Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN SANG JENDRAL DAN DURI DI BALIK DARAH
POV Maria Joanna
Pintu bunker baja itu bergeser dengan suara desisan hidrolik yang berat. Ayahku, Raja Arthur, berdiri di sana dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca—perpaduan antara kewaspadaan seorang penguasa dan kecemasan seorang ayah. Di belakangnya, berdiri seorang pria berseragam militer lengkap dengan lencana emas berbentuk naga yang sangat mencolok di kerahnya.
"Maria, naga kecilku... perkenalkan, ini adalah Pamanmu, Jenderal Zhao," suara Arthur terdengar datar, seolah ia sedang menahan diri agar tidak meledak.
Aku segera menyembunyikan laporan medis Julia ke dalam lipatan gaunku sebelum pria itu masuk sepenuhnya. Aku menarik napas panjang, mencoba mengendalikan gemetar di tanganku. Pria di hadapanku ini bukan pria biasa. Jenderal Zhao memiliki tatapan mata yang setajam mata pisau bedah. Rambutnya disisir rapi, dan setiap gerakannya memancarkan aura dominasi yang bahkan bisa menandingi wibawa ayahku.
"Jadi, ini adalah benih yang ditinggalkan Julia di tanah kotor ini?" suara Jenderal Zhao menggelegar, namun dingin. Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Zhao," geram Arthur, langkahnya maju satu tindak melindungi posisiku. "Dia adalah putriku. Pewaris Kerajaan Spanyol."
Jenderal Zhao tertawa kecil, suara yang lebih mirip desisan ular daripada tawa manusia. "Dia mungkin pewaris Spanyol-mu, Arthur. Tapi di mata keluarga besar kami di Beijing, dia hanyalah pengingat akan noda yang dibuat Julia. Darah murni Kekaisaran tidak seharusnya bercampur dengan darah asing."
Aku merasa darahku mendidih. Rasa takut yang tadi menyelimutiku saat penembakan kini berganti menjadi amarah yang panas. Aku melangkah keluar dari balik punggung Ayah, berdiri tegak dan menatap langsung ke mata hitam Jenderal Zhao yang pekat.
"Jika aku adalah sebuah noda, Jenderal... maka noda ini baru saja selamat dari peluru penembak jitu yang membawa simbol Bunga Peony milik keluargamu," ucapku dengan nada suara yang tenang namun menusuk. "Apakah di Beijing, menyambut keponakan yang baru ditemukan dengan peluru adalah sebuah tradisi kehormatan?"
Sebastian, yang berdiri di bayang-bayang pintu, hampir saja tersenyum melihat keberanian Maria. Ia melihat Jenderal Zhao sedikit terkejut—mungkin pria itu mengira Maria adalah gadis lemah yang mudah diintimidasi setelah hidup sebagai simpanan dan ART.
"Berani sekali kau bicara begitu padaku, gadis kecil," desis Zhao, matanya menyipit.
"Keberanian adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dicuri dariku oleh orang-orang seperti Adrian, atau bahkan orang sepertimu, Jenderal," balas Maria mantap.
Sebastian menyadari situasi ini sangat berbahaya. Jenderal Zhao bukan hanya pemimpin militer, tapi ia juga memegang kendali atas banyak aset bawah tanah di Asia melalui jaringan CCTV dan Satelit Pertahanan. Jika Maria menantangnya secara terang-terangan tanpa strategi, nyawa Maria akan berada dalam ancaman yang lebih besar daripada sekadar sniper.
"Cukup!" Arthur menengahi. "Zhao, kau datang ke sini bukan untuk menghina putriku. Katakan apa tujuanmu sebenarnya."
Jenderal Zhao mengambil sebuah dokumen dari saku seragamnya dan melemparkannya ke meja. "Kaisar China—ayahku, dan kakek dari gadis ini—ingin dia dibawa ke Beijing. Dia ingin memastikan secara pribadi apakah darah Julia benar-benar mengalir di nadinya melalui tes DNA kerajaan yang tidak bisa dipalsukan."
"Dia akan bersamaku ke Madrid," tolak Arthur keras.
"Jika kau membawanya ke Madrid sekarang, Arthur, kau hanya akan membawanya ke medan perang yang belum ia siapkan. Istri pertamamu mungkin sudah mati, tapi keluarga besarnya di Spanyol masih memiliki pengaruh kuat di parlemen. Mereka akan melahap gadis ini hidup-hidup," ucap Zhao sinis.
