NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Sistem / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
​Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
​Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
​Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
​Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Aliansi Dadakan

Napas Aruna masih terasa pendek, dan telapak tangannya masih berdenyut perih setelah benturan keras saat menghantam kawanan Shadow Wolf di dalam hutan tadi. Namun, dia tidak punya waktu untuk beristirahat. Fokusnya hanya satu: Reruntuhan Oeryth. Ia harus segera mengambil si Oyen dan kudanya yang tertinggal, lalu kembali secepat mungkin untuk memastikan kondisi Asher.

Mereka baru saja melangkah menyusuri tepian hutan ketika Aerlisto tiba-tiba berhenti. Tangannya terangkat, memberi isyarat waspada yang membuat Luna dan Verdy langsung siaga. Dari balik pepohonan purba yang rimbun, muncul sesosok pria kekar dengan telinga serigala yang tegak. Fenrir keluar dengan wajah yang sangat gusar, memanggul sebuah Greatsword raksasa di bahunya. Di belakangnya, seorang gadis ramping dengan ekor rubah pink yang mencolok, Ellish, menyusul dengan wajah cemberut.

"S!alan... benar-benar s!alan! Seharian ini tidak ada satu pun kelinci yang lewat. Apa hutan ini sudah m4ti?" gerutu Fenrir sambil menghantamkan ujung pedangnya ke tanah hingga menimbulkan suara berdebum yang berat.

Ellish mengendus udara dengan lemas, telinga rubahnya terkulai lesu. Mata violetnya kemudian tertuju pada rombongan Aruna yang tampak kelelahan. "Eh? Siapa kalian? Mau berburu di sini juga? Sayang sekali, hari ini tidak ada daging untuk siapa pun," ucapnya dengan suara yang terdengar loyo karena lapar.

Aerlisto menurunkan tangannya sedikit. "Kami hanya lewat menuju reruntuhan di padang rumput. Kami tidak berniat mengganggu perburuan kalian."

Fenrir tertawa keras, menatap mereka dengan heran. "Reruntuhan Oeryth? Tapi jujur saja, ada yang aneh dengan hutan ini hari ini. Terlalu banyak bau manusia asing yang bersembunyi di mana-mana sampai hewan buruan kami kabur semua."

Gruuu...

Aruna menatap kedua Beastman itu. Melihat kondisi Fenrir dan Ellish yang kelaparan, serta perutnya sendiri yang mulai berteriak minta diisi karena belum makan sejak pagi, Aruna sadar mereka semua butuh energi sebelum melanjutkan perjalanan keluar dari rimbunnya hutan.

Aruna memejamkan mata, memanggil sistem dalam batinnya. 'Sistem, lapar banget nich.... Kasih yang paling enak sekarang....'

Ding!

[Memproses permintaan host.

Mengakses skill utama memori Materialization.

Mengaktifkan sub skill magi catering.

Memanggil item Nasi Rendang]

Puff!

Beberapa kotak nasi muncul melayang di hadapan mereka. Aroma rendang yang sangat kuat, gurih, dan berempah langsung memenuhi udara hutan, menelan bau tanah. Tanpa memedulikan tatapan syok dan mulut yang menganga dari Fenrir dan Ellish, Aruna membagi-bagikan kotak itu. Mereka berdua tidak butuh undangan kedua; rasa lapar mengalahkan segala logika. Mereka duduk bersama di bawah naungan pohon, melahap rendang itu dengan sangat nikmat hingga tetes bumbu terakhir.

Setelah energi pulih, Aruna bersama timnya ditambah Fenrir dan Ellish yang memutuskan mengekor karena penasaran dengan "sihir makanan" Aruna, mulai melangkah keluar dari rimbunnya pepohonan menuju Padang Rumput Perbatasan Utara.

Hamparan ilalang setinggi dada bergoyang mengikuti angin, menciptakan lautan perak yang luas di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat. Shiiing, suasana yang berubah menjadi sangat sunyi—jenis kesunyian yang mencekam. Ellish mendadak berhenti, telinga rubahnya bergerak-gerak tajam, menangkap getaran yang tidak biasa. Hidungnya berkedut, "Bau ini... besi yang diolesi racun... dan bau d4rah kering," bisiknya dengan nada serius yang drastis berubah dari sifat centilnya tadi.

Sret! Sret! Sret!

Dari balik ilalang perak, belasan bayangan hitam melompat keluar dengan sinkronisasi yang sempurna. Mereka mengepung dalam lingkaran yang rapat, memutus semua jalan keluar. Aruna langsung mengenali hawa membunuh itu—dingin, efisien, dan tanpa ampun. Identik dengan aura yang membuat Asher tumbang.

"Target ditemukan. Habisi!" perintah sang pemimpin kelompok dengan suara serak dari balik topeng kainnya.

Tiga orang assassin langsung melesat maju, bergerak rendah di antara ilalang, mengincar titik vital Aruna yang sedang tidak bersenjata. Namun, tepat saat belati mereka hampir mencapai kulitnya—

Ding!

[Terdeteksi host dalam bahaya.

Mengaktifkan skill utama memori Materialization.

Memanggil Item]

Wush!

Cahaya hitam pekat memadat seketika di tangan Aruna, membentuk wajan. Aruna langsung mengayunkannya dengan tenaga penuh dalam gerakan melingkar.

TANG!

Benturan logam itu menghasilkan bunga api. Kekuatan hantaman Aruna begitu besar hingga belati-belati itu patah dan para penyerang terpental jauh ke belakang, menghantam barisan ilalang.

