja, membaca koran lama, meski matanya lebih sering melamun daripada benar-benar membaca.
Mandala duduk, mengambil sendok. “Makasih, Mah.”
Heni tersenyum kecil. “Makan yang banyak. Kamu kuliah seharian.”
Ringgo melirik sekilas. “Motor kamu bensinnya masih cukup?”
“Masih, Yah,” jawab Mandala singkat.
Tak ada pembicaraan soal uang. Tak ada pembahasan soal hutang. Pagi itu, mereka sepakat diam, diam yang lebih penuh perhatian daripada seribu kata.
Selesai makan, Mandala berdiri. Ia mengambil tas ransel hitamnya, mengecek ponsel sebentar. Tak ada pesan baru. Entah kenapa, ada sedikit rasa kecewa yang muncul tanpa ia sadari.
Ia menggeleng kecil, menepuk saku celananya mengambil kunci motor, lalu melangkah ke teras.
“Hati-hati di jalan,” ujar Heni.
“Iya, Mah.”
Motor metik itu kembali menyala. Mandala menoleh sebentar ke arah rumah rumah yang tak pernah mewah, tapi selalu berusaha menjadi tempat pulang.
Di jalan menuju kampus, lalu lintas pagi mulai padat. Klakson bersahutan, matahari belum terlalu tinggi. Mandala melaju dengan kecepatan sedang, pikirannya terbelah antara jadwal kuliah, lowongan kerja yang belum jelas, dan satu nama yang tanpa diminta terus muncul di benaknya.
Keyla.
Ia teringat wajahnya semalam. Tatapan mata yang menahan terlalu banyak hal. Mandala tak tahu kenapa ia peduli sejauh itu. Mungkin karena untuk pertama kalinya, ia bertemu seseorang yang sama-sama berdiri di titik rapuh meski latar hidup mereka bertolak belakang.
Getaran ponsel di dashboard motor membuatnya tersentak.
Pesan masuk.
Keyla
“Pagi, Man.”
Mandala berhenti sejenak di lampu merah. Ia membaca pesan itu, lalu mengetik balasan singkat.
“Pagi. Sudah siap berangkat?”
Titik-titik mengetik muncul hampir seketika.
“Sudah. Ayah cari sopir baru katanya. hari ini aku bawa mobil sendiri.”
Mandala menghela napas kecil. Dunia Keyla memang selalu punya jalan keluar meski tak selalu menyembuhkan lukanya.
“Hati-hati.”
Balasan Keyla datang dengan cepat.
“Kamu juga.”
Lampu lalu lintas berubah hijau. Mandala menutup layar ponselnya, memutar gas, melaju kembali. Di dadanya, ada rasa aneh bukan harapan besar, bukan pula cinta. Hanya perasaan bahwa hari itu, di tengah segala ketidakpastian, ada seseorang yang mengingat keberadaannya.
Motor Mandala berjalan terkendali. Sedang. Tak begitu cepat. Namun tanggal apes tidak ada di kalender, tiba-tiba saja sebuah mobil yang baru akan masuk ke jalan raya malah justru menyenggolnya hingga ia jatuh.
Motor Mandala oleng ke kanan. Tubuhnya terlempar, menghantam aspal dengan suara yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat. Helmnya membentur jalan, keras, sebelum tubuhnya berguling pendek dan berhenti di sisi jalan.
“Brak!”
Suara gesekan logam dan aspal memecah pagi.
Motor metik itu terseret beberapa meter, lalu rebah tak berdaya.
Mandala terdiam beberapa detik. Dunia terasa berdengung, pandangannya buram. Dadanya naik turun cepat, napasnya tercekat oleh rasa kaget yang menyusul nyeri.
“Mas! Mas, maaf! Ya Allah, maaf banget!”
Seorang pria setengah baya keluar tergesa dari mobil sedan abu-abu yang berhenti miring di pinggir jalan. Wajahnya pucat, tangannya gemetar.
“Aku nggak lihat, Mas… aku mau belok, aku panik..."
Mandala mencoba bergerak. Sikut kirinya terasa perih saat menahan tubuhnya bangun setengah duduk. Lututnya nyeri, telapak tangannya panas tersayat aspal. Namun yang paling ia rasakan bukan rasa sakit itu melainkan rasa takut.
Takut motor rusak.
Takut terlambat kuliah.
Takut… semua hal kecil hari ini ikut runtuh.
“Aku… aku baik-baik aja,” ucap Mandala, suaranya serak. Ia melepas helm perlahan, kepalanya sedikit pening.
Beberapa orang mulai mendekat. Ada yang membantu menegakkan motor, ada yang menyingkirkan serpihan kecil dari jalan.
“Mas, motornya lecet parah,” kata seorang bapak sambil memeriksa bagian samping motor. “Spionnya patah.”
Mandala menelan ludah. Pandangannya tertuju pada motor itu kendaraan satu-satunya yang ia punya. Tangannya mengepal tanpa sadar.
Pria pemilik mobil berdiri di depannya, wajahnya penuh rasa bersalah. “Saya tanggung jawab, Mas. Saya bener-bener minta maaf. Tadi saya gugup, salah injak pedal.”