POV Maria Joanna
Aku terdiam mendengar perdebatan mereka. Aku terjepit di antara dua kekuatan raksasa dunia yang saling mengklaim diriku. Namun, pikiranku terus terfokus pada laporan medis di dalam gaunku. Pasien X. Rumah Sakit Jiwa di perbatasan Spanyol.
Jika aku pergi ke Beijing, aku akan menjadi tawanan emas kakekku. Jika aku pergi ke Madrid, aku akan menjadi sasaran politik keluarga permaisuri lama. Tapi aku harus sampai ke Spanyol untuk mencari Ibu.
"Aku akan pergi ke Madrid bersama Ayah," ucapku tiba-tiba, memutus perdebatan mereka.
"Maria, ini berbahaya," Arthur menatapku cemas.
"Aku tahu, Ayah. Tapi aku bukan lagi Maria yang bisa bersembunyi di balik punggung siapa pun. Jika aku harus menghadapi duri-duri itu untuk mendapatkan kembali hakku dan mencari kebenaran tentang Ibu, maka aku akan melakukannya," aku menatap Jenderal Zhao dengan penuh tantangan. "Sampaikan pada Kakek, aku akan datang ke Beijing setelah aku menyelesaikan urusanku di Spanyol."
Jenderal Zhao terdiam sejenak, lalu ia menyeringai—kali ini lebih terlihat seperti senyum apresiasi yang kejam. "Kau memang memiliki lidah Julia yang tajam. Baiklah. Tapi ingat ini, Maria... peluru tadi hanyalah peringatan. Di Spanyol, mereka tidak akan menembakmu dari jauh. Mereka akan memelukmu sambil menusukkan pisau ke jantungmu."
Zhao berbalik dan melangkah keluar tanpa mengucapkan perpisahan, meninggalkan aroma tembakau mahal dan ketegangan yang masih pekat di udara.
POV Maria Joanna - Narasi Batin
Setelah Zhao pergi, ruangan menjadi sunyi. Ayah memelukku sebentar, memberikan perintah pada Sebastian untuk menyiapkan keberangkatan jet pribadi kami ke Madrid dalam dua jam ke depan. Ia harus mengurus sisa-sisa kehancuran Adrian sebelum kami meninggalkan Jakarta selamanya.
Saat aku sendirian di sudut ruangan, aku mengeluarkan flashdisk kecil dari kotak hitam itu. Aku menyambungkannya ke ponselku secara diam-diam. Di dalamnya, hanya ada satu file suara pendek.
Aku memasang earphone dan menekan tombol putar.
"Maria... naga kecilku... jika kau mendengar ini, jangan percaya pada siapa pun di Madrid. Bahkan pada ayahmu sendiri. Carilah pria bernama 'El Halcon' di Sevilla. Hanya dia yang tahu di mana aku disembunyikan..."
Suara itu... suara yang sangat lembut namun penuh ketakutan. Suara yang sama dengan suara di dalam rekaman video lama yang sering diputar ayah angkatku.
Itu suara Ibuku. Julia.
Dadaku sesak. Air mataku tumpah tanpa suara. Ibu masih hidup. Dan yang lebih mengerikan, ia memperingatkanku untuk tidak percaya pada Ayahku sendiri. Mengapa? Apakah Ayah tahu selama ini Ibu disekap? Ataukah ada rahasia yang lebih gelap antara Kerajaan Spanyol dan Kekaisaran China yang dikorbankan demi identitasku?
Aku menghapus air mataku dan menatap Sebastian yang masuk untuk menjemputku. "Sebastian, siapkan semuanya. Kita berangkat ke Spanyol."
"Baik, Putri."
Aku melangkah keluar dari bunker, meninggalkan masa laluku sebagai Maria si ART. Aku menuju tanah kelahiran ayahku bukan untuk menjadi putri yang dimanjakan, tapi untuk menjadi seorang detektif bagi hidupku sendiri.
"Aku memasang earphone secara diam-diam untuk mendengar flashdisk dari kotak misterius itu. Suara Ibuku, Julia, terdengar lirih namun penuh ketakutan: 'Maria... jangan percaya pada siapa pun di Madrid. Bahkan pada ayahmu sendiri.' Aku mendongak, dan tepat saat itu, aku melihat Sebastian menatapku dengan mata yang dingin melalui pantulan kaca kamar."