Fenrir menyeringai buas, ia meludah ke samping sebelum menarik pedang raksasanya dengan satu tangan. "Oho, jadi tikus-tikus ini yang membuat buruanku kabur? Kalian merusak suasana setelah makan enak tadi! Sekarang, bayarlah dengan nyawa kalian!" Fenrir menerjang seperti badai. Setiap tebasannya menghancurkan tanah dan membelah apa pun yang mencoba menghalangi. Meskipun tubuhnya besar, gerakannya sangat agresif, membuat para assassin kesulitan mencari celah.

Ellish bergerak di sisi lain, tubuhnya meliuk indah namun mematikan. Ia melompat ke bahu salah satu assassin, menggunakan momentum itu untuk mematahkan leher lawan dengan kakinya sebelum mendarat dengan anggun. "Jangan sampai d4rah kotor kalian menciprati baju kesayangan-ku!" serunya sambil mencakar dada musuh lain dengan cakar tajamnya yang diperkuat mana.

Di tengah kekacauan, Verdy berteriak, "Aruna, menunduk!"

Aruna segera merunduk saat Verdy melemparkan cakram logam gerigi yang berputar cepat di atas kepalanya. Cakram itu memotong tombak-tombak yang hendak ditusukkan ke arah Aruna. Sementara itu, Luna tetap tenang di belakang, jari-jarinya menarik tali busur dengan ritme yang konstan. Setiap anak panah yang lepas selalu menemukan celah di antara zirah tipis para assassin, melumpuhkan pergerakan mereka dengan akurasi yang menakutkan.

Aruna mencengkeram gagang wajannya kuat-kuat. Matanya berkilat penuh amarah yang dingin. Ingatan tentang wajah pucat Asher yang menahan sakit tadi pagi, keringat dingin yang membasahi dahi ksatria agung itu, membuat darah Aruna mendidih. Dia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya—sebuah kekuatan besar yang mencoba mendobrak keluar.

"Kalian yang sudah membuat Asher menderita... aku tidak akan membiarkan kalian lolos hari ini!" teriak Aruna.

Dia melompat tinggi, mengangkat Black-Void Obliterator di atas kepala. Saat mendarat, dia menghantamkan wajan itu ke tanah dengan seluruh berat tubuh dan emosinya.

DHUARR!

Gelombang kejut hitam menyebar, menjatuhkan belasan assassin yang mencoba mendekat. Aruna tidak berhenti di situ. Dia bergerak maju dengan kecepatan yang meningkat drastis, mengayunkan wajannya seperti tongkat pemukul. Setiap hantaman menghasilkan suara tulang yang retak.

Assassin yang melihat kelompoknya terbantai mencoba melakukan serangan bunuh diri. Ia melesat dari bayangan dengan pedang pendek beracun. Namun, Aruna tidak menangkis. Ia memutar tubuhnya, menggunakan pantat wajan raksasanya untuk menepis pedang itu hingga terlepas, lalu dengan gerakan lanjutan, ia menghantamkan sisi datar wajan tepat ke wajah sang pemimpin.

Brak!

Pria itu terkapar tak berdaya, wajahnya hancur dan ia pingsan seketika. Sisa-sisa anggota Viper’s Fang yang masih hidup saling pandang. Mereka melihat seorang gadis berambut perak yang berdiri tegak dengan wajan hitam yang mengeluarkan aura gelap, dikelilingi oleh seorang ksatria serigala yang haus darah dan seorang pemanah elf yang tidak pernah meleset.

"Mundur! Mundur sekarang!" teriak salah satu dari mereka yang ketakutan. Mereka melemparkan bom asap pekat dan menghilang di balik lautan ilalang, meninggalkan kawan-kawan mereka yang sudah tidak bernyawa.

Swiish... Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara deru angin yang memainkan ilalang perak. Aruna berdiri terengah-engah, hawa panas di dalam tubuhnya perlahan mereda. Wajan hitamnya kembali menghilang menjadi partikel cahaya yang cantik.

Fenrir mendekat, menyarungkan pedang besarnya dengan suara denting logam yang berat. Ia menatap Aruna dari atas ke bawah dengan pandangan penuh rasa ingin tahu dan hormat. "Wow... aku belum pernah melihat orang bertarung seganas itu. Kau benar-benar menarik, Nona rambut perak."

Ellish menghampiri Aruna, membersihkan debu dari roknya sambil tersenyum lebar. "Wah, itu tadi keren sekali! Aku jadi makin menyukaimu. Tapi jujur, apa nasi tadi ada hubungannya dengan kekuatanmu? Aku merasa sangat kuat setelah memakannya!"

Aruna hanya memberikan senyum tipis, meski pikirannya masih tertuju pada Asher. "Itu hanya... bekal spesial. Terima kasih bantuannya, kalian berdua. Tapi perjalanan kita belum selesai. Yuk, reruntuhannya sudah di depan mata."

Ia menunjuk ke arah struktur batu kuno yang mulai terlihat. "Si Oyen dan kudaku menungguku di sana. Kita harus bergerak sekarang sebelum hari makin panas."

Aruna melangkah lebih cepat, jantungnya berdegup tidak tenang saat melihat bayangan reruntuhan yang semakin membesar di depannya. Ada perasaan ganjil yang merayap, sebuah firasat yang tidak bisa dijelaskan.

​'Oyen... semoga kamu baik-baik saja di sana.'

1
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!