Mandala terdiam. Kepalanya masih berdengung. Ia berdiri pelan, menguji keseimbangan tubuhnya. Sedikit pincang, tapi masih bisa berdiri.
“Mas nggak apa-apa?” tanya seseorang.
“Iya,” jawab Mandala pelan. “Kayaknya cuma lecet.”
Ia melirik jam di ponselnya. Waktu terus berjalan.
Kuliah.
Uang.
Pekerjaan yang belum ada.
Semua terasa menumpuk di satu titik.
Pria itu kembali bicara, lebih lirih. “Kalau Mas mau ke bengkel, saya antar. Atau kita tukeran nomor dulu.”
Mandala mengangguk kecil. “Iya… tukeran nomor aja, Pak.”
Mereka bertukar kontak. Motor Mandala akhirnya didorong ke pinggir jalan. Mesin masih bisa menyala, meski suaranya terdengar tak seperti biasa.
Mandala mengenakan helm kembali, meski kepalanya masih berat. Sebelum naik motor, ponselnya bergetar di saku jaket.
Satu pesan masuk.
Keyla
“Kamu sudah sampai kampus?”
Mandala menatap layar itu lama. Jarinya sedikit bergetar saat mengetik balasan.
“Belum. Tadi jatuh. Tapi aku nggak apa-apa.”
Pesan itu terkirim.
Ia menghela napas, lalu menyalakan motor perlahan. Mesinnya meraung kecil, seolah ikut mengeluh. Mandala melaju pelan, jauh lebih hati-hati dari sebelumnya.
Di dadanya, ada rasa perih yang tak sepenuhnya datang dari luka di kulit. Ia sadar hari itu, hidup benar-benar sedang mengujinya.
Dan ia tak punya pilihan lain… selain terus berjalan.
Ponselnya kembali bergetar di saku celana, pesan masuk dua kali. Mandala tak bisa membukanya sebab waktunya menuju kampus tak panjang.
Pikirannya kini hanya ada , Kuliah. Pekerjaan lagi. Dan ia harus kuat juga sehat. Serta mampu membantu orang tua angkatnya, yang semalam sempat membawa nama Bayu Pratama, laki-laki yang benar-benar membuat Mandala ingin sekali membalas rasa sakit hatinya.
Tentu bukan untuk kesenangan semata, namun ia ingin di akui.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰🤗💪
rasain tuh Keyla bela Mandala 😡😡
Erga stresss tuhh dia yg selingkuh dia yg gk Terima Keyla dg Mandala 😡😡
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetp semangat sayyy quuu🥰🤗💪
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu🥰🤗 tetap semangat Sayyy 💪💪
padahal dia yg salah selingkuh dg sahabat Keyla 😡😡
Bayu bukan ayah mu Mandala 😌😌
duhh Erga yg pura-pura siapa coba? qm yg pura-pura bukan Mandala pakai suruh Mandala jaga jarak dg Keyla, lalu perselingkuhan mu dg sahabat nya Keyla??
greget sama Erga 😌😌😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪🐱
kau harus cari tau kebenarannya Mandala 😌😌
waduhhhh Erga cemburu gk tuh Keyla jalan dg Mandala 😆😆
Erga gk tau malu dia yg selingkuh dg Sahabat nya Keyla, dia pula cemburu Keyla dg Mandala 😌😌
penasaran...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
duhhh jangan² Mandala jatuh cinta dg Keyla tapi blm sadar 😄😄
qm bukan anak nya Bayu Pratama gk pantas qm panggil Ayah 😁😁
seandainya Mandala tau yg sebenarnya pst kecewa sama Alira. tapi jgn dulu tau yaa, nnt cepat tamat pula 😄😄
duhh ternyata Pak Arifal itu tetangga rumah nya sama Bayu Pratama.. ?? kebetulan sekali.
Mandala pun bertemu dg Pak Arifal di bengkel....
duhh akhirnya Mandala tinggal dg Pak Hermawan...
gmn yaa selanjutnya..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu🥰🤗 tetap semangat Sayyy quuu🤗🥰💪
gmn yaa reaksi Bayu nnnt jika tau siapa Mandala 🤔🤔
duhhh jgn² Bengkel yg Pak Arifal maksud sama dg bengkel nya Keyla dongg...
gmn yaa reaksi Pak Arifal jika tau siapa Mandala 🤔🤔
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
akhirnya Mandala di Terima kerja jadi sopir nya Keyla...
duhhh Keyla ada² saja Mandala tinggal sama Pak Hermawan dekat rumah nya.
gmn klo Bayu dan Sekar tau siapa Mandala?
penasaran....
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyy quuu🐱🤗🥰💪
duhh dalam perjalanan, Keyla curhat ke Mandala dong 🤗
waduhhh Mandala mau jadi sopir nya Keyla?? duhh gmn nnt jika Mandala ketemu Bayu Pratama🤔🤔
Keyla chat Mandala dan blg Ayahnya mau ketemu dg Mandala dong...
penasaran gmn nnt nya Mandala ketemu dg Bayu 🤔🤔
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu🤗 tetap semangat sayyy quuu🐱🥰